Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Membunuhnya!


__ADS_3

Nattha begitu ingin menyeret Shireen keluar dari kediaman pribadi Wesson dan Shireen-pun tak menolak di bawa keluar secara kasar oleh Nattha.


"Kau pantas matii!!" Geram Nattha mendorong Shireen ke tanah lembab ini hingga Suma tersentak.


"Kau jangan kasar padanya!"


"Tuan! Dia sudah keterlaluan sampai melewati batasan disini," Bantah Nattha emosi. Jelas Shireen tahu jika Nattha tak ingin posisinya sebagai pemuas setia Suma tersingkir.


Melihat Shireen yang diam tak berdaya tentu sangat bisa menarik simpati Suma yang memang begitu menginginkan Shireen.


"Katakan! Apa kau melakukan hal buruk selagi aku tak sadar?"


"Pastinya. Dia itu hanya memanfaatkan keindahan fisik," Maki Nattha bertopang dada.


Mendengar itu Shireen segera bangkit. Kedua tangannya saling meremas jari dengan pandangan penuh kesedihan. Siapa yang akan tahan dengan manik abu penuh luka ini?!


"Katakan saja!"


"T..tuan! A..apa kau tak ingat?" Tanya Shireen menunduk bahkan suaranya mulai parau.


Suma diam mencoba membayangkan kejadian tadi tapi nihil. Ia tak ingat apapun selain Shireen menyuruhnya tengkurap.


"Tidak. Apa yang terjadi?"


"Setelah aku memijat-mu kau tidur. Tapi,..."


Shireen menjeda kalimatnya dengan mata berkaca-kaca seperti trauma dengan kejadian itu. Suma yang melihat-pun jadi terbawa suasana.


"Jangan menangis, kau terlalu cantik untuk itu."


"Kau tiba-tiba saja meracau sampai ingin melakukan sesuatu padaku. Aku bingung harus apa sampai tuan kembali tidur barulah aku keluar kamar," Gumam Shireen menjelaskan dengan nada merintih.


Nattha begitu emosi karna bisa-bisanya Shireen berani memasuki kamar Suma, apalagi dia masih pelayan baru disini.


"Dia sangat pandai membual. Mana mungkin tuanku bisa tidur lelap hanya dengan di pijat. Kau.."


"Tanyakan pada, tuan! Dia memuji keahlian ku dalam memijat saat itu," Sela Shireen dan Suma menganggukinya.


"Selain cantik dia juga pandai memanjakan. Tangan lembutnya seperti kapas yang hangat," Puji Suma bermain mata dengan Shireen yang hanya bisa menunduk.


Tapi, inilah saatnya ia mengkambing hitamkan Nattha yang sangat berani menariknya keluar dengan kasar.


"Tuan. Saat nona ini datang dia sangat marah dan menuduhku mencuri di kamarmu. Padahal, aku melihat dia masuk dan keluar cukup lama. Aku kira dia yang menggeledah disana."


"Jaga bicaramu!!" Geram Nattha ingin menampar Shireen tapi di tahan oleh Suma.


"Tuan, saat aku ingin melihat keadaanmu kembali di atas aku tak sengaja mendapati nona ini membuka laci kamarmu!"


"Apaa??" Syok Nattha benar-benar tak tahu apa yang Shireen katakan.


Ia menatap Suma yang tampak diam seperti masih belum percaya jika Nattha melakukan hal itu.


"Nattha! Kau berani melakukan itu?"


"Untuk apa? Aku juga selalu membantumu, tuan! Kenapa aku harus mencuri kunci tak berguna itu?" Tukas Nattha keras.


"Karna kau marah atas kedatanganku!" Sambar Shireen dan itu masuk akal. Dari respon impulsif yang Nattha berikan sudah memperlihatkan kearoganannya.


"Kau jangan membual!!"


"Tidak, aku melihatnya sampai lari dari sana karna aku takut kau akan membunuhku," Gumam Shireen pura-pura menciut dan gemetar.


Nattha benar-benar emosi langsung mendorong Shireen tapi wanita cantik bermata hitam ini menarik paksa kantong atasan Nattha yang segera robek.

__ADS_1


Sesuatu jatuh dari sana dan itu adalah sebuah kunci yang dapat melahap habis Nattha di tempat.


"I..ini.."


"Beraninya kau!!" Geram Suma mengambil kunci itu.


Nattha pucat. Ia menatap Shireen yang hanya setia dengan wajah menyedihkan seakan-akan ia benar tertindas.


"T..tuan! Aku.."


"Aku pikir kau puas dengan semua yang-ku berikan tapi nyatanya kau ingin menghancurkan bisnisku!!" Amuk Suma menyeret Nattha pergi meninggalkan Shireen yang tersenyum tipis mengedipkan satu matanya pada Nattha yang seketika berteriak memaki Shireen.


"Untung saja aku membawa kunci itu," Gumam Shireen yang tadi sempat mengambil kunci laci brangkas. Ia menemukan benda itu diantara pakaian yang ia pilih tadi sampai lupa jika kunci itu terbawa ke dalam pakaiannya.


Bagaimana Shireen tahu jika itu kunci brangkas? Ia baru menyadari hal itu saat tiba di dalam kamar tadi. Ia ingat ada brangkas di bawah meja tadi dengan pin tapi juga ada kunci cadangan.


Shireen berdiri cukup lama disini. Ia merapikan pakaian dan rambutnya yang tadi diacak-acak Nattha sampai Shireen terperanjat.


"Shi!"


Wesson datang mengejutkan Shireen yang segera menghela nafas.


"Kau mengejutkanku," Gumam Shireen tapi Wesson justru langsung memegang bahunya cemas.


"Aku lihat jika Nattha disini. Apa dia menyakitimu? Daddy juga tampak marah dan membawa-bawa namamu. Apa yang terjadi?" Cecer Wesson takut jika tadi Shireen dipersulit.


"Aku baik-baik saja. Tapi, Nattha berusaha menuduhku melakukan sesuatu yang buruk di kamar daddymu tadi. Padahal, aku hanya mengemas pakaian," Jawab Shireen dan tak butuh waktu lama bagi Wesson untuk percaya itu.


"Lain kali kau jangan berurusan dengannya. Dia memang orang yang arogan tapi dekat dengan daddyku."


"Hm, aku mengerti," Jawab Shireen menurut saat Wesson mengiringnya masuk ke kamar.


Shireen tak risih dengan Wesson karna hawa pria ini tak agresif dan negatif. Ia juga pandai memposisikan diri sampai Shireen nyaman di kamarnya.


"Aku sudah mempelajari buku yang kau berikan!"


"Benarkah? Apa lancar?" Tanya Wesson bersemangat. Shireen tersenyum dan mengangguk.


Ia mengambil buku itu di dalam laci lalu duduk di samping Wesson tapi masih ada jarak yang tak begitu jauh.


"Sudah di teknik yang jauh. Tapi, aku kurang mengerti bagian mengunci. Bagaimana caranya?" Tanya Shireen memang sulit melakukan metode satu itu.


Terlepas dari kebingungannya, Wesson justru kagum. Mersi membutuhkan waktu 2 bulan untuk mempelajari setengah buku ini dengan matang tapi Shireen sudah mampu memahami pertengahan jalan.


"Kau sangat cepat belajar. "


"Yah, aku memang suka belajar. Apalagi sesuatu yang aku butuhkan," Jawab Shireen tersenyum begitu juga Wesson yang ikut senang. Ia tak munafik jika pikirannya terganggu akan misi yang di berikan Suma padanya kali ini.


Saat Wesson diam, Shireen merasakan kegelisahannya karna kepekaan Shireen cukup tinggi.


"Ada apa?" Tanya Shireen sambil menutup buku itu.


"Aku mendapat misi yang sulit."


"Seberapa sulit? Aku pikir kau selalu bisa menyelesaikan apapun," Tutur Shireen seketika membuat Wesson diam.


Kata-katanya sederhana tapi begitu berarti bagi Wesson yang memang sangat merindukan ibunya. Tapi, sayangnya wanita itu tiada membawa pengkhianatan.


"Aku tak seperti Edwald! Semua misi yang di berikan padanya pasti berhasil bahkan menambah keuntungan."


"Yah. Karna dia monster yang licik," Batin Shireen sangat malas membawa-bawa Edwald.


"Kau takut misi mu gagal?"

__ADS_1


"Yah, tapi aku lebih takut karna aku harus pergi dari sini dalam waktu lama," Jawab Wesson bersandar ke punggung sofa menatap langit-langit tinggi kamarnya.


Shireen diam. Apa misi kali ini berhubungan dengan Edwald? Jika iya, maka akan ia buat gagal total dan merugi.


"Aku harus belajar bersandiwara. Padahal, itu keahlian Steen seribu wajah. Aku hanya bisa mengurus masalah bahan ilegal di Markas. Tugas-pun sudah di bagi-bagi sesuai keahlian," Decah Wesson depresi memikirkannya.


"Kenapa bukan dia saja yang pergi?" Tanya Shireen penasaran.


"Dia sudah ada masalah di ranah publik. Harus menunggu beberapa bulan dulu sampai namanya bersih lagi. Sementara itu aku harus menggantikannya," Jawab Wesson mengusap wajah kasar.


Terlihat jelas Wesson berat menerima misi ini. Dia sampai melamun mencari jalan keluar.


"Misi yang bagaimana?" Lirih Shireen ragu-ragu jika Wesson akan jujur.


"Aku harus menipu keluarga bangsawan!"


Shireen tersentak. Ia menatap Wesson rumit tapi pria dewasa ini menepuk bahu Shireen sopan.


"Jangan berpikiran buruk. Aku sudah menganggap mu orang dekat dan terpercaya," Jawab Wesson bangkit lalu pergi ke kamar mandi.


Shireen termenung. Walau ia semakin tak tega pada Wesson tapi ia tak punya pilihan lain.


"Aku harus bisa menjebak mereka di keluarga itu. Pastinya keluarga besar yang mereka targetkan sangat berpengaruh. Dalam sekejap GYUF akan musnah dan kalian akan mendekam di penjara," Gumam Shireen kembali membuat rencana.


Nathha sudah ia singkirkan dan Kimmy juga. Satu persatu pengganggu di usir dari sini agar ia bisa menguasai hati para lelaki yang Shireen yakin tak akan mudah di akali.


"Kalian pasti mencari asal-usulku. Tenang saja, walau statusku terbongkar kalian bisa apa?!


.........


Di sebuah kafe yang tak jauh dari jalan utama. Tempat yang ramai tapi sangat teratur menyambut malam yang segera datang.


Dua wanita duduk saling berhadapan dengan pandangan sama-sama arogan.


"Kenapa kau memanggilku?" Mersi yang juga tahi Kimmy.


Namun, pandangan Kimmy teralihkan pada satu tangan Mersi yang di sangga dengan alat dan ada memar di bagian dagunya.


"Kau di pukuli? Baru kali ini aku melihat singa kegelapan GYUF sekarat," Ledek Kimmy memantik amarah Mersi yang teringat kembali akan malam kemarahan Edwald padangan dan si wanita sialan Shireen.


"Ada apa?"


"Siall!! Ada seorang wanita yang tiba-tiba datang dan mendominasi di markas. Dia seakan mengendalikan tuan Wesson," Geram Mersi mengepalkan tangan kananya.


Sampai sekarang tubuhnya masih sakit di hajar Edwald. Satu kakinya terkilir nyaris patah seperti lengan dan tulang pinggangnya.


"Wanita?"


"Yah. Dia memang cantik aku akui itu tapi, semua orang justru fokus padanya. Tuan sampai marah padaku," Umpat Mersi tapi Kimmy tersenyum miring.


Shireen, sepertinya kau mengumpulkan musuh.


"Aku ingin sekali melenyapkannya dan.."


"Ayo bunuh dia!" Sela Kimmy membungkam Mersi yang menatap heran.


"Maksudmu?"


"Dia juga wanita yang sudah menghancurkan hubunganku dengan Edwald!" Geram Kimmy tak akan melepaskan Shireen. Sampai mati-pun akan ia balas semua penghinaan ini.


..


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2