
Pagi ini rencana Suma harus di laksanakan. Mereka sudah berkumpul di kediaman utama untuk merundingkan apa saja rencananya. Bagian itu di urus oleh Edwald yang mengatur jalan rencana penyamaran Wesson.
Ia dengan lancar menjabarkan apa-apa saja yang akan di lakukan Wesson dan identitas pria itu di urus Glimer yang sudah membeberkan berkas penting penyamaran di atas meja pertemuan.
"Sama seperti yang pernah aku lakukan sebelumnya. Kau harus membuat putri mereka jatuh hati padamu lalu barulah menjalankan taktik yang kedua. Perlu kau ingat, keluarga ini pasti akan menyelidiki identitas mu dan berhati-hatilah!" Jelas Edwald pada Wesson yang duduk di sampingnya.
"Lalu? Apa hanya aku yang ada di sana?" Tanya Wesson bimbang.
Edwald mengangguk. Ia akan memantau dari luar selagi belum ada masalah maka mereka tak akan bertindak.
"Kau cukup jalani peranmu. Tunjukan jika kau memang bisa diandalkan tapi jangan terlalu menonjol, hm?"
"Aku mengerti," Jawab Wesson setelah helaan nafas ringannya.
Suma tersenyum puas kala keinginannya akan tercapai lagi. Ia memang sangat beruntung memiliki putra yang begitu pandai mengatur strategi.
"Kapan kalian akan mulai? Kita perlu menyiapkan segalanya!"
"Hari ini!" Tegas Edwald sudah mempertimbangkan itu. Wesson sampai memijat pelipisnya sendiri pusing.
Edwald tahu, Wesson berat untuk pergi karna tak ingin meninggalkan Shireen disini. Tapi, itulah salah satu tujuan Edwald untuk menjauhkan kucing peniru itu dari saudaranya yang baik hati ini.
Suma juga heran melihat Wesson uring-uringanan. Tak biasanya Wesson seperti ini bahkan sampai tak fokus.
"Wesson!"
Sekali panggilan Wesson tak menjawab. Ia masih memikirkan sesuatu seraya memandang ke kartu identitas dan surat penting di atas meja.
"Wesson!"
"A.. iya, dad?" Tanya Wesson tersentak. Suma diam menatap penuh selidik Wesson yang melirik Edwald tapi pria ini hanya membatu.
"Kau kenapa? Tak biasanya kau begini."
"Emm.. Tak apa. Aku hanya kurang sehat," Elak Wesson. Suma mendelik kesal karna cemas jika Wesson melakukan kesalahan.
Tapi, ada kesenangan tersendiri bagi Suma yang tahu jika Shireen pasti akan sendirian disini. Ia jadi punya waktu untuk bersenang-senang dengan wanita itu.
Semua orang mengacuhkan exspresi Suma yang senyam-senyum sendiri tapi Edwald sangat menangkap fantasi liar Suma pada Shireen.
"Wesson!" Panggil Edwald dan Wesson segera memandangnya.
"Ada apa?"
"Aku memerlukan pelayan pribadimu!" Ujar Edwald tegas dan langsung di pandang rumit oleh Suma.
__ADS_1
Glimer hanya tersenyum kecut. Bisa-bisanya mereka berebut seorang pelayan bervisual dewi itu.
"Maksudmu?"
"Aku membutuhkannya dalam misi ini," Jawab Edwald mengetuk-ngetuk meja dengan tatapan datar mengarah pada Suma.
Saat kami sibuk dengan misi yang kau berikan, kau akan mengambil keuntungan dari ISTRIKU.
Arti tatapan mematikan Edwald yang membuat Suma berpikir dua kali.
"Dia hanya seorang pelayan. Untuk apa kau mengajaknya dalam misi ini?" Bingung Wesson.
"Aku membutuhkan umpan," Sahut Edwald dan itu langsung membuat Wesson geram.
"Steen! Kau ingin menjadikan Shi umpan musuh? Kau gila, Ha??"
"Dia hanya seorang pelayan. Kenapa responmu begitu berlebihan, hm?" Desis Edwald memantik ketidak terimaan Wesson jika Shireen sampai di jadikan umpan.
"Kak! Jangan-jangan kau menyukai pelayan itu," Ledek Glimer dan Wesson tak menyembunyikannya.
"Yah, aku memang menyukainya!"
"Wessoon!!" Bentak Suma menggebrak meja. Semuanya membisu terutama Wesson yang tahu jika disini ada peraturan yang melarang untuk berhubungan dengan bawahan secara spesial.
"Aku sudah mengatakan sebelumnya. Jika kalian ingin bermain maka bermainlah sesuka hati tapi jangan sampai membawa mereka lebih jauh. Aku tak ingin kalian dikendalikan oleh perasaan tak penting itu."
"Kau berani menentang ku," Geram Suma menyela ucapan Wesson. Wajah pria dewasa ini mengeras bahkan kedua tangannya terkepal erat
"Jika kau sudah mencintainya maka dia akan mudah memanfaatkan mu. Kau tak ingat tentang apa yang ibumu lakukan, haa??"
"Dia berbeda, dad! Aku yakin dia.."
"Aku tak ingin lagi membahas ini. Pindahkan pelayan itu ke gudang belakang!" Tegas Suma bangkit lalu pergi dengan amarah menguasai jiwanya.
Wesson meninju meja ini keras sampai Glimer pucat tak pernah melihat Wesson yang biasanya menurut sampai memberontak hanya karna seorang pelayan.
"Kenapa jika dia pelayan?! Belum tentu dia sama seperti wanita itu!" Geram Wesson mengepal. Edwald terdiam sejenak lalu bangkit.
"Persiapkan dirimu. Kita berangkat siang ini!" Ucap Edwald datar dan melangkah pergi. Tapi, sebelum ia menjauh Wesson segera mencetuskan pertanyaan.
"Kenapa kau menginginkan Shi?"
Edwald terhenti. Kedua tangannya masih masuk ke dalam saku celana menatap lurus dan optimis kedepan.
"Aku bisa mencarikan wanita lain untuk umpan mu, Steen!"
__ADS_1
"Pikirkan tentang ucapan Suma!" Tegas Edwald melanjutkan langkahnya.
Wesson benar-benar bingung harus bagaimana. Kenapa rasanya sangat sulit untuk menjalankan misi ini?!
"Kak! Sebaiknya kau turuti daddy. Jangan sampai kalian bertengkar hanya karna seorang pelayan," Ucap Glimer tapi Wesson hanya meliriknya dari ekor mata tajam itu.
.....
Sementara Edwald. Ia mencari Shireen yang tak di temukan di kediaman ini. Ia juga sudah bertanya pada kepala pelayan yang mengatakan jika tadi Shireen meminta ponsel barunya lalu pergi dan tak kembali lagi
"Tuan! Mungkin dia tengah menelpon keluarganya. Dia bilang ia sangat merindukan orang tuanya!"
Edwald diam membiarkan pelayan itu pamit pergi. Sudah jelas Shireen tak punya orang tua yang peduli padanya
"Coopeer!!!" Panggil Edwald dari lantai dasar menembus telinga Cooper yang tadi ada di depan.
Pria itu terpongoh-pongoh mendekati Edwald yang sudah berwajah kelap dan mendingin.
"Ada apa? Steen!"
"Dimana wanita itu?" Tanya Edwald menukik tajam. Cooper membisu tapi ia juga sedari tadi tak melihat Shireen.
"Mungkin dia ada di kamar tuan Wesson!"
"Jika ada aku tak akan bertanya padamu," Geram Edwald langsung melangkah lebar keluar dari kediaman utama.
Di halaman depan, Edwald tak melihat keberadaan Shireen. Ia semakin khawatir karna tak biasanya Shireen menghilang tanpa kabar seperti ini.
"Steen! Jika Shireen keluar pasti anggota di depan tak akan membolehkannya. Aku akan mencari di belakang!"
"Periksa CCTV!" Tegas Edwald pada Cooper yang segera bergegas ke ruang CCTV.
Sementara Edwald. Ia berjalan cepat menuju bangunan pribadi Wesson seraya menelisik di perjalanan. Biasanya Shireen menyiram bunga di depan dan duduk di bawah pohon rindang disini.
Tapi, satu-pun tak terlihat tanda-tanda keberadaanya.
Saat sudah ada di kediaman pribadi Wesson. Edwald masuk dengan paksa membuka pintu itu. Di dalam disini tak ada tanda-tanda keberadaan orang bahkan Edwald sampai pergi ke kamar Wesson.
"Shireeen!!"
Panggil Edwald tapi tak ada jawaban. Saat ia buka kamar ini tiba-tiba saja Edwald melihat ada darah yang menetes di lantai.
Jantung Edwald seketika berguncang hebat bahkan ia tak bisa mengontrol perasaan sempit ini.
...
__ADS_1
Votr and Like Sayang..