
Kalimat yang di lontarkan Edwald barusan sukses membuat semua orang terdiam. Raut wajah tak percaya, kecewa bahkan murka dari Suma tak bisa di hindari siapapun disini.
Pria paruh baya dengan satu gigi emas di dalam mulutnya itu berdiri tak peduli jika darah dari pergelangan tangannya berjatuhan di atas lantai.
"Apa maksudmu?" Tanya Suma berdiri di samping Edwald yang setia dengan wajah datar dan bekunya. Tak ada rasa takut disana bahkan Edwald penuh dengan ketenangan.
"Biarkan dia pergi!"
"Dia? Wanita itu?" Tanyanya lagi seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Edwald tak lagi menjawab tapi pandangan dan hawa keberadaanya masih menegaskan hal yang sama.
Melihat daddynya yang untuk pertama kali kecewa pada Edwald, tentulah Glimer sangat senang. Ia yakin, Edwald akan di hukum berat karna telah berani mengkhianati GYUF.
"Steen! Aku tanya sekali lagi padamu. Kau.."
"JANGAN ADA YANG MENGUSIKNYA!" Tegas Edwald menyela dan kali ini intonasinya begitu tak bersahabat. Ia seakan menekankan maksud dan arti dari kalimat itu melalui intonasi suara beratnya.
Sungguh, Suma sampai tak percaya Edwald akan melakukan hal ini.
"Apa maksudmu, ha?? Kau selalu menyelesaikan misimu bahkan tak pernah mengecewakan aku. Apa ini, Steen???"
"Kau hanya menyuruhku menghancurkan keluarga Harmon, mereka sudah hancur bahkan lebih dari apa yang kau inginkan," Jawab Edwald tak ada takut untuk menjawab tapi ia juga menghormati Suma sebagai ayah angkatnya.
Suma diam tapi ia ingin meluruskan jawaban yang di berikan oleh Edwald padanya.
"Tapi, wanita itu adalah putri dari.."
"Misiku hanya sebatas itu."
Jawaban Edwald menyela hingga Suma tak lagi bisa berkata-kata. Terkadang ia tersenyum tipis tapi percayalah, senyum itu sangat berbahaya dari wajah sedihnya.
"Steen! Apa kau masih putraku, hm?" Tanya Suma menepuk bahu kokoh Edwald yang merasakan cengkraman kuat yang di berikan Suma padanya.
"Kau masih Steen yang sama? Atau kau sudah berubah, nak?"
"Aku tak berubah," Jawab Edwald membuat kekehan kecil di bibir Suma lolos. Ia menepuk jantan bahu Edwald yang hanya diam tapi pandangannya begitu intens dan tajam.
"Kau ingat? Saat kau kecil kau sering membantuku untuk membangun organisasi gelap ini. Kau pria seribu wajah yang sangat ku banggakan dan aku yakin kau tak akan mengecewakan aku, benar?"
"Tentu," Singkat Edwald dan Suma begitu bahagia. Glimer benar-benar tak tahu, kenapa bisa Suma begitu mudah memaafkan Edwald padahal seharusnya Edwald di beri hukuman berat.
"Dad! Steen harus di hukum. Dia sudah berkhianat pada kita semua!"
"Kau tahu apa, ha?" Sarkas Suma datar pada Glimer yang tersentak. Ia seperti di anggap remeh dibandingkan Edwald yang selalu didewakan disini.
"Aku percaya pada putraku, Steen! Dia melarang kita untuk tak mengusik wanita itu pasti karna ada rencana besar di baliknya, benar?"
__ADS_1
"Dad!! Sudah jelas Steen menyukai Shireen!!" Bantah Glimer naik pitam tapi Suma langsung membentaknya.
"Kau diaam!!!"
Suma tampak murka akan ucapan Glimer yang seketika mengepal.
"Tutup mulutmu! Kau tak pantas bicara hal menjijikan itu pada Steen. Mana mungkin pria tanpa hati seperti dia menyukai seseorang. Selama ini Steen menjalankan berbagai misi dan ada banyak wanita di sana, tak ada satupun dari mereka yang masuk ke dalam hidup putraku ini dan wanita sialan itu juga, TIDAK!" imbuhnya dengan pandangan sangat misterius.
Wesson yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran ini hanya diam. Ia tengah khawatir pada Edwald tapi juga cemas dengan Shireen. Jika sudah begini, bagaimana caranya Edwald akan melindungimu?!
"Lupakan tentang malam ini! Aku tak ingin kalian membahas apapun karna aku sangat percaya pada PUTRAKU!"
"Tuan! Para pasukan pengintai dari negara sebelumnya tengah berusaha melacak keberadaan kita," ucap salah satunya yang mendapat pesan dari mata-mata yang tersebar di mana tempat.
"Bereskan semuanya malam ini! Tak ada satupun yang akan tinggal disini lagi!"
Suma memerintahkan semuanya untuk pergi dari sini kecuali Edwald dan dua saudaranya. Suma memandang tenang Edwald seakan-akan kemarahan yang tadi ia tunjukan sudah tiada lagi di batinnya.
"Steen! Jangan melibatkan perasaan dalam misi apapun. Itu prinsipmu, bukan?"
Edwald hanya diam. Ia tahu itu karna dialah yang mengajarkan semua anggota untuk serius dalam berbagai hal. Tapi, kali ini rasanya ia melampaui prinsip yang sudah ia peggang selama bertahun-tahun.
"Jangan buat semua orang bingung dengan TINDAKANMU malam ini, paham?!" Tekan Suma meremas bagian luka bakar di bagian bahu Edwald dulu yang masih membekas hingga tentu rasanya cukup sakit.
Suma pergi meninggalkan penginapan ini dan barulah Wesson mendekat tapi ia tak bicara karna masih ada Glimer di belakang Edwald.
"Kali ini di luar kendaliku!"
"Cih, wanita itu sudah berhasil memanfaatkan kalian untuk menghancurkan GYUF. Dan kalian tak menyadarinya," Ketus Glimer lalu pergi begitu saja.
Wesson menghela nafas dalam lalu memandang Edwald yang masih ada dalam bayang-bayang ucapan Suma kepadanya barusan.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Edwald masih diam. Ia menatap datar hamparan salju di hadapannya lalu sejenak mengambil nafas dalam.
"Steen! Sebaiknya kau jangan berhubungan dengan Shireen lagi."
Wesson yang takut jika nanti Edwald terkena masalah besar. Malam ini Suma menganggap mereka angin lalu tapi, jika ada kejadian serupa maka dapat dipastikan masalah besar akan terjadi.
"Suma tak akan melepaskan Shireen begitu saja!" Tegas Edwald tahu watak pria itu.
"Yah, tapi aku rasa. Jika kau tak berhubungan lagi dengan Shireen dia akan mengabaikan hal itu. Sekarang semuanya tergantung padamu, Steen!" Jawab Wesson lalu pergi masuk ke dalam penginapan.
Edwald masih berdiam diri di luar merasa sulit. Disuatu sisi ia tak ingin Shireen terluka tapi disisi lain ia harus membahayakan organisasi yang sudah ia bentuk sedari kecil dengan susah paya.
__ADS_1
"Setidaknya beberapa waktu kedepan aku tak bisa melihatmu,"
Batin Edwald memejamkan matanya yang baru beberapa jam saja berlalu rasanya sudah sesunyi ini. Biasanya, kemanapun ia pergi maka terasa ingin selalu pulang ke tempat dimana wanita itu ada tapi, sekarang ia cukup hampa dan kosong.
Di tempat yang berbeda. Cooper masih menyetir membawa Shireen keluar dari kota Verona. Pria itu sesekali memandang Shireen yang sedari tadi diam menatap keluar jendela mobil yang berkabut dingin.
Mereka tak bicara bahkan ini sangat sunyi. Cooper-pun yang biasa menyerocos tak cukup berani untuk menyalip diantara perasaan kosong Shireen.
"Kau ingin membawaku kemana?" Tanya Shireen yang sudah pasrah kemana angin membawanya.
"Ketempat kau merasa aman," Jawab Cooper tapi Shireen hanya bisa diam tak mau berpikir lagi.
"Bagiku, tak ada tempat yang aman di dunia ini," Jawab Shireen tersesat dirundung pilunya.
Cooper mengambil nafas dalam. Ia tahu Shireen pasti sulit tenang dan tak bisa merasa nyaman dalam kondisi seperti ini.
"Apa kalian akan hancur?"
"Tidak, jika malam ini kami pergi!" Jawab Cooper dan sontak Shireen langsung memandang ke arahnya.
Tatapan syok, tak menyangka dan tentu tak rela ada di sana.
"K..kau.."
"Jika sudah seperti ini maka, mereka yang ingin menangkap GYUF akan mudah menemukan kami. Yang selalu di lakukan adalah berpindah tempat," Jelas Cooper menghela nafas karna cukup lelah dengan kondisi mendesak ini.
"B..bagaimana dengan.."
"Steen adalah nyawa GYUF!" Sela Cooper tahu maksud Shireen bagaimana.
"Dia yang membentuk semua aliran kami dan dia juga yang sudah membawa GYUF sampai sejaya ini. Tapi, yang menjadi otaknya adalah Suma. Malam ini mereka pasti akan bergerak meninggalkan kota ini!"
Imbuh Cooper tapi sungguh Shireen berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Perasaan bencinya pada Edwald yang dulu berapi-api sekarang terasa ciut berganti dengan kecemasan, takut dan penuh dilema.
"Jalani saja hidupmu dengan baik. Kau dan Steen seperti air dan minyak!" Gumam Cooper merasa takut jika nanti Edwald maupun Shireen terluka karna berdekatan.
Shireen hanya diam. Ia mengusap perutnya yang masih ada benih pria itu.
Dulu aku merasa sangat takut jika berdekatan denganmu. Tapi, ntah apa yang terjadi?! Sekarang aku lebih takut tak bisa bertemu denganmu, Ed!
Batin Shireen meremas perutnya sendiri. Kepalanya tertunduk menyembunyikan wajah cantiknya yang sudah berlinangan air mata.
A..aku hidup tanpa kasih sayang orang tuaku. T..tapi, apa anakku juga akan sama?!
....
__ADS_1
Vote and like Sayang..