Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Pendarahan?


__ADS_3

Seluruh kediaman Suma langsung di jelajahi para anggota yang di tugaskan Edwald untuk mencari sang istri. Ia benar-benar terlihat khawatir begitu juga Wesson yang sempat terkejut kala seluruh anggota di kerahkan Edwald tanpa pikir panjang.


"Tuan!"


Cooper berlari keluar dari kediaman utama yang sudah ramai dengan para anggota mereka. Ia mendekati Edwald yang tengah berbicara dengan 3 penjaga yang tadi ada di gerbang.


"Bagaimana bisa kalian bisa lengah?? Kemana pergi mata kalian, haa??" Murka Edwald mencengkram kerah jaket salah satu anggota yang sudah pucat.


Cooper yang melihat itu segera mendekat dengan nafas cukup memburu.


"Tuan! Aku sudah melihat CCTV dan melihat jika Shireen tadi keluar dari gerbang depan."


"Gerbang?" Desis Edwald menatap membunuh para anggotanya yang baru sadar. Mereka tadi tak begitu menghiraukan Shireen dan menganggap wanita itu hanya keluar sebentar.


"T..tuan! Aku ingat tadi pagi-pagi sekali ada wanita yang memakai mantel dan syal. Ia bilang di suruh tuan Wesson keluar, itu karnanya kami.."


Bughh..


Pria itu tak sempat bicara karna kepalan tangan keras Edwald sudah menghantam rahangnya. Hal itu sontak membuat mereka terkejut terutama Wesson yang tadi juga ikut panik tapi tak menyangka Edwald akan sebrutal itu.


"T..tuan!"


"Jika sampai terjadi sesuatu padanya. Aku tak akan melepaskan kalian!" Geram Edwald mendidih lalu melangkah lebar pergi dari tempat ini.


Ia melewati Wesson yang mematung di tempat. Pandangannya mengikuti Edwald yang sudah pergi ke depan keluar dari gerbang kediaman di ikuti Cooper yang tergesa-gesa.


"Aku rasa dia juga menyukai pelayanmu, kak!" Sahut Glimer mendekati Wesson yang hanya diam.


"Lihat, bagaimana paniknya dia?! Kita tak pernah melihat Steen seperti itu, bukan?"


"Diamlah," Guman Wesson menepis semua ketidaknyamanan yang ia rasakan. Sekarang, yang paling penting itu Shireen. Apa wanita itu baik-baik saja atau ada musuh yang tengah mengincar di luar sana.


Sementara Edwald. Ia sudah masuk ke mobilnya sendiri dan melaju cepat melalui aspal jalan yang sunyi karna memang ini area kediaman khusus bagi Suma.


Mereka bukan lagi di Milan tapi Verona. Tempat unik yang memiliki amfiteater romawi berusia ratusan tahun.


Edwald mengemudi dengan perasaan campur aduk. Ia meremas kemudi yang ia kendalikan karna terbayang darah yang ada di kamar Wesson. Sungguh ia tak bisa bernafas normal.


"Siaall!!! Aku memang tak berguna," Umpat Edwald memukul stir mobil ini geram sekaligus emosi. Ia menyusuri jalanan kota Verona yang sangat teratur dan maju tapi tingkat kejahatan tersembunyi juga tak bisa di hindarkan.


Edwald khawatir karna Shireen belum mengerti dunia lain dari sebuah panorama indah kota. Apalagi sampai mereka tahu jika Shireen ada hubungan dengan GYUF maka, tak akan bisa dibayangkan hasrat membunuh mereka semua.


Dreet..


Ponsel Edwald berbunyi. Ada nomor anggotanya yang tadi menyebar di sepanjang kota.


"Dimana dia??"


"Tuan! Nona masuk ke sebuah apotik tak jauh dari jalanan utama. Hanya saja tadi baru saja terjadi kecelakaan beruntun di sana dan kemungkinan jalan akan di tutup sementara."


Lapor salah satu anggotanya. Edwald mematikan sambungan lalu memutar kemudi ke arah jalan lain yang lebih jauh tapi ia memacu kecepatan tinggi.


Di apotik yang dekat dengan jalan utama kota Verona. Suasana terlihat begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan yang cukup membuat antri. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri termasuk seorang wanita yang menutupi separuh wajahnya dengan syal.


Ia berdiri di depan apotek dengan tangan meremas benda yang baru saja ia beli. Perutnya sangat sakit sampai ia gemetar berpeggangan ke pintu kaca ini.

__ADS_1


Salah satu pegawai tempat itu mendekatinya. Dengan ragu-ragu menyapa ramah.


"Apa ada yang bisa saya bantu? Nona!"


"A..aku.."


Dia hanya bisa terbata-bata. Tubuhnya begitu lemah sampai pegawai wanita ini syok melihat ada darah yang mengalir di kaki Shireen yang hanya memakai sendal biasa.


"Astaga! Kau.."


"T..tolong!" Rintih Shireen. Yah, dia adalah Shireen yang tadi terkejut saat bangun tidur tiba-tiba ada keluar darah yang cukup banyak. Ia sangat takut sampai keluar dari kediaman sendirian dan mengambil uang Wesson yang kebetulan ada di laci kamar sengaja ditinggalkan.


"Nona!"


"T..tolong!" Lirih Shireen meremas perutnya. Wanita itu segera membawa Shireen masuk ke apotik yang sudah berangsur sepi. Beberapa orang yang ada di sana hanya bisa diam saling pandang tapi tak membantu.


Wanita yang tadi membawanya masuk segera memanggil pemilik apotek.


"Doook!! Bu dokteer!!"


Teriaknya seraya mengiring Shireen duduk di kursi dalam toko. Seorang wanita paruh baya dengan wajah panik itu turun dari atas tangga belakang mendekati mereka.


"Kenapa? Apa yang terjadi?"


"Dokter Remy . Dia tiba-tiba berdarah," Jawab wanita itu ikut panik melihat wajah Shireen sudah pucat pasih bahkan tubuhnya dingin tak berdaya.


Dokter Remy melihat darah yang mengalir di kaki Shireen. Ia segera mengambil tindakan dengan memanggil satu pegawai laki-laki di depan toko untuk mengangkat Shireen ke ruang pribadinya.


"Tolong bawa nona ini ke dalam, Tom!"


"Baiklah," Jawab pria buru-buru datang lalu mengangkat Shireen pergi ke dalam kediaman Dokter Remy yang memang seorang dokter kandungan. Ia membuka toko obat sebagai usaha sampingannya disini.


Ada bangkar rawat dan pelayanan kesehatan yang lumayan lengkap disini. Dia sudah pasti dokter profesional sampai bisa membuka praktek sendiri.


"S..sakiit!" Desis Shireen meremas perutnya.


"Ambilkan aku air hangat!" Titah Dokter Remy pada Tom yang mengangguk segera pergi.


Ia mendekati Shireen cepat dan membuka mantel wanita ini.


"Sepertinya kau mengalami pendarahan!"


"P..pendarahan?" Tanya Shireen dengan keringat sudah membanjiri wajahnya.


Salah satu pegawai wanita tadi melepas syal di leher Shireen agar lebih segar sementara dokter Remy segera memeriksa.


Ia terkejut melihat darah di pakaian Shireen yang lumayan mengkhawatirkan.


"Nona! Kau harus menjalankan pemeriksaan kandungan!"


Duarr...


Alangkah terkejutnya Shireen bahkan benda yang ia peggang di tangan kirinya tadi langsung lepas jatuh ke lantai.


"A..apa?"

__ADS_1


"Ini darah dari rahimmu. Ada tekanan yang kuat sampai kau mengalami hal ini," Jelas Dokter Remy melakukan tindakan injeksi cepat untuk mencegah pendarahan lebih besar.


"N..nyonya! M..maksudmu ak..aku.."


"Kau hamil. Di lihat dari keadaan pendarahan mu ini sudah besar. Kira-kira 2 bulan lebih."


Jawaban Dokter Remy sukses membuat Shireen mematung. Matanya berkaca-kaca dengan tangan di lumuri darah itu meraba perutnya.


H..hamil? A..aku hamil.


Air mata Shireen lolos. Antara senang tapi juga tak tahu harus bagaimana. Ia takut dan tak berani menghadapi hal ini.


Tidak. Ini salah.. Aku tak mungkin hamil, tidak mungkin.


"Nyonya! Kau.. Kau periksa lagi aku.. aku tak mungkin itu.."


"Aku tahu betul gejala tubuhmu," Ucap Dokter Remy tengah menangani Shireen yang mulai sayu-sayu menatap ke atas.


Ia masih syok dan kekurangan banyak darah sampai tekanan darahnya menurun kuat dan sangat berdampak pada kesadaran Shireen.


"A..aku.. t..tak m..mungkin.."


Lirih Shireen meremas perutnya lalu perlahan tak sadarkan diri.


Dokter Remy sudah tak bisa menangani lebih lanjut karna keadaan Shireen begitu darurat.


"Obat itu bisa menahan pendarahaan nya sampai di rumah sakit dekat sini. Siapkan mobil!"


"Baik!" Jawab pegawai wanita tadi bergegas lari beriringan dengan Tom yang datang membawa baskom berisi air hangat.


"Keluarlah sebentar!"


Tom menurut. Setelah memberikan baskom itu ia keluar sementara dokter Remy tinggal untuk menenagkan dulu perut Shireen.


Ia membalutkan handuk yang sudah di basahi dengan air hangat seraya melakukan beberapa kali injeksi menahan kemungkinan negatif.


Memang wajar jika usia kandungan 2 bulan itu terjadi pendarahan. Tapi, tubuh Shireen terlalu sensitif sampai tak berhenti sejauh ini.


"Aku harap janinmu bisa bertahan lebih lama," Gumam Dokter Remy melakukan tindakan utama untuk menangani masalah ini.


Saat ia ingin melihat apa darah itu sudah berhenti atau belum tiba-tiba saja pintu ruangan ini di dobrak kasar begitu kasar.


Dokter Remy terkejut melihat ada seorang pria yang masuk tanpa permisi diiringi pegawai wanita tadi yang sepertinya sudah berusaha bertanya baik-baik.


"Kau.."


"Shireen!!" Gumamnya syok mendekati bangkar ini. Darah yang membaluri kaki dan pakaian Shireen membuat ia mau gila di tempat.


"Shireen!! "


"Cepat bawa dia ke rumah sakit atau keduanya akan tiada," Sela Dokter Remy dan tanpa pikir panjang pria berwajah tampan tapi sudah kacau bercampur panik itu segera menggendong Shireen bergegas pergi.


Jantungnya berdebar kuat bahkan akan mengoyak dadanya. Nafas yang keluar juga tak stabil karna membendung rasa takut dan sangat cemas melihat semua ini.


Maafkan aku.. Maafkan aku, Shi! Jangan melakukan ini padaku.

__ADS_1


...


Vote and like sayang..


__ADS_2