Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Berani mengganggu milikku, kalian tak akan ku lepaskan!


__ADS_3

Kekacauan di resto tadi masih saja berlangsung. Shireen syok melihat anggota GYUF benar-benar melukai para media yang tadi mendesak masuk. Mereka berkelahi dan tentu anggota GYUF tak bisa di tolak dengan mudah.


Perlawanan mereka justru membawa ke ambang bencana sampai dinding kaca resto sampai pecah akibat hantaman tubuh para pria yang tadi ikut emosi dan bergulat pertikaian sengit.


"Hentikaan!!" Cegah Shireen pada para anggota GYUF yang tampak tak peduli jika sudah banyak yang tumbang dan berlumuran darah.


Mereka bertarung dengan niat membunuh lalu menghancurkan semua kamera yang tadi menyorot mereka. Manajer resto yang ada di dalam sudah gemetar pucat begitu juga pengunjung lain yang merapat ke dinding menyaksikan aksi brutal anggota GYUF yang menjalankan perintah Edwald.


"Apa yang kalian lakukan, ha? Kalian bisa terkena masalah besar!!"


"Mereka pantas untuk ini," Tegas semuanya menjadi benteng di depan resto. Kimmy yang masih di tahan Cooper tampak menyeringai karna hal ini akan memantik kemarahan besar Suma.


Lihat saja, Suma akan benar-benar murka saat melihat anggota GYUF terang-terangan berkelahi hingga mereka akan terendus oleh pihak pemerintahan negara yang sebelumnya memburu GYUF.


Batin Kimmy sangat puas. Ia sudah memperhitungkan segalanya hingga nanti Shireen benar-benar tak akan bisa berlindung dimanapun termasuk pada Edwald sendiri.


"Kau puas sekarang?" Tanya Kimmy kembali menaburkan minyak pada bara yang tadi redup.


"Siapa mereka yang berani melukai orang lain hanya demi melindungimu?! Apa itu suruhan pria yang menyimpanmu atau.."


"Itu bawahanku!"


Degg..


Suara itu sangat dingin dan tegas menukik ke dalam resto. Pandangan mereka beralih pada dua sosok gagah nan tampan tapi jelas wajah pria bermain hijau itu sudah tak terhitung bekunya.


Kedatangannya langsung menyelubungi tempat ini dengan hawa intimidasi dan ancaman. Para anggota yang melihat kedatangan Edwald dan Wesson segera mundur membukakan pintu resto yang tadi mereka tutup dari luar.


"Tuan!"


Sapanya menunduk tapi segera pergi karna pasti akan ada aparat kepolisian yang akan datang mengamankan situasi.


Wesson menatap datar beberapa orang yang mengalami luka-luka terbaring tak berdaya di luar resto dengan hujan salju yang masih membumbui suasana.


"Kalian mencari mati," Gumam Wesson tak peduli sama sekali dan masuk ke dalam.


Tapi, Shireen tahu orang-orang di luar sana tak bersalah karna otak dari kekacauan ini adalah wanita lintah bernama Kimmy.


"Hubungi ambulans dan bawa mereka ke rumah sakit!" Titah Shireen pada manajer resto yang tadi sempat melamun dan segera bergegas melakukan perintah Shireen.


Seketika suasana hening. Tak ada yang berani bicara, semua orang menjatuhkan pandangannya ke lantai kecuali Shireen yang memandang biasa wajah tampan kelam Edwald.


"Kenapa kau kesini?" Tanya Shireen karna pasti akan runyam nantinya.


Edwald tak menjawab. Ia melirik Cooper dari ekor matanya hingga pria itu langsung mengerti segera menyeret Kimmy mendekat.


"Kauu.."


"Siaplah untuk mereggang nyawa," Bisik Cooper mendorong Kimmy ke hadapan Edwald yang menatap tajam Kimmy dengan sorot mata membunuh bahkan sangat menakutkan.


"E..Edwald! Kau..kau jangan salah paham. Aku hanya ingin wanita ini tak lagi mengganggumu, hanya itu!" Jelasnya dengan keberanian yang ciut mengendap.


Darah Edwald mendidih panas sampai kedua tangannya mengepal. Jelas, ia sangat marah dan emosi sampai Shireen tak pernah melihat urat kemurkaan yang terbesit di mata tajam itu.

__ADS_1


"Edwald! Sekarang mereka sudah tahu kalau.."


PLAAAKK..


Tamparan keras dari Edwald yang membuat Kimmy langsung tersungkur na'as membentur meja di sampingnya.


Hal itu sontak membuat semua orang terpekik saat melihat darah keluar dari hidung, telinga bahkan mulut Kimmy yang merasakan kepalanya pusing, telinganya berdengung dan kesadarannya mulai diambang batas.


Wesson dan Cooper sampai menelan ludah karna mereka tahu itu pasti sangat sakit dan menyiksa.


"E..Edwa.."


Kimmy tak bisa berkata-kata karna kepalanya begitu sakit bahkan ia samar-samar tak bisa mendengar suara apapun. Edwald benar-benar tak menyelipkan rasa iba sama sekali saat memukulnya.


Para pengunjung resto yang melihat keadaan Kimmy yang mengenaskan langsung beranjak menjauh dari Edwald. Mereka pergi ke belakang Shireen yang juga masih syok.


"Siapa yang merekam?"


Tanya Edwald dengan suara yang tak berubah. Bulu kuduk mereka merinding seakan mendengar malaikat maut bertanya bebas.


Pandangan membunuh itu memindai wajah-wajah pucat ketakutan semua orang di belakang Shireen yang juga cemas.


"Edwald! Kau.."


"Tak ada yang bicara?" Tanya Edwald dengan suara dingin dan berat. Ia benar-benar mengintimidasi mereka semua hingga seorang wanita muda yang tadi bersembunyi di belakang langsung lari ke dekat Shireen dan memeluk lengan wanita itu.


"N..nona!! Nona, maafkan saya!! Maaf!"


"Kau.."


Shireen diam. Ia ingin bicara tapi tiba-tiba saja rambut wanita itu langsung di tarik kasar oleh tangan kekar Edwald.


"Edwaald!!!" Pekik Shireen saat Edwald menghantamkan kepala wanita itu ke meja di sampingnya hingga jatuh tak sadarkan diri.


Wesson juga sangat terkejut melihat Edwald yang terang-terangan bersikap kejam di depan mata semua orang yang sudah seakan mau mati berdiri.


"K..kau.. Apa yang kau lakukan, haa?? Kau bisa membunuhnya!!"


"Aku tak peduli," Tegas Edwald menatap Shireen yang tampak tak bisa berkata-kata lagi. Ia melihat Kimmy yang seperti ingin memutus nyawa dan wanita tadi di lantai sudah pingsan dengan kepala berdarah.


"Dia wanita, Edwald! Kau tak seharusnya melakukan ini dan..


"Apa kau bukan wanita?" Sela Edwald dingin memotong ucapan Shireen yang tercekat dengan kilatan amarah di mata sang suami.


"Kau dan dia sama-sama seorang wanita tapi, apa dia peduli padamu?!"


"A..aku.."


"DENGARKAN AKU BAIK-BAIK!" Tegas Edwald beralih pada semua orang disini. Suaranya lantang menakuti seluruh mahluk bahkan serangga manapun tak berani menempel disini.


"Aku tak peduli kalian wanita atau bukan. selama kalian mengusik apa yang menjadi MILIKKU, aku tak akan melepaskan KALIAN," Tekan Edwald di beberapa kata dan itu sukses membuat mereka langsung gemetar tapi Shireen mematung.


M..MILIKKU? A..apa maksudnya?!

__ADS_1


Batin Shireen bertanya-tanya. Jujur ia merasa tersentuh sampai sulit menjabarkan bagaimana isi hatinya sekarang.


"T..tuan! Maafkan kami.. Maafkan kami!" Sesal mereka menunduk takut.


Namun, Edwald tak pernah memberi kesempatan kedua. Ia mengeluarkan pistol di balik jasnya dan itu sontak membuat semuanya ketakutan.


"Tuaaan!! Ampuni kamii!!" Panik mereka langsung terduduk meringkuk saat pistol Edwald sudah membidik ke arah mereka semua.


"Pergilah ke neraka," Geram Edwald ingin menembak tapi Shireen langsung menutup ujung pistol di tangan Edwald dengan tangannya.


"Menyingkir!"


"Tembak saja!" Pinta Shireen saling tatap dengan manik penuh kemarahan Edwald yang tak bisa bertahan lama dengan manik hitam bening teduh ini.


Ia menurunkan pistolnya dan barulah mereka bisa bernafas lega.


"Lepaskan mereka! Lagi pula, aku tak kenapa-kenapa," Gumam Shireen mengisyaratkan agar semuanya keluar dan mereka langsung berlarian pergi hingga hanya mereka yang tersisa dan manajer resto yang hanya sembunyi di belakang tanpa mau menunjukan wajahnya.


"Bagaimana dengan lintah ini?" Tanya Cooper menunjuk Kimmy yang sudah sekarat hanya dengan satu tamparan tangan panas Edwald. Bagaimana jika tadi Edwald meninjunya?! Pasti Kimmy sudah pindah alam.


"Kau memukulnya begitu keras. Aku rasa dia akan tuli," Gumam Cooper bahagia.


"Bawa dia ke markas!"


Tegas Edwald lalu menyimpan kembali pistolnya dan menarik lengan Shireen keluar dari resto. Ambulans juga sudah datang mengevakuasi korban di halaman depan dan mereka tak berani menyapa Edwald yang terus berjalan menuju mobilnya bersama Shireen yang hanya menurut saja.


Ia masuk diikuti Edwald yang segera duduk di kursi kemudi. Edwald mengambil tisu di depan lalu mengusap tangannya.


"Kau jijik memeggang tanganku?!" Rutuk Shireen hanya bergumam melihat Edwald seperti membersihkan tangannya.


Tapi, Shireen tersentak saat Edwald kembali memeggang tangannya hingga ekspresi Shireen langsung berubah.


A..apa dia menghapus jejak Kimmy? Jadi..


Shireen langsung menunduk. Rona merah di pipinya tak bisa di sembunyikan karna itulah khas dari seorang Shireen.


Edwald hanya melirik dari ekor matanya. Ia tak mau Shireen kepikiran soal masalah ini hingga akan menganggu siklus tidur dan makannya.


Yang jadi buah pikiran Edwald sekarang adalah Suma. Ntah apa yang akan ia lakukan nanti jika sampai ayah angkatnya itu marah besar?!


....


Vote and like sayang


Info gayss..


Visualnya udah author uplod di TikTok author ya.😁 mayan coba keberuntungan disana.. Nanti di IG juga bakal author post tapi agak lama dikit ya 😅


Tiktok: Willycorline



Ig:Toonovel

__ADS_1



__ADS_2