
Orang-orang yang tadi berniat untuk membunuh Edwald sudah terpental sembarangan oleh tinjuan pria itu. Ealnest sampai terperangah hebat melihat Edwald dengan santai menumbangkan para pria yang bahkan lebih besar dan tinggi darinya.
Mereka bagai kapas yang berhamburan dengan ringan membentur meja-meja dan perabotan bar. Tak khayal senjata tajam itu melintas tepat di wajah Edwald tapi dalam sekejap mata senjata itu sudah kembali pada pemiliknya dengan mengenaskan.
"Daddy!! keluarkan isi perut mereka!!" Sorak Ealnest senang bukan main menyaksikan Edwald memukul orang-orang yang tadi begitu sangar dan bengis dengan santai bahkan tak terlihat kewalahan.
Edwald hanya melirik Ealnest datar. Pukulan terakhir ia hadirkan pada seorang pra gempal yang langsung tersungkur telak menghancurkan susunan gelas yang ada di belakang meja bar.
Keadaan sudah benar-benar kacau dimana tak ada lagi yang berani berdiri. banyak yang tewas disini dan ada juga yang melarikan diri karena takut saat Edwald memandang ke arahnya.
Namun, ada salah satu pria yang tadi sudah bersimbah darah di lantai bar bangkit menyerang Edwald dari belakang.
"Daddy!! Di belakangmu!!" Teriak Ealnest dan Edwald berputar jantan melayangkan kaki jenjang kokohnya menghantam pipi pria itu hingga terpental ke meja biliar di sampingnya.
"Yeaah!! Itu baru daddyku," Decah Ealnest bangga mengakui Edwald yang memenuhi kriterianya. Ealnest masih berdiri di depan pintu ini semetara Edwald sudah melangkah menghampirinya.
"Daddy!" Sapa Ealnest penuh minat tapi Edwald hanya melewati dirinya berlalu keluar sana dengan angkuh mengusap punggung tangannya yang terkena lumeran darah.
"Tidak. kau kandidat terkuat, aku tak bisa melepaskan-mu," Gumam Ealnest segera mengejar Edwald yang hampir mau jauh dari sekitar bar.
Ealnest berlari sekencang mungkin menyamakan langkahnya dengan Edwald yang tampak tak mempedulikannya.
"Daddy!"
Edwald acuh. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan Mash banyak hal yang harus ia lakukan dari pada melayani bocah ini. Melihat Edwald begitu angkuh sebenarnya Ealnest kesal bukaan main Hinga ia dengan cepat memeluk kaki Edwald yang sontak terhambat berjalan.
"Kaauu!!"
"Jadilah daddyku!" Pinta Ealnest membelitkan kedua kaki dan tangannya ke kaki kokoh Edwald yang mulai emosi karna para pejalan kaki di sekitar sini memandang mereka aneh.
"Lepass!!"
"Kah harus jadi daddyku! Nanti akan ku beri uang yang banyak, bagaimana?" Tawar Ealnest berharap sangat banyak. Edwald diam sejenak, Ealnest kira ia akan mendapat kabar baik tapi siapa sangka Edwald justru melepas paksa pelukannya hingga Ealnest terduduk di jalan.
"MOMMY!!" Pekik Ealnest meraba bokong-nya yang nyeri tapi Edwald hanya memandang datar dan pergi.
Mendapat perlakuan sehina ini, Ealnest tak mau tinggal diam. Ia berdiri mengambil ancang-ancang dan berlari cepat berniat mendorong Edwald dari belakang agar merasakan hal yang sama sepertinya.
"Dasar monsteeer!!" Teriak Ealnest ingin mendorong Edwald tapi sayangnya pria itu berbelok ke sebelah kanan hingga Ealnest membulatkan matanya terkejut saat ia terlempar ke depan masuk ke jalan utama.
"Mommyy!!" Teriak Ealnest memejamkan matanya hampir mau di tabrak sebuah bus tapi tiba-tiba tengkuknya di cengkram kuat oleh seseorang dan diangkat ringan kembali ke tepi.
__ADS_1
Topi di kepala Ealnest terlepas hingga semua orang bisa melihat rambut coklat kehitaman-nya dan mata hijau yang sama persis seperti Edwald.
"Astaga! Hampir saja aku tiada tanpa meminta maaf pada mommy," Gumam Ealnest mengelus dada lega. Ia menoleh ke samping dimana Edwald menatap lekat matanya dan begitu juga dirinya.
Apalagi, Edwald mengangkat ringan Ealnest sejajar dengan pelipisnya hingga sedikit kemiripan mereka tampak jelas.
"Mata kita sama. Kau beruntung mirip denganku," Polos Ealnest tapi Edwald hanya diam. Ia dengan cepat membuka paksa masker di wajah Ealnest yang jengkel dengan sikap arogan Edwald.
"Kau apa-apaa? Haha!!" Bentak Ealnest tapi Edwald hanya membisu. ia terus menatap lekat bocah ini sampai timbul pertanyaan di kepalanya.
"Namamu!"
"Kau tak perlu tahu. Turunkan aku, aku ingin pulang!!" Desak Ealnest menggerak-gerakkan kakinya untuk turun. Edwald seperti belum puas dengan jawaban Ealnest yang sudah tak punya waktu lagi.
"Namamu!"
"KAU TAK PERLU TAHU!! AKU HARUS PULANG ATAU MOMMYKU AKAN MARAH BESAR!!" Pekik Ealnest segera mengigit lengan Edwald yang sontak melepaskannya.
Dengan cepat Ealnest pergi terburu-buru berlari menjauhi Edwald yang memandang bingung ke arahnya dan bergantian melihat masker Ealnest di tangannya
"Apa hanya perasaanku saja?!" Gumam Edwald merasa rancu akan dugganya sendiri. Ia segera membuntuti Ealnest yang lari begitu cepat menerobos keramaian.
Edwald juga ikut berlari kecil fokus ke arah kepergian bocah itu hingga tepat di tepi jalan utama yang cukup sepi, ia melihat Ealnest masuk ke dalam sebuah mobil mewah dan ada sosok pria yang membelakanginya ikut masuk.
"Hello, Tuan!"
"Kau cari siapa pemilik mobil yang ku kirimkan padamu! Dan lacak keberadaanya!"
"Baik!"
Jawab pria itu membiarkan Edwald mematikan sambungan. Edwald menelisik ke setiap daerah di sekitarnya dan ini satu daerah dengan kediaman Shireen yang sudah ia selidiki.
Drett..
Pesan masuk kedalam ponsel Edwald yang segera mengeceknya. Disini tersedia file yang dikirim anggotanya lengkap dengan foto seseorang.
Edwald membuka file itu membaca setiap rincian mobil tadi. Dahi Edwald mengernyit saat dijabarkan jika mobil itu menuju kearah kediaman Harmon.
"Ini.."
Degh..
__ADS_1
Edwald tersentak saat foto bocah tadi di sandingkan dengan foto Shireen yang tampaknya membawa Ealnest ke acara penting hingga dokumentasi ini tersebar.
"Ealnest? Ealnest .." Gumam Edwald tak menyangka. Ia memandang kepergian mobil tadi dengan guratan lucu dan seperti orang bodoh yang tak tahu jika itu adalah benih premiumnya yang dulu bersemayam di rahim emas sang istri.
"Shitt!" Umpat Edwald meremas ponselnya. Jika ia tahu dari tadi, maka ia pastikan anak itu akan ia tahan agak lama.
Tapi, yang menganggu pikiran Edwald adalah urusan Ealnest ke bar tadi. Sepertinya bocah itu penuh dengan misteri dan sangat nakal.
"Aku harus menemuinya," Gumam Edwald sudah ingin pergi dari sini tapi tiba-tiba...
"Heeyy!!!"
Seruan keras seseorang dari belakang Edwald yang segera berbalik. Matanya terpaku melihat bocah tadi berlari kesini tanpa peduli mobil-mobil yang berlalu-lalang di dekatnya.
"Kau.."
Edwald berjalan cepat menyongsong kedatangan Ealnest yang tampaknya juga tengah di kejar oleh sesuatu. Edwald mengangkat Ealnest ringan dan menggendong bocah itu ke tepi jalan.
"Kau bisa mati terlindas mobil."
"A..aku tak akan mati dengan tabrakan itu tapi, aku akan mati di omeli MOMMYKU!!" Panik Ealnest ngos-ngosan karna berhasil melarikan diri dar mobil Cooper yang tadi mengatakan jika mommy ya sudah sangat marah.
Alhasil Ealnest tak berani pulang lagi dan nekat kembali ke sini. Edwald merasa cukup beruntung, ia tak menyangka jika ada saja yang bisa memperlama pertemuan ini.
Saat dirasa pandangan Edwald padanya mulai berubah, Ealnest langsung merinding. Walau tatapan Edwald datar tapi makna dari manik hijau tajam ini sangatlah sakral.
"K..kau kenapa?"
"Apa mommymu begitu pemarah?" Tanya Edwald berjalan pergi seraya menggendong Ealnest dengan satu tangan. Mereka persis seperti ayah dan anak yang tengah berjala santai menikmati waktu sore.
Ealnest mengangguk. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Edwald seraya menceritakan soal mommynya.
"Mommy-ku itu wanita yang sangat kuat. Dia begitu menakutkan saat marah bahkan, aku pernah dia kurung selama seharian karna melukai teman kerjanya."
"Benarkah?" Tanya Edwald dan Ealnest mengangguk. Dia menceritakan semuanya tanpa beban pada Edwald karna ada sesuatu yang membuatnya nyaman dan merasa aman dengan pria ini.
"Dan saat ini aku harus bersembunyi dulu. Mommy akan pasti akan keluar nanti malam untuk mencariku, saat itu terjadi aku akan menyelinap masuk ke kamar dan pura-pura tidur. Mommy tak akan marah lagi saat melihat wajah tampanku ini terlelap, benarkan?"
Antara geli dan bangga Edwald hanya mengangguk. Tak ia sangka putranya begitu licik menuruninya.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang