Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Perjalanan cinta Edwald dan Shireen(Ending)


__ADS_3

5 bulan telah berlalu. Kehidupan yang Edwald jalani perlahan-lahan telah berubah menjauh dari dunia kelam yang semula ia geluti.


Apalagi, sejak kabar kehamilan Shireen yang mengandung anak ke 2 mereka, Edwald benar-benar fokus membina rumah tangganya dengan wanita itu dan menjauhi hal-hal yang berbau kriminal karna Shireen trauma akan kejadian bertahun-tahun silam.


Edwald memimpin perusahaan keluarganya dengan sangat baik dan di balik itu ia mengakusisi perusahaan ACIAN miliknya hingga sekarang, Perusahaan besar itu bergabung dengan bisnis keluarganya.


Kerajaan bisnis Aldebaron sudah semakin melebar apalagi Edwald tak segan-segan mengikutsertakan perusahaan Harmon menjadi rekan sejati bisnisnya.


Alhasil, pria tampan itu semakin sibuk bahkan sering lembur tapi tak pernah melupakan anak dan istrinya.


Seperti sekarang, ia tengah berada di kota Milan karna harus mengurus perusahaan ACIAN disini. Sudah 1 minggu Edwald berusaha mengejar waktu karna ia tak mau berlarut-larut sampai membiarkan istrinya di negara orang.


Malam ini, Edwald masih bekerja berharap besok ia bisa pulang. Tak lupa ponselnya selalu menyala tersandar di pegangan ponsel di atas meja memperlihatkan sosok wanita yang tampak masih belum tidur memandangi wajah lelah suaminya.


"Kapan kau istirahat?"


"Hm? Apa sayang?" Tanya Edwald sesekali menatap ponsel lalu kembali pada laptop di hadapannya.


Shireen diam. Ia sangat memaklumi kesibukan Edwald dan selalu berusaha untuk ada di setiap momen pekerjaan sang suami.


"Jangan buru-buru. Kau bisa pulang kapan saja tapi kesehatanmu juga harus di utamakan, Ed!"


"Aku sehat! Apa kau sudah makan? Jangan lupa minum susu hamil-mu!" Ujar Edwald menatap layar ponselnya hangat.


Shireen mengangguk pertanda mengerti. Wanita cantik itu tampak berbaring di atas ranjangnya dengan rona wajah yang semakin mempesona membuat Edwald selalu jatuh cinta.


"Aku sudah menghubungi Cooper! Dia akan mengantar makanan untukmu."


"Hm, aku mengerti. Kau tidurlah!" Jawab Edwald mengangguk kembali fokus pada pekerjaannya. Shireen diam memandangi wajah tampan lelah Edwald yang ingin sekali ia peluk hangat apalagi dalam mode stelan kemeja seperti ini.


Lama-kelamaan ia mulai mengantuk dan akhirnya terlelap sendiri. Edwald yang menyadari itu hanya tersenyum kecil lalu bergegas untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah beberapa saat kemudian, pintu ruangannya terbuka. Ada Cooper yang masuk membawa berkas baru dan Ealnest si bocah nakal yang juga ikut ke kota ini membawa kotak makanan di tangannya.


"Dad! Kau bisa mati mendadak jika terus menatap layar laptopmu!" Ketus Ealnest menarik kursi di depan meja Edwald dan duduk di samping pria itu.


Ia melihat wajah lelap mommynya di ponsel Edwald yang masih menyala.


"Pelankan suaramu. Mommy sedang tidur!"


"Siip!" Jawab Ealnest membentuk jari mungilnya seperti huruf O. Cooper-pun sudah biasa dengan semua ini.

__ADS_1


Ia pelan-pelan meletakan berkas di meja Edwald yang sudah seperti perpustakaan lalu duduk di lengan kursi milik Ealnest yang memangku kotak makanan itu.


"Makanlah dulu! Kau bisa diomeli Shireen jika tahu kau bohong padanya!"


"Sebentar lagi!" Gumam Edwald masih fokus. Melihat itu Ealnest tentu jengkel karna ia di perintahkan mommy-nya untuk mengikuti Edwald untuk menjaga pola makan pria ini.


Dengan kesal ia tutup laptop itu paksa. Saat Edwald ingin marah, Ealnest menunjuk wajah mommynya dan otomatis pria itu diam mereda.


"Mau marah, hm? Akan-ku laporkan pada mommy!" Ancam Ealnest dan mau tak mau Edwald menurut.


Ia meminggirkan laptop itu dan mengambil kotak makanan yang Ealnest pangku dan barulah Edwald makan dengan tenang seraya memandangi layar ponselnya.


"Steen!"


"Hm."


"Mereka datang untuk menemui mu!" Ujar Cooper dan sontak Edwald diam sejenak.


Netra hijau datarnya melirik kearah pintu yang sudah terdorong dari luar memperlihatkan dua orang pria berbeda usia masuk ke ruangannya.


"Steen!"


Sapa mereka mendekat. Edwald diam menatap datar kakak beradik ini seraya masih mengunyah santai.


Suara dingin Edwald membuat Wesson tersenyum kecut begitu juga Glimer yang sudah tahu baik dan benar.


Keduanya menarik sofa single di sudut ruangan dan duduk di depan meja kerja Edwald yang luas tapi sudah padat.


Ada senyum mengejek dari wajah Wesson yang dapat di mengerti oleh Edwald.


"Bagaimana rasanya duduk seharian di kursi CEO-mu?!" Kelakar Wesson tapi hanya mendapat tatapan dingin Edwald yang kembali melanjutkan ritual makannya.


Pandangan mereka beralih pada Ealnest. Wajah Edwald dan bocah ini begitu mirip apalagi dari segi mata dan tatapan tajamnya. Sungguh, jiplakan yang luar biasa.


"Jika kau ingin pergi dari dunia gelap, kau bisa memasukan putramu sebagai penerus."


"Sebelum itu, akan ku pastikan kepalamu lebih dulu tinggal menjadi kenangan," Tegas Edwald tak main-main. Ealnest diam merasakan hawa daddynya saat bertemu dengan dua orang ini begitu menakutkan dan sangat kuat mengintimidasi.


Wesson dan Glimer hanya saling pandang tetapi mereka juga tak lagi menggeluti pekerjaan kotor itu.


"Aku juga tak lagi datang ke sana! GYUF sudah kau ambil alih di bawa naungan personalmu, mereka juga tak kehilangan pekerjaan."

__ADS_1


"GYUF, siapa?" Tanya Ealnest tak mengerti. Cooper menepuk bahu Ealnest agar jangan mengikuti jejak mereka.


"GYUF itu organisasi kriminal. Tapi, sekarang sudah tak lagi walau masih aktif di bawah pimpinan daddymu!"


"Terdengar keren," Puji Ealnest berminat. Mereka saling pandang punya maksud yang sama dan tentu Edwald tahu arti dari pandangan 3 teman lamanya ini.


"Dad! Organisasi kriminal itu yang sering membuat kerbutan-kan?! Boleh aku ikut?"


"Kau ingin di kurung mommy-mu?!" Desis Edwald hingga Ealnest merutuk. Ia akhirnya diam fokus mendengarkan obrolan tingkat dewa pada petinggi GYUF ini.


"Tenanglah! Tempa dulu dirimu sampai kau cukup matang memimpin GYUF. Setelah itu kau bisa lakukan apapun yang kau mau!" Timpal Glimer menjerumuskan Ealnest dalam ambisi yang besar.


Edwald hanya diam. Ia punya rencana untuk menjadikan Ealnest pemimpin GYUF generasi berikutnya agar organisasi itu tak pecah.


Lagi pula, mereka sudah punya kesibukan masing-masing dan pasti lebih memilih menghabiskan waktu dengan orang-orang tercinta dari pada bergelut dengan senjata dan aparat kepolisian.


"Baiklah. Aku akan jadi kuat dan cerdas melebihi daddy lalu akan ku ikuti jejaknya!"


"Yah, setidaknya kakek mu ada pekerjaan!" Kelakar Cooper yang ditertawai mereka semua.


Edwald hanya diam. Jauh dari pandangannya ke wajah lelap Shireen tentu Edwald bersyukur bisa bertemu wanita ini.


Jika bukan karna Shireen ia tak akan bisa keluar dari lumpur hitam itu dan merasakan jelasnya dunia dan indahnya momen di dalamnya.


Aku tak pernah menyesal melakukan apapun di masa lalu dan itu semua karna kau, Shireen. Terimakasih sudah memberiku kehidupan yang begitu indah seperti ini dan memberkatiku dengan cinta tulusmu, sayang!


Ucapan syukur Edwald yang terjabar dari matanya. Ia tak pernah bisa membayangkan akan ada di posisi ini padahal sebelumnya ia benar-benar sudah lekat dengan yang namanya kriminalitas.


Shireen memberinya satu putra yang menjadi penguat hubungan mereka dan sebentar lagi akan ada putri cantik yang akan ikut bergabung. Sungguh, Edwald hanya ingin hidup seperti ini.


Ia bekerja dengan keras dan Shireen akan melahirkan anaknya saja hingga kediaman mereka ramai dengan tawa anak-anak.


Dear pembaca setia Edwald dan Shireen. Terimakasih sudah menjadi saksi dan perjalanan cinta mereka hingga saat ini.


....


...


Vote and Like Sayang..


TAMAT YA..❤️

__ADS_1


NANTI MALAM SINOPSIS CERITA BARU 😘


__ADS_2