
Tetesan darah yang tengah mengalir di dalam selang menuju jarum yang sudah menusuk di siku bagian dalam wanita cantik ini terus di pantau oleh seorang Suster.
Suster itu sudah satu jam disini karna perintah dari dokter Remy yang tadi sudah selesai melakukan USG dan mengurus hasil pemeriksaan.
"Tekanan darahnya sudah normal. Untung saja ada stok darah di rumah sakit ini," Gumam Suster itu mencatat beberapa hal yang akan ia laporkan pada Dokter Remy.
Setelah beberapa lama mulai ada pergerakan dari jemari lentik Shireen. Suster itu lega mencoba untuk berinteraksi.
"Nona! Kau mendengar-ku?" Tanya Suster itu menunggu.
Selang beberapa menit kemudian kelopak mata indah itu mengkerut, dahinya mengernyit dan perlahan membuka matanya.
"Nona!"
Pandangan pertama kabur. Nuansa langit-langit putih rumah sakit membuatnya kembali mengerijab agar lensa matanya berfungsi sempurna.
"Nona! Apa kau merasakan sesuatu?"
"A..aku.."
Shireen hanya bisa bergumam lemah. Pandangannya di edarkan ke seluruh penjuru ruangan dan ia baru sadar jika sekarang ia terbujur di ranjang rumah sakit.
"Nona! Keadaanmu masih belum stabil. Kau bisa katakan apa keluhan mu!"
Shireen diam. Ia mematung melihat kantong darah yang sudah mau habis di sampingnya dan selang infus di punggung tangan kiri.
"B..bagaimana dengan j..janinku?" Lirih Shireen yang mengingat jika tadi ia mengalami pendarahan hebat.
"Hasilnya masih di urus oleh dokter Remy. Aku akan memanggilnya!"
Shireen diam memandangi kepergian Suster wanita itu. Ia masih belum bisa menjawab, apa yang akan ia lakukan nanti? Bagaimana rencananya kedepan dan apa yang terjadi jika Edwald sampai tahu ia hamil?!
Sungguh hal itu terus melintas di kepala Shireen bagai rol film yang berputar tiada henti.
Disuatu sisi aku membencimu, ed! Tapi, aku tak mungkin melenyapkan mahluk yang tak bersalah di rahimku.
Batin Shireen sampai meremas selimut di perutnya. Ia menangis dalam diam bahkan isakan tertahannya begitu menyayat hati.
Semua itu di lihat oleh manik hijau elang Edwald yang sudah sedari Suster keluar tadi berdiri di balik pintu ini. Wajahnya datar menatap lurus menembus kaca kecil untuk melihat dari luar.
"Tuan!"
Dokter Remy yang baru datang bersama Suster tadi. Ia membawa beberapa lembar kertas mendekati Edwald.
"Dia sudah sadar. Kau tenang saja!" Ucap dokter Remy yang sedari tadi melihat Edwald terus mondar-mandir di depan pintu ruang rawat Shireen lalu pergi tapi kembali lagi.
__ADS_1
"Ini hasil USG dan pemeriksaan tubuh nona. Apa kau ingin melihatnya?" Menyodorkan lembaran kertas itu.
Edwald mengambilnya. Ia melihat ada hasil USG Shireen yang ia pahami.
"Untung saja pendarahan itu cepat di tangani atau tidak janin di rahim nona tak akan bisa di selamatkan. Ada luka pada dinding rahimnya tapi untuk sekarang sudah bisa di tangani."
"Bagaimana dengan janinnya?" Tanya Edwald masih memandangi lembaran kertas ini.
"Syukurlah janinnya dalam keadaan aman. Hanya saja nona harus benar-benar memperhatikan kesehatannya. Kondisi janin itu termasuk kuat bisa bertahan selama ini tapi, kenapa bisa kau tak tahu jika istrimu hamil, tuan?"
Edwald tak menjawab. Ia kembali menatap Shireen dari balik pintu ini dengan perasaan sangat sulit di jabarkan.
Dia mengandung anakku. Lalu, bagaimana? Apa aku pantas menerimanya? Apa mungkin Shireen akan semakin membenciku?!
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala Edwald. Jujur ia tak menyangka akan ada di posisi ini karna lembah kotor kehidupannya begitu mengerikan.
"Tuan! Temui nona. Dia mungkin akan lebih tenang jika.."
"Jangan beritahu apapun padanya!" Tegas Edwald dan langsung membuat dokter Remy membisu saling pandang dengan Suster di sampingnya.
"Tuan! Apa maksudmu?"
"Jangan beritahu dia jika aku disini. Katakan jika kau yang membawanya dan tak ada seorangpun yang tahu soal kehamilannya," Ujar Edwald dengan wajah penuh teka-teki.
Dokter Remy tak bisa berbuat banyak. Ia akhirnya masuk ke dalam ruangan itu diikuti Suster wanita yang sempat melirik bingung Edwald.
"Nona!"
"Nona! Apa yang kau rasakan? Kau.."
"Bagaimana dengan janinku?" Tanya Shireen menyela. Suaranya parau dan serak tapi juga memprihatinkan.
"Janin anda baik-baik saja. Pendarahan yang baru saja nona alami di sebabkan oleh pola hidupmu yang tak teratur. Tubuhmu kelelahan begitu juga batin mu. Usahakan jangan membebani diri terlalu kuat karna kau akan membahayakan calon anakmu."
Shireen diam. Ia tak menyangka jika janin itu bertahan selama masa buruk yang pernah ia alami dulu. Seharusnya ia sudah mengalami keguguran sejak lama tapi tuhan masih terus mengujinya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tak tahu apa ini anugrah atau justru masalah baru untuknya.
Melihat Shireen yang berkecamuk membuat dokter Remy berpikir jika ada masalah antara sepasang suami istri ini.
"Nona! Kehadiran janin ini jangan kau anggap masalah. Walau aku tak tahu bagaimana posisimu tapi percayalah, sesuatu yang baik akan datang jika kau menerima dengan lapang dada."
"T..tapi, bagaimana jika aku menempatkannya dalam bahaya besar?" Tanya Shireen yang takut jika sampai Edwald atau anggota GYUF itu tahu maka mereka akan melenyapkan anak ini.
"Kau harus melindunginya. Jadikan dia kekuatanmu, nona! Kau akan jadi seorang ibu dan kau memiliki mahluk yang akan sangat mencintaimu. Jangan depresi karna ini."
__ADS_1
Dokter Remy menenangkan Shireen sementara Suster itu melepas selang darah yang sudah selesai transfusi. Sesekali ia melirik ke arah pintu dimana Edwald masih ada di sana tapi Shireen tak memandang ke sana
"Tadi dia terlihat sangat takut dan gelisah. Tapi, saat nona ini sadar dia sama sekali tak mau bertemu. Ada apa dengan mereka?!"
Batin Suster itu mengemas kantong darah dan peralatan yang sudah tak lagi di pakai.
"Nona! Apa perutmu mual?"
"Yah, kepalaku juga sakit," Desis Shireen merasakan perutnya sangat mual dan kepalanya berdenyut. Dokter Remy segera memeriksa Shireen yang memandang ke arah pintu.
Shireen tersentak melihat ada sekilas bayangan seseorang tapi sudah tak ada lagi di sana.
"A..apa ada orang disini? Apa ada orang lain yang tahu aku seperti ini?" Panik Shireen begitu takut jika anak buah Suma mengintainya.
"Nona! Kau tenang saja. Tak ada siapapun yang tahu karna aku yang membawamu sendiri ke rumah sakit."
"K..kau yakin? Mereka.. Mereka pasti sekarang mencariku. Aku.. Aku harus pergi," Kacau Shireen tak ingin membahayakan janin ini lagi.
Tapi, keadaannya masih begitu lemah sampai tak bisa bangkit.
"Nona! Jangan bergerak dulu. Kau harus istirahat!"
"A..aku.. Aku mohon jangan beritahu siapapun. Mereka.. Mereka akan membunuh bayi ini," Cemas Shireen yang diangguki dokter Remy.
"Kami akan berjaga, nona! Kau tenang saja."
"Iya, lagi pula tempat ini sangat aman," Timpal Suster itu menenagkan Shireen yang segera diam. Ia akhirnya bisa berbaring kembali mengawasi area pintu yang tadi sempat menakutinya.
Tidak.. Kau tak boleh tahu. Aku tak akan membiarkanmu merenggut sesuatu yang paling berharga lagi dariku.
.......
Sementara di luar sana. Edwald bersandar ke dinding dengan mata terpejam dan lembaran kertas tadi masih ada ditangamnya. Ini masa paling sulit dalam hidup Edwald karna harus menghadapi ketakutan Shireen.
"Steen!"
Cooper yang berlari mendekat. Ia tadi di suruh oleh Edwald untuk menyampaikan kabar ke kediaman Suma jika Shireen sudah di temukan dan bersama Edwald.
Tapi, tentu Wesson tak tinggal diam. Sedari tadi Edwald juga mendapat panggilan dari Wesson tapi Edwald tak menjawabnya.
"Steen! Semuanya sudah ku urus sesuai perintah-mu. Lalu apa rencana mu sekarang?" Tanya Cooper tapi Edwald masih diam.
Tentu pria ini tak akan bisa tenang apalagi kondisi Shireen ada di tengah-tengah bahaya.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..