
Sudah 1 minggu Shireen berada di rumah sakit. Setelah pertemuannya dengan Edwald malam itu, Shireen tak lagi bisa tersenyum. Seperti saat ini, Ia hanya diam dan terus melamun dan sering menangis sendirian kala melihat putranya di dalam kaca inkubator dengan banyak kabel dan selang yang menancap di tubuh mungil merah sang bayi.
Apalagi, Edwald hari ini di sidang hingga seluruh pertelevisian memberitakan kasus Mafia GYUF yang di ketuai oleh seorang ternama apalagi dia presdir.
Nenek Rue dan kakek Bolssom di balik kaca pintu di belakang sana hanya terus memandangi Shireen. Ada perawat khusus yang mendampingi wanita berkursi roda itu.
"Apa kita harus memberitahu Shireen tentang sidang Edwald?" Resah nenek Rue menatap sendu ke arah cucunya.
Kakek Bolssom menghela nafas. Tak ia sangka kehidupan manis Shireen di awal-awal kehamilan dulu akan berubah sepekat ini. Semuanya hancur tanpa sisa bahkan sosok Shireen yang biasa selalu menebar senyum dan tingkah manisnya tak lagi tampak di mata mereka.
"Jangan katakan tentang apa yang sudah dia tahu. Itu hanya akan membuat Shireen kita terluka bahkan lebih parah dari ini."
"Tapi, aku tak sanggup melihatnya seperti itu," Gumam nenek Rue bergetar karna ikut merasakan apa yang sekarang membuat Shireen down bahkan ia tak lagi bicara banyak.
Setelah beberapa lama mereka disini, tiba-tiba ada dokter Hannes yang datang bersama dua asistennya. Pria paruh baya ini tergesa-gesa seperti mengalami masalah.
"Tuan besar!"
"Ada apa?" Tanya kakek Bolssom menghadap ke arah dokter Hannes yang gelisah.
"Di depan sana banyak media yang datang. Mereka memenuhi area gerbang rumah sakit bahkan, menunggu sedari semalam. Aku hanya cemas jika nona Shireen akan terganggu dengan suara berisik mereka," Jelas dokter Hannes yang juga tahu psikis Shireen tengah labil.
Nenek Rue dan kakek Bolssom saling pandang. Jika ingin memindahkan Shireen dari rumah sakit ini akan terlalu beresiko.
"Usahakan mereka tak menerobos masuk. Aku tak ingin sampai cucuku terdampak oleh sikap egois mereka."
"Kami sudah berusaha mengusirnya tapi, mereka menggunakan hak reporter sebagai tameng. Benar-benar licik," Geram dokter Hannes merasa jika semua orang yang mulanya tak suka dengan Shireen dan Edwald akan membuat ulah sekarang.
"Dan satu lagi! Jangan ada yang membahas soal Edwald atau yang menyangkut kasus itu di rumah sakit ini!"
"Aku mengerti, tuan!" Jawab dokter Hannes mengangguki. Ia juga merupakan dokter pribadi keluarga Harmon yang selalu mematuhi ucapan kakek Bolssom.
Keduanya saling bicara sampai ada seorang perawat yang bermasker datang dari arah belakang dokter Hannes. Mereka yang asik bicara membiarkan perawat itu berlalu tapi, nenek Rue melihat wanita itu ingin masuk ke ruang rawat bayi Shireen.
"Jangan masuk!" Cegah nenek Rue hingga kakek Balssom dan dokter Hannes yang tadi bicara langsung teralihkan.
"Cucuku ada di dalam. Kenapa kau masuk begitu saja?"
"Nyonya! Saya ingin memberitahukan jika sekarang waktu makan, nona Shireen!" Jawabnya membuat dokter Hannes segera melihat jam di pergelangan tangannya.
Dan yah, ini sudah siang dan Shireen harus makan karna tadi dia hanya menerima asupan kecil karna tak selera makan.
"Ya sudah. Kau bawa nona Shireen kembali ke ruangan rawatnya. Aku akan menyiapkan pemeriksaan lanjutan!"
"Baik, dokter!" Jawab perawat itu masuk mendekati Shireen yang juga di jaga oleh satu perawat wanita yang tak memakai penutup wajah.
Mereka pergi menunggu di ruang rawat Shireen sekalian ingin menyiapkan makanan kesukaan wanita itu.
"Permisi, nona! Ini waktunya makan siang."
"Aku yang akan membawa nona ke kamarnya," Jawab perawat itu membuat dirinya dongkol bukan main.
__ADS_1
"Dokter Hannes menyuruhmu pergi untuk menyiapkan pemeriksaan lanjutan nona Shireen! Jadi, aku akan membawa nona ke kamarnya."
Alhasil jawaban perawat itu membuat wanita yang tadi menemani Shireen ragu. Ia akhirnya berpikir dan segera pergi menitipkan Shireen pada perawat yang baru datang.
Shireen masih diam. Ia hanya memandang ke arah kaca inkubator tanpa peduli apapun di sekitarnya.
"Nona! Ayo kita pergi ke kamar rawatmu!"
"Aku ingin disini," Dingin Shireen tak mau berpisah dengan putranya. Alhasil perawat itu diam sejenak di belakang kursi roda Shireen lalu perlahan mengeluarkan ponselnya.
Tatapan yang terlihat tak asing dan dimiliki oleh seseorang tercermin di separuh wajah wanita itu. Perlahan ia menghidupkan layar ponselnya mencari berita soal sidang Edwald hari ini.
Saat sudah menemukan vidio yang tengah hangat di perbincangkan itu, ia mulai berjalan di depan Shireen berniat untuk memijat kaki wanita cantik ini tapi ponselnya sengaja di jatuhkan ke paha Shireen.
"Maaf!! Maaf, nona!" Ucapnya gusar saat ponsel itu menyala memperlihatkan suasana sidang kedua hari ini. Sidang pertama dulu di laksanakan secara tertutup dan sekarang penentuan putusan hakim.
SUASANA PERSIDANGAN STEEN ATAU DI KENAL DENGAN PRESDIR EDWALD YANG SUDAH DI TETAPKAN SEBAGAI KETUA MAFIA GYUF SUDAH TERTANGKAP SETELAH BERTAHUN-TAHUN LOLOS TAMPAK BERLANGSUNG MENCEKAM.
BANYAK SAKSI YANG DATANG BAHKAN, MEREKA MEMINTA HAKIM UNTUK MENJATUHKAN HUKUMAN MATI KARENA GYUF MEMANG SUDAH BANYAK MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL TERMASUK PERDAGANGAN ORGAN ILEGAL.
Suara presenter berita itu memperlihatkan bagaimana suasana sidang kedua Edwald yang di rekam jelas. Mata Shireen memanas melihat Edwald duduk diantara kursi panas bersama pengacaranya tapi, wajah tampan dan tegas Edwald tak berubah seakan ia tak ada takutnya sama sekali.
Mereka bukan melihat seorang penjahat yang tertangkap basah tapi, sosok suami, seorang ayah dan pimpinan yang berkharisma.
Tak sanggup melihat ini terlalu lama, akhirnya Shireen melempar ponsel itu ke dinding ruangan membuat perawat di depannya tersenyum licik.
"Lihat saja. Akan ku balas semua yang suamimu lakukan padaku!" Batinnya geram bahkan sangat puas melihat Shireen kembali terpukul bahkan sulit baginya untuk menatap dunia ini.
"Pergi!" Gumam Shireen sudah gemetar memeggangi dadanya. Tapi, perawat itu seakan benar-benar ingin Shireen bunuh diri.
"Nona! Saya tahu suamimu pasti akan di hukum mati tapi, kau tenang saja karna kami.."
"PERGIII!!! AKU ..AKU BILANG PERGII!!" Teriak Shireen mendorong wanita itu sekuat tenaga hingga nyaris menabrak beberapa peralatan medis di belakangnya.
"Nona! Kau tenanglah. Kau pasti bisa hidup sendiri bersama putramu. Kau wanita yang kuat, nona!"
"Kau ingin mati, ha?" Desis Shireen mengigil dengan tatapan sangat sakit, emosi bahkan semuanya tak bisa ia kendalikan.
Perawat itu terus memancing Shireen bahkan tak segan mengatakan jika Edwald tak akan kembali karna negara akan merenggut nyawanya.
"PERGIII!!!" Teriak Shireen histeris.
Saat perawat ini membungkuk ingin menahannya, Shireen mulai kehilangan kendali mencekik leher perawat itu sekuat tenaga.
"T..tolong!!" Ucap wanita itu terbata-bata berusaha lepas dari Shireen.
"A..aku..aku akan membunuhmu. Freya!" Geram Shireen membuat Freya syok. Ia kira Shireen tak tahu jika ini dirinya dan ternyata wanita ini sudah lebih pintar.
"B..baguslah! Aku jadi mudah untuk membunuhmu," Desis Freya menarik rambut Shireen yang akhirnya jatuh dari kursi roda itu. Keadaan Shireen yang belum sepenuhnya sehat apalagi perutnya masih dalam tahap pemantauan membuat Freya mudah menyakiti Shireen.
"Susul saja suamimu itu ke neraka!" Geram Freya mengambil gunting yang ada di meja medis di belakangnya lalu, mengayunkan benda tajam itu untuk menusuk punggung Shireen yang tadinya terduduk di lantai.
__ADS_1
Namun, tangis bayi di dalam inkubator sana melengking kuat mencegahnya. Freya jadi cemas karna bisa saja orang-orang akan mulai berdatangan kesini.
"Lebih baik aku lenyapkan putramu dulu," Geram Freya ingin memecahkan kaca inkubator tapi Shireen dengan cepat menahan kakinya lalu mendorong Freya hingga terlempar ke meja peralatan medis tadi.
Prankkk..
Semua barang-barang terlempar asal. Freya ingin bangun tapi Shireen sudah lebih dulu merebut gunting di tangannya lalu mencekik leher wanita itu dengan kuat.
"KAU MEMANG TAK TAHU DIRI!!" Geram Shireen sudah kehilangan akal sehat bahkan rasa empati di hatinya. Ia ayunkan gunting itu cepat menusuk mata Freya yang seketika berteriak tapi Shireen tak peduli, ia bukan lagi dirinya yang sebenarnya.
"AKANKU BUNUH KALIAN SEMUAA!!" Teriak Shireen ingin melakukan itu berulang kali tapi tiba-tiba pintu di dobrak kasar memperlihatkan dokter Hannes yang rombongan lainnya datang.
"Shireen!" Pekik nenek Rue segera mendekati Shireen yang ingin menghujami Freya dengan gunting di tangannya. Melihat itu dokter Hannes langsung menarik Shireen yang memberontak kuat bahkan ia kewalahan.
"LEPAAS!!! LEPASKAN AKUU!!"
"Tenanglah! Kendalikan dirimu," Ucap dokter Hannes mengambil alih gunting di tangan Shireen yang sudah berlumuran darah Freya yang memekik karna matanya sudah di tusuk na'as.
"MATAKU!! MATAKUU! SHIREEN SIALAAN!!"
"Bawa dia pergi!" Titah dokter Hannes pada dua rekannya yang segera membawa Freya pergi. Shireen masih ingin merenggut nyawa wanita itu sampai ia tak peduli dengan kondisi tubuhnya sendiri.
"LEPAAAS!!! DIA PANTAS TIADAA!! DIA INGIN MELENYAPKAN BAYIKU!! PEMBUNUUH!! PEMBUNUHH!!"
Teriak Shireen sejadi-jadinya memberontak sampai tak bisa di pegang lagi. Suster yang tadi melihat itu segera pergi mengambil obat penenang sementara tangisan bayi Shireen di dalam inkubator sana seperti meredam suara frustasi dan putus asa sang ibu.
"Shireen, hiks! Sudah nak, sudah!" Isak nenek Rue tak sanggup melihat keadaan Shireen yang seperti tak lagi peduli akan apapun.
Kakek Bolssom-pun hanya bisa memalingkan wajah. Ia terlalu merasa tak berguna melihat Shireen yang terus seperti ini.
"LEPAAS!! LEPASKAN AKUU!!! DIA JAHAAT!! SEMUANYA JAHAAAT!!! SEMUANYA PERGI!!! PERGII!!"
Histeris Shireen memukul-mukul lengan dokter Hannes yang berusaha menahannya. Saat suster tadi datang, Shireen di peggang agar tak memberontak lagi dan alhasil dalam beberapa menit kemudian barulah Shireen tak sadarkan diri.
Tangisan bayi itu juga ikut mereda seiring dengan suara Shireen yang tak lagi terdengar. Dokter Hannes mengambil nafas dalam dan berat.
"Jika seperti ini terus aku khawatir jika nona tak akan bisa bertahan. Banyak orang yang ingin menghancurkan hidupnya, tuan!"
Kakek Bolssom diam sejenak. Ia harus mengambil keputusan tegas dan demi kelangsungan hidup cucu dan cicitnya.
"Apa bisa bayi itu di bawa pergi ke luar dari negara ini?" Tanya kakek Bolssom dan dokter Hannes tampak menimbang-nimbang.
"Sebenarnya tidak, tuan! Tapi, jika kondisinya seperti ini dan dikhawatirkan menganggu mental nona dan perkembangan bayinya. Maka, akan kami usahakan semuanya bisa."
"Syukurlah! Kitaa pergi malam ini. Jangan sampai ada media manapun yang tahu hal itu," Tegas kakek Bolssom dan diangguki dokter Hannes.
Shireen di bawa kembali ke kamar rawatnya. Mereka mulai menyiapkan semua peralatan medis untuk membawa bayi itu pergi dari negara ini.
.....
Vote and like sayang
__ADS_1
Kita tamatin ya🤣