Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Apa karna wanita itu?


__ADS_3

Malam semakin larut. Salju di atas sana berderai membasahi kediaman Suma yang malam ini sama sepinya seperti pemakaman. Jika tak ada pesta maka jangan harap ada suara dan musik di dalam kediaman ini.


Di tengah kesunyian yang melanda. Ada sesosok pria yang sedari tadi berdiri di dekat jendela ruang santai menatap jauh ke arah tumpukan salju dan lampu-lampu kediaman timur.


Ada beberapa kalimat yang terus melintas di benaknya dan terasa sangat menyakitkan tapi ada hempasan angin segar yang merasuki hatinya.


"Kau mengejutkanku," Gumam Edwald masih menatap tenang ke depan sana.


Luka di perutnya sudah di jahit olehnya sendiri. Ia tak ingin menimbulkan kecurigaan yang akan menarik perhatian Suma nantinya.


Tapi percayalah. Luka itu tak sebanding bahkan Edwald tak merasakan apapun saat tubuhnya di tusuk oleh pisau yang di tekan langsung oleh tangan lembut seorang wanita yang selalu mengusap kepalanya.


Cinta atau tidak kau sama sekali tak berubah. Selama kau masih hidup aku akan selalu mengusikmu.


Moto kesunyian Edwald yang melalang buana. Ia mengeratkan mantelnya kala cuaca semakin dingin dan tak bisa dianggap remeh.


Namun, wajah Edwald berubah dingin saat ada penjaga yang tadi ia perintahkan memanggil seseorang untuk datang sudah ada di belakangnya.


"Tuan!"


Edwald hanya diam. Ia tetap tak berbalik bahkan pandangannya menebas dedaunan di luar jendela ruangan.


Siapa sangka yang datang adalah Mersi. Yah, wanita yang sangat lancang berburu kucing betina yang sudah ia cap sebagai istrinya itu.


"Ada apa tuan kedua memanggilku?"


Mersi berdiri tak jauh dari Edwald yang memang tak pernah berurusan. Keduanya hanya berjalan sepintas karna markas adalah bagian dari tanggung jawab Wesson.


Kebungkaman Edwald sangat ambigu bagi Mersi. Ia tak pernah mengerti watak misterius Edwald yang jarang bersosialisasi dengan rekan lain bahkan ia tak punya anggota pribadi.


"Tuan! Selama ini belum ada masalah besar di markas. Aku selalu.."


"Itu bukan urusanku," Tegas Edwald menambah tanda tanya di benak Mersi yang sungguh tak tahu maksud Edwald bagaimana?!


"Tuan! Kau.."


Belum sempat Mersi menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba saja Edwald berbalik langsung menendang bagian betisnya dengan gerakan sangat cepat bahkan seperti rentetan peluru.


Dalam sekejap Mersi tersungkur ke lantai dengan rahang membiru dan hidung berdarah karna pukulan Edwald tak main-main meremukkan porsi wajahnya.

__ADS_1


"T..tuan.." Rintih Mersi memeggangi kakinya yang terasa mau patah.


Ia takut-takut memandang wajah tampan kelap Edwald yang masih berdiri tegap dengan keangkuhan yang selalu ada di puncak kepalanya.


"Kau sudah begitu hebat?"


"Tuan! Apa maksudmu?" Tanya Mersi kebingungan. Ia mencoba mencari jawaban tapi seketika Mersi terkejut sekaligus menahan sakit saat Edwald menginjak betisnya.


"T..tuan! Tuan, apa salahku? Aku.."


"Kau sudah begitu hebat sampai lupa diri, hm?" Tanya Edwald tapi begitu menghakimi.


Di sela rasa sakitnya Mersi baru sadar jika semua bagian yang di pukul Edwald juga di rasakan Shireen tadi. Bedanya, ini lebih sakit dan menyiksa.


"Apa karna wanita asing itu?"


"Lancang!!" Geram Edwald menendang pinggang Mersi sampai terpental membentur dinding.


Hal yang sama juga di rasakan Shireen. Edwald ingat dengan jelas bagian mana saja yang dilukai wanita ini tapi bedanya, Edwald tak berbelas kasih untuk menghadiahkan hal yang sama.


"T..tuan! A..aku.. Aku hanya menjalankan perintah u..untuk melatihnya, uhuuk!!" Mersi muntah darah sudah tak mampu bergerak di dekat dinding sana.


"Kau begitu hebat sampai ingin melatih orang lain?"


"A..aku .."


"Jangan lupa dengan statusmu," Sela Edwald memasukan kedua tangannya di dalam saku celananya.


Perawakan tinggi gagah bak bangsawan eropa ini tak bisa di hindari bahkan Mersi mengakui jika Edwald memang benar-benar tampan tapi juga mengerikan.


"Kau hanya budak yang di pungut dari jalanan. Batasan mu sudah jelas dan masih ingin menjilat sejauh ini."


Mendengar kalimat menyakitkan yang Edwald keluarkan tentu Mersi diam. Ia benar-benar tahu asal usulnya tapi Edwald terlalu kejam mengungkit hal ini.


"Aku hanya ingin mendisiplinkan wanita itu. Dia ingin masuk ke organisasi GYUF jadi ..,


"Kau pikir dia sama sepertimu?" Sambar Edwald membuat Mersi menelan ludah. Segala kata yang keluar di mulutnya akan jadi belati yang akan Edwald kembalikan.


"T..tuan.."

__ADS_1


"Sekali lagi kau berani menyentuhnya aku tak peduli kau bawahan Wesson!" Tegas Edwald lalu ingin pergi.


Tapi, ia berhenti saat Mersi mengepal seperti tak menerima apa yang terjadi malam ini.


"Tak ada yang berhak melukainya selain AKU!" tekan Edwald dan itu sontak membuat Mersi kebingungan sekaligus marah.


Ia membiarkan Edwald pergi setelah membuat tubuhnya remuk. Bertarung dengan Shireen tadi sudah cukup menguras tenaga dan di tambah lagi oleh pria ini.


"Sebenarnya kau siapa?! Tak hanya tuan Wesson kau juga mengendalikan monster GYUF. Wanita sialan," Geram Mersi memeggangi dadanya yang sakit.


Penjaga yang tadi ada di depan segera masuk dan memapah Mersi keluar dari bangunan utara milik pria tempramen ini.


"Aku tak bisa tinggal diam. Satu hari dia disini sudah membuat perbedaan besar. Aku tak bisa membiarkan orang asing mencampuri klan ini,"


Batin Mersi berniat untuk menyingkirkan Shireen. Walau ia takut pada Edwald tapi akan ia usahakan pergerakan ini halus tanpa disadari Shireen.


.......


Di bangunan selatan. Sedari tadi Shireen tak tidur bahkan ia terus melamun. Bohong jika ia tak memikirkan Edwald tapi Shireen memupuk kebenciannya dengan terus membayangkan kekejaman pria itu.


"Ini baru awal. Kau akan melihat hal yang lebih mengejutkan dari ini," Gumam Shireen menatap tegas pisau yang tadi mendarat di perut Edwald.


Ia sudah memikirkan ini matang-matang. Membunuh Edwald tak akan membuat dunia tentram. Organisasi ilegal ini harus segera di hancurkan atau akan banyak korban berjatuhan nantinya.


"Aku harus bisa mengambil bukti yang kuat. Tapi, bagaimana? Aku tak punya apapun untuk di andalkan," Gumam Shireen memikirkan langkahnya esok hari.


Saat ia melamun sebentar saja otak Shireen mulai berfungsi. Ponsel adalah jalan utama untuk merekam aktifitas ilegal ini. Tapi, bagaimana caranya mendapatkan benda pintar itu sedangkan ia di larang memakainya?!


"Jika aku minta pada Wesson dia pasti akan memberi banyak alasan. Kalau mencuri pasti sangat sulit disini. Jadi.."


Shireen diam sejenak menimbang-nimbang rencana. Saat ia melihat kakinya timbul ide licik yang ntah dari mana ia dapatkan secepat ini.


"Wesson! Kali Ini aku akan merepotkanmu," Gumam Shireen sudah menemuka cara yang tepat. Jujur ia mengingat semua cara manipulasi yang dulu Edwald gunakan untuk memanfaatkannya.


Jangan salahkan aku menggunakan metode yang sama pada kakakmu. Dia cukup bisa di kendalikan.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2