Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Dihantui masa lalu


__ADS_3

Mereka masih menunggu di dalam resort. Shireen yang tadi menyelesaikan masakannya dan memberikan itu pada beberapa anggota GYUF yang masih ada disini sedangkan 4 orang dari mereka tengah membawa Mersi ke rumah sakit.


Kejadian tadi tentu masih menganggu Shireen dan Wesson yang duduk di depan resort memandangi para anggota yang makan di dalam sana.


"Sebenarnya apa yang terjadi?!" Gumam Shireen tak mengerti. Edwald masih belum kembali bahkan tak ada kabar dari pria itu.


"Steen tak akan bertindak jika tak ada yang memancingnya."


"Maksudmu, Mersi membuatnya marah?" Tanya Shireen menatap Wesson yang mengangguk. Ia memahami sikap tempramen Edwald yang memang buruk.


"Yah, dia pasti marah karna sesuatu."


"Apa berhubungan dengan misi kalian?" Gumam Shireen menebak-nebak.


"Bisa jadi, nona!"


Suara salah satu anggota yang sudah selesai makan muncul di dekan pintu.


"Malam itu kami pernah melihat Mersi keluar dari kediaman pribadi tuan Steen di papah oleh dua anggota khusus. Keadaanya begitu parah sampai berjalan saja tak bisa," Imbuhnya melirik kanan kiri takut jika Edwald datang atau Cooper yang bisa saja melapor.


"Bisa saja begitu. Demi misi Edwald rela membunuh siapapun bahkan menghancurkan segalanya," Geram Shireen terlihat ikut emosi karna dulu Edwald memang sangat kejam dan tak bisa diampuni.


Berbeda dengan Shireen yang belum sepenuhnya tahu tentang Edwald, Wesson justru berpikir hal lain. Jika masalah misi Edwald memang paling sempurna tapi, biasanya ia langsung menembak bukan bermain seperti tadi. Apalagi, ada Shireen di dapur.


"Itu tuan, Steen!!"


Seru satu anggota tadi melihat Edwald sudah berjalan kesini. Itu tandanya pria itu tak pergi jauh dan hanya ada di sekeliling sini.


Kedatangan Edwald bagai seruan pedang. Semuanya berdiri termasuk para anggota yang tadi makan di dalam bergegas menyudahinya dan berlari segera berkumpul ke depan resort.


"Kau dari mana saja?" Tanya Wesson saat Edwald sudah tiba di hadapan mereka.


Seperti biasa wajah tampannya selalu tanpa ekspresi tapi lebih tenang dari pada tadi.


"Steen!" Gumam Wesson menepuk bahu sebelah kiri Edwald yang tak di perban. Pria ini memakai kaos lengan pendek dan jogger panjang hingga tubuhnya tampak sempurna.


"Bersiaplah! Lanjutkan tugasmu!" Tegas Edwald masuk ke dalam sana.


Ia tak menyapa Shireen atau memandang wanita itu. Shireen-pun tak berniat bicara karna keduanya belum bisa di katakan berbaikan.


"Jangan dekati dia dulu. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau hari ini," Ucap Wesson pada Shireen yang seketika mendengus.


"Siapa yang ingin berdekatan dengan monster seperti itu?!" Gerutu Shireen menatap ke sembarang arah.

__ADS_1


Wesson hanya mengangguk saja. Ia pergi karna memang sudah berganti pakaian tadi. Anggota yang tersisa hanya menunggu perintah dari Edwald karna otak strategi ini adalah pria itu.


"Apa kalian sudah selesai makan?" Tanya Shireen dan diangguki sopan oleh mereka semua.


"Sudah, nona! Masakanmu sangat enak, kami beruntung memakannya."


Puji mereka menghormati Shireen yang mengangguk segera kembali masuk ke dalam. Ia berniat untuk membersihkan piring-piring tadi tapi, Shireen tersentak saat semuanya sudah beres.


"Ini.."


Ia diam lalu menoleh kebelakang menatap para anggota yang sudah saling bicara soal rasa nikmat makanan tadi.


Apa mereka yang melakukannya?!


Benak Shireen bertanya-tanya. Ia kembali ke depan melangkah keluar melewati para anggota yang memberinya jalan.


"Terimakasih!"


"Terimakasih, nona!" Ucap mereka terlihat tulus pada Shireen yang hanya mengangguk pergi ke area pantai di depan sana.


Ntah ini kebetulan atau tidak, Shireen bisa menikmati indahnya pantai kembali. Ia berlari kecil memijaki pasir halus abu pantai yang terasa dingin di kakinya.


Sisa salju semalam masih ada tapi sudah tak tampak menumpuk lagi karna mendung masih ada.


"Aku sangat merindukan tempat ini. Tuhan selalu tahu apa yang ku inginkan," Gumam Shireen pergi ke bibir pantai merendam kakinya dengan air yang terdorong dari hamparan laut biru ini.


"Aku tahu itu hanya sebuah kepalsuan tapi, kenapa aku sulit melupakannya?!


Batin Shireen melempar jauh pandangan pada gelombang ringan air laut.


Angin segar ini mendorong rambutnya yang tadi di gulung sudah terlepas dan berkibar sangat indah bak bunga api yang berani.


Mata Shireen terpejam berharap ia akan menemukan ketenagan tapi..


AKU BERSUMPAH. JIKA KAU TAK MATI MAKA AKU YANG TIADAA...


AKU AKAN MEMBUNUHMU, SIALAAN!!


Degg..


Shireen langsung membuka matanya. Ingatan kala itu muncul tiba-tiba bahkan Shireen sampai merinding seakan-akan rasa sakit saat itu menuntutnya untuk melakukan hal itu.


"A..aku.."

__ADS_1


Shireen linglung. Ia ingat jika saat itu ia bersumpah atas nama daddynya yang sudah tiada untuk membalaskan dendam itu tapi, .


"A..apa yang ku lakukan?! Kenapa aku jadi membantu mereka?!" Gumam Shireen berperang dengan batinnya sendiri.


Ia berbalik menatap ke arah anggota GYUF yang tampak saling bicara bahkan lebih santai. Mereka tak terlihat seperti iblis jauh berbeda dari ketika berhadapan dengan musuh.


Jantung Shireen berdebar kuat seakan-akan dendam itu menuntutnya.


"A..aku.."


Shireen tak bisa menjawab apa yang ia inginkan sekarang. Antara benar dan salah, keduanya abu-abu bahkan tak jelas lagi di matanya.


"T..tidak. Kau tak bisa melupakan semua yang mereka lakukan padamu. Bisa saja, Edwald memainkan trik dan aku akan jatuh untuk yang kedua kalinya," Gumam Shireen meneguhkan tekatnya.


Tatapan yang semula menunjukan kepribadian hangatnya seketika berubah penuh rencana. Ia harus segera menemui keluarga William untuk mengacaukan misi ini.


Akan banyak korban yang berjatuhan hanya karna rakus dan tamak dari para mafia pemberontak ini.


Tak mau berdiam disini, akhirnya Shireen kembali pergi ke penginapan. Ia masih memasang wajah ramahnya pada anggota GYUF karna incarannya bukan anak buah tetapi pemimpinnya.


"Aku bisa menemui tuan Michelle dan membongkar semua kedok mereka," Batin Shireen bergegas mencari ponselnya.


Ia pergi ke lantai atas tapi segera mengumpat saat ponselnya pasti ada di kamar Edwald karna semalam ia tidur di sana.


"Dia begitu licik. Mengambil keuntungan dariku," Gumam Shireen memikirkan cara untuk bisa mendapatkan ponselnya.


Saat melihat pintu itu segera terbuka, Shireen langsung bersembunyi di balik tirai lebar di sampingnya.


Ia mendengar suara langkah kaki keluar dari kamar lalu ia mengintip dari cela kecil tirai ini.


"Dia ingin pergi," Batin Shireen sudah melihat Edwald yang berjalan gagah keluar dari kamar. Ia sudah rapi dibaluti jaket dan topi pertanda ada hal penting yang akan ia lakukan.


Saat Edwald sudah menuruni tangga, Shireen segera menyelinap masuk ke dalam kamar mencari ponselnya. Ia menyibak selimut yang tadi sudah rapi tapi tak ada apapun disini.


"Aku yakin semalam tas dan ponselku disini," Gumam Shireen mencari-cari.


Ia membuka laci nakas satu persatu beralih ke meja satu dan lainnya tapi tak ada. Ia mulai cemas tapi segera tersadar kala melirik ke bawah ranjang.


Shireen berjongkok dan waah.. Ini puji tuhan, ponsel itu terjatuh di bawah ranjang.


Dengan cepat ia mengambilnya. Untung saja masih menyala walau dayanya hampir mau habis.


"Setidaknya ini cukup," Gumam Shireen bergegas pergi keluar kamar. Ia harus cepat pergi tanpa sepengetahuan siapapun disini termasuk anggota GYUF.

__ADS_1


....


Vote and like sayang..


__ADS_2