
Karna tak mungkin keluar dengan kondisi leher yang di penuhi tanda cinta dari suaminya itu, akhirnya Shireen mengakali penampilannya dengan menggunakan syal di leher dan straight pants yang punya potongan celana yang lurus dan lebar santai tapi masih kasual berwarna coklat tua dan atasan kaos lengan pendek berwarna putih dengan blazer senada dengan bawahannya.
Rambut panjang lurus itu ia urai dengan pita di atas kepala hingga Shireen tampak seperti masih gadis bahkan tak ada tanda-tanda penuaan sama sekali.
"Nek! Kakek dimana?"
"Ke perkebunan. Pagi-pagi sekali tadi dia sudah pergi mungkin, sekalian menjenguk Fanze!" Jawab nenek Rue yang membuatkan susu hamil untuk Shireen di dapur.
Sedangkan bumil itu duduk di kursi dekat jendela dapur melihat neneknya yang sudah mendekat.
"Ini! Minumlah, kau harus benar-benar menjaga kesehatanmu, nak!"
"Terimakasih, nek!" Jawab Shireen sedikit malu menerima gelas susu ini lalu meneguknya tandas. Rasa strawberry yang lekat membuatnya tagih.
"Kau mau kemana sudah rapi begini?"
"Aku ingin menjenguk Fanze, nek! Ntah apa yang terjadi sekarang pada pria itu?!" Desah lemah Shireen seraya meletakan gelas di meja dapur.
"Ya sudah! Pergilah dengan suamimu, nanti nenek menyusul."
"Pergi dengan Edwald? Yang ada dia akan menggoreng Fanze," Batin Shireen hanya mengangguk saja.
Ia beranjak pergi ke ruang depan dimana Edwald yang tadi baru saja selesai makan tengah bicara dengan Cooper. Keduanya terlihat serius bahkan tak ada yang menyapa Shireen dari kejauhan.
"Apa yang mereka bicarakan?!" Gumam Shireen berjalan mendekat. Ia pura-pura tak berniat menyapa mereka tapi telinganya menguping tajam.
Edwald yang tengah mendengarkan laporan Cooper melirik ke arah Shireen yang pura-pura membersihkan vas di belakang sana. Sudut bibirnya terangkat pelit sudah sangat hafal dengan teknik yang Shireen lakukan.
"Ehmm!"
Dehem Edwald dan Cooper-pun paham. Ia mulai menyeru Shireen yang tengah membolak-balikan vas di belakang sana.
"Mau berapa kali kau ingin meneliti vas itu?"
"A.. Kau kenapa disini?" Tanya Shireen yang tadi tersentak segera meletakan kembali vasnya.
Cooper menaikan bahunya pertanda tak ada yang penting.
"Tak terlalu penting. Bagaimana keadaanmu? Dan... Kenapa memakai syal di siang bolong?"
"Bukan urusanmu," Ketus Shireen segera pergi ke depan. Ia memakai sendal santai bertali di belakang tumitnya yang paling cocok untuk berjalan di sekitar desa ini.
"Neek! Aku pergi, ya??"
"Hati-hati!!" Seru nenek Rue dari dapur. Shireen bergegas pergi dan tentu Edwald yang tadi duduk di sofa segera berjalan cepat ke pintu keluar.
"Kau mau kemana?" Tanya Edwald berdiri gagah dengan kaos lengan pendek berwarna hitam polos dengan celana pendek santai berbahan jeans longgar. Tubuh kekar dan pesona ilahinya tak bisa di bantah sama sekali.
"Mau kemana?" Imbuhnya lagi saat Shireen tak menggubris di luar pagar sana.
Alhasil Edwald mengumpat. Ia segera memakai sendal santainya lalu bergegas mengikuti Shireen sedangkan Cooper yang tadi datang mengantarkan pakaian Edwald hanya bisa menggeleng saja.
Saat sudah berjalan beriringan seperti ini, Edwald kembali bertanya pada Shireen yang sesekali menyapa beberapa warga desa yang berselisih jalan dengannya.
"Kau mau kemana?"
"Menyusul kakek," Gumam Shireen tak memandang Edwald yang menghela nafas dalam. Ia akhirnya diam menemani Shireen yang sangat menikmati asrinya pemandangan di desa.
Gunung Casthillo yang begitu tinggi berkabut dingin, tampak dari sepanjang jalan apalagi banyaknya rumput hijau yang tumbuh subur di pinggir jalan.
"Kau bilang disini ada pantai. Dimana?" Tanya Edwald ikut melihat di sekelilingnya.
"Ada di sebelah selatan kediaman. Tak begitu terlihat karena ada banyak pohon di sana."
__ADS_1
"Hm," Gumam Edwald tapi Shireen tersentak saat Edwald menarik lengannya ke arah yang ia jelaskan tadi.
"Kauu.. kau mau membawaku kemana?" Protes Shireen tapi Edwald hanya diam.
"Edwald!! Kau ingin kemana??"
"Pantai!" Singkatnya datar tapi Shireen segera berhenti berjalan hingga Edwald memandangnya tajam.
"Aku harus menyusul kakek."
"Bertemu tikus itu?" Sarkas Edwald menaikan satu alisnya sinis.
Seketika Shireen mendengus kesal. Ia tak menyangka Edwald begitu overprotektif sampai bertindak berlebihan begini.
"Ayolah. Aku menjenguknya itu juga karena kau. Jika sampai kakek tahu penyebab Fanze masuk rumah sakit karena kekonyolanmu, kau akan terkena masalah besar."
"Lalu?" Tanya Edwald santai dan tenang tak sejalan dengan Shireen yang tampak frustasi.
"Kakek akan bertambah tak menyukaimu. Kau ini memang sangat lamban," Kesal Shireen merenggut geram seraya menoyor dada bidang Edwald yang diam.
Sedetik kemudian ia memandang intens Shireen dengan senyum tipis yang sangat langka.
"Kau begitu ingin kakek-mu menyukaiku, hm?"
Degg..
Shireen terperanjat. Seketika wajahnya bersemu langsung menyentak tangannya dari genggaman Edwald dan berbalik memunggungi pria licik ini.
"A.. dia hanya menjebakku," Gumam Shireen lalu segera pergi melanjutkan tujuannya.
Edwald memandang jauh tapi tak di pungkiri ia menyukai momen ini. Edwald segera menyusul Shireen yang menghindarinya bahkan, wanita ini mengacuhkan Edwald yang terus melancarkan aksi nakalnya dengan melepas paksa syal di leher Shireen membuat wanita itu ketar-ketir.
"Edwaald!!! Kau jangan main-main, berikaan!" Teriak Shireen takut jika ada orang yang lewat dan melihat lehernya seperti ini.
"Edwald!!!".
"Hm?" Santai Edwald datar menatap lurus ke depan sedangkan Shireen berjalan mundur di depannya.
"Syalnya!! Nanti banyak orang yang melihat ini!" Resah Shireen melirik kiri kanan.
"Lihat saja. Apa masalahnya?"
"MASALAHNYA ITU KAUU!!" Pekik Shireen kesal bukan main segera ingin merebut syal itu tapi Edwald menggenggamnya tinggi hingga Shireen yang hanya sebatas dadanya harus melonjak kecil itupun tak sampai.
"Berikaan!!! Berikan itu padakuu!!"
"Aku tak akan berikan jika tak ada untungnya bagiku," Licik Edwald hingga mau tak mau Shireen harus memberinya keuntungan.
Ia menarik leher Edwald lalu melabuhkan kecupan ke bibir pria itu. Niatnya hanya sebentar tapi siapa sangka Edwald akan menahan tengkuknya hingga tragedi na'as itu kembali terjadi.
Edwald menghisapnya kuat sampai Shireen merasa bibirnya akan bengkak.
"Ehmm!"
Suara deheman di belakang sana mengagetkan Shireen. Ia segera mendorong dada Edwald kuat lalu menoleh kebelakang.
Mata Shireen melebar melihat rombongan kakek Bolssom yang sudah berdiri di hadapannya dengan Fanze yang terpaku kosong memandang Shireen dan Edwald.
"A.. K..kakek!" Gugup Shireen segera merampas syalnya di tangan Edwald yang tadi sudah lebih rendah.
Ia tergesa-gesa memakai benda itu dengan lirikan membunuh pada Edwald yang hanya tenang setia dengan wajah datar tampannya.
"K..Kek! A..aku.. aku tadi ingin menjenguk, Fanze! Tapi, kalian sudah pulang duluan," Kikuk Shireen mendekati kakek Bolssom yang justru memandang Edwald dingin.
__ADS_1
Semuanya diam termasuk Fanze yang seperti tak bisa berkutik. Dari segi apapun Edwald memang lebih di bandingkan dia yang hanya warga desa biasa.
Merasa tak nyaman dengan suasana ini. Shireen segera menyapa Fanze yang memaksakan senyum santai.
"Fanze! Kau sudah baikan? Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik. Terimakasih sudah menolongku," Ucap Fanze membuat kakek Bolssom bingung.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya kakek Bolssom dan Shireen langsung pucat berbeda dengan Edwald yang sangat tenang.
"F..Fanze.."
"Kemaren Shireen membantuku keluar dari lereng karena aku jatuh. Untung saja dia cepat memberi tahu warga lain," Sela Fanze yang tak mau ada masalah untuk Shireen.
Mendengar itu Shireen diam menatap penuh rasa bersalah pada Fanze.
"Benar begitu? Shireen!"
"Iya kek. Fanze.."
"Aku yang membakar kakinya!" Sela Edwald lantang dan sontak semua orang terkejut bukan main termasuk Shireen yang sungguh tak mengerti jalan pikiran Edwald.
"Kauu?? Untuk apa kau membakarnya?? Kau sudah gilaa??" Marah kakek Bolssom pada Edwald yang hanya tenang dan misterius.
"Edwald!" Gumam Shireen menekan pandangannya agar Edwald lebih menurut tapi tidak, Edwald mendekat berhadapan jantan dengan kakek Bolssom yang masih berkobar panas.
"Dia istriku! Siapapun yang berani menaruh hati untuknya, aku tak segan untuk MENGHABISNYA," bisik Edwald di telinga kakek Bolssom yang terdiam.
Hawa gelap Edwald bisa ia rasakan bahkan sangat mendominasi. Perkataan Edwald bisa di dengar jelas oleh Fanze yang ada di samping pria tua ini.
Dia sempat terkejut tapi segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Apa dia seorang psikopat?"
Batin Fanze yang benar-benar merasa Edwald begitu misterius. Siapapun yang membuat masalah dengannya pasti akan merasakan ketakutan dan was-was tiada tara.
Kakek Bolssom yang tadi diam segera saling tatap dalam dengan Edwald. Sebagai sesama pria ia bisa melihat besarnya kekuasaan dan ego di mata Edwald yang sangat memimpin.
"K..kek! Ini hanya salah paham. Edwald memang begitu dia.."
"Aku sengaja melakukan itu," Sela Edwald semakin memperburuk suasana.
Alhasil Shireen langsung memandangnya marah tapi Edwald punya jalannya sendiri. Kakek Bolssom pergi meninggalkan mereka dengan Fanze yang masih sesekali melihat kebelakang.
"Kau ini kenapa, ha?? Aku sudah berusaha membuat kakek menyukaimu. Tapi.. tapi kau sepertinya tak peduli soal semua ini!! Kau masih saja bermain-main," Kecewa Shireen dengan mata berkaca-kaca segera pergi meninggalkan Edwald yang hanya diam di tempat.
Cooper yang tadi mengikuti dari belakang tampak heran melihat wajah marah Shireen yang kali ini sangat serius.
"Steen!"
Cooper mendekati Edwald yang hanya diam dan tenang di tempat.
"Shireen terlihat sangat marah. Apa yang terjadi?"
Edwald tak menjawab. Ia pergi melanjutkan langkahnya untuk sekedar berkeliling di desa ini diikuti Cooper yang masih penasaran.
"Steen! Kalian bertengkar lagi?"
"Aku tak ingin Shireen berempati pada pria itu. Menutupi perbuatanku hanya akan membuat keduanya semakin dekat," Ucap Edwald datar sudah tahu dampak niat baik Fanze.
Ia tak bodoh memahami manusia secara emosional apalagi Shireen. Wanita itu punya hati yang sangat lembut dan emosional. Jika sampai Fanze sudah mendapat tempat, maka dipastikan keduanya akan saling terikat.
Vote and like sayang..
__ADS_1