
Saat tiba di kursi tunggu rumah sakit, Shireen tersentak saat melihat tuan Brandon tengah bicara dengan nenek Rue dan kakek Bolssom yang tampak menyambut pria itu dengan ramah.
Mereka bicara sangat serius dan sepertinya tuan Brandon membahas soal dirinya. Setelah beberapa menit berdiri disini, barulah Brandon menyadari keberadaan Shireen yang seketika tersenyum menyapa.
"Tuan!"
"Shireen! Kau baik-baik saja?" Tanya pria itu mendekati Shireen dengan wajah cemas. Ia berdiri berhadapan dengan Shireen yang mengangguk pertanda ia baik-baik saja.
"Aku baik dan masih sehat. Kenapa tuan datang ke sini?"
"Kau tak ingat tentang meeting kita?" Tanya tuan Brandon dan sontak Shireen baru ingat.
"Astaga! Aku sama sekali tak ingat."
"Itu tak masalah. Tadi, aku menelfonmu nona dan nenek Rue yang mengangkat. Dia bilang kau sakit dan aku langsung kesini!" Jelas tuan Brandon dan Shireen cukup merasa nyaman dengan cara tuan Brandon selalu memakluminya.
"Maaf! Kali ini aku tak bisa hadir di meeting itu," Sesal Shireen merasa sangat bersalah tapi, tuan Brandon tampak santai dan tak mempermasalahkan itu.
"Sudahlah. Yang paling penting sekarang itu kau baik-baik saja, aku sudah sangat tenang dengan itu."
Shireen hanya mengangguk saja. Nenek Rue dan kakek Bolssom saling pandang tahu jika tuan Brandon pasti menyukai Shireen.
Pria ini juga termasuk sangat baik dan mungkin jika Edwald tak kembali sekarang, mereka akan menyarankan Shireen untuk berhubungan dengan tuan Brandon.
Karena merasa tak enak jika mengesampingkan pekerjaannya, akhirnya Shireen mengajak tuan Brandon membahas soal peluncuran produk baru mereka di kursi ruang tunggu.
Tuan Brandon tak keberatan mengobrol ringan dengan Shireen yang sangat cerdas bisa mengingat poin-poin penting saat hasil meeting kemaren.
Tapi, nenek Rue dan kakek Bolssom terkejut saat melihat Edwald berdiri di ujung lorong lantai ini menatap tajam bahkan sangat menakutkan ke arah Shireen dan tuan Brandon yang asik bicara dan tampak sangat akrab.
"Ayo pergi!"
Ajak kakek Bolssom menarik nenek Rue agar berjalan menjauh dari area ini. Mereka tak mau menyaksikan pertengkaran atau hawa sengit mengintimidasi dari pria menyeramkan itu.
"Jadi kau ingin jadi pemakai pertama?"
"Ya, jika bermasalah itu tak akan merusak wajah orang lain," Jawab Shireen santai tapi tuan Brandon tampak tak setuju melantunkan kalimat yang menggelikan.
"Nanti wajahmu sama seperti nenek Rue!"
"Kauu.."
Shireen tersenyum geli sampai refleks memukul bahu tuan Brandon kecil tapi pria itu segera minta maaf.
Sungguh, darah Edwald sudah mendidih di seberang sana bahkan kedua tangannya mengepal seperti tak sanggup lagi melihat ini.
Begitu emosinya Edwald ia tak sadar jika ada Ealnest yang sudah berjalan mendekatinya dan menatap ke arah dimana mata tajam sang ayah terpaku.
"Itu pria yang sering bersama mommyku!"
Edwald diam. Ia melirik Ealnest dari ekor matanya lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan bocah ini.
"Kau menyukainya?" Dingin Edwald dan Ealnest menggeleng.
"Tidak. Tapi, dia juga tak buruk."
Mendengar itu Edwald langsung meraih tengkuk Ealnest hingga kening mereka beradu dengan mata saling tatap tajam.
"Kau putraku dan hanya aku yang bisa menjadi daddymu, paham?"
"Kau itu suka memaksa. Aku rasa mommy-ku tak akan mau padamu," Sinis Ealnest dan sontak Edwald langsung menjitak keningnya hingga Ealnest kesal bukan main.
"Kauu ..."
"Jika dia tak mau, kau tak akan ada," Ucap Edwald lalu berdiri. Alhasil keduanya berdiri dengan pose yang mirip. Kedua tangannya sama-sama masuk ke dalam saku celana bahkan netra hijau itu terus mengintimidasi dua orang di depan sana dari sini.
"Kau punya rencana?" Tanya Edwald dan tentu saja Ealnest menyeringai.
"Punya! Tapi agak ekstrem."
"Katakan!" Titah Edwald membungkukkan tubuhnya dengan Ealnest yang membisikan sesuatu ke telinga Edwald.
Sedetik kemudian keduanya menyeringai saling tos barulah kembali menatap licik tuan Brandon.
"Aku akan lancarkan bagian ku!"
__ADS_1
"Hm, pergilah!" Jawab Edwald membiarkan Ealnest berlari menuju lobby rumah sakit sementara Edwald berjalan mendekati Shireen.
"Sayang!"
"Uhuuk!!"
Sontak Shireen tersedak saat Edwald tiba-tiba saja duduk di tengah-tengah mereka membuat tuan Brandon tersentak segera berdiri.
Ia menatap bingung Shireen yang berusaha menjauhi Edwald tetapi pria ini dengan santai membelit pinggangnya lalu duduk bertopang kaki angkuh.
"Kau itu masih harus istirahat. Ayo ke kamar!"
"Edwald!" Tekan Shireen tapi Edwald masa bodoh. Ia beralih menatap datar tuan Brandon yang tampak bingung sekaligus risih melihat Edwald lancang memeluk Shireen.
"Tuan! Lepaskan tanganmu!"
"Kenapa?" Dingin Edwald dan angkuh.
"Shireen tak nyaman."
"Benarkah? Sayang!" Tanya Edwald begitu mesra sampai Shireen merasa jengkel. Ia masih marah dengan tragedi di kamar rawat tadi dan sekarang ada-ada saja yang dia lakukan.
"Shireen! Ayo pergi!" Ajak tuan Brandon ingin meraih tangan Shireen tapi Edwald sudah lebih dulu menepisnya.
Alhasil tuan Brandon mulai kehabisan kesabaran dan begitu juga Edwald yang berdiri hingga tubuh kekar gagahnya mendominasi.
"Jauhi dia!"
"Kenapa? Kau bukan siapa-siapa bagi nona Shireen!"
Ucapan tuan Brandon membuat Edwald tersenyum sarkas merapikan kerah jas yang pria itu pakai.
"Kau tahu anak laki-laki Shireen?"
Tuan Brandon diam mengamati wajah tampan Edwald dan seketika ia tersentak saat visual ini sangat mirip dengan Ealnest.
"K..kau.."
"Dia putraku!" Desis Edwald mengencangkan ikatan dasi di leher tuan Brandon hingga pria itu tercekik kuat.
"Edwald!! Lepass!! Kau bisa membunuh dia!!"
Edwald tak peduli. Ia tetap menyeret Shireen pergi meninggalkan tuan Brandon yang berusaha mengendurkan dasinya hingga terlambat beberapa detik saja ia akan mati kehabisan nafas.
Sampai ke depan pintu kamar rawatnya, Shireen di dorong masuk oleh Edwad yang langsung mengunci pintu itu dari dalam.
"Edwald!"
"Hm?" Datar Edwald berbalik seraya melepas jaketnya dan di lempar ke sofa di sudut ruangan.
Shireen benar-benar frustasi ingin tetap memaksa keluar dengan mendobrak pintu tapi Edwald menarik lengannya dan di lempar ke atas ranjang rawat.
Hal ini terlihat kasar tapi Shireen tak akan merasakan sakit di tubuhnya karna Edwald hanya melempar ke atas ranjang rawat yang empuk.
"Kau.."
"Kau begitu perhatian padanya. Kalian punya hubungan spesial?" Desis Edwald tenang tapi sorot matanya tak berbohong mengatakan jika ia benci itu.
"Aku dan dia hanya rekan kerja. Kau jangan berlebihan!"
"Apa ada rekan kerja saling tertawa manja seperti itu?" Geram Edwald menarik dagu tirus Shireen hingga wajah cantik wanita itu mengadah menatapnya.
Tatapan Edwald sama seperti beberapa tahun lalu. Saat ia memanggang pemuda desa Casthillo yang menjadi teman masa kecilnya.
"Kau milikku Shireen! Sampai kapanpun, paham?" Tekan Edwald langsung menyambar rakus bibir merah Shireen yang sempat mendorong bahu Edwald tapi ia tak cukup kuat.
Alhasil, mau bagaimanapun Shireen menolak maka tetap saja ia tak bisa melawan keinginannya sendiri. Ciuman Edwald begitu kasar dan rakus tapi jujur Shireen juga menginginkannya.
Ntah karna memang terpaksa atau saling merindukan, keduanya sama-sama menafsirkan perasaan dengan saling mencumbu mesra bibir masing-masing.
Shireen tak cukup kuat mempertahankan egonya sampai pasrah di kungkung Edwald yang seperti biasa memuja setiap apa yang Shireen punya.
"Ehmm!" Erangan Shireen lolos meremas rambut Edwald yang beralih turun mencumbu lehernya.
Kecupan dan gigitan sensual itu Edwald berikan sampai Shireen mengigit bibir bawahnya tak tahan dengan mata terpejam menikmati semua ini.
__ADS_1
Namun saat Shireen membuka mata, ia tak sengaja melihat seorang wanita berdiri di pintu kamar mandi dengan tatapan kosong seperti syok melihat ke arah sini bersama Cooper yang mematung.
Sontak Shireen terkejut segera berusaha menjauhkan Edwald darinya dengan memukul-mukul bahu pria itu panik.
"Sayang!" Serak Edwald dengan wajah merah padam di kuasai hasrat sementara Shireen sudah di telan rasa malu segera menyembunyikan wajahnya diceruk leher Edwald.
"Lihat di depan kamar mandi!" Bisik Shireen meremas bahu Edwald yang segera menatap kesana dan..
"KALIAAAN!!!!"
Cooper segera menarik lengan Catharina berlari pergi mendobrak pintu ruangan ini seperti kesetanan takut Edwald akan membunuhnya hidup-hidup.
Darah Edwald mendidih ke ubun. Dadanya naik turun menatap kepergian Cooper dan Catharina yang ntah kenapa bisa ada di kamar mandi.
"Shitt!"
Umpat Edwald benar-benar emosi. Shireen diam tapi ia berpikir. Wanita itu sama dengan sosok yang tadi memeluk Edwald.
"Dia wanita barumu?" Tanya Shireen menyelipkan nada pedas.
Edwald mengambil nafas dalam membaringkan tubuhnya di samping Shireen dan memeluk wanita itu erat.
"Dia adikku!"
"Apaaa??" Pekik Shireen melebarkan matanya dan Edwald mengangguki itu.
"Hm, aku sudah pulang pada keluargaku Tak di sangka mereka punya anak lagi."
Ucapan Edwald barusan sukses membuat Shireen membisu. Berarti dugaannya salah. Wanita itu bukanlah kekasih Edwald tapi adiknya. Shitt, kenapa bisa berpikir seperti itu?!
"A..aku pikir tadi.."
"Jangan berpikir buruk. Kau saja sudah lebih dari cukup," Sela Edwald mengecup kilas bibir Shireen yang seketika memerah.
Edwald tersenyum tipis kembali mengungkung Shireen yang sudah tak mampu memandangnya lagi.
"Kau begitu takut aku memiliki wanita lain, hm?"
"T..tidak. Tidak begitu," Elak Shireen mempertahankan egonya.
Edwald hanya mengulum senyum ingin melanjutkan pemanasan yang tadi tertunda tapi lagi-lagi ada yang masuk ke dalam sini.
"Aku sudah putuskan rem mobilnya!" Sorak Ealnest mendekati Edwald tapi tersentak melihat mommynya ada di bawah pria ini.
"M..mom!"
"Kau bilang apa tadi?" Tanya Shireen tapi wajah Ealnest pucat. Alhasil ia beralih pada Edwald yang dengan santai duduk di atas ranjang menutupi bagian bawahnya dengan selimut.
"Edwald!"
"Apa?"
"Kau .."
"Dia hanya akan koma beberapa hari. Tenang saja!" Santai Edwald dan sontak Shireen tak lagi bisa berkata-kata.
Ia terbaring lemas di atas ranjang melihat Ealnest saling lirik dengan Edwald dengan tatapan puas dan licik.
.....
Sementara Cooper di luar ruangan sana bertengkar dengan Catharina yang tadi ia kurung di kamar mandi tapi siapa sangka wanita ini juga mahir bela diri hingga keduanya terkurung bersama.
"Ini semua karnamu!!"
"Aku? Yang benar saja. Kau yang pertama menyeret ku sembarangan," Bantah keras Catharina sampai membuat Cooper kehabisan akal untuk menangani wanita ini.
Ia memilih pergi mencari udara segar meninggalkan Catharina yang tampak kesal bukan main.
"Dasar belalang!" Ketus Catharina membuang wajah kesal. Ia memilih untuk menghubungi mommynya yang tadi berpesan sudah ikut terbang ke sini untuk melihat Shireen dan si nakal Ealnest.
"Kakak ternyata sangat buas. Itu mengerikan!" Desis Catharina merinding melihat adegan dewasa tadi. Ia menceritakan itu pada nyonya Zofia yang tentu geli sendiri mendengar ocehan anak bungsunya ini.
....
Vote and like sayang..
__ADS_1
Maaf ya say. Nt emang lagi eror.. author selalu up tiap hari kok ndak pernah bolong. Tapi, tetep aja reviuwnya sukak lama😢😭