
Para warga desa yang tadi ada di depan kediaman kakek Bolssom seketika di landa heran sekaligus bingung saat Shireen pulang di gendong seorang laki-laki tampan yang tampak mendominasi disini.
Tatapan datarnya seperti tak berminat pada mereka semua bahkan, ia enggan menyapa lebih dulu.
Tahu akan situasi seperti ini, Shireen yang tadi di punggung Edwald segera turun berdiri di samping pria itu.
"Ini suamiku!"
"S..suamii?" Syok mereka semua langsung mengucek mata dan segera mengerumuni Edwald yang risih segera membelit pinggang seksi Shireen posesif.
"Mereka ingin memakan-ku?" Gumam Edwald menunjukan wajah tak sukanya pada semua warga desa yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Tatapan tak percaya dan kagum itu tak bisa di sembunyikan bahkan, banyak wanita disini yang merasa Edwald begitu membuat mereka terkesima.
"Ternyata suami nona Shireen lebih tampan di banding yang ku lihat di media!"
"Yah! Dia sangat tampan dan gagah. Memang pantas bersanding dengan nona kita!"
Decah mereka saling berbisik. Gunjingan terakhir dari wanita itu sukses membuat Edwald semakin angkuh.
Ia merapatkan tubuh keduanya sampai jarak setipis tisu-pun tak tampak. Shireen berusaha mendorong dada bidang Edwald seraya tersenyum biasa pada semua warga desa yang tersenyum malu melihat mereka.
"Kendurkan belitanmu!"
"Memangnya aku melakukan apa?" Bisik Edwald pura-pura tak tahu. Padahal, posisi mereka sekarang begitu intens bahkan Shireen terlihat menyatu dengan Edwald.
Puas menggoda wanita ini di hadapan banyak orang, Edwald baru melepaskan Shireen saat cubitan maut Shireen sudah mendarat ke perut kerasnya.
Nenek Rue yang melihat itu tak tahu mau merespon bagaimana. Jujur ia tak begitu suka dengan Edwald yang selama ini tak pernah menjaga Shireen dengan baik.
Bahkan, saat wanita itu sakit dan sendirian datang kesini-pun Edwald tak ada. Belum lagi masalah nyonya Colins yang di hadapi sendiri.
"Nyonya besar! Menantu mu memang sangat sempurna. Tak hanya kaya raya dia juga sangat tampan," Kelakar ibu-ibu di sampingnya.
Tapi, nenek Rue hanya tersenyum biasa. Ia mendekati Shireen dan Edwald yang tengah beradu tatapan kesal dan dongkol.
"Shireen!"
"Nek! Apa kakek belum pulang?" Tanya Shireen tapi nenek Rue memandang Edwald dengan rona yang kurang nyaman.
Edwald tahu itu tapi ia masa bodoh. Yang ia mau itu Shireen dan untuk apa memperdulikan orang lain?! Begitulah pikir arogan Edwald.
"Nek! Ini Edwald!"
"Aku tahu," Jawab nenek Rue menghela nafas dalam. Ia mengiring Shireen untuk masuk ke dalam kediaman diikuti Edwald yang mengacuhkan para warga yang berbisik penuh kagum padanya.
Tapi, ada juga yang merasa risih dengan tatapan datar dan hawa tak bersahabat Edwald yang sama sekali tak ramah pada mereka.
"Dia memang tampan tapi, kenapa begitu galak? Wajahnya seperti kulkas delapan pintu."
"Rumornya Presdir Edwald memang begitu. Dia tak ramah tapi sangat berbakat."
Desas-desus mereka yang akhirnya pamit untuk kembali ke rumah masing-masing apalagi ini sudah sore.
__ADS_1
Para pelayan di kediaman ini bergegas membereskan halaman depan yang tadi di gunakan untuk menjamu warga. Tak khayal beberapa mereka juga gagal fokus pada Edwald yang baru pertama kali mereka lihat secara langsung.
"Bagaimana cara nona menghadapi pria itu? Dia terlihat sangat kaku."
"Susst! Jangan bicara sembarangan," Tegur salah satunya segera mengarahkan semua pelayan untuk membereskan ini.
Sementara di dalam sana. Nenek Rue mengajak Shireen ke dapur meninggalkan Edwald di ruang utama.
Wanita tua itu tampak cemas sekaligus khawatir dengan hubungan cucunya.
"Nak! Apa kalian baik-baik saja?"
"Yah, memangnya kenapa? Nek!" Tanya Shireen sesekali menatap ke pintu dapur.
"Setelah sekian lama dia baru datang! Dia seperti tak peduli padamu bahkan sudah berhari-hari kau disini tapi tak sekalipun dia menanyakan kabarmu, nak!"
Jelas nenek Rue mengungkapkan kecemasannya. Shireen akhirnya diam sejenak merasa sulit menjelaskan, hubungan seperti apa yang ia dan Edwald jalani sekarang karna ia juga tak tahu.
"Nek! Dia memang seperti itu. Tapi.."
"Shireen!!!"
Suara kakek Bolssom berteriak dari depan sana. Shireen dan nenek Rue bergegas menyusul ke ruang depan hingga terlihatlah Edwald yang duduk santai di sofa utama sedangkan kakek Bolssom berdiri di depan pintu.
Wajah kakek Bolssom seperti tak menyukai keberadaan Edwald yang hanya duduk diam tapi tak memangku kakinya.
"Kek! Kau sudah pulang?"
"Kenapa dia disini?" Tanya kakek Bolssom yang memang marah pada Edwald karna tak ada di masa-masa sulit Shireen yang kala itu di rumah sakit tapi dia tak bisa di hubungi.
"Apa pekerjaannya begitu penting dari pada kau?" Tanya kakek Bolssom menyelipkan nada marahnya.
Edwald hanya diam. Jika menghadapi kakek Bolssom dengan kondisi seperti ini maka akan sangat rumit menjahui pertikaian.
"Kek! Edwald juga sering membantuku. Dia.."
"Jangan memberi alasan lagi," Sela kakek Bolssom tak mau mendengar itu.
Alhasil Shireen diam beralih memandang Edwald dengan penuh kegelisahan. Tapi, dari tatapan Edwald ia mengisyaratkan Shireen agar tak berbuat apapun.
"Fanze tak di temukan. Kami sudah menyusuri jalan di perkebunan tetap saja nihil!" Alih kakek Bolssom yang masih memikirkan Fanze.
Shireen saling pandang dengan Edwald yang hanya santai padahal semua ini karna ulahnya.
"Bahkan, ada bekas kayu pembakaran di gudang. Sepertinya ada yang beraktifitas disana padahal warga desa tak bekerja hari ini."
"A.. itu.. Fanze.."
Shireen sulit memberi tahu ini. Ia takut kakek Bolssom akan marah besar jika tahu Edwald nyaris membunuh Fanze yang sudah di bawa ke rumah sakit.
"Ada apa? Kau tahu sesuatu?" Tanya kakek Bolssom memeggang bahu Shireen yang kikuk.
"Kek! Sekarang Fanze ada di rumah sakit."
__ADS_1
"Apaa??" Syok mereka terkejut. Shireen mengangguki hal itu dengan perasaan harap-harap cemas.
"Kenapa bisa? Apa yang terjadi?"
"Ini kesalahpahaman antara .. Edwald pada Fanze. Hanya kesalahpahaman, kek!" Jawab Shireen memilah kalimat yang lebih aman.
Namun, kakek Bolssom sudah menyorot Edwald dengan mata tajam yang tampak kuat.
"Apa yang dia lakukan pada Fanze?"
"Ini.."
"Hanya warga biasa dan kenapa begitu rusuh?" Sela Edwald tak merubah kepribadiannya sama sekali. Shireen memelototi Edwald agar menjaga sikapnya tapi Edwald tak berubah.
Ia berdiri dan melangkah tegas berhadapan dengan kakek Bolssom yang sedari dulu memang memandangnya penuh kecurigaan.
"Jaga ucapanmu! Dia bukan hanya sekedar warga desa biasa!!"
"Lalu?" Tanya Edwald dengan hawa gentar.
Nenek Rue sungguh pusing melihat suaminya yang masih tak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Edwald.
"Lancaang!! Kau pikir kau pantas bicara seperti ini, haa??"
"Aku bicara sesuai apa yang-ku mau."
Jawab Edwald dan itu semakin membuat kakek Bolssom mendidih. Shireen yang ada di tengah-tengah keduanya segera meraih lengan nenek Rue agar menghindar dari sini.
"Shireen! Cepat pisahkan mereka. Ini tak baik, nak!"
"Biarkan saja, nek! Lagi pula salah Edwald juga, kenapa begitu keras kepala?!" Gumam Shireen tak mau ikut campur lagi.
Ia pergi ke kamarnya begitu juga nenek Rue yang ingin istirahat. Mereka mengacuhkan dua manusia berbeda masa yang sekarang masih berhadapan jantan.
"Jika kau tak serius pada cucuku, lebih baik pergi dari hidupnya."
Mendengar itu sudut bibir Edwald tertarik licik. Ia tak mau berpura-pura menjadi menantu yang menjilat apalagi ia ingin serius dengan Shireen.
"Aku akan pergi tapi BERSAMANYA."
"Kau tak pantas," Sarkas kakek Bolssom mengibarkan bendera perang dengan Edwald yang sudah tahu bagaimana sambutan hari ini.
"Pantas atau tidak, cucumu akan tetap menjadi MILIKKU, hm?" Tekan Edwald berbalik pergi arah kepergian Shireen tadi.
Ia sekarang bersemangat untuk menjahili wanita itu dan tak berniat untuk melawan kakek Bolssom yang pasti tak akan bertindak buruk.
"Kau bicara soal pantas atau tidak. Sudah jelas benihku sudah menguasai rahim emas cucumu itu," Desis Edwald disela kaki yang menapaki tangga ke atas.
Ia menyeringai saat membayangkan betapa menyenangkannya bermain dengan Shireen yang pasti tak akan mudah ia ajak bertempur malam ini.
"Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mengunjungi benihku," Gumam Edwald bergegas pergi ke kamar Shireen mengandalkan insting lelakinya. Aroma tubuh wanita itu selalu tertinggal di jalur yang dia lewati.
....
__ADS_1
Vote and like sayang.