Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Wanita sialan


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu berdua akhirnya Edwald membawa Shireen pulang. Tak ada yang berubah dari Shireen bahkan ia masih cerewet seperti biasa. Walau sempat saat di perjalanan resto tadi jadi pendiam tapi sekarang humornya kembali bagus.


Saat tiba di kediaman tentu mereka harus mengahadapi hawa tak bersahabat dari tuan Walter sedangkan nyonya Colins sudah ada di rumah sakit.


"Shireen!!" Panggil tuan Walter duduk di sofa ruang tamu menatap tajam Edwald yang bergandengan dengan putrinya.


Shireen yang paham maksud daddynya segera mendekat tapi mengisyaratkan Edwald untuk pergi ke kamar lebih dulu.


Saat Edwald ingin pergi, tuan Walter segera menyerukan suara cukup lantang.


"Kau tetap disini!!!"


Seketika Edwald terhenti. Ia bersitatap dengan Shireen yang menghela nafas dalam berdiri di depan tuan Walter.


"Dad!"


"Kau sudah menemukan solusinya?" Tanya tuan Walter penuh hawa penghakiman. Lirikan ekor matanya terlihat jelas menguliti Edwald yang tahu respon mertuanya akan seperti apa.


"Dad! Aku masih mencari solusinya dan.."


"Orang Bank itu sudah menelfonku seharian ini, Shireen!" Gumam tuan Walter memijat-mijat pelipisnya.


Shireen diam beralih menatap Edwald yang mendekat kearahnya. Pria bermanik hijau tajam itu juga berhadapan langsung dengan tuan Walter yang mengepal.


"Kau masih berani berhadapan denganku?!" Sarkasnya kasar.


"Aku tak sempat mengurus perusahaanmu. Jika kau ingin, aku akan mengerjakan yang lain."


"Beraninya kau??!!" Bentak tuan Walter membuat Shireen bertambah kacau. Edwald bukannya menenagkan suasana tapi justru menambah bubuk amarah di ubun-ubun pria tua ini.


"Ed!" Lirih Shireen pada Edwald yang menggeleng.


"Shi! Aku harap kau bisa mengerti situasi-ku."


"Situasi seperti apa, ha?? Kau mengurus hal kecil seperti ini saja tak bisa. Aku sangat menyesal menikahkan Shireen dengan pria sepertimu!!"


Ucapan tuan Walter benar-benar sukses membuat wajah Edwald kelap. Kedua tangannya mengepal dengan urat mata penuh emosi tapi masih terbentengi.


Apa aku bisa memenggal kepalanya detik ini juga?!


Itulah yang ia pikirkan sekarang. Bukannya mengerti, tuan Walter berdiri dengan wajah mendongak karna Edwald memang lebih tinggi darinya.


"Aku tak ingin tahu apapun. Kau selesaikan semua ini atau kau akan menyesal seumur hidupmu."


"Dad! Aku yang akan menanganinya. Kau.."


"Kau diaam!!" Geram tuan Walter mencekik kalimat di leher Shireen yang seketika bungkam.


"Karna kau selalu membelanya dia jadi terus berlindung di belakang-mu!!"


"Jangan membentaknya," Desis Edwald masih menahan intonasi mengerikan itu. Shireen sungguh takut jika tuan Walter semakin marah hingga keduanya akan bertengkar hebat.


"Dad! Sudahlah. Kita bicarakan ini nanti. Aku janji akan mencari jalan keluarnya," Ucap Shireen mencoba menengahi.


Tuan Walter diam. Ia tak berhenti memandang penuh kemarahan pada Edwald yang di tarik Shireen untuk pergi ke kamar atas.


"Kau pergilah duluan, Sayang!"


"Ed! Daddyku sangat marah. Dia tak akan mendengarkan siapapun," Gumam Shireen tapi Edwald tetap ingin disini.


Shireen akhirnya pasrah pergi lebih dulu ke lantai atas meninggalkan Edwald yang masih memunggungi tuan Walter.


Wajahnya seketika berubah dingin. Ia meneggaskan pandangannya tak lagi menahan seperti semula.


"Pantas perusahaanmu bisa bangkrut. Nyatanya kau bekerja begitu buruk."


Mendengar itu seringaian Edwald tertarik sinis. Kedua tangan beralih masuk kedalam saku celana tak menyembunyikan keangkuhannya.


"Sungguh kau berpikir seperti itu, hm?" Desis Edwald berbalik.


Seketika tuan Walter terkejut melihat wajah penuh kejahatan Edwald yang sangat berbeda dari yang tadi.

__ADS_1


"K..kau.."


"Apa kau pikir aku benar-benar bangkrut?" Tanya Edwald mendekat. Langkah lebarnya pelan tapi meraup jarak yang ada membuat tuan Walter mundur kebingungan.


"Yah. Kau tak punya apapun."


"Kau yakin?" Desis Edwald terus memojokan tuan Walter ke arah meja kaca di depan sofa sampai pria itu tertahan di sana.


Wajah tuan Walter sudah pucat pasih bahkan nafasnya yang tadi memburu beralih sendat. Ntah kenapa ia sangat takut dengan tatapan manik hijau elang ini dan hawa membunuh yang Edwald sebarkan.


"K..kau.."


"Aku hanya MENIPUMU," bisik Edwald mengejutkan tuan Walter. Mata pria itu melebar dengan mulut terbuka sangat syok.


"M..maksudmu?"


"Ayah mertuaku tersayang," Lirih Edwald merapikan pakaian tuan Walter dengan menepuk-nepuk pundak pria ini.


Setiap sentuhannya bagaikan pisau menukik tajam bahkan mampu memberi getaran hebat.


"K..kau.."


"Kau ingin tahu aku kesini karna siapa, hm?" Gumam Edwald dengan sorot mata mengurung tuan Walter dalam hawa intimidasinya. Keringat dingin muncul di kening pria ini pertanda ia sangat terancam.


"S-U-MA!"


Deegg...


Tuan Walter langsung meneggang di tempat. Nama itu masih jelas membekas di ingatannya bahkan nama itulah yang selama ini Walter hindari.


"Aku utusan Suma yang akan mengambil semua yang kau bawa. Dan perlu kau ketahui satu hal," Ucap Edwald lalu mendekatkan bibirnya ke telinga tua Walter yang sudah terpaku kosong.


"Aku juga yang membuat putrimu KRITIS!"


"K..KAU..."


Tiba-tiba saja tuan Walter mengalami sesak nafas. Ia kejang luruh ke lantai dengan dada terasa sakit dan terasa sangat nyeri.


"A..ak..ku.."


"Tenanglah di alam sana!" Tekan Edwald beralih duduk di sofa yang tadi tuan Walter gunakan. Ia bertopang kaki angkuh tersenyum puas melihat tuan Walter mengalami anfal.


Yah, tuan Walter memang menderita sakit jantung dan semua orang juga tahu itu. Hanya saja, kedatangan Edwald semakin memperparah penyakitnya.


"T..to..lo.. ng!!" Gagapnya sudah tak sanggup dengan tangan berusaha terangkat meminta pertolongan pada Edwald yang justru tak menggubrisnya.


Edwald tak perduli. Seperti biasa ia tak punya empati atau bermain-main dengan ucapannya.


"Apa kau ingin mati dengan sangat tenang, hm?" Tanya Edwald tersenyum licik. Ia mengangkat tuan Walter yang sudah kejang-kejang dan memukul-mukul dadanya yang sakit ke atas sofa panjang ini.


"K..kau.. j..ja..h..ui.. S..Shi..reen.. Uhuukk!!"


Mendengar itu kesabaran Edwald tak lagi bisa bertahan. Ia mengarahkan kedua tangan tuan Walter ke lehernya sendiri lalu tersenyum iblis.


"Sampai jumpa di neraka!" Bisik Edwald lalu mencekik tuan Walter dengan tangan pria itu sendiri. Kaki tuan Walter menerjang dengan mata terbelalak dan cukup melakukan perlawanan.


Tapi, Edwald menyentak lehernya kuat hingga dalam sekejap tuan Walter mengejang dengan mata terbuka lebar.


Nafasnya berhenti. Kedua kakinya tergeletak begitu saja bahkan detakan jantungnya sudah tak terdengar.


"Ini penghormatan langsung dariku, ayah mertua!" Bisik Edwald mengusap wajah tuan Walter yang seketika terpejam. Edwald meletakan kedua tangan pria malang itu di atas dadanya dengan kedua kaki lurus seperti sedang tidur.


Setelah menyelesaikan ini Edwald bangkit. Ia harus pergi bertemu Cooper untuk segera mengambil alih perusahaan Harmon. Malam ini akan ia pastikan keluarga ini akan hancur.


"Aku pergi. Tunggulah kabar istrimu," Gumam Edwald melangkah tegas keluar dari kediaman. Ia harus mengurus nyonya Colins dan akan ia pastikan wanita itu menyusul suaminya.


Setelah beberapa lama kepergian Edwald, Shireen turun dari tangga. Sepertinya wanita itu baru selesai mandi terbukti dengan gaun tidur dilapisi cardigan dan rambutnya masih basah.


Dahinya mengernyit melihat tuan Walter tidur di sofa sedangkan Edwald sudah tak ada.


"Edwald!!" Panggil Shireen menuruni anak tangga. Ia memeggang ponsel hingga segera menghubungi Edwald.

__ADS_1


Belum sempat suara operator menjawab, satu pesan masuk datang dari Edwald.


AKU TAK SEMPAT BICARA DENGAN DADDYMU, SHI!


ADA PANGGILAN DI TEMPAT KERJAKU.


"Jelas-jelas kau tak bekerja disana, Ed!" Gumam Shireen tak lagi membendung rasa gelisahnya. Apalagi ia masih terganggu dengan wanita tadi siang.


"Jangan-jangan dia pergi ke resto Bullgart. Yah, tempat itu."


Shireen bergegas pergi keluar kediaman. Ia lupa jika sekarang ia hanya memakai gaun tidur dengan cardigan yang untung saja menutupi sampai kelutut dan menjaga pemandangan indah itu.


Shireen masuk ke mobil dan segera melajukan baja mewah itu melewati penjaga gerbang yang membiarkan kepergian Shireen.


"Aku harap duggaanku salah, Ed! Kau bukan pria seperti itu," Gumam Shireen terus meyakinkan dirinya.


Ia memacu agak cepat seraya mencari daerah resto itu dengan ponselnya. Hanya perlu 30 menit Shireen sampai ke wilayah resto itu dan tak ada yang mencurigakan sama sekali.


Shireen memarkirkan mobil di luar area resto yang seperti biasa ramai. Tempat khas Italia ini tergolong mewah dan nyaman.


"Aku harus menutupi wajahku," Gumam Shireen memakai masker.


Ia keluar dari mobil dan mulai masuk ke dalam resto dimana banyak pengunjung disini. Beberapa orang menatap Shireen dengan aneh karna memakai cardigan tidur tapi tak dipungkiri betis mulus itu sangat menggoda.


"Dia tak ada disini," Gumam Shireen tak melihat Edwald. Ia risih dengan pandangan para lelaki yang kebanyakan sudah memiliki pasangan tapi mereka masih menatap penuh minat pada Shireen yang terus menelisik masuk.


"Ada yang perlu kami bantu, nona?" Tanya Waitress mendekati Shireen.


"A.. Apa disini tak ada ruang privat?"


Pelayan itu diam sejenak. Ia berpikir maksud Shireen adalah bar atau club yang tersembunyi disini.


"Ikuti saya, nona!"


"Yah," Gumam Shireen mengikuti wanita ini. Ia masih memakai sandal kamar mandi berbulu menjadi bahan perhatian beberapa orang yang melihatnya.


Shireen acuh tapi ia sungguh tak menyangka saat pelayan ini membawanya masuk ke sebuah pintu yang menunjukan suasana bar besar dengan banyak wanita dan lelaki sedang bercumbu disini.


"Silahkan, nona!"


Shireen menelan ludah kasar. Ia sangat jijik masuk kesini tapi ia ingin tahu apa Edwald kesini atau tidak.


Tak mau membuang-buang waktu lagi Shireen masuk ke dalam. Saat kakinya menginjak lantai bar tiba-tiba saja tatapan para pria disini langsung terkunci pada Shireen.


Suara musik masih mendentum tapi mereka seakan menemukan ikan mas yang tersesat di lumpur.


"Siapa dia?"


"Sangat cantik. Kakinya indah!"


Decah mereka sampai membuat Shireen tak nyaman. Ia merapatkan cardigannya menatap jijik pada setiap pria berbagai bentuk disini.


Tak bisa menahan ketidaknyamanan ini lagi akhirnya Shireen ingin pergi. Tapi, matanya tak sengaja melihat ke arah meja bar dimana seseorang yang familiar dengan jaket yang sama tengah duduk berhadapan dengan seorang pria lebih oendek darinya.


"E..Edwald?" Gumam Shireen terkejut. Edwald terlihat berbeda dari apa yang ia lihat selama ini. Pria itu minum dengan wajah menyimpan kemisteriusan.


Bukan itu saja. Yang semakin membuat Shireen nyaris tumbang adalah kedatangan seorang wanita berpakaian minim mendekati Edwald dan duduk di paha pria itu.


"I..Ini.."


Mata Shireen berkaca-kaca dengan tubuh terasa lemas dan tak lagi bertulang. Kedua tangannya mengepal saat wanita itu ingin mencium Edwald yang tak menghindar sama sekali.


"Sialaan!!!" Geram Shireen mendekati meja bar itu. Tak bisa membendung rasa sakitnya lagi Shireen menarik rambut Kimmy yang seketika syok begitu juga dengan Edwald dan Cooper.


"Wanita ja**lang!!" Maki Shireen menarik rambut Kimmy kuat dan menampar wanita itu keras sampai tubuh Kimmy tersungkur di lantai.


Suasana seketika mendingin dengan Edwald yang mematung seakan tak percaya jika Shireen disini dan melihat segalanya.


Cooper yang biasa berwajah konyol sekarang tiba-tiba pucat pasih dan berkeringat melihat Shireen tiba-tiba datang. Lalu bagaimana dengan Edwald?


Pria itu jangan ditanya lagi. Ia diam membeku di tempat dengan jantung berdegup sangat kencang bahkan Edwald tak pernah merasakan kekhawatiran sekuat ini.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2