Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Sudah mengambil keputusan


__ADS_3

Jamuan makan yang di usung oleh Shireen pagi ini begitu tampak hangat. Shireen tertawa lepas bergabung dengan kakek Bolssom dan nenek Rue yang membisikan sesuatu ke telinga Shireen.


Wanita itu syok tapi segera menunduk seraya menuangkan read wine ke gelas kakek Bolssom yang begitu senang menggoda cucunya.


Ruang makan ini terasa lebih hangat dan ceria dengan keberadaan Shireen yang membuat dua manusia senja itu bertambah semangat.


"Kau terlihat sedikit pucat, nak! Apa yang terjadi sampai kau seperti ini, hm?" Kelakar nenek Rue sudah tahu penyebabnya.


Shireen langsung memerah segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Neneek! Jangan begitu!!"


"Nenek hanya bertanya. Untuk apa malu?!" Geli nenek Rue mengulur tangan keriputnya untuk mengusap kepala Shireen yang akhirnya memandangnya.


"Nenek! Kalau melahirkan itu kita harus bagaimana?"


"Melahirkan?" Tanya nenek Rue dan diangguki Shireen seraya makan buah anggur di atas keranjang buah.


"Yah, aku agak takut," Cengir Shireen tiba-tiba merasa takut. Awalnya ia biasa saja tapi semakin bertambahnya usia kehamilannya, Shireen mulai merasa sedikit was-was.


Wajar Shireen bertanya begitu. Ini kehamilan pertamanya dan ibu muda memang sangat kurang pengalaman.


"Aku takut nanti aku tak akan bisa melahirkannya dengan baik. Jika terjadi sesuatu hal yang buruk aku.."


"Jangan terlalu di pikirkan. Kau dan bayimu pasti baik-baik saja, nak! Melahirkan itu hal normal dan rasa sakitnya-pun akan terbayar saat sudah mendengar suara tangis bayimu, hm?" Jelas nenek Rue meredam kekhawatiran Shireen.


"Kalau dulu apa mommy melahirkan-ku secara normal?"


"Yah, mommymu wanita yang hebat. Dia memilih melahirkan normal karna ingin merasakan, bagaimana rasa sakit untuk menjadi seorang ibu?! Tapi, akhir-akhir ini fisikmu tengah lemah, jadi pilih cara yang lebih aman, mengerti?"


Shireen mengangguk. Ia menoleh ke arah pintu masuk ruang makan dimana Edwald berdiri di sana memandanginya yang lahap makan anggur.


"Kesini!!"


Panggil Shireen melambaikan tangannya. Edwald segera mendekat duduk di kursi samping Shireen yang menuangkan read wine ke dalam gelas.


"Minumlah! Ini jika di konsumsi dengan takaran pas akan baik bagi tubuh. Kau juga tak akan mabuk," Ucap Shireen memberikan gelas itu ke tangan Edwald dan piring sandwich di hadapannya.


Kakek Bolssom dan nenek Rue hanya saling pandang melihat Edwald yang segera menegguk gelasnya. Rasa manis dan aroma khas anggur yang sedikit berbeda dari yang lain membuatnya kagum.


"Enak, bukan?"


"Lumayan," Jawab Edwald menegguk tandas minuman itu dari gelasnya.

__ADS_1


Shireen hanya memberi senyum kecut mendengar jawaban Edwald.


"Nak! Apa kalian ingin menetap disini?" Tanya nenek Rue membuat Shireen dan Edwald diam. Keduanya belum ada yang berinisiatif menjawab sama sekali.


"Jika memang tak ada masalah. Lebih baik selama Shireen hamil, tinggallah disini dulu. Kami akan bantu mengurusnya, bagaimana?"


"Benar, apalagi kau pasti juga sibuk. Biarkan kami mengurusnya dulu," Timpal kakek Bolssom pada ucapan istrinya.


Shireen diam. Jujur ia tak mau berpisah dengan kakek dan neneknya karna keduanya sudah rentan dan sangat kesepian.


"Bagaimana Shireen? Tapi, jika kau tak mau maka tak apa, nak! Nenek.."


"Shireen akan tetap disini," Sela Shireen tak mau membuat suasana sedih lagi. Ia melirik Edwald yang mau tak mau harus menganggukinya hingga kakek dan nenek Bolssom berbinar.


"Kalian akan disini?"


"Iya, nek! Setidaknya selama aku hamil. Aku ingin menghabiskan waktu dengan kalian," Jawab Shireen tersenyum hangat hingga nenek Rue tak bisa membendung rasa bahagianya.


Ia sampai meneteskan air mata menatap kakek Bolssom yang juga belum bisa berpisah dari Shireen.


"Baiklah. Selama disini nenek pastikan kau dan bayimu akan sehat dan baik-baik saja. Semuanya nenek akan urus!"


"Aku akan menyiapkan peralatan bayimu. Kalian tak perlu memikirkan masalah itu," Timpal kakek Bolssom dengan suara tegasnya.


Shireen hanya tersenyum membiarkan kakek dan nenek Rue bangkit dan pergi ke depan dengan dialog senang menanti cicit mereka lahir.


"Hm?"


"Apa kau keberatan?" Tanya Shireen menyerongkan tubuhnya menatap Edwald yang juga memandang Shireen.


Pandangan yang lembut, tegas dan berwibawah. Edwald benar-benar menyembunyikan masalahnya.


"Apa kau keberatan? Hanya beberapa bulan saja, bisa?"


Edwald mengambil nafas dalam. Tangannya terangkat mengusap kepala Shireen yang akhirnya melemah bersandar ke dadanya.


"Apa kau mau pergi lagi?"


"Kenapa berpikir seperti itu?" Tanya Edwald membuat Shireen segera mengadah menatapnya.


"Kau kan sibuk menipu. Ntah apa yang kau lakukan hingga bisa pergi kesini. Tapi,.. kali ini kau tetap disini, ya?" Pinta Shireen memelas.


Edwald diam sejenak. Ia sudah mengambil keputusan besar yang mungkin akan berbahaya di masa mendatang tapi, ia sudah lelah jika harus terus berlari.

__ADS_1


"Hm, aku tak akan pergi kemanapun."


"Benarkah?" Tanya Shireen menegakkan tubuhnya. Saat Edwald mengangguk Shireen tak bisa membendung rasa senangnya langsung menghujami wajah tampan Edwald dengan ciuman penuh cinta darinya.


"Kau ingin melakukannya disini, hm?" Goda Edwald saat Shireen ingin mencium bibirnya. Alhasil Shireen langsung menjauh dengan wajah kesal bukan main.


"Otakmu tak jauh-jauh dari hal seperti itu," Ketusnya melahap sandwich di atas meja.


"Jelas. Hampir seluruhnya berisi ingatan ranjang kit.."


"Sussst!!" Desis Shireen membekap mulut Edwald yang justru mengigit jarinya gemas. Alhasil keduanya terlibat pertengkaran kecil yang menambah bumbu rumah tangga.


"Aku ingin menjenguk benihku!"


"Kau gila, ha?" Geram Shireen menepis tangan Edwald yang menyelinap di sela dresnya.


"Aku ingin!"


"Jangan macam-macam!!" Geram Shireen menjauh dari Edwald yang begitu menjengkelkan terus mencoba menganggunya.


"Jangan malu. Ayo lakukan di dapur!"


"Edwaald!!" Jerit Shireen segera lari dari jangkauan Edwald yang tersenyum tipis melihat Shireen gelagapan keluar dari ruang makan.


Sedetik kemudian wajah Edwald kembali berubah datar saat Cooper muncul dari arah pintu sana. Pria dengan tubuh lebih pendek darinya itu mendekat.


"Kau sudah putuskan?"


"Hm," Gumam Edwald duduk dengan hawa tegas dan tak bisa di bantah.


"Steen! Kau pikirkan baik-baik. Ini menyangkut dirimu sendiri."


"Untuk sekarang aku ingin fokus pada istriku! Urusan di markas akan di ambil oleh Wesson. Katakan padanya, untuk tidak mengambil organ dulu. Bereskan bukti-bukti di markas dan kosongkan tempat itu untuk sementara waktu," Tegas Edwald sudah memikirkan caranya dengan cepat.


"Bagaimana dengan Suma dan Kimmy?"


"Bunuh dan jangan sisakan apapun!"


Cooper langsung mengangguk. Ia bergegas pergi segera meneruskan titahan Edwald pada Wesson yang pasti juga tengah terkendala akan kondisi ibunya.


"Semoga saja cara ini bisa membantu. Jika tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi," Gumam Cooper keluar dari kediaman.


.....

__ADS_1


Vote and like sayang


Visual Cooper dah ada di tiktok author ya..cuss


__ADS_2