Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Mustahil bangkrut


__ADS_3

Pagi ini Shireen harus ke perusahaan. Sementara Edwald, ia sudah pergi dari dini hari tadi berpamitan pada Shireen karna urusan mendadak. Tentu Shireen yang tak pernah mengekang pria itu hanya membiarkan Edwald asal terus mengabarinya.


Saat sampai ke perusahaan, Shireen langsung di sambut wajah tegang sekretaris Amber yang menunggunya di depan pintu utama.


"Ada apa?"


"Nona! Tuan besar menunggumu di ruangannya," Jawab sekretaris Amber membuat Shireen heran. Apa ada masalah? Tak biasanya tuan Walter datang sepagi ini apalagi hadir khusus memanggilnya.


"Kenapa wajahmu tegang?"


"Nona! Tuan besar terlihat marah dan tak bersahabat. Aku cemas jika ada masalah dari divisi kita," Resah sekretaris Amber mengikuti langkah Shireen menuju lift di lantai satu.


Para karyawan yang berjalan di sekitar mereka menyapa Shireen yang hanya tersenyum hangat seperti biasa.


"Apa dia memarahimu?"


"Tidak, nona! Tapi, wajahnya seperti menahan amarah dan bertanya tentangmu dengan nada ketus. Disana juga ada nyonya besar!"


"Mommy?" Gumam Shireen terdiam sejenak masuk ke dalam lift. Baja besi ini tertutup membawa mereka ke lantai tujuan dengan pikiran Shireen melayang ke arah Freya. Apa gadis itu baik-baik saja?


Setibanya di lantai direktur utama. Shireen keluar begitu juga dengan sekretaris Amber yang tak mau meninggalkan Shireen sendirian.


"Kau pergilah ke team kita!"


"Tapi, nona.."


"Aku akan mengurus ini!" Sela Shireen membuat sekretaris Amber pasrah. Ia kembali masuk ke lift seraya menatap Shireen yang berjalan elegan dengan balutan dress manis selutut dengan bagian lengan panjang tapi transparan.


Langkah Shireen terhenti di depan pintu. Samar-samar angin membawa suara di dalam sana ke telinganya sampai terdengar cukup jelas.


"Sudah-ku katakan, bukan? Pria itu hanya ingin memanfaatkan Shireen. Lihat! Apa dia membantumu atau tidak?"


"Ini tanggung jawab Shireen dan dia yang harus menyelesaikan hal ini," Tegas tuan Walter sampai umpatan nyonya Colins terdengar.


"Cih, anak tak tahu di untung!"


Mendengar itu Shireen diam. Ia memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam menormalkan raut wajahnya.


"Tak apa. Kau masih punya suami yang mencintaimu, Shi!" Gumam Shireen menguatkan dirinya.


Shireen membuka pintu ruangan tuan Walter. Pandangannya langsung tertuju merja kerja pria paruh baya itu tengah duduk berhadapan dengan nyonya Colins yang segera memberi sorot tajam padanya.


"Kemana saja kau?? Freya mempertaruhkan nyawa di rumah sakit sana dan kau bersenang-senang!!"


"Colins!" Sangga tuan Walter tapi nyonya Colins hanya memiringkan bibirnya kecut.


Tak ingin berlama-lama didalam sini Shireen segera mendekati tuan Walter.

__ADS_1


"Ada apa? dad!"


"Proyek yang ku tangani itu gagal. Suamimu sama sekali tak membantuku!"


Mendengar itu Shireen tersentak. Kemaren Edwald mengatakan jika ia akan membantu daddynya untuk memenangkan proyek itu tapi kenapa bisa gagal?!


"Maksud daddy?"


"Aku sudah memberikan rincian proyek itu padanya. Tapi, sampai sekarang dia tak mengerjakan apapun hingga proyek itu di ambil alih perusahaan lain. Apa-apaan ini? Ha?"


Shireen membisu. Ia tak tahu kenapa bisa begini karna sebelumnya Edwald mengatakan ia akan mengerjakan semua itu.


Melihat respon bingung Shireen semakin memantik amarah di dada tuan Walter yang mengalami kerugian besar dan kehilangan kesempatan emas.


"Proyek ini sangat penting bagi perusahaan. Kerugian yang suamimu buat sudah menguras aset berharga kita, Shireen!! Mereka tak akan lagi mempercayai kita!!"


"Dad! Pasti ada kesalahpahaman. Aku .."


"Lihat! Dia begitu egois, Walter! Ini putri yang kau bangga- banggakan itu, ha?" Ketus nyonya Colins langsung sampai ke ulu hati Shireen yang tetap mempertegas raut wajahnya.


"Dan akibat proyek ini gagal jatuh ke tangan kita, investor lain mulai ragu untuk menanamkan saham."


"Dad! Aku juga tengah memasarkan prodak baru perusahaan. Keuntungannya juga pasti akan membantu untuk mengembalikan.."


"Kita punya pinjaman," Sela tuan Walter tampak gelisah. Shireen mengernyit kala mendengar kata PINJAMAN.


"Aku sempat meminjam sejumlah uang ke Bank besar untuk proyek itu dengan jaminan perusahaan ini!"


"Apaa??" Syok Shireen sekaligus nyonya Colins yang terkejut.


"Kau mempertaruhkan perusahaan hanya untuk proyek itu? Apa kau gila? Walter!!" Bentak nyonya Colins membuat kepala tuan Walter terasa mau pecah.


"Aku bisa apa?? Keuntungan pembangunan Malll fashion itu sangat besar apalagi tempatnya sangat strategis. Aku tak bisa membuang-buang kesempatan emas itu tapi SUAMIMU MENGACAUKANNYA!!" geram tuan Walter beralih menohok pada Shireen yang cukup sesak disini.


"D..dad! Kalau memang proyek itu bernilai besar, seharusnya mereka bisa membantu perusahaan untuk membangunnya. Bukan memberatkan-mu."


"Ouh, jadi kau merasa pintar, ha?"


Shireen menggeleng. Ia merasa aneh dengan proyek ini karna janji-janji dan kesepakatannya sangat tak masuk akal. Tapi, tuan Walter bersikeras untuk mengambilnya.


"Proyek itu sudah jatuh ke tangan orang lain. Uang dan semua proposal itu sudah tak ada gunanya lagi!!!"


"Ya tuhan. Perusahaan ini akan bangkrut sedangkan putriku masih ada di rumah sakit. Apa yang harus aku lakukan?!!" Lirih nyonya Colins sudah lemas di tempat duduknya.


Tuan Walter sudah pusing memikirkan perusahaan ini padahal ia yang terlalu ceroboh tapi yang jadi pelampiasan pasti Shireen.


"Siapa yang mengambil proyek itu?" Tanya Shireen pada tuan Walter yang menggeleng lemah.

__ADS_1


"Aku tak tahu. Mereka hanya mengatakan jika proyek ini akan lebih sukses di tangan perusahaan yang lebih besar."


"Perusahaan siapa?!" Batin Shireen lalu bertolak pergi. Ia harus menemui langsung pemilik perusahaan itu untuk bernegosiasi tentang proyek ini.


Shireen masuk ke lift. Ia berpikir cepat mengingat perusahaan besar mana saja yang ada di negara ini. Hanya ada perusahaan Mediation Crop dan MIT Fashion yang bergerak di bidang kecantikan dan style.


"Mungkin perusahaan Mediation yang mengambil alih," Gumam Shireen lalu keluar saat lift sudah terbuka. Ia berjalan pergi ke ruangannya dan sesekali di sapa para karyawan yang seperti biasa menghormatinya.


Meja sekretaris Amber ada di depan ruangan Shireen. Wanita itu berdiri mendekati Shireen dengan wajah siap menerima perintah.


"Hubungi perusahaan Mediation Corps dan MIT!"


"Baik," Sanggup sekretaris Amber langsung menghubungi perusahaan yang pertama. Shireen menunggu di depan mejanya sampai sambungan itu terhubung.


"Kami dari perusahaan Harmon. Bisa bicara dengan pimpinan?" Tanya sekretaris Amber sopan dan tegas.


Setelah beberapa lama terdengar suara seorang laki-laki paruh baya di sana. Amber memberikan ponsel itu pada Shireen yang segera bicara.


"Maaf mengganggu anda direktur. Saya Shireen dari perusahaan Harmon. Saya hanya ingin bertanya, apa perusahaan anda yang mengambil alih proyek dari Greuatema?" Sopan Shireen tapi sangat elegan. Ia kenal dengan pria ini karna sempat menjalin beberapa kerja sama dulu.


"Nona Shireen. Saya tak tahu soal proyek itu dan kalau tidak salah Greuatema adalah cabang dari perusahaan Aldebaron."


"Aldebaron?" Gumam Shireen bingung. Aldebaron adalah nama perusahaan Edwald. Tapi, bukannya perusahaan itu sudah bangkrut?"


"Ada apa? nona!"


"Bukankah perusahaan itu sudah tak beroperasi, direktur?" Heran Shireen tak mengerti.


"Yah. Rumornya memang begitu. Tapi, aku tak begitu yakin. Perusahaan ACIAN milik mereka sangat besar. Mustahil bisa bangkrut."


Mendengar itu Shireen tertegun. Ia tiba-tiba mulai berpikir jauh tentang masalah perusahaan itu.


"Nona? Kau baik-baik saja?"


"A.. iya. Terimakasih atas waktunya, direktur! Maaf mengganggu anda!" Segan Shireen mengakhiri sambungan ini.


Ia diam memberikan ponsel itu pada sekretaris Amber yang bingung dengan raut wajah kosong nonanya.


"Apa yang kau pikirkan, nona?"


"Tunda dulu jadwalku hari ini. Aku ada urusan," Gumam Shireen lalu melangkah pergi. Ia langsung menghubungi Edwald untuk memperjelas semua ini.


Edwald yang mengatakan sendiri jika perusahaannha bangkrut. Lalu, proyek apa ini? Kenapa jadi sulit di mengerti?!


Benak Shireen bertanya-tanya. Sudah 3 kali Shireen menghubungi Edwald tapi tak ada jawaban sama sekali. Kenapa setiap dia keluar dia tak akan mengangkat panggilan lagi?!


...

__ADS_1


Vote and like Sayang..


__ADS_2