
Hening, sunyi dan dingin. Rasa itu merambat ke seluruh penjuru kulitnya sampai matanya perlahan terbuka memandang ke arah atas dimana cahaya lampu yang tajam menusuk lensa matanya.
Untuk sejenak dia diam menormalkan pandangan yang sedikit membayang hitam dan kepala berdenyut kecil membuatnya sadar sepenuhnya.
"Shireen!" Gumamnya teringat soal kejadian waktu lalu. Ia ingin bangkit tapi, sesuatu yang berat menahan pinggang dan kakinya.
Di tatapnya geram rantai di pinggang dan kakinya yang terikat langsung dengan kursi di tengah-tengah ruangan sunyi ini. Di sekeliling Edwald hanya ada beton dengan bagian pintu tak sama dengan penjara pada umumnya.
Pintu yang seperti terbuat dari baja dengan kotak jendela seukuran buku tulis di beri sel-sel besi hitam yang sempit. Inikah tempat yang pantas untuknya?!
Di pikiran Edwald hanya tentang Shireen. Apa yang terjadi pada wanita itu dan apa dia baik-baik saja?! Sungguh, Edwald merasa ada di titik yang paling buruk sekarang.
Krett..
Suara pintu di buka dari luar. Edwald yang tak bisa bergerak duduk di kursi itu hanya memandang datar sosok yang masuk ke dalam ruangan ini.
"Kau sudah sadar, monster?" Tanya Licnus memberi senyum puas melihat keadaan Edwald.
Ia datang bersama dua rekannya yang biasa ikut saat mengintrogasi tahanan. Keadaan Licnus tampak sudah lebih baik dari sebelumnya, dia bahkan berani berdiri di depan Edwald yang tak menundukan kepalanya sama sekali bahkan, keangkuhan dan wibawa tinggi itu masih lekat membuat Licnus geram bukan main.
"Apa perasaanmu ada di dalam ruangan ini? Menyenangkan, atau..takut, hm?"
Edwald tetap diam. Ia seakan tak menganggap Licnus ada dan sontak pria itu semakin meluap-luap karna mengingat bagaimana brutalnya Edwald saat menghajarnya waktu itu.
"Kau mendadak bisuu, haa?!!" Geram Licnus langsung menampar wajah Edwald yang langsung tertolak kasar ke samping.
Licnus puas melihat darah yang mengering di hidung Edwald dan sekarang rahang tegas itu juga akan habis olehnya.
"Kenapa? Sakit? Apa kau ingin menangis?"
Edwald mengepalkan kedua tangannya yang di borgol dan diikat ke kursi ini. Di tatapnya membunuh wajah Licnus yang membungkuk padanya.
"Kau bisa memohon padaku! Ayolah!" Desis Licnus tapi Edwald justru membenturkan keras kepalanya ke kening pria itu hingga Licnus tersentak segera terhuyung ke belakang.
Kepala Licnus terasa di hantam batu keras bahkan keningnya langsung berdarah. Dua bawahan yang ada di sampingnya sampai menelan ludah seperti tak bisa belagak berani terlalu lama.
"APA YANG KALIAN TUNGGU??! BERI DIA GANJARAAN!!" Bentak Licnus hingga mereka bergegas memberanikan diri memukuli Edwald yang tak bisa bergerak karna rantai yang membelitnya begitu kuat.
__ADS_1
Licnus merasa benar-benar senang melihat Edwald di hantam dengan besi-besi keras itu sampai wajahnya lebam dan darah yang keluar di bagian pelipisnya tak bisa di hindarkan.
"Lakukan sekeras mungkin!! Dia pantas menerima semua ini!!" Geram Licnus seperti menyaksikan video hiburan yang sangat sempurna.
Edwald yang merasa di pukuli satu kampung itu hanya bisa menerima. Pikirannya berputar pada momen-momen dimana dulu ia sempat melakukan misi dengan sempurna dan sekarang dia mendekam di ruangan dingin dan kedap terasa sesak.
"S..Shireen!" Gumam Edwald yang sudah di pukul sekuat tenaga oleh anak buah Licnus yang tampak sudah berani saat Edwald tak mungkin lagi bisa untuk bangkit.
Puas memukuli Edwald, Licnus berencana ingin melepas amarahnya pada pria ini tapi, tiba-tiba saja Jendral Adison dan bawahannya datang hingga Licnus tersigap.
"Jenderal!"
Sapa Licnus memberi hormat pada Jenderal Adison yang memandangnya tajam lalu beralih pada Edwald. Seketika Jenderal Adison sempat terhenyak melihat keadaan Edwald yang dipenuhi luka dan jelas pelaku dibalik ini adalah Licnus.
"Jenderal! Aku berusaha untuk menginterogasinya tapi dia sama sekali tak mau bicara!" Elak Licnus seraya memandang ke arah para bawahannya yang ia tekan agar membenarkan apa yang barusan ia katakan.
Alhasil, para bawahannya mengangguk membenarkan hal itu.
"Iya, Jenderal! Dia memberontak sampai ingin kabur!"
"Aku benar, Jenderal!" Sahut Licnus tapi Jendral Adison hanya diam.
"Jenderal! Maafkan aku. Aku hanya terpancing emosi!"
"Jangan lakukan apapun padanya sampai sidang di tentukan. Informasi yang kau ingin gali itu sudah terkumpul semuanya!" Tegas Jenderal Adison hingga Licnus pasrah mengangguk siap.
Ia melirik tajam Edwald yang tampak memejamkan matanya karna darah segar itu mengalir menyusuri pelipisnya.
"Kami akan mengurusnya, Jenderal!" Ucap Licnus lalu mengisyaratkan para bawahannya untuk pergi dari sini.
Alhasil, hanya tinggallah Jenderal Adison dan satu bawahannya berdiri menatap Edwald yang perlahan membuka mata.
Tatapan datar nan penuh intimidasi keduanya beradu sampai Jenderal Adison tersentak halus dan berusaha menormalkan raut wajahnya.
"Kau pergilah keluar!" Titahnya pada satu anggota yang segera mengangguk melangkah pergi.
Jenderal Adison mendekati Edwald yang diam sedia dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
"Kau terpaksa melakukan semua kejahatan itu?" Tanya-nya tegas tak sama seperti Licnus tadi.
"Itu kemauanku!"
"Jika kau terpaksa, kau mungkin akan bisa melihat anak dan istrimu lagi!"
Seketika Edwald terdiam. Jelas dari raut wajah dan tatapannya yang memudarkan rasa angkuh itu pasti wanita bernama Shireen benar-benar spesial di hatinya.
"Jika kau terpaksa karna seseorang maka katakan. Tapi, semua anggota GYUF termasuk petinggi-petingginya jelas akan dikenai hukuman mati."
"Jika aku yang membentuk GYUF, bagaimana?" Tanya Edwald dan Jenderal Adison terdiam sejenak sebelum menghela nafas ringan.
"Semua anggotamu akan di ringankan karna mereka bertindak di bawah perintahmu. Apalagi, Suma yang juga terlibat dalam hal ini sudah tiada dan hanya kau yang dituntut bertanggung jawab."
Edwald diam. Ia bisa saja mengelak dan membuat nyawanya masih bertahan tapi, bagaimana dengan Wesson, Glimer dan para anggota lainnya?! Nasib mereka bergantung pada kemuliaan tuhan dan tindakan yang akan ia ambil.
"Kau putuskan mulai dari sekarang. Jika kau yang membentuk GYUF maka bertanggung jawab secara jantan. Jika tidak, hiduplah dengan anak dan istrimu dalam sebuah kepalsuan," Tegad Jenderal Adison bijaksana.
Edwald terus membisu. Ia tak takut mati tapi yang membuatnya enggan pergi karna ingin melihat anak dan istrinya.
Helaan nafasnya terhembus berat. Ia berusaha untuk tetap tenang walau sekarang semua kemungkinan terburuk itu menghantui isi kepalanya.
"Aku ingin menemui istriku!" Lirih Edwald seperti sudah menemukan jawabannya. Jenderal Adison mengangguk.
"Hm, kau bisa menemui mereka! Lagi pula, istrimu tengah di operasi!"
Degg..
Edwald terkejut. Tatapannya begitu kosong seperti membayang pada sosok itu.
"Dia mengalami pendarahan hebat dan tak mungkin bisa mempertahankan bayi itu lebih lama di dalam perutnya."
"D..diaa.."
"Kau tenang saja. Bayimu hanya akan lahir prematur!" Jawab Jenderal Adison menenagkan Edwald yang tadi hampir tak bisa mengendalikan dirinya.
Jika sampai terjadi sesuatu padamu dan anak kita, aku benar-benar tak akan bisa memaafkan diriku sendiri Shireen.
__ADS_1
Vote and like sayang