
Sudah dini hari. Edwald masih duduk di depan ruangan rawat Shireen yang sudah tidur sedari tadi. Pria tampan yang memakai mantel coklat dan kaos di dalam itu sudah lama disini bahkan ia hanya pergi membersihkan diri ke kamar mandi lalu kembali duduk di depan.
Matanya terpejam tapi Edwald tak benar-benar tidur. Ia masih sadar berjaga ditemani sepi dan kesunyian lantai rumah sakit tanpa makan sama sekali.
Setelah beberapa lama ia diam di sana tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh dari dalam ruangan itu. Edwald sontak membuka mata lalu bangkit dengan cepat masuk.
Tatapan datarnya tertuju pada Shireen yang terlihat gelisah di dalam tidurnya. Walau lampu ini sudah redup dan remang Edwald bisa melihat tangan Shireen meraba-raba tempat di sampingnya sampai menggeser gelas air di nakas yang pecah di lantai.
"T..tidak.. J..jangan.. Jangan!! Jangan bunuh.. Jangaan!!"
Edwald mendekat. Shireen terus meracau dengan tangan seperti menepis-nepis sesuatu yang membuatnya ketakutan. Wajahnya pucat dan dingin sampai berkeringat.
"Shireen!"
"J..jangan..jangan aku mohon, hiks! Jangan.. Jangan bunuuh!" Isak Shireen menggeleng terus memberontak saat Edwald memeggangi kedua lengannya karna selang infus itu sudah terlepas sampai berdarah.
"Jangaan!! Jangan bunuuh!!! Jangan bunuuhh, hik! Aku.. Aku mohon, jangaan!"
"Shireen!" Panggil Edwald sesak bercampur cemas. Saat Shireen semakin tak bisa di kendalikan ia segera memeluk tubuh indah yang gemetar ketakutan.
"J..jangan!! Jangan bunuh, jangaan!"
"Suusst! Tidak apa, kau akan baik-baik saja, hm?!" Bisik Edwald mengusap kepala Shireen yang perlahan mulai tenang. Deru nafasnya yang semula memburu tak stabil berangsur normal tapi kedua tangan Shireen mencengkram punggung kekar Edwald seperti sangat ketakutan.
"J..jangan bunuh, bayiku! E..Ed!"
Lirihan Shireen dari alam bawah sadarnya. Kalimat itu sungguh menusuk ulu hati terdalam Edwald yang sampai terpaku kosong.
Sebegitu takut dan bencinya kau padaku sampai di dalam mimpi-pun kau menolak kehadiranku. Shi!
Denyutan batin Edwald memejamkan mata. Siapa yang tak akan sakit mendengar kata-kata yang menggambarkan keburukannya?! Apa aku seburuk itu sampai ingin menghabisi darah daging ku sendiri?!
"Ea..ed! J..jangan.."
"Tidurlah!" Bisik Edwald diam sejenak dalam posisi seperti ini. Shireen juga setengah duduk di pelukan Edwald yang sangat hangat dan nyaman sampai melepaskannya kembali ke mimpi yang lebih damai.
Seakan tak ingin melewatkan kesempatan, Edwald menghujami puncak kepala Shireen dengan kecupan hangat darinya. Tangan yang sudah berulang kali merenggut nyawa manusia itu beralih memberi sapuan halus ke punggung Shireen.
"Kau akan baik-baik saja. Tak akan ada yang bisa merenggut bayi itu darimu. Aku berjanji!" Tegas Edwald yang akan melakukan apapun asal Shireen dan buah dari cinta palsunya dulu itu aman.
Setelah di rasa Shireen sudah cukup tenang barulah Edwald dengan pelan dan hati-hati membaringkan Shireen dengan posisi yang sangat nyaman. Ia merapikan rambut panjang lurus bak mayang mengurai ini hingga wajah cantik Shireen yang lelap bisa ia pandang bebas.
"Kau demam," Gumam Edwald saat merasakan tubuh Shireen yang panas. Ia meletakan punggung tangannya di kening mulus berkeringat ini dan benar saja Shireen demam.
Tak ingin diam saja. Edwald segera meraih tisu di atas nakas lalu membersihkan darah yang sempat keluar dari area jarum yang terlepas tadi. Edwald dengan telaten memasang benda itu lagi dan memposisikan tangan Shireen lurus ke samping tubuh wanita itu.
Dirasa sudah sempurna barulah Edwald menghubungi Cooper yang ia suruh berjaga di depan rumah sakit.
"Ada apa? Steen!"
__ADS_1
"Bawa air hangat, 2 handuk kecil dan termometer!" Titah Edwald lalu mematikan sambungan ini. Ia menghela nafas memeriksa jarum yang tadi ia pasang di siku bagian dalam Shireen lalu berdiri melihat apa infus ini berjalan normal atau tidak.
16-24 tetes permenit. Ini termasuk normal dan berfungsi baik barulah Edwald beralih pada pecahan beling yang ada di lantai.
"Jika menyuruh pembersih ini akan sangat berisik," Batin Edwald melirik Shireen yang sudah tidur dengan lelap.
Alhasil Edwald melepas mantel yang ia pakai diletakan di pinggir ranjang lalu mencari sapu serok dan sapu biasa di luar ruangan. Dalam beberapa menit Edwald kembali membawa benda-benda yang selama ini tak pernah ada di tangannya.
Tebak ia akan melakukan apa?! Yah, Edwald membersihkan pecahan beling itu dengan sangat pelan seakan-akan ia tak mau mengusik kucing kesayangannya yang bisa saja terbangun karna gesekan sapu ke ubin lantai.
Seiring dengan ketelatenan Edwald yang sampai menghidupkan senter ponselnya untuk mencari pecahan sekecil debu-pun agar nanti tak akan membahayakan Shireen saat turun.
"Mencari apa?"
Suara seseorang tiba-tiba berdiri di belakang Edwald yang tadi berjongkok memeriksa di bawah ranjang rawat.
Edwald menoleh, nyatanya itu Cooper yang sudah datang tapi Edwald terlalu fokus sampai tak menghiraukannya.
"Mencari apa? Kenapa kau sampai menunduk dan apa ini?!" Protes Cooper kebingungan melihat sapu dan peralatan kebersihan manual di samping ranjang.
Saat melihat ada pecahan beling yang sudah ada di sapu serok itu, Cooper seketika menatap Edwald terkejut sekaligus syok.
"Kauuu!!"
Edwald bangkit langsung menutup mulut Cooper dengan kasar karna nyaris berteriak. Sorot mata Edwald begitu menakutkan hingga Cooper mengangguk.
"Pelankan suaramu!" Titah Edwald nyaris berbisik datar seraya menurunkan tangannya yang langsung di usapkan ke mantel bak terkena bakteri.
"Steen! Kau sudah beralih profesi jadi petugas kebersihan, ha?" Bisik Cooper geli.
Edwald acuh mematikan senter ponselnya. Ia mengambil baskom, dua handuk di bahu dan kotak termometer di tangan Cooper yang tersenyum kecut.
"Ayolah. Lanjutkan acara bersih-bersihmu, pak suami!"
"Kau tahu rasanya beling itu?" Tanya Edwald tapi lebih bermakna psikopat membuat Cooper bergidik dan menelan ludah
"A.. aku bercanda. Jangan terlalu serius. Aku.. Aku akan lanjutkan pekerjaan ini," Cengir Cooper mengambil alih peralatan kebersihan ini.
"Cari pecahan beling yang tersisa!"
"Ini sudah bersih. Kau.."
Cooper tak sampai ke ujung bicara karna Edwald sudah tak menanggapi lagi. Pria itu fokus memeriksa suhu tubuh Shireen dengan termometer yang dimasukan ke mulut wanita cantik itu.
"Dia yang berulah aku yang harus susah," Rutuk Cooper berjongkok tapi Edwald bisa mendengar gumamnya.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Edwald seraya melihat angka di termometer. 37,8 dan itu cukup panas dalam kondisi seperti ini.
"Steen! Sudah bersih, ayolah kau.."
__ADS_1
"Jika tersisa sebesar debu-pun, kau harus memakannya!"
Sontak Cooper tak lagi bicara. Ia mengerjakan apa yang Edwald pinta tapi justru memaksa. Ia melakukan hal bodoh dengan menyalakan senter seperti Edwald tadi menyusuri setiap petak ubin ini agar tak menyisakan satu butiran beling-pun.
"Ehmm!" Guaman Shireen bergerak saat Edwald membasahi dua handuk di dalam baskom air hangat yang tadi ia letakan di nakas.
"Steen! Sepertinya Shireen mual," Lirih Cooper pelan nyaris berbisik tapi Edwald bisa mendengarnya.
Pria tampan berwatak dingin ini segera memerah satu handuk yang ia letakan di kening Shireen begitu juga handuk kedua yang tertuju ke perut.
"Steen! Aku pernah melihat seorang ibu hamil yang mual dan dokter menyuruhnya untuk memakan buah dan menghirup aroma jeruk atau sebagainya," Ucap Cooper yang masih menyensor ubin.
Edwald diam. Ia menaikan pakaian rawat Shireen sampai ke bagian dada hingga perut mulus seksi ini terlihat.
Tapi, jantung Edwald berpacu seakan-akan ia gugup untuk menempelkan handuk ini.
"Ehmm.." Gumaman Shireen karna semakin merasa tak nyaman di area perutnya.
Edwald segera menempelkan handuk itu tapi Shireen masih tetap gelisah bahkan sampai meremas pinggir selimut. Ia bingung tak tahu harus apa karna ia tak berpengalaman.
"Steen! Coba periksa perutnya. Mungkin gembung atau apa?!" Saran Cooper menatap punggung kekar Edwald yang menutupi area perut Shireen darinya.
Melihat Edwald tak bergeming dan justru melamun langsung membuat Cooper mendecah setengah geram menyeru.
"Coba periksa PERUT. Di pandang saja kau tak akan tahu," Kesal Cooper tapi untung saja dalam keadaan darurat.
Edwald diam. Kedua tangannya mengepal dan kaku tak tahu kenapa. Dadanya bergemuruh merasa tiba-tiba bleng dan mematung.
"Kau ingin periksa atau aku yang akan melakukannya!" Ancam Cooper dan terpaksa Edwald harus memberanikan diri menepikan handuk tadi.
Satu tangan kanannya terangkat kaku seakan-akan ia takut tapi juga malu. Tangannya yang kasar perlahan menyentuh perut Shireen sampai ada sengatan aneh yang membuat dada Edwald berdegup hangat bahkan ia sampai tak bisa berkata-kata.
A..apa dia marah?!
Batin Edwald tak terbiasa. Semakin ia rasakan maka tangannya seperti di paksa untuk tetap ada disini seakan si kecil itu lebih nyaman dengan kehangatan tangan berdosa ayahnya.
"Lihat, Shireen sudah tenang!" Sahut Cooper masih berjongkok di belakang.
Edwald beralih memandang Shireen yang sudah tak gelisah lagi. Dada Edwald lega seperti melepas sesaat beban yang ada di bahunya
"Steen! Shireen memang membencimu tapi anak itu pasti merindukan ayahnya," Iba Cooper semakin membuat Edwald membisu masih enggan untuk mengangkat tangannya dari perut Shireen.
Bahkan, Edwald memberanikan diri mengusap lembut sesekali melihat respon Shireen yang bertambah lelap. Apa begini rasanya menjadi seorang ayah?!
Edwald tersenyum tipis. Ia tahu ini hanya sesaat tapi sangat berarti baginya. Cooper yang juga melihat kepedulian Edwald ikut tersenyum.
"Hidupmu selama ini sudah diatur oleh Suma. Kau alat yang paling sempurna baginya, Steen!"
Batin Cooper seraya merekam Edwald yang bahkan asik sendiri. Ia menempelkan telinganya ke perut Shireen lalu tersenyum sendiri walau tak begitu bebas tapi Cooper merasakan ketulusan pria ini.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..