Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Hangat di bawah selimut


__ADS_3

Setelah membersihkan dirinya di kamar mandi dan keluar mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya itu, Edwald segera mendekati Shireen yang tampak menambah kayu bakar di perapian.


Edwald membelokan langkahnya ke arah dapur dimana air yang tadi ia masak sudah mendidih. Dengan segera Edwald memasukan air ini ke dalam gelas lalu mematikan kompor dan segera pergi mendekati Shireen.


"Sudah selesai?" tanya Shireen saat Edwald sudah duduk di dekatnya. Pesona Edwald berulang kali membuat Shireen gagal fokus apalagi dalam balutan handuk tanpa atasan ini.


"Minumlah!" Ucap Edwald menyuguhkan gelas air hangat yang sudah ia tiup sebelumnya. Shireen menurut, ia meminum beberapa teguk air ini lalu kembali memberikannya pada Edwald.


"Kau juga. Udaranya semakin dingin. Aku akan ambil selimut yang lain di lemari."


"Aku saja," Jawab Edwald lebih dulu berdiri setelah meletakan cangkir yang ia peggang di dekat Shireen yang akhirnya pasrah memandanginya.


Dari sini Shireen bisa melihat ada bekas luka di perut Edwald yang dulu pernah ia tusuk. Tentu ia lagi-lagi terbayang masa sulit hingga sekarang semuanya berubah.


"Aku harap keputusanku benar. Maafkan aku, dad!" gumam Shireen beralih memandang kobaran api di dekatnya. Ia melamun sampai tak sadar jika Edwald sudah mendekat membawa selimut dan satu bantal ke dekatnya.


"Ada yang menganggu pikiranmu?" Tanya Edwald duduk di belakang Shireen lalu membalutkan selimut yang ia ambil tadi ke tubuhnya termasuk Shireen yang ia raup pada kurungan hangatnya.


Shireen diam. Tubuhnya bersandar ke dada bidang Edwald yang mendekatkan kedua tangannya ke dekat api lalu beralih mengusap telapak tangan Shireen yang terasa dingin.


"Masih dingin, hm?"


"Masih," Gumam Shireen meniup-niup telapak tangannya hingga Edwald mengambil inisiatif. Ia membuka selimut di tubuh Shireen hingga wanita ini terbelalak.


"Eeed!!"


Pekik Shireen saat tubuh polosnya langsung di peluk Edwald yang tak peduli respon malu Shireen. Ia merapatkan dadanya ke punggung indah Shireen yang merasa tersengat bersentuhan selengket ini.


Tiba-tiba saja Shireen menjadi patung dan membatu. Ia tak bergerak sama sekali karna posisi ini sangat berbahaya.


"Kau bahkan menahan nafasmu," Geli Edwald tersenyum tipis merasakan kegugupan Shireen. Apalagi, Edwald tengah membelit perut Shireen di dalam sana hingga turun dan naik sedikit saja maka akan salah usap.


"A..aku tak dingin lagi."


"Benarkah?" Tanya Edwald dan Shireen mengangguk berniat untuk bangkit tapi Edwald tak melepas belitan di perutnya bahkan, Edwald sengaja menempelkan dagunya ke bahu Shireen bahkan pipi mereka saling bersentuhan.


"T..tidak. Ini bahaya," Batin Shireen menegguk ludah kasar. Ia memejamkan matanya berusaha untuk tidur menelan suara rintik deras hujan yang berjatuhan di atap sana.


Jantungnya berdegup tak karuan saat Edwald mengusap perutnya lembut karna memang si kecil itu berkembang dengan baik.


"Apa disini perempuan atau laki-laki?"


"A.. ha?" Tanya Shireen membuka matanya menatap Edwald yang seperti bermimpi bisa menikah dengan wanita yang ia cintai dan bahkan akan segera punya anak.


"Jika perempuan aku ingin memberinya nama depanmu."


"Kalau laki-laki?" Tanya Shireen yang ikut terbawa dengan obrolan santai Edwald yang ingin Shireen rileks.


Edwald berpikir sejenak. Ia mencium lembut bahu putih mulus Shireen dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher harum wanita ini.

__ADS_1


"Eaelnest!" Bisik Edwald seraya menghirup aroma mawar yang menenagkan pikirannya.


"Namanya bagus. Apa artinya?" Tanya Shireen beralih mengusap kepala Edwald yang nyaman dalam posisi ini.


"Lelaki bangsawan! Aku ingin dia punya kehormatan dan hidup yang baik. Tidak sepertiku."


Mendengar jawaban Edwald yang berarti sangat dalam tapi sendu, Shireen langsung terdiam merasa kali ini Edwald benar-benar mengungkapkan harapannya.


"Kenapa bicara begitu? Kau juga tak buruk."


"Yah, itu sebabnya kau tergila-gila padaku."


Jawaban Edwald kali ini sukses membuat Shireen langsung kesal. Ia menyikut perut keras Edwald yang hanya tersenyum kecil beralih mengigit bahu Shireen remang.


"Kau memang pria ternarsis yang pernah aku temui."


"Hm, terserah padamu saja," Gumam Edwald malas berdebat. Ia mengusap-ngusap tangan Shireen agar hangat dan tentu Shireen merasa nyaman dan tak menolaknya.


"Ceritakan soal tadi! Apa yang terjadi?"


"Saat itu aku bisa saja menghindar. Tapi, aku ingin tahu siapa yang berniat buruk pada kalian karna sempat ada satu pekerja yang ingin membunuh semua bawahan kakekmu saat di tebing itu," Jelas Edwald membuat bekas gigitan di punggung putih Shireen bak sebuah kanvas yang membuatnya tak tahan untuk segera melukis.


"Ada yang berniat buruk?"


"Hm. Dia wanita dan mungkin sudah mati," Santai Edwald mengecup bahu Shireen yang kegelian tapi ia tak sadar.


"Mati? Edwald, jika kau membunuhnya bagaimana bisa aku tahu dia siapa dan..."


"Siapa? Aku rasa di desa ini tak ada yang pernah berniat buruk padaku maupun kakek. Apalagi, Fanze.. Aaass!!" Pekik Shireen di akhir kalimatnya karna Edwald mengigit kuat di bagian bahunya.


"Kauu.."


"Sebut lagi namanya! Kau akan lihat, bagaimana bentuk pria itu besok?!" Sarkas Edwald mengintimidasi Shireen yang seketika mendengus kesal.


"Memangnya kenapa dengan dia? Kami hanya berteman baik. Kau saja yang terlalu PECEMBURU, Cih!"


"Cemburu?" Tanya Edwald seperti tak terima di katai seperti itu.


"Yah, kau pria yang paling CEMBURUAN sedunia."


"Aku tak pernah merasa seperti itu. Kau jangan terlalu percaya diri," Elak Edwald masih mempertahankan egonya.


"Lalu apa? Kau menyebut tingkah konyolmu itu dengan apa?" Protes Shireen kesal bukan main. Tapi, bukan Edwald namanya kalau tak berkilah.


"Itu insting. Kau tahu Insting, bukan?"


Shireen membelo jengah. Ia tak lagi menggubris Edwald yang selalu saja menjengkelkan.


"Itu insting pria. Kau tak akan paham karna otakmu itu berkapasitas rendah, Shireen!"

__ADS_1


"Hm, yang penting kau senang," Jawab Shireen pasrah memejamkan mata sampai alam mimpi itu menenggelamkannya.


Shireen benar-benar tidur. Ntah karna memang lelah dan tengah hujan jadi dia mudah sekali lelap atau memang karna sudah larut.


Berbeda dengan Shireen yang tertidur lelap, Edwald justru merasa gelisah. Ia sedari tadi menahan agar tak berpikiran yang agak melenceng tapi tetap saja di posisi ini, siapa yang akan tahan?!


"Shireen!" Panggil Edwald berbisik ke telinga Shireen yang tak sadar sama sekali. Edwald menepuk kecil pipi Shireen tapi tetap saja tak ada respon.


Alhasil Edwald menghela nafas dalam. Ia mencoba ikut tidur tapi yang ada di pikirannya hanya hal yang terus membuat pusakanya keras.


"Shiit!" Umpat Edwald memukul pelan kepalanya sampai sebuah ide gila muncul. Ia benar-benar sulit tidur apalagi keadaanya tengah terdesak.


"Maaf, akan ada sedikit guncangan kecil dalam mimpimu," Gumam Edwald membentangkan selimut Shireen tadi ke atas lantai lalu membaringkan wanita ini perlahan.


Mata Edwald semakin berkabut hasrat melihat tubuh polos Shireen yang meringkuk seperti bayi di bawah kungkungannya.


"Kau memang membuatku gila," Umpat Edwald melepas handuknya lalu menutupi tubuh keduanya dengan selimut.


Edwald mulai memposisikan dirinya untuk memulai penyatuan dengan Shireen yang tampak ikut merespon meremas pinggir selimut merasa sensasi yang familiar.


"E..Ed ehmm!"


"Kau tahu itu aku," Gumam Edwald yang senang bukan main karna dalam alam bawah sadarnya Shireen-pun hanya memikirkannya.


Setelah melakukan penyatuan secara pribadi ini. Maka terjadilah hal yang seharusnya terjadi pada malam dingin ini.


Tak ada lagi rasa mengigil karna hawa beku tapi hanya mengigil akan hasrat dan gairah yang menggebu.


Sementara di luar sana. Cooper terpongoh-pongoh menyeret mayat wanita yang tadi sangat menyusahkannya. Disini tak ada tempat untuk berteduh selain rumah singgah yang ada di jalur utama perkebunan.


"Syukurlah tuhan masih sayang padaku," Gumam Cooper menyeret wanita ini ke arah rumah itu dengan rasa lega sudah bisa berteduh ke area depan.


Mayat wanita itu ia baringkan di atas teras rumah ini lalu ia duduk selonjoran untuk merilekskan tubuhnya.


"Jika seperti ini maka aku akan mati kedinginan," Gumam Cooper tapi punya harapan pada rumah ini. Ia dengan senang hati mengetuk pintu berharap ada orang di dalam.


"Permisi!!! Apa boleh aku masuk berteduh sebentar?"


Tak ada jawaban sama sekali. Cooper mengintip dari jendela kaca di depan tapi terhalang oleh tirai putih di dalam sana.


"Permisi!! Jika tak ada orang aku akan masuk!"


"PERGI ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMUU!!"


Suara Edwald yang terdengar tergesah-gesa dan emosi yang membara bagaikan petir di telinga Cooper.


Ia segera bergegas menyeret mayat wanita ini pergi dari tempat yang sudah tak lagi aman. Lebih baik ia terguyur hujan dari pada meladeni pria arogan itu.


"Dia disana? Yang benar saja. Kenapa hidupku selalu sial?!!" Umpat Cooper terpaksa pergi ke penginapannya yang jauh dari sini. Tapi, untung saja saat di pertengahan jalan ada satu anggota mata-matanya dulu yang segera membantu Cooper pergi.

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2