Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Kau mengenalnya?


__ADS_3

Ntah apa yang terjadi sampai gadis yang tadi bersama Shireen akhirnya di perbolehkan ikut ke kediaman utama Suma. Tentu para penjaga yang keheranan hanya bisa memendam tanya tak berani menyinggung Wesson putra pertama Suma itu.


Dalam perjalanan menuju kediaman Suma, mereka tak bisa melihat ke kiri kanan karna masing-masing wanita di ikat dengan rantai dan kedua matanya di tutupi kain hitam tebal.


Shireen yang setia duduk di samping gadis tadi hanya diam membiarkan mobil ini membawa mereka ke arah tujuan pertama.


"K..kak!"


"Tenanglah. Mereka tak akan membunuh kita," Bisik Shireen berharap jika ucapannya tadi memang benar terjadi.


Perjalanan ini di rundung rasa harap-harap cemas. Suara mesin mobil ini tiba-tiba berhenti pertanda jika mereka sudah sampai atau mungkin pikiran negatif gadis tadi benar, mereka di turunkan dan di bunuh.


Terdengar suara supir yang turun membuka pintu mobil. Masing-masing mereka di tarik paksa keluar begitu juga mobil di belakang yang mengangkut tawanan lain.


"Jalan!!"


Mereka di bariskan lalu di arahkan untuk berjalan lurus. Penutup mata dan rantai di tangan itu tak di lepas. Mereka hanya berjalan mengikuti deritan rantai di depan sana tanpa tahu dimana mereka sekarang?!


"Berhenti!!"


Mereka langsung berhenti. Hawa dingin ini sangat terasa bahkan kaki Shireen yang tak dibaluti apapun terasa keram dan kaku.


Penutup mata itu di lepas begitu juga rantai hingga barulah mereka bisa melihat area di sekitar. Banyak yang terperangah akan besar dan mewahnya mansion ini tapi tidak dengan Shireen yang mencari cela untuk lari.


Pergerakan Shireen nyatanya selalu di pantau oleh netra coklat Wesson yang tadi sudah sampai lebih dulu. Pria itu berdiri di teras atas menatap Shireen yang belum menyadari posisinya sekarang.


"Tuan! Ini adalah 6 pilihan dan mereka siap di dandani!" Ucap penjaga yang tadi membawa mereka pada Wesson.


"Bawa mereka ke kediaman belakang!"


"Baik!" Jawabnya segera mengiring 4 wanita yang tadi ada di belakang untuk pergi. Shireen dan gadis belia tadi ikut tapi segera di sangga Wesson.


"Kecuali wanita itu!"


Mereka langsung saling tatap. Wanita yang mana? Apa salah satu dari ke empat tadi atau dua yang baru ingin menyusul?!


Melihat semuanya kebingungan dan Shireen juga tak menggubrisnya memantik rasa penasaran Wesson pada si jelita ini.


"Kau yang memakai pakaian serba hitam!"


Pandangan mereka langsung tertuju pada Shireen. Bukannya mengerti Shireen justru menatap mereka dan baru sadar jika ia yang di maksud.


"Aku?"


"Yah!" Jawab Wesson tampak tegas. Shireen mengalihkan pandangannya pada pria itu. Tak sama seperti para wanita yang biasanya malu-malu dan berharap, Shireen justru menunjukan wajah tak tertarik.


"Kenapa denganku?"


"Kau jangan lancang!!" Sarkas penjaga tadi yang sudah punya dendam kusumat pada Shireen.


"Apa yang kau mau dariku?" Tanya Shireen tak menunjukan rasa takutnya. Ia selalu bisa membaca situasi dan mengulur waktu lebih lama di luar sini.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Wesson hanya diam dengan tenang. Penjaga itu tahu maksud tuannya hingga meninggalkan Shireen sendirian disini.


"Kalian bawa kemana mereka?? Heey!!"


"Kakaak!!" Pekik gadis tadi menangis di seret pergi. Sungguh Shireen sangat cemas jika gadis itu akan di jadikan wanita penghibur.


"Kalian tak bisa membawanya!! Dia masih keciil!!" Teriak Shireen ingin mengejar rombongan itu ke belakang kediaman tapi ia di tahan oleh anggota yang berjaga disini.


Alhasil Shireen tak bisa lolos terbenam ke tumbukan salju di tanah ini.


"Tidak! Kalian tak bisa melakukan hal ini. Mereka masih muda!!" Cerca Shireen menarik perhatian Wesson yang sedari tadi mengamati setiap ekspresi wajah cantik dan cemas cerewet Shireen yang mempesona.


"Patuhlah pada tuan!"


"Tuan?" Gumam Shireen beralih memandang Wesson.


Keduanya saling pandang sejenak sampai Wesson benar-benar hanyut tak menyadari jika Shireen sudah berjalan mendekat.


"Apa yang kau inginkan dariku?"


Wesson tersentak saat Shireen sudah ada di hadapannya. Ia menormalkan raut wajah walau batinnya tengah berguncang sekarang.


"Apa begini cara kalian memperlakukan wanita, ha?? Sangat tak manusiawi!!" Maki Shireen geram.


"Namamu?" Tanya Wesson tenang dan terkesan sangat menghormati Shireen padahal mereka hanya baru kenal.


"Lepaskan mereka!"


"Itu paksaan. Lepaskan mereka karna kalian tak ada hak untuk merenggut hidupnya," Tegas Shireen masih berani melantangkan suaranya sampai para anggota yang melihat hal ini kebingungan.


Tak biasanya Wesson mau bicara dengan tawanan mereka apalagi sampai punya waktu berdebat selama ini.


"Kau tahu posisimu disini?" Tanya Wesson tenang.


"Aku di culik. Bukan menyerahkan diri. Paham?"


"Hm. Kau benar juga," Gumam Wesson mangut-mangut mengerti. Ia ingin dekat dengan Shireen tapi sepertinya wanita ini sulit untuk ia tahlukan.


"Apa gunanya kalian hidup bergelimang harta jika yang kalian makan itu hasil jerih paya orang lain. Kau laki-laki,kan? Seharusnya malu memanfaatkan orang lain hanya untuk memenuhi keinginan kalian !!" Emosi Shireen mengepal karna ia terbayang Edwald. Sungguh, pria itu sudah tak lagi bercitra baik di matanya.


Wesson bisa melihat jika hati wanita ini terluka. Shireen memandangnya seperti sosok yang sudah menerbitkan luka di hatinya.


"Kau sedang berbagi denganku?"


"Omong kosong," Umpat Shireen sudah terlanjur kecewa. Ia tak akan percaya lagi dengan yang namanya laki-laki apalagi pria seperti Wesson.


"Kau bisa memilih!"


"Maksudmu?" Tanya Shireen ketus.


"Kau ingin jadi pelayanku atau wanita penghibur disini!"

__ADS_1


Degg..


Shireen terkejut. Ia mematung di tempat menatap tak percaya pada Wesson yang telah pergi memasuki kediaman besar ini.


Di dalam sana Wesson tersenyum tipis. Ia tahu Shireen pasti akan memilih untuk lari tapi tak ada jalan lain.


Wajah senang Wesson nyatanya di tangkap oleh mata tajam seorang pria yang tadi baru saja menemui Suma.


Ia turun dari tangga dengan mantel coklat tebal rapi berpapasan dengan Wesson yang seketika menyapanya.


"Misi barumu?" Tanya Wesson berhenti di depan Edwald yang hanya setia dengan wajah tampan dingin itu.


Ntahlah, semenjak menyelesaikan misi besarnya Edwald tak lagi punya waktu untuk sekedar minum dengannya.


"Hm. Seperti biasa," Datarnya khas.


"Selamat atas keberhasilan misimu!"


"Kau juga," Singkat Edwald melanjutkan langkahnya begitu juga Wesson yang menaiki anak tangga.


Ada panggilan masuk dari seseorang ke ponselnya hingga Edwald memeriksa benda itu seraya berjalan ke pintu keluar.


Brughh..


Tubuhnya di tabrak oleh seseorang dan sontak ponsel di tangan Edwald jatuh.


"KAUUU!!!" Geram Edwald mengangkat pandangannya pada sosok yang menabraknya ini hingga..


Duaarr..


Keduanya terbelalak hebat dengan jantung yang seakan mau keluar. Shireen terkejut begitu juga dengan Edwald yang terpaku kosong melihat wajah wanita yang sudah mengganggu pikirannya semalaman ini.


"Steen!!"


Wesson turun mendekati mereka. Ia tahu Edwald pasti akan marah besar karna pria ini cukup tempramen.


"Dia tak sengaja melakukannya!" Ucap Wesson tapi Edwald dan Shireen hanya diam tanpa berkedip menatap intens.


Bedanya, mata Shireen penuh dengan kebencian sedangkan Edwald jatuh dalam perasaanya sendiri.


"Kalian saling kenal?" Tanya Wesson agak bingung.


Kedua tangan Shireen mengepal. Matanya berkaca-kaca bahkan bulir bening itu kembali jatuh ke pipinya menahan rasa sakit sekaligus kekecewaan yang teramat.


"Kau mengenal? Steen!"


"Tidak!"


Dingin Shireen dan itu langsung sampai ke ulu hati Edwald yang tak menunjukan raut wajah terganggunya.


....

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2