
Nenek Rue tampak baru saja keluar kediaman. Wanita tua dengan tenaga masih bugar itu memandang ke sekeliling tempat ia berdiri dimana tak ada tampak sosok cantik yang tadi belum juga kembali.
Padahal, kakek Bolssom dan rombongannya sudah pergi ke perkebunan dan harusnya Shireen pulang.
"Kemana lagi kau nak?!" Gumam nenek Rue menyimpan rasa cemas.
Tak lama berselang, datanglah seorang pelayan wanita yang tampak baru saja kembali dari area luar kediaman.
"Nyonya!"
"Kau melihat cucuku?" Tanya nenek Rue dan sontak gadis muda dengan rambut pendek sebahu ini mengangguk dan menunjuk ke arah area pantai.
"Tadi aku baru saja membuntuti nona Shireen. Dia pergi dengan wajah murung dan aku khawatir jika sudah terjadi hal buruk pada nona muda," Jawabnya menyimpan rasa cemas.
Nenek Rue segera bergegas pergi ke area itu di dampingi pelayan muda yang tadi memang berniat memanggilnya. Jalanan yang asri dan tak terlalu jauh ini bisa mereka capai dalam waktu cukup singkat.
"Itu nona Shireen!"
Menunjuk ke area bibir pantai biru nan indah ini. Shireen terlihat duduk di atas batu besar diteduhi pepohonan magrove yang dirawat para warga hingga bentuknya sangat rimbun dan beragam.
"Nona sedari tadi disana. Sepertinya suasana hatinya sedang tak baik, nyonya!"
"Aku mengerti. Kau pergilah!" Ucap nenek Rue menghela nafas ringan membiarkan gadis ini pergi barulah ia berjalan mendekati Shireen yang masih melamun memangku dagunya di atas kedua lutut yabg di tekuk.
Kehadiran nenek Rue di sampingnya tak di sadari Shireen yang tengah melamun. Hal ini tentu sangat mengganggu wanita senja itu.
"Apa yang menganggu cucu kesayanganku ini hingga melamun sepanjang hari, hm?"
Seruan nenek Rue langsung menyadarkan Shireen yang seketika menegakkan tubuhnya.
"Nenek! Kau disini? Sejak kapan?"
Nenek Rue tak langsung menjawab. Ia beralih duduk di samping Shireen yang membantu agar wanita tua ini bisa aman.
"Apa yang mengganggumu? Jangan-jangan pria arogan itu menyakitimu?"
"Tidak, nek!" Bantah Shireen halus seraya melempar pandangan ke arah laut biru yang selalu menenangkan pikirannya.
"Lalu apa?"
"Tidak ada. Hanya.."
__ADS_1
"Jangan anggap aku baru mengenalmu satu atau dua tahun, Shireen!" Sela nenek Rue tegas dan Shireen langsung menghela nafas pasrah.
"Maaf!"
"Nenek tak ingin kau jadi terbebani. Mengerti?" Lembut nenek Rue mengusap kepala Shireen hang seketika menyandarkan kepalanya ke bahu rentan nenek Rue.
"Nek! Apa tanda-tanda seseorang mencintai kita dan serius dengan pasangannya?"
Nenek Rue diam sejenak. Ia mulai paham inti kegelisahan Shireen yang pasti kebingungan dengan interaksi Edwald dan kakek Bolssom.
"Apa ini tentang suamimu?"
"Yah, dia itu sulit ku pahami, nek! Dia.."
Shireen tak bisa melanjutkan ucapannya dan hanya bisa meratap ke arah depan.
"Memangnya apa yang tak bisa kau pahami darinya, hm?"
"Cara berpikirnya, tindakan dan banyak lagi. Seakan-akan dia punya banyak karakter, nek! Di hadapanku dia akan seperti ini dan jika bertemu orang yang berbeda maka dia akan berubah lagi. Sangat menjengkelkan," Rutuk Shireen mengeluarkan unek-uneknya.
"Yang kau tahu karakternya apa?"
"Keras kepala, suka memerintah, licik, penuh tipu daya, palsu dan.."
"Tidak juga. Dia sering membantuku dan melindungi ku," Lirih Shireen tampak rumit.
Melihat itu nenek Rue tersenyum tipis. Ia sangat merasakan jika Shireen benar-benar mencintai Edwald tapi, hanya saja keduanya punya caranya sendiri dalam mengekspresikan perasaan.
"Apa kau mencintainya?"
"Apa terlihat begitu? Nek!" Tanya Shireen agak kikuk tapi nenek Rue tak menertawakan hal itu.
"Tidak. Kalian lebih seperti musuh dalam selimut."
"Benar. Dia memang monster dalam selimut," Gumam Shireen yang sangat kesal dengan Edwald yang selalu mendapatkan apa yang dia mau di atas ranjang.
"Shireen! Aku lihat suamimu bukan pria yang biasa. Karakter dan cara dia bertindak sudah membuktikan jika sudah berapa banyak hal yang tak kita alami pernah terjadi padanya, nak!"
"Lalu aku harus apa?" Tanya Shireen bimbang.
"Jangan lagi memahaminya. Coba kau ketahui dulu apa alasan dia melakukan semua yang membuat kau kesal. Jika memang tak baik kau bisa memilih pergi, nak!" Jelas nenek Rue mengusap bahu Shireen hangat.
__ADS_1
"Lihat, apa dia mau berkorban untukmu atau tidak?! Lihat, bagaimana dia berusaha membuat kau nyaman dan aman?! Dan lihat, bagaimana dia bersikap padamu dan pada orang lain?!"
"Setelah itu?" Tanya Shireen mulai dapat pencerahan.
" Jika dia memang benar-benar mencintaimu, pasti dia akan berusaha selalu ada bahkan, melakukan apapun yang sebenarnya tak dia suka tapi asal kau senang dia akan rela melakukannya."
Ucapan nenek Rue sukses membuat Shireen mematung. Apa selama ini ia yang terlalu egois?!
"Sudahlah, Ayo pulang! Jika ingin disini nenek akan menemanimu."
"Apa Edwald sudah pulang?" Tanya Shireen tapi nenek Rue menggeleng.
"Tidak. Saat keluar bersamamu tadi dia tak lagi kembali."
"Ini sudah sore. Kemana dia?!" Gumam Shireen segera turun dari batu ini lalu membantu nenek Rue bangkit dari batu dan berjalan beriringan kembali ke arah kediaman.
Dari kejahuan masih di area pantai sana ada seorang gadis yang sedari tadi mengamati Shireen. Ia berdiri di dekat pohon kelapa pantai memandang jauh ke bayangan wanita cantik itu.
"Semenjak dia datang seluruh warga desa selalu mendewikannya. Bahkan, tak ada yang peduli padaku," Rutuknya mengepal dengan sorot mata yang ganas.
Ia juga sempat mendengar jika suami Shireen sangatlah tampan dan nyaris sempurna. Keduanya di gadang-gadang menjadi ikonik bagi desa Casthillo.
"Tidak bisa. Jika dia tetap disini maka cepat atau lambat semua orang akan melupakan aku. Aku harus segera bertindak," Gumamnya mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
Ia menelpon sang paman yang ada di luar desa karna tak mungkin menyuruh orang di tempat ini karna mereka tak akan mau melakukan hal jahat itu.
"Kenapa? Kau butuh sesuatu?"
"Uncle! Aku ingin kau mencari anggota pembunuh bayaran ke desaku. Malam ini aku ingin mereka sudah ada disini," Pintanya tak main-main.
"Untuk apa? Ada yang mengusikmu di sana?"
"Tidak. Aku perlu untuk memberi perhitungan pada seseorang," Gumamya tersenyum licik dan segera mengakhiri panggilan ini.
"Lihat saja. Akan ku pastikan kau akan menyesal kembali ke desa ini, Shireen!"
Gumamnya lalu pergi meninggalkan area pantai. Saat Shireen tak ada disini ia leluasa mengambil hati masyarakat bahkan sering mendapat keuntungan dari hasil perkebunan yang ia olah.
Tapi, ketika wanita itu datang. Para warga desa jadi mengacuhkannya dan menganggap jika Shireen-lah mutiara keberuntungan di desa.
....
__ADS_1
Vote and like sayang