
Pagi ini nyonya Colins sudah membuat drama barunya. Ia bangun dengan nuansa pilu tak berhenti memanipulasi keadaan tentang kematian Shireen yang tampak menyisakan banyak luka di hatinya.
Wanita licik itu berdiri di dekat jendela samping kediaman, menatap sendu ke luar pekarangan.
"Shireen!" Gumamnya semakin dramatis saat tahu jika nenek Rue baru saja turun dari kamarnya.
Wanita tua itu tampak diam sejenak lalu mendekati nyonya Colins yang masih menunjukan raut pilu yang dalam.
"Shireen! Kenapa kau pergi secepat ini? Nak! Kenapa?"
"Colins!" Panggil nenek Rue kala sudah berdiri di samping nyonya Colins yang seketika menoleh.
"Mom!"
"Antar aku ke pemakaman cucuku. Aku tak bisa menunggu lebih lama," Desak nenek Rue dengan suara parau khas wanita tua.
Nyonya Colins diam setia dengan wajah sesaknya. Jauh dari balik topeng tipu muslihat ini, ia tersenyum lebar kala nenek Rue dan kakek Bolssom jatuh dalam perangkapnya.
"Kau lihat saja, wanita tua! Saat dalam perjalanan menuju makam cucumu, maka kau juga akan segera menyusulnya!"
Batin nyonya Colins mengungkap wajah liciknya. Ia berdiri memeluk nenek Rue yang sebenarnya sangat muak melakukan hal ini.
"Kalau bukan karna cucuku, aku bersumpah tak akan segan melenyapkan wanita ular sepertimu,"
Batin nenek Rue tetap memasang wajah sedihnya. Ia menurut saat nyonya Colins mengiringnya ruang depan dimana kakek Bolssom sudah berdiri di depan pintu.
"Dad!"
"Kita pergi sekarang!" Tegas kakek Bolssom tanpa menatap nyonya Colins yang sangat ingin mempercepat pembahasannya.
Ia menunduk segan saat nenek Rue ingin mengajaknya ke arah mobil yang sudah terparkir di depan.
"Ayo. Apa yang kau tunggu?"
"Mom! Aku tak tahu harus membicarakan ini atau tidak padamu," Ucap nyonya Colins menghela nafas berat.
Nenek Rue dan kakek Bolssom saling lirik tapi mereka menunggu, apa kejutan dari wanita ular ini?!
"Katakan! Ada apa? Apa ini masalah cucuku?"
"Sebenarnya. Sebelum Shireen kecelakaan dia sempat berpesan padaku tentang suatu hal yang saat itu sangat membuatku marah, mom!"
Nenek Rue diam mendengarkan kisah hasil karangan nyonya Colins yang seperti sangat nyata.
"Ntah itu pertanda atau tidak. Dia sempat mengatakan jika, dia sangat mempercayai Freya sebagai adiknya. Dia ingin Freya sembuh seperti sedia kala tapi, mom! Shireen seakan tahu jika malam itu ia akan .."
Nyonya Colins tak melanjutkan ucapannya seakan berat dan sangat takut.
"Dia bilang, jika terjadi sesuatu padanya di kemudian hari maka, Freya harus melanjutkan perjuangannya untuk keluarga Harmon. Aku.. aku sangat marah karna Shireen tetaplah putri tunggal keluarga ini. Aku tak menyangka jika.. jika ternyata malam itu dia sudah tak ada lagi!"
"Ya tuhan!" Gumam nenek Rue lemah tapi jujur, sekarang ia sudah naik pitam.
"Aku tak tahu harus apa. Aku takut jika Shireen tak tenang jika tak menuruti keinginannya, mom!"
Kakek Bolssom sampai meremas pinggir pintu di sampingnya menahan amarah dengan, apa yang di katakan nyonya Colins barusan.
Tapi, untung saja para warga desa yang semalam sudah di ajak kompromi itu tampak berdatangan ke depan kediaman kakak Bolssom.
"Akhirnya ini akan berakhir," Gumam kakek Bolssom sudah muak.
Nyonya Colins menatap warga desa Casthillo yang berkumpul dengan wajah tak terima mereka.
"Dimana nona Shireen?? Kami tak percaya jika dia sudah tiada!!"
"Yaah!! Nona Shireen tak akan tiada secepat itu!!"
Sorak mereka membuat nyonya Colins mengepal. Rahangnya ketat dan sorot mata berubah geram.
"Kenapa warga sialan ini memberontak sekarang?!"
__ADS_1
Batinnya takut jika rencananya gagal. Padahal, hanya perlu menekan kakek dan nenek Rue yang pasti akan menuruti permintaan terakhir Shireen..
"Jika memang nona Shireen sudah tiada? Kenapa tak ada satupun berita yang menyiarkan tempat dan waktu kecelakaannya?! Nona Shireen juga bukan orang sembarangan!!" Protes mereka membuat suasana pagi ini memanas.
"Kejadian itu baru saja terjadi. Tak ada yang sempat untuk mengambil gambar atau yang lain. Aku mohon jangan menambah rasa sakit kami!" Ucap nyonya Colins memelas di sertai air mata buayanya.
"Omong kosong!! Kami tak percaya padamu!!"
Hardik mereka semakin meras berulah. Alhasil nyonya Colins langsung melakukan cara jitu untuk keluar dari suasana ini.
"Jika mereka terus seperti ini. Maka, rencanaku bisa gagal total,"
Batin nyonya Colins langsung berpura-pura lemas terduduk di lantai. Nenek Rue yang tak kuat menahannya hanya membiarkan wanita ini ada di sebelah kakinya.
"S..shireen! Kalian.. Kalian jangan membuatnya tak tenang! Aku.. Aku mohon!" Lirihnya memelas seraya memeggangi kepalanya.
"Colins!"
"M..mom! K..kepalaku.."
Ia mulai belagak tak kuat nyaris pingsan tapi, ada rombongan baru yang datang menyelinap diantara warga yang perlahan memberi jalan.
Disana ada Fanze yang datang bersama polisi yang berjumlah 3 orang. Tubuh mereka begitu kekar dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Itu dia!! Penipu!!"
Hardik Fanze menunjuk ke arah nyonya Colins yang seketika terkejut tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya.
"M..mom! Aku.. Aku sudah tak kuat," Desisnya pada nenek Rue yang hanya membisu.
"Pak! Dia yang sudah menipu seluruh warga desa dengan menyebarkan berita palsu tentang kematian Shireen!"
"Kau nyonya Colins?" Tanya pihak kepolisian yang sudah menerima bukti dan laporan lengkapnya. Ia datang siap meringkus wanita ini secepat mungkin.
"Tidak! Aku tak bisa tertangkap disini,"
Batinnya segera pingsan tergeletak di lantai. Hal itu membuat seluruh warga desa saling pandang lalu tertawa keras seakan-akan menjadikan ini lelucon.
"Sudahlah!! Mau berpose bagaimanapun kau juga akan di tangkap polisi," Geram Fanze yang sangat marah saat tahu jika nyonya Colins merencanakan pembunuhan pada Shireen.
Saat menjadi olok-olokan warga desa. Nyonya Colins masih kekeh tak mau membuka matanya. Pihak kepolisian yang datang-pun mulai bosan segera mendekat mengeluarkan borgol.
"Kenapa mereka selancang ini?! Apa yang terjadi?"
Batinnya merasa bingung sekaligus cemas. Kedua tangannya sudah di borgol dan mau tak mau nyonya Colins terjebak dalam drama ini.
"Kau masih tak mau bangun?" Tanya Fanze dengan nada mengejek. Mereka semua tersenyum kecut menatap jijik pada nyonya Colins yang tanpa malu tetap bertahan.
"Tidak! Jika aku kembali sadar maka mereka akan menyalahkan aku."
Batinnya kelut. Ia berusaha memberatkan tubuhnya saat di angkat oleh dua pria berbadan kekar ini.
"Sampai kapan kau akan berpura-pura, hm?"
Degg..
Nyonya Colins langsung membuka matanya. Ia segera berdiri dan menatap syok ke arah Shireen yang berjalan anggun turun dari tangga dengan senyuman yang mampu membuatnya gemetar.
"K..kau.."
"Aku masih hidup? Itu yang ingin kau tanyakan, bukan?" Desis Shireen sudah melangkah maju berhadapan dengannya.
Suasana seketika berubah bukan lagi ranah permainan drama palsu nyonya Colins yang benar-benar menatap terkejut Shireen seakan-akan ini mimpi baginya.
"K..kau.. i..ini.."
"Sudahi drama menjijikan ini! Kau memang pantas MEMBUSUK di penjara!" Tekan Shireen menegaskan ucapannya.
Nyonya Colins benar-benar melihat sosok Shireen yang berbeda. Kedua mata wanita ini sudah seperti ujung belati tajam menikam jantung siapa saja yang berani berhadapan dengannya.
__ADS_1
Seakan masih belum merasa kalah dan putus asa. Nyonya Colins berteriak tak karuan.
"Tidaak!! Aku tak menipu kalian!!! Dia memang sudah tiadaa!! Dia sudah matii!!"
"Kau-lah yang pantas tiadaa!!" Geram nenek Rue langsung menampar keras nyonya Colins dengan amarah yang sudah di tabung dari semalaman.
Nyonya Colins terdiam dengan mata marah, geram dan benci yang tak bisa di hindarkan.
"Kau menamparku??? Berani kau menamparkuu??"
Kali ini bukan nenek Rue tapi Shireen yang membuat nyonya Colins tersungkur dua kali. Tamparan tangan lentik nan indah itu sudah lebih kasar bahkan pedas dari biasanya.
"Bukan hanya menampar.." Desis Shireen menjeda kalimatnya dengan sorot mata mengurung nyonya Colins dalam kemarahan.
"Aku bahkan bisa MENGHANCURKANMU lebih dari ini!" Imbuhnya mempermalukan nyonya Colins di hadapan semua orang.
Merasa tak terima dengan kekacauan ini, nyonya Colins langsung memaki Shireen yang sedia dengan wajah cantik tegasnya.
"Kau wanita sialaan!! Berani sekali kau mempermainkan aku??? Aku akan melenyapkanmu!!"
"Bawa dia sebelum aku memukul wajahnya!" Desis kakek Bolssom yang masih menahan diri untuk tak main tangan.
Nyonya Colins di seret pergi dari sini beriringan dengan seruan warga desa yang puas melihat wanita ular ini mati dalam niat jahatnya sendiri.
"Syukurlah! Nona kita akhirnya bisa aman."
"Yah, aku juga tak menyukai wanita ular itu."
Desis mereka membuat Shireen tersenyum lega. Ia melangkah maju kedepan tepat di teras kediaman menatap lembut semuanya.
"Terimakasih sudah membantuku. Aku tak akan melupakan jasa kalian!"
"Apa yang kau katakan? Nona! Kau adalah putri desa ini. Jika tak ada kau, bagaimana bisa panen anggur dan perkebunan kami akan bisa semaju ini?!"
Ucap salah satunya yang di benarkan semua warga. Fanze tersenyum pada Shireen yang juga membalas senyuman tulusnya.
"Baiklah! Karna kalian sudah bekerja keras. Aku akan mengadakan jamuan besar-besaran. Bagaimana??"
"Setujuu!!!" Sorak mereka bertepuk tangan menyambut Shireen dalam lingkup keluarga desa ini.
Apalagi kakek Bolssom dan nenek Rue bukanlah orang sembarang. Keduanya salah satu keluarga yang disegani di sini.
Ditengah keramaian ini. Fanze diam mencuri-curi pandang pada Shireen yang berbaur dengan warga desa yang sangat mengaguminya.
Kau memang tak berubah. Masih saja sangat baik dan selalu hangat.
Kagum Fanze tak mau mengalihkan pandangannya dari Shireen yang sesekali tertawa kecil saat ada ibu-ibu yang mengusap perutnya karna kabar kehamilan Shireen memang sudah menyebar ke pelosok desa.
Di tengah suasana bahagia ini, Shireen merasakan sesuatu yang sangat familiar. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan dengan bulu kuduknya meremang seperti merasakan hawa kehadiran seseorang.
"Kenapa aku merasa dia ada disini?!"
Batin Shireen melihat kiri kanan. Ia tak menyadari kedatangan dua sosok pria berjaket dan topi hitam yang tengah berdiri di seberang jalan di depan rumah tertutup oleh pohon di depan kediaman ini.
Lingkungan yang asri dengan rumput yang masih terjaga membuat Shireen gelisah tak menemukan pemilik hawa kehadiran ini.
"Lihatlah! Betapa bahagianya dia tanpa aku," Geram sosok itu mengepal dengan sorot mata membunuh dan sangat tak bersahabat.
Ia rela tak pulang ke markas dan langsung tancap ke tempat ini mengabaikan urusan lain. Tapi, sosok yang sudah membuatnya pusing dan naik darah itu dengan entengnya bersenda gurau dengan orang lain.
Sementara pria yang ada di belakangnya hanya diam. Ia seperti patung yang tak bicara apapun karna, mengingat disini banyak semak tinggi dan tempat yang strategis untuk menyiksanya lagi.
"Lebih baik aku diam. Bicarapun akan serba salah," Batinnya tak mau ikut campur.
Namun, walau bagaimanapun sikapnya kalau sudah dalam kondisi seperti ini akan tetap salah. Pria arogan ini menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang gila.
"Bunuh tikus kecil itu!"
....
__ADS_1
Vote and like sayang..