Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Salam perpisahan


__ADS_3

6 jam sudah berlalu. Kakek dan nenek Rue tengah menunggu di ruang rawat Shireen bersama satu perawat yang sedia memantau setiap keadaan Shireen yang tampak mulai mengalami tanda-tanda sadar.


Mereka mendekat ke ranjang rawat Shireen dengan perasaan harap-harap cemas jika terjadi sesuatu yang buruk pada sang cucu.


"Bagaimana? Apa dia sudah sadar dan baik-baik saja?" Cecer nenek Rue pada perawat wanita yang memeriksa Shireen.


Jari lentik Shireen sebelah kiri bergerak halus dan kelopak mata indahnya juga perlahan berkedut. Perawat wanita itu memeggang tangan Shireen yang merespon hingga pergerakannya mulai terulang.


"Nona! Kau mendengarku?"


Tanya perawat itu berkomunikasi secara halus di tepi telinga Shireen. Perlahan tapi pasti, Shireen membuka matanya dengan dahi mengernyit dan beberapa kali mengerijab kala cahaya lampu diatas sana menusuk mata.


"Shireen! Nak, ini nenek!" Seru nenek Rue menggenggam tangan Shireen yang mulai mengedarkan pandangan ke arah keduanya.


"N..Nek?"


"Iya, sayang! Kau baik-baik saja-kan? Nenek sangat mengkhawatirkan mu," Cemas nenek Rue hampir mau menangis.


Shireen diam. Rasa dingin ruang operasi masih membekas di tubuhnya tapi, tubuh Shireen terasa kaku dan tak leluasa di gerakan.


"Nona! Kau baru saja selesai operasi. Jangan banyak bergerak dulu!"


"O..Operasi?" Syok Shireen melebarkan pupil matamu hingga perawat itu menjelaskan dengan tenang.


"Iya, nona! Benturan yang terjadi di perutmu membuat kandunganmu tak bisa di pertahankan dan.."


"B..bayi!! Dimana bayiku?? Dimana dia??" Sela Shireen panik bukan main hampir mau nekat bergerak duduk tapi nenek Rue dan perawat ini menahan bahunya.


"Kau tenang saja nona! Bayimu selamat dan sekarang masih ada di Inkubator, hanya saja dia perlu penanganan khusus karna sempat mengalami gangguan akibat benturan itu."


Shireen diam. Di tatapnya sendu wajah nenek Rue yang tahu sekarang Shireen pasti dalam keadaan yang rapuh. Apalagi Edwald tak kembali setelah di bawa para aparat negara tadi.


"N..Nek!" Paraunya sesak dengan mata berkaca-kaca. Nenek Rue tak bisa berbuat banyak selain mengusap kepala Shireen hangat memberikan dukungan.


"Shireen! Dia pasti akan baik-baik saja. Dia akan selamat, nak!"


"N..Nek! Aku..aku dengan sendiri. Aku mendengar hukuman apa yang akan dia jalani," Serak Shireen mengigit bibir bawahnya dengan perasaan sudah hancur.


Nenek Rue saling pandang sendu dengan kakek Bolssom yang sangat memahami keadaan Shireen. Wanita itu sangat trauma kehilangan seseorang secara mendadak dan sekarang ia harus membesarkan anaknya sendiri.


"N..Nenek! Aku..aku ingin bertemu dengannya!" Lirih Shireen menahan pedih karna apa yang barusan ia katakan tak akan pernah terwujud.


"A..aku ingin melihatnya, nek!" Imbuh Shireen memejamkan matanya dengan air mata kembali mengalir.


Seiring dengan tangisan tertahan Shireen, pintu ruangan rawat itu terbuka. Mereka semua terkejut melihat siapa yang datang kesini tapi sosok itu hanya diam mematung di depan pintu dengan keadaan yang dipenuhi luka lebam dan memar seraya menatap Shireen yang masih belum sadar.


"Ayo keluar!" Lirih nenek Rue pada perawat itu dan mereka langsung keluar. Sebelum melewati pintu kakek Bolssom melempar pandangan rumitnya pada pria gagah ini karna ternyata ada dua angkatan bersenjata yang berjaga di luar pintu.


"Cepat!"


Desak mereka pada Edwald. Yah, Jenderal Adison membiarkan ia mengunjungi Shireen dengan keputusan yang sudah ia ambil.


Karna tak ada lagi siapapun disini, Edwald melangkah mendekati Shireen yang masih menahan rasa sakit batinnya di atas ranjang rawat sana.


"A...aku ingin melihatnya!"


"Buka matamu!"

__ADS_1


Degg..


Shireen terkejut bukan main. Matanya sontak terbuka langsung syok seakan tak percaya menatap wajah Edwald.


"K..kau.."


"Kau akan jelek dengan mata sembab seperti itu," Datar Edwald duduk di samping ranjang dengan pakaian sudah berganti kaos putih yang santai. Ia tak mau Shireen melihatnya dengan keadaan menyedihkan seperti di sel sana.


"E..ed! Ini..."


Shireen yang sudah sesak memandang luka-luka di sekujur wajah Edwald yang biasa mulus tak pernah ada yang memukulnya. Edwald-pun tak memandang Shireen dan hanya menggenggam jemari lentik yang di pasang jarum infus itu di atas pahanya.


"Wajah.."


Sendat Shireen tapi Edwald tak ingin mengatakan soal penyebab luka ini. Ia diam membisu seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Kau bebas? Kau tak di hukum-kan?"


Mendengar pertanyaan itu barulah Edwald memberanikan dirinya menatap Shireen yang terlihat berjuta kali lebih rapuh dari apa yang ia lihat dulu.


"E..Ed! Baguslah kau bebas. Kau..kita punya anak. Ayo lihat anak kita!"


Shireen ingin bergerak tapi Edwald lebih dulu memeluknya. Pelukan yang begitu erat dan penuh perasaan. Shireen-pun tak kuasa menahan diri ikut membalas dekapan kuat tak menyesakan Edwald.


"Aku sangat cemas. Aku takut..takut jika mereka akan mempersulit-mu," Parau Shireen tapi Edwald tak cukup kuat untuk mengatakannya sekarang.


"S..sayang! Kenapa kau diam? Dan..dan luka ini, kenapa?" Tanya Shireen beralih menangkup wajah Edwald yang dipenuhi luka memar dan lebam.


"Ini tak sakit!" Jawab tenang Edwald tapi siapa sangka Shireen akan memencet memar itu hingga Edwald terperanjat.


Seketika pandangan Shireen berubah berapi-api seakan menelannya hidup.


"Kau kembali menjadi kucing peniru yang selalu mengomel, hm?"


"Kenapa? Kau tak suka?" Tanya Shireen dengan ekspresi pedasnya. Edwald menarik sudut bibirnya kecil masih membungkukkan tubuh memeluk Shireen dengan leher di belit tangan wanita ini.


"Jangan menangis lagi! Aku lebih suka saat kau berkata pedas dan berisik padaku," Gumam Edwald mengecup kilas bibir Shireen yang seketika murung.


"Aku menangis karnamu. Tapi,..tapi sekarang tidak lagi. Kau sudah pulang dan kita tak akan berpisah, bukan?"


Edwald diam. Ia hanya memberi senyum hangat beralih mencium bibir Shireen dengan gerakan yang halus dan penuh perasaan.


Shireen memejamkan matanya membalas pangutan Edwald. Tapi, Shireen tahu ciuman ini bukanlah pertanda yang baik. Edwald tak pernah menciumnya dengan gerakan sehalus dan terlihat menikmati setiap momen yang mungkin akan berakhir.


Tak ada gairah atau unsur nakal di sana. Edwald benar-benar seperti melepas rindu dan meluapkan perasaannya melalui tindakan dan bukan sekedar kata-kata.


Aku akan sangat merindukanmu.


Batin Edwald seperti membuat kenangan di setiap hisapan lembut bibirnya. Kedua tangan Shireen yang tadi membelit leher Edwald segera meremas pundak kokoh ini dengan air mata yang turun begitu saja dari ekor netranya.


Beberapa lama kemudian, ciuman mereka terhenti tapi bibir masih bertaut enggan untuk terlepas. Keduanya diam dengan mata saling terpejam seakan hanya ingin di posisi ini.


Dengan pelan Shireen melepas tautan mereka. Matanya di buka sendu memandang Edwald yang juga sama.


"J..jangan katakan!" Lirih Shireen bergetar karna juga tak bisa membodohi diri sendiri.


Ia sadar jika Edwald tak bebas melainkan pasti ada sesuatu yang terjadi sampai bisa datang kesini. Dan ia juga sudah tahu karna melalui pandangan dan gerakan Edwald yang seperti berpamitan padanya.

__ADS_1


"Maafkan aku!"


"Jangan katakan!" Gumam Shireen tapi Edwald tak bisa berbohong untuk kedua kalinya. Ia menyatukan keningnya dengan Shireen yang meremas kedua bahu Edwald kuat.


"Maafkan aku!"


Bibir Shireen bergetar. Akhirnya tangis itu lepas terdengar sangat pilu bahkan menyedihkan. Edwald tak kuat, ia sulit untuk mengatakan kebenarannya tapi Shireen juga tak bisa hidup dalam sebuah kebohongan.


"J..jangan katakan, hiks! Jangan!"


"Maaf!" Lirih Edwald membiarkan Shireen memukul kecil bahunya meluapkan rasa sakit itu.


Maafkan aku, Shireen! Maafkan aku.


Batin Edwald hanya bisa mengatakan itu saja. Shireen ingin sekali berteriak tapi tenaganya sudah sirna. Air mata-itupun tak terhitung lagi jumlahnya terus menetes tak kenal lelah.


"Jangan menangis. Aku mohon, Shireen!" Sesak Edwald tak kuasa melihat ini.


Shireen tak bisa. Membayangkannya saja sudah membuat ia gemetar apalagi itu sampai terjadi. Sungguh, ia tak sanggup untuk melihatnya.


"Kau..kau akan pergi! Edwald, kau sudah berjanji padaku. Apa..apa kau lupa?"


"Shireen! Aku sangat ingin bersamamu dan membesarkan anak kita. Tapi, aku tak bisa," Jawab Edwald membuat Shireen kacau. Antara marah, kecewa, sakit dan tak rela menjadi satu.


"K..kenapa? Jika kau ingin keluar dari semua ini pasti bisa. Kau bisa, Edwald!"


"Tapi, aku tak akan mengorbankan mereka hanya untuk diriku sendiri. Aku mohon mengertilah!" Lirih Edwald membuat Shireen terdiam.


"K..kau akan kemana?" Gemetar Shireen berharap jika ini bukan seperti yang ada di pikirannya.


"Kau sudah tahu jawabannya."


Seketika Shireen lemas benar-benar tak punya lagi harapan atau kekuatan. Ia hanya bisa mematung kosong seperti sangat terpukul akan hal ini.


"Maafkan aku! Aku tak bisa menghindari apapun. Maafkan aku!"


Shireen tetap diam. Ia alihkan pandangannya ke arah lain tak mau memandang Edwald yang mengerti. Ia sudah terlalu melukai Shireen dengan apa yang ia lakukan dan sekarang juga sama.


"Aku berharap kau bisa hidup dengan baik. Aku mencintaimu!" Bisik Edwald mengecup lama kening Shireen yang sudah mengigil menahan luapan sakit di dadanya karna kalimat terakhir Edwald baru ia dengar sekarang dan dalam waktu yang ia benci.


Tak ingin sampai berubah pikiran melihat Shireen seperti ini, Edwald akhirnya bangkit. Matanya juga mulai panas sampai Edwald berulang kali menghembuskan nafas berat.


"Aku pergi!" Ucapnya lalu berbalik melangkah pergi tapi, suara tangis Shireen langsung pecah mengiringi kepergian Edwald yang bahkan tak bisa menjenguk anaknya karna waktu yang singkat.


"AKU MEMBENCIMUUU!!! AKU BENCIII!!" Teriak Shireen sejadi-jadinya melempat gelas yang ada di atas nakas ke arah pintu masuk ruangan dimana Edwald yang berdiri di luar hanya bisa diam dengan kedua tangan mengepal.


Dadanya terasa di cabik-cabik sampai bernafas saja terasa terbakar. Nenek Rue dan kakek Bolssom yang tadi ada di sini menatap Edwald yang masih setia dengan wajah datarnya.


"K..kau.."


"Jaga mereka baik-baik. Aku sudah mengalihkan perusahaan Harmon atas nama Shireen!" Ucap Edwald lalu segera pergi di kawal dua aparat bersenjata di belakangnya.


Sekarang, Edwald hanya berharap jika Shireen dan anaknya akan bisa hidup normal dan tak ada lagi kejahatan atau kelicikan yang selama ini mengubah hidup wanita itu.


"Walaupun aku tak ada di dunia ini. Tapi, kau dan anak kita juga harus hidup bahagia," Batin Edwald berusaha untuk tak memandang kebelakang.


.....

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2