
Setelah berusaha melawan tekanan air laut yang semakin besar, akhirnya pasukan penyelam GYUF berhasil membawa Edwald kembali ke atas permukaan air.
Keadaan Edwald cukup buruk. Pria itu tak sadarkan diri hingga dokter Arlo yang merupakan medis pribadi mereka segera membawa Edwald ke markas GYUF.
Tempat yang tersusun atas bebatuan dan tumpukan salju itu punya banyak ruangan khusus termasuk ruang medis yang lengkap. Mereka juga punya team bedah profesional dan banyak lagi tenaga kerja yang biasanya bertugas untuk mengambil organ-organ yang siap di edarkan.
"Denyut jantungnya semakin melemah," Cemas rekan dokter Arlo yang tengah mendorong bangkar besi ini masuk ke dalam ruangan gawat darurat.
Mereka mengerahkan seluruh team medis yang tadi sudah bersiap apalagi disini ada Cooper dan Wesson yang terus mewanti-wanti mereka agar menyelamatkan Edwald yang tadi kekurangan oksigen.
"Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya!! Bekerjalah dengan nyawa kalian!!"
"Aku mengerti. Sekarang, biarkan kami menanganinya," Jawab dokter Arlo pada Cooper lalu masuk ke dalam ruangan operasi.
Ada luka di bahu dan sisa air di paru-paru Edwald yang harus di keluarkan. Jantung pria ini juga semakin melemah hingga kondisi masih abu.
Cooper memandangi pintu besi ini tertutup. Ia meremas jaket yang basah di tangannya dengan kuat penuh kekhawatiran.
"Kau tak pernah berada di posisi ini. Tapi,.."
"Apa Steen sudah hilang akal?" Decah Wesson yang sangat marah saat Edwald membahayakan nyawanya sendiri hanya demi sebuah cincin.
"Demi sebuah cincin dia sampai menyelam sejauh itu. Benda ini bisa di cari tapi nyawanya.."
"Benda itu bahkan lebih berharga dari pada nyawanya bagi Steen," Sela Cooper yang tahu pahit manisnya hubungan Shireen dan Edwald.
Itu terlalu berlebihan tapi, Edwald tak pernah lupa dengan momen pernikahannya. Walau pernikahan itu di penuhi kepura-puraan tapi cincin itu adalah bukti jika Shireen dan dirinya adalah sepasang suami istri. Benda itu menjadi saksi kehidupan pernikahan yang tentu sangat istimewa bagi Edwald.
Tentu saja Wesson tak akan paham. Yang ia tahu Shireen dan Edwald adalah suami istri tapi, dia tak mengerti seberapa besar Edwald ingin melindungi Shireen sampai seekor lalat-pun enggan mendekati wanita itu.
"Itu bukan hanya sekedar cincin. Benda itu pernah di lempar bebas oleh sang pemiliknya tapi Steen tak mau kehilangan dua kali!"
Gumam Cooper berbalik menatap Wesson yang diam. Cincin itu masih ada di tangan Wesson yang memandang kosong benda bulat berlapis berlian ini.
"Aku harus memberikan ini pada Shireen!"
"Jangan!" Cegah Cooper saat Wesson punya niat seperti itu.
"Kenapa? Mereka terus bertengkar. Padahal, jelas Steen menyukai Shireen. Wanita itu pantas ada disini dan tahu keadaan suaminya!"
"Ini tak semudah yang ada di pikiranmu, tuan Wesson!" Decah Cooper yang tahu, kenapa Edwald menjauh dari Shireen karna jika berdekatan maka akan banyak musuh yang mengincar wanita itu. Apalagi, Shireen tengah hamil.
"Maksud apa?"
"Steen sekarang jadi pusat perhatian dunia gelap. Kemanapun dia pergi akan ada banyak musuh yang mengincarnya dan Shireen tak cocok di lingkungan ini," Jelas Cooper mencoba memberi pengertian pada Wesson yang akhirnya mengambil nafas dalam.
Ia kembali memandang ruang operasi di depannya lalu memejamkan mata sejenak mencoba tenang dan stabil.
"Lalu? Dimana Shireen sekarang?"
"Dia ada di tempat yang aman. Dalam beberapa waktu kedepan semuanya bisa di kendalikan dari sini," Ucap Cooper mendapat anggukan dari Wesson yang segera menatap anggota yang berjaga disini.
"Bisa saja mereka menyerang dua kali! Kita harus benar-benar menormalkan keadaan GYUF sebelum ada baku tembak lagi!"
"Aku akan mengurusnya," Gumam Cooper segera pergi. Para anggota yang tadi terluka juga di rawat di ruang lain agar bisa di selamatkan.
__ADS_1
Saat Cooper ingin melangkah ke lorong bagian kanan markas tiba-tiba saja Cooper melihat Suma berbicara dengan seseorang dari ponselnya.
Langkah Cooper terhenti menyaksikan Suma berdiri di sudut lorong berlapis batu dan baja ini. Ia berbicara dengan seseorang tapi gelagatnya terlihat waspada.
"Apa yang di lakukan pria tua ini?!"
Batin Cooper bersembunyi di balik dinding penghubung antara lorong dan jalan ke arah ruang operasi Edwald tadi mengamati sekaligus menajamkan telinganya.
"Aku tak ingin tahu alasanmu. Jangan sampai dia lepas dari sana dan memperburuk keadaanku disini!"
"Tapi, tuan! Sampai kapan kau akan mengurungnya disini?!"
Tanya seorang pria yang sepertinya seumuran dengan Suma.
"Sampai aku sudah tak membutuhkannya lagi!"
"Baik, tuan!"
Percakapan sembunyi mereka terputus. Suma melihat kiri kanan seperti sangat privasi dengan panggilan kali ini. Apalagi, ia menelpon di sudut lorong yang termasuk kurang pencahayaan dan sunyi.
"Aku yakin. Dia sudah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Steen maupun anggota lainnya," Batin Cooper yang hanya cemas jika Suma membidik Shireen lagi.
Saat melihat Suma ingin pergi ke arah ruangan operasi Edwald yang pasti melewati jalan di posisinya, Cooper segera pergi kembali ke posisi awal ia masuk ke area ini dan pura-pura baru datang.
Suma yang melihat Cooper baru muncul dan berpapasan dengannya hanya diam tapi pandangan pria itu seperti mengancam Cooper yang sudah membawa Shireen pergi.
"Kenapa tuan begitu intens memandang wajah tampanku?" Kelakar Cooper berhenti di dekat Suma yang tampak menyunggingkan senyum kecut.
"Kau itu anggota GYUF. Bukan kaki tangan Steen!"
Tak di pungkiri jika Edwald memang berpengaruh besar bagi GYUF tapi tak akan ia biarkan ini semakin mengakar.
"Dia putraku dan tentu sama cerdiknya denganku!"
"Emm.. Jawabanmu perlu di ralat, tuan!" Gumam Cooper mempertimbangkannya. Ia diam tapi segera memberi senyum tipis yang sangat misterius.
"PUTRA ANGKAT, hm?"
"Kauuu.."
"Aku memang bukan kaki tangannya tapi, jika kau berusaha menyakiti TEMANKU, aku tak akan segan melawanmu!" Desis Cooper tak peduli lagi soal pimpinan.
Ia melangkah pergi setelah membuat Suma mati kutu bahkan sampai terbakar api kemarahan.
"Sialan!!! Jika Steen tak lagi bisa ku kendalikan. Maka, dia bisa saja mengambil alih GYUF dari tanganku," Geram Suma sangat panik jika sampai Edwald memberontak dan tak mau di atur olehnya lagi.
Bagaimana jika dia ingin memimpin GYUF sendirian? Bagaimana jika Steen ingin menguasai klan ini dan membuat kekuasaan yang ada di genggamannya berpindah tangan?! Tidak, dia tak bisa melakukan ini.
Suma berperang dengan ketakutannya sendiri. Terbesit satu niat buruk di kepalanya yang hanya bisa di lakukan saat sekarang.
"Keadaannya tengah lemah. Di kondisi seperti ini aku bisa melenyapkan pria itu. Yah, dia.. dia tak bisa hidup di dunia ini," Gumam Suma nekat memikirkan hal itu.
Jika sampai Edwald tak mau lagi bergabung dengan mereka maka GYUF akan lepas dari tangannya. Pilihannya hanya dua, tetap membantunya atau mati.
.....
__ADS_1
Di tempat yang berbeda. Ruangan rawat seorang wanita yang tadi baru saja sadar dan langsung mengalami mual hebat sampai semua makanan yang pernah masuk ke dalam perutnya di memuntahkan keluar.
Para suster dan dokter di dalam ruangan itu mencoba menangani Shireen yang tak bisa makan apapun. Ia hanya bisa minum itupun hanya air putih karna semua makanan akan ia memuntahkan secara cepat.
"Hooekmmm.. n.neek!" Lirih Shireen berpeggangan ke lengan nenek Rue yang mengusap-ngusap punggungnya.
Wajah Shireen sudah pucat duduk di atas ranjang rawat sedangkan satu tangannya di infus. Keringat yang keluar di kening mulusnya terus mengalir dan tubuh Shireen yang tadi panas berganti dingin dan begitulah selanjutnya.
Kakek Bolssom sangat khawatir melihat Shireen terus muntah padahal tak ada lagi yang keluar dari mulutnya. Hanya cairan lendir yang sudah tak asing bagi mereka para dokter dan wanita hamil.
"Tolong cucuku! Aku tak sanggup melihatnya seperti ini terus!"
"Tuan! Ini hormon kehamilan. Keadaan seperti ini normal tapi nona tengah tak siap dengan tubuh yang lemah seperti ini. Kami mohon pada nona, jangan memikirkan apapun yang membuat kondisi tubuhmu semakin melemah," Jelas dokter itu seraya melakukan injeksi vitamin dan pereda mual ke lengan Shireen yang bersandar ke kepala ranjang.
Nenek Rue mengusap kening Shireen dengan tisu agar keringat itu tak semakin membasahi pakaiannya.
"N..neek!"
"Iya, sayang! Kami disini, kau tak perlu mencemaskan apapun, hm?" Jawab nenek Rue mengusap pipi mulus Shireen yang menatap sayu padanya.
"Boleh aku meminjam ponselmu?"
"Kau.."
"Aku ingin menghubungi seseorang," Sela Shireen tak bisa tenang.
Kakek Bolssom dan nenek Rue saling pandang. Wanita tua itu segera mengeluarkan ponselnya dan memberikan itu pada Shireen.
"Ini, nak!"
"Terimakasih," Jawab Shireen sesekali menelan ludah karna rasa mual itu kembali datang. Ia ingat nomor Edwald dan tak perlu waktu lama bagi Shireen untuk menghubungi pria itu.
Mereka diam melihat Shireen menunggu jawaban dari seseorang. Panggilan pertama tak di jawab begitu juga selanjutnya. Shireen sampai berkaca-kaca terus mencoba sampai tangannya gemetar tak mampu menahan kekhawatiran di dadanya.
"Angkatlah, kau dimana?!" Gumam Shireen terus mencoba dan hasilnya tetap sama. Ia menutup wajahnya yang mulai dialiri air mata hingga nenek Rue segera merengkuh bahunya.
"Shireen! Kau kenapa? Nak! Katakan, apa yang mengganggumu?"
"Aku.. Aku takut. Tiba-tiba saja aku takut, Nek! Aku.. Aku sangat takut," Gumam Shireen terisak sendiri tanpa alasan.
Ia merasakan sakit di dadanya tak tahu karna apa. Cemas, panik bercampur aduk menjadi satu sampai membuat Shireen gelisah dan tak pernah tenang.
Perasaan takut itu tertuju pada Edwald. Ia seperti merasakan jika pria itu tengah dalam bahaya dan tak sedang baik-baik saja.
Nenek Rue hanya bisa diam. Ia mengusap kepala Shireen yang begitu gelisah sampai kesehatannya sendiri ikut drop.
Kakek Bolssom yang tak tenang melihat cucu kesayangannya seperti ini segera keluar dari ruang rawat Shireen. Ia memanggil satu pelayan di kediaman mereka yang tadi ikut kesini.
"Iya, tuan?"
"Kau cari tahu, apa yang terjadi pada cucuku sebelum kesini?! Cari juga suaminya!" Titah kakek Bolssom juga heran.
Ia tak pernah mendapat kabar jelas soal Shireen dan Edwald setelah pernikahan di malam itu.
...
__ADS_1
Vote and like sayang