
Tatapan tajam manik hijau elang itu tak berhenti memandang hasil rekaman yang di tunjukan Cooper padanya. Ini sudah pukul 9 malam dan Edwald masih belum memerintahkan sesuatu hal mutlak dan hanya duduk di ruang tamu kediaman utama Suma.
Cooper berdiri di samping kursinya dengan perasaan harap-harap cemas. Pasalnya Edwald bukan pria yang mudah ia tebak. Terkadang pria ini bisa menjadi batu tak memperdulikannya atau nanti dia berdiri lalu menghadiahkan jutsu mematikan pada Cooper.
"Steen! Aku lihat Shireen sangat ingin menguasai beladiri. Dia sampai mengalami luka di bagian betis dan persendiannya."
Edwald diam. Tatapannya jauh menohok ke layar ponsel ini memperhatikan bagian mana saja yang di lukai oleh Mersi di tubuh indah Shireen.
"Kau ingin aku melakukan apa? Kebisuan mu ini benar-benar membuat ku merinding," Ngeri Cooper mengusap tengkuknya.
"Kau pikir aku peduli dengan wanita ini?"
Sontak Cooper tersentak segera menangkap cepat ponselnya yang di lempar Edwald.
"Steen! Jika kau tak peduli, kenapa kau menyuruhku untuk memata-matai Shireen. Apa kau.."
"Kau keberatan?" Tanya Edwald menatap membunuh Cooper yang seketika pucat menelan ludah berat.
"A.. tentu tidak. Haiss.. Bagaimana bisa aku keberatan dengan semua yang kau katakan?! Steen! Kau itu selalu benar. Sangat-sangat benar!" Puji Cooper mencari aman. Bisa-bisa ia akan mengenyam cambukan pendekar neraka ini.
"Aku menyuruhmu memantaunya karna dia sangat membahayakan. Dia tak semudah itu di kendalikan," Gumam Edwald memandang lurus kedepan.
Semakin kesini Shireen bertekad sangat kuat. Selama ini Edwald tak bodoh untuk menyadari jika Shireen memang selalu mendominasi tapi sayangnya kelembutan hati itu bisa dimanfaatkan siapa saja.
"Lalu apa rencana mu? Steen! Dari pada mengawasi lebih baik kau bertindak. Shireen akan sangat sulit di kendalikan jika dia sudah mendapatkan apa yang dia mau," Bingung Cooper terheran-heran.
Seharusnya mudah bagi Edwald untuk menyingkirkan Shireen bahkan membunuh wanita itu. Tapi, kenapa sampai sekarang ia masih memilih untuk berdiam diri?!
"Steen! Dari gelagat Shireen sepertinya dia akan memanfaatkan tuan pertama. Menurutmu bagaimana?"
"Wesson terlalu gegabah," Gumam Edwald dengan pikiran melayang jauh. Memang ia sangat menghormati kakak pertamanya tapi kedatangan Shireen membuatnya selalu tak bisa bernafas tenang.
"Bagaimana kalau Suma tahu jika Shireen ada disini?! Dia pasti marah atau mungkin akan memanfaatkan segala kelebihan wanita itu."
"Suma tak akan tahu jika tak di beritahu," Tegas Edwald tak ingin jika Suma akan melakukan hal tak manusiawi lagi padahal dendam pada keluarga Harmon sudah usai.
Cooper akhirnya diam. Ntah apa yang terjadi jika Shireen sampai bergerak gegabah. Suma bukan lawan yang bisa di ajak main petak umpet di siang bolong.
"Tuan muda pertama!!"
Suara penjaga di depan menyambut. Cooper segera mendekati arah pintu ruang tamu dengan mata menangkap kepulangan Wesson yang membawa Shireen bersamanya.
"Steen! Tuan Wesson membawa Shireen kembali," Ucap Cooper tanpa melihat ke arah Edwald yang seketika berdiri.
Wajahnya sama datarnya dengan lantai ini dengan mantel yang kembali ia ambil dari punggung sofa.
"Mereka bergandengan. Tidak...tidak, mereka berpelukan atau.."
"Kau bosan menggunakan mata?" Tanya Edwald tapi sudah dapat di pahami oleh Cooper.
Ia mengunci mulutnya rapat seakan-akan membuang gembok dan kunci itu jauh lalu membulatkan jari pertanda OK.
Edwald tak menghiraukan tingkah konyol Cooper yang berjalan di belakangnya ke arah lantai dasar. Kemunculannya menyita perhatian Wesson yang tengah memapah Shireen bersamanya.
"Steen!" Sapa Wesson berhenti sejenak. Shireen hanya diam membuang pandangan ke arah lain seakan-akan ia tak melihat siapapun.
"Kau sudah pulang?"
"Hm, ada yang ingin ku bicarakan denganmu," Tegas Edwald tapi mata tajamnya melirik kaki Shireen yang pincang dan memar di bagian rahang cantik ini.
Raut wajahnya tenang begitu juga pembawaan Edwald yang pandai menjaga ekspresinya.
"Aku akan datang. Tunggu sebentar!"
"Sepertinya apa yang aku ucapkan sudah terjadi sekarang," Ujar Edwald melirik dingin Shireen. Ia ingin melihat tatapan beracun itu tapi Shireen masih sangat benci padanya.
Tahu akan maksud Edwald tentu Wesson menghela nafas. Ia mengeratkan rengkuhannya ke bahu Shireen yang dengan sengaja memeggang pinggang Wesson membuat mata Edwald panas.
__ADS_1
"Steen! Kita sudah membicarakan soal ini sebelumnya."
"Hm, hanya saja aku merasa bersalah melihat kau kesusahan," Sarkas elegan Edwald yang sukses membuat mata Shireen langsung memandangnya.
Tatapan kucing yang tengah memulai peperangan ini terlihat menggemaskan di mata Edwald tapi tidak dengan Cooper yang sudah tahu jika Shireen bisa meninju.
"Kau tenang saja, tuan! Cepat lambat akan ku buktikan padamu bagaimana rasanya di PERMAINKAN," Tekan Shireen tapi Edwald hanya tersenyum tipis penuh keragu-raguan.
"Kata-katamu terlalu tinggi. Leherku sakit mengadah ke atas, hm?"
"Yah. Ucapanku memang begitu tinggi sampai orang sepertimu tak bisa memahaminya."
Keduanya saling balas dengan intonasi elegan. Shireen meladeni permainan Edwald yang ingin membuat kesan buruk di mata Wesson untuknya.
Merasa selalu bingung dengan interaksi dua mahluk ini akhirnya Wesson memilih untuk menengahinya.
"Sudahlah. Aku akan menemui mu nanti, Steen!" Bergerak ingin pergi.
"Daddy memanggilmu!" Cegat Edwald dan Wesson terdiam. Shireen melihat jika anak-anak pria bernama Suma itu memang sangat patuh bahkan satu panggilan saja sudah membuat Wesson mengerti.
"Pergilah! Aku bisa berjalan sendiri."
"Tidak. Aku akan mengantarmu," Kekeh Wesson lembut.
Shireen mengambil nafas dalam. Ia mengeratkan mantel di tubuhnya lalu melirik Edwald dari ekor netra teduhnya.
Saat Wesson ingin mengiringnya kembali, tiba-tiba saja Shireen langsung terpekik mengejutkan semua orang.
"A..Asss kakiku!!"
"Kau.. Kakimu sakit? Aku sudah bilang jangan keras kepala," Cemas Wesson memeluk Shireen yang memeggangi area betisnya yang sakit. Memang nyeri tapi ia hanya melebih-lebihkan semua itu agar Edwald merespon di belakang sana.
"Sepertinya aku tak bisa berjalan lagi. Aku.."
"Tenanglah," Sela Wesson segera menggendong Shireen ringan pergi ke pintu samping kediaman menuju bangunan selatan.
Wajah Edwald sudah kelap bahkan merah padam. Kedua tangannya mengepal dengan mata mengigil marah masih mengekor bayangan kepergian Wesson dan Shireen.
"Sepertinya aku lupa mematikan mesin mobil. Haiss.. Akhir-akhir ini aku jadi pelupa. Ntah apa yang menyumbat benak kepalaku?!" Racau Cooper melangkah keluar pintu besar mewah ini.
Edwald yang tengah terbakar bara api itu langsung menarik kerah jaket Cooper yang tersentak saat tubuhnya di seret ke arah kepergian Wesson tadi.
"Steen!! Steen, kau mau apa?? Jangan mengorbankan aku lagi!"
Edwald hanya membatu. Ia menyeret Cooper melalui jalan belakang kediaman utama menuju bangunan selatan yang ada anak buah Wesson sedang berjaga.
Semenjak penyerangan kali itu, Wesson khawatir jika nanti akan terulang kembali.
Tentu mereka tak berani menghentikan Edwald yang terkenal tempramen dan tak ingin di ganggu. Cooper sudah memelas minta di lepaskan tapi na'as Edwald mendorong Cooper mendobrak pintu kamar Wesson.
Braak..
"Steen!!"
Wesson yang tengah memeriksa kaki Shireen terkejut melihat Cooper terlempar ke dalam dengan wajah sudah pucat pasih. Shireen-pun heran sekaligus kasihan melihat pria muda ini.
"Steen! Kau.."
"Cooper mengatakan jika dia menemukan orang di balik penyerangan tadi malam," Tegas Edwald santai tapi Wesson beralih memandang Cooper yang sontak mengangguk walau ia jadi tumbal berulang kali.
"I..iya. Aku sudah menyelidiki semuanya dan waktunya sedikit. Mereka akan pergi malam ini!"
"Apa bisa kau pergi mewakili aku? Steen!"
Pertanyaan Wesson sukses membuat semirik Edwald meruak. Ia tanpa ada rasa bersalah berdiri sedangkan Cooper sudah mencium lantai kamar Wesson. Benar-benar bos tak berkemanusiaan.
"Kau ingin aku mewakilimu?"
__ADS_1
"Yah. Aku ingin merawat.."
"Aku mengerti. Mau bagaimanapun dia memang hanya seorang pelayan, jadi kau.."
Wesson langsung berdiri. Shireen memandang lekat interaksi kakak dan adik ini sampai ia tahu Edwald hanya memainkan taktik murahannya kembali.
"Aku tak akan melepaskan mereka. Kau istirahatlah. Aku akan segera kembali," Gumam Wesson tapi Shireen mencengkal lengannya.
Api yang bergejolak di mata Edwald sudah naik voltase tinggi. Bahkan, Cooper sudah mati kepanasan berdoa semoga tuhan memberinya anugrah untuk mengganti bos baru.
"Aku tak ingin kau terluka. Ini sudah malam dan di luar sangat dingin, Wesson!" Lembut Shireen cemas tapi panggilannya barusan sukses membuat Wesson terkesima.
"Kau mencemaskan-ku?"
"Bagaimana tidak cemas? Hanya kau yang aku percaya disini," Jawab Shireen dengan tatapan teduh mematikan itu.
Wesson tersenyum mengusap kepala Shireen hangat lalu menggenggam tangan lentik ini.
"Tenang saja. Akan ku pastikan mereka membayar semua itu."
Tegas Wesson lalu pergi. Mau tak mau Cooper ikut walau dadanya lega bisa lari dari amukan misterius Edwald yang terlalu mengerikan.
Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Suasana kamar berubah saat Edwald melangkahkan kakinya masuk dengan sorot mata mengintimidasi.
"Keluarlah! Aku tak menerima tamu," Tegas Shireen datar lebih memilih menyelimuti kakinya di banding merespon Edwald.
Tapi, diluar dugaan Shireen, Edwald justru menutup pintu kamar dengan keras bahkan hawanya sudah tak bisa di remehkan.
"Dia ingin melakukan apa?!"
Batin Shireen waspada. Lirikan matanya tertuju pada pisau buah yang ada di atas nakas. Saat Edwald berbalik Shireen sudah lebih dulu mengambil benda itu dan menyembunyikannya di balik selimut.
Edwald berjalan mendekati ranjang dengan pandangan menerkam bak kelaparan. Shireen tak merubah raut datarnya dan tetap menggenggam erat pisau di dalam sana.
"Kau pasti tahu apa yang akan-ku lakukan, Sayang!" Gumam Edwald menyeringai iblis.
"Pergi dari kamarku!"
"Sejak kapan kau tinggal di kamar orang lain, hm?" Desis Edwald menyelipkan nada marah.
Ia menarik selimut Shireen yang terkejut saat Edwald mengungkungnya secara kasar.
"Kauu.."
"Di dunia ini tak ada yang bisa merenggut keputusanku," Geram Edwald ingin merobek pakaian Shireen namun ia terkejut saat ada sesuatu yang menusuk perutnya di bawah sana.
Mata Edwald terkurung dalam manik hitam tajam Shireen yang seketika tersenyum tipis. Senyuman yang tak pernah ingin Edwald lihat sekarang ada di depan matanya.
"Sakit? Hm?" Bisik Shireen semakin menekan pisau itu sampai ia merasakan ada lelehan pekat yang membanjiri tangannya.
Mata keduanya terkunci tapi tak ada perlawanan dari Edwald yang justru tersenyum dengan jarak setipis dan sedekat ini.
"Kau masih mencintaiku," Bisik Edwald melihat ada air mata yang mengigil di mata Shireen.
"Cinta?"
"Hm, kau.."
Ucapan Edwald terhenti saat ia merasakan pisau itu semakin masuk ke dalam perutnya. Perlahan Shireen mengusap kepala Edwald selayaknya mereka dulu saat bermesraan.
"Cintaku sudah lama hangus, Sayang! Dia mati bersama daddyku, adikku dan.."
Shireen menjeda kalimatnya dengan kening sudah menempel. Edwald memejamkan matanya kala Shireen meremas tengkuknya kuat bahkan kuku-kuku tajam wanita ini menekan dalam.
"Dan SUAMIKU!" Imbuh Shireen lalu mendorong tubuh Edwald menjahuinya.
Edwald terduduk di pinggir ranjang menatap area perutnya yang sudah berlumuran darah. Ada senyuman yang tak bisa dilihat oleh Shireen yang tak lagi memandangnya.
__ADS_1
....
Vote and like sayang..