Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Dijual atau jadi penghibur


__ADS_3

Pagi ini suasana di markas masih diliputi hujan salju bahkan timbunan serbuk putih itu ada dimana-mana. Bangunan ini tersusun dari batu gamping atau bisa di katakan batu kapur yang memiliki ketahanan ekstra dalam suasana ekstrem.


Markas yang dari luar terlihat seperti benteng bersusun itu nyatanya menyimpan banyak tangisan dan darah manusia. Cerobong asap di setiap ruangan menguar bagai sebuah pabrik menambah suasana kelam dan mengerikan.


"Toloong!!! Tolong lepaskan saya!!"


"Aku mohoon!!"


Suara teriakan dan permohonan dari ruang bawah tanah. Ada beberapa sel besi yang mengurung banyak wanita di dalamnya bahkan sudah padat dan berdesak-desakan.


Masing-masing sel ada penjaga dan itu seorang pria berbadan kekar dengan banyak tato dan luka di tubuhnya. Tangan algojo mengerikan itu memeggang rantai untuk mencambuk tangan-tangan yang keluar dari sela sel.


Tak khayal tangisan menyiksa itu keluar mengusik seorang wanita yang ada di sel paling ujung. Ia ada di antara hapitan tubuh wanita yang sedang menangis putus asa.


"A..***!!" Desisnya merasakan sakit di kepalanya. Kelopak mata indah sembab itu perlahan terbuka sayu dengan dahi mengernyit.


Kabur, remang dan berisik. Itulah yang dirasakan oleh Shireen yang berusaha menormalkan kesadarannya.


Saat dirasa semakin ramai akan tangisan wanita, mata Shireen langsung melebar kala sadar sepenuhnya.


"I..Ini.."


Ia syok bukan main. Tempat yang asing seperti penjara dan lembab seperti goa. Shireen sampai merinding mendengar jeritan para wanita yang ketakutan.


"Lepaskan kamii!!!"


"Aku ingin pulaang!!!"


Jerit mereka kuat sampai terhenti kala para penjaga yang ada di masing-masing sel tadi memukulkan rantai mereka secara keras ke besi itu. Sontak semuanya diam dengan tubuh berkerjngat dingin dn Shireen juga sama.


"Siapa mereka? Kenapa mereka mengurung banyak wanita disini?!"


Batin Shireen menatap ngeri keadaan di sekitarnya. Ada rasa sakit di pergelangan tangan dan kakinya, ternyata bekas ikatan itu tampak jelas dan sangat perih terkena udara dingin.


Karna belum mengerti dengan semua ini. Shireen memberanikan diri untuk bertanya pada gadis yang bertubuh mungil lebih muda darinya.


"A..apa kau tahu kita dimana?" Tanya Shireen pada gadis di sampingnya.


Gadis yang tadi menangis tersedu-sedu memakai seragam sekolah itu menatap Shireen dengan takut. Ia jelas sangat-sangat gemetar sampai wajahnya pucat pasih.


"K..kak! K..kita akan mati, kita akan matii, hiks!" Isaknya membuat Shireen terhenyak. Dugaanya benar, tempat ini adalah ranah perdagangan manusia dan bisa saja mereka akan di perjual belikan.


"Kau tenang. Semuanya pasti akan baik-baik saja."


"Tidak, hiks! Temanku pernah hilang sehari sebelumnya. Aku.. Aku menemukan mayatnya di gantung di pintu masuk tadi. Dia.."


Shireen benar-benar syok. Tak dipungkiri jika ia takut tapi kekejaman mereka pasti sudah di lakukan sejak lama. Ini benar-benar tak manusiawi.


"Kita akan mati!! Kita akan mati, hiks! Aku.. Aku masih harus sekolah. Orang tuaku pasti mengkhawatirkan aku, kak!" Isaknya menekuk kedua kakinya pilu.


Hati Shireen yang memang selembut sutra dan sebening embun itu tergerak merangkuh gadis muda ini kedalam pelukannya.


"Tenanglah! Jika tuhan tak menginginkan kita tiada, maka itu tak akan terjadi, hm?"


"Kak! Jika sudah masuk kesini kita tak akan bisa keluar. Semuanya sudah diputuskan," Gumam gadis belia ini memeluk Shireen gemetar.


Shireen diam. Jujur ia tak tahu harus melakukan apa tapi ia tak akan bodoh duduk diam disini dan hanya menentukan nasib buruk.

__ADS_1


"K..kita akan mati! Kita akan mati!"


"Aku tak bisa mati disini," Gumam Shireen dengan kepalan menguat. Ia harus membalas kekejaman seseorang yang sudah menghancurkan keluarganya.


Tak berselang lama. Tiba-tiba saja para penjaga sel ini seperti mendapat perintah dari seseorang. Mereka mulai membuka kunci besi di depan tapi tak langsung membuka jeruji ini.


"Kita pilih seperti biasa!"


"Baik!"


Mereka segera membuka penjara besi ini. Banyak yang ingin lari tapi ada yang menjaga di depan pintu hingga mereka pasrah di seleksi menurut kategori tertentu.


"Kak! Mereka.. Mereka pasti akan memilih yang mana untuk di jadikan penghibur dan dibedah untuk mengambil organnya," Ciut gadis belia yang tadi memeluk Shireen.


Satu persatu wanita di pilih menjadi dua kelompok. Yang memiliki tubuh dan wajah biasa saja akan di tinggalkan di dalam sel sedangkan yang bertubuh indah dan cantik akan di keluarkan.


"K..kak! Kau.. Kau pasti akan di bawa keluar."


"Apa aku cantik?" Tanya Shireen agak ragu dengan mata sembabnya. Gadis muda itu mengangguk karna Shireen memang sangat cantik.


Tubuhnya juga sempurna dan harum tentu ini tak di ragukan lagi.


"Kak! Aku.. Aku takut."


"Usap wajahmu!" Gumam Shireen menggunakan selendang hitam di bahunya untuk mengusap wajah gadis belia ini.


Shireen juga melepas almamater seragam dan membuka dua kancing di atas dada hingga terlihat lebih minim.


"K..kak!"


Ia sangat gugup karna tak pernah dalam posisi ini tapi ia juga tak mungkin membiarkan hidupnya berakhir disini.


"Kau!!" Panggil penjaga itu pada Shireen. Hanya mereka berdua yang belum di periksa sementara 5 wanita sudah berhasil keluar dari sel.


"K..kak!"


"Ikuti aku!" Bisik Shireen berjalan lebih dulu. Pakaian serba hitam khas pemakaman ini tak bisa menyembunyikan pesona Shireen yang segaja mengurai rambut panjangnya.


Alhasil semua mata terhipnotis bahkan manik hitam bak barbie ini terlalu memikat.


"Kau sangat-sangat cantik," Gumam penjaga pria itu mengulur tangannya untuk menyentuh pipi mulus Shireen yang mundur elegan.


"Aku bukan perhiasanmu," Tegas Shireen dan itu memantik kemarahan dari penjaga ini.


"Kau sangat lancang!!"


"Cepat selesaikan ini karna tuan sudah datang!!" Seruan dari luar mengurungkan pria ini untuk menampar Shireen.


"Tunggu saja bagianmu," Geram pria itu menarik bahu Shireen kasar untuk keluar.


Saat tiba giliran gadis muda tadi. Pria itu tampak tak lagi memilih hingga ingin menutup jeruji.


"Kakak!!!" Pekiknya saat Shireen menahan besi itu lalu menariknya keluar.


"Kauu!!"


"Dia juga cantik. Matamu buta?" Tanya Shireen saat pria itu ingin membentaknya. Karna desakan waktu akhirnya perlawanan ini tak di hiraukan.

__ADS_1


Mereka mengiring para wanita yang sudah di pilih itu keluar dari ruang bawah tanah menuju lorong batu yang memili jendela tapi sama seperti penjara. Semuanya berpagar besi tak ada kaca sama sekali.


"Jalan cepat!!" Paksa mereka mendorong rombongan ini dari belakang.


Shireen melihat jelas jika semua pria disini membawa senjata api. Salah langkah mereka akan kehilangan nyawa di tempat.


"K..kak! Kita kemana?"


"Tak ada cela untuk keluar dari sini," Gumam Shireen sedari tadi tak menemukan jalan tikus. Walau tubuhnya sudah sakit dan terluka, Shireen tetap mengimbangi langkah mereka untuk pergi ke tempat misterius lainnya.


Setelah beberapa lama. Mereka sampai ke suatu ruangan luas tanpa furniture apapun. Disini masih dengan susunan batu dan besi seakan tak ada bahan lain tapi yang jadi fokus utama adalah seorang pria yang berdiri di depan jendela besi membelakangi mereka.


"Tuan!" Sapa salah satu kepala penjaga yang tadi membentak Shireen.


Saat pria itu berbalik mereka bisa melihat ketegasan dari mata dan wajahnya yang dewasa. Tatapan datar itu tak terlalu mengancam seakan-akan ia sudah biasa dengan semua ini.


"Pilih 5 orang untuk di bawa ke kediaman utama!" Tegasnya dengan mantel tebal mahal itu.


Shireen diam menebak jika pria ini adalah salah satu pimpinan tertinggi. Jika ia ikut ke kediaman utama maka dapat di pastikan disana akan bertemu banyak jalan keluar.


"Kak!"


"Pastikan kau masuk 5 orang itu, paham?" Bisik Shireen masih tak egois. Gadis di sebelahnya merasa tak mungkin karna banyak yang lebih cantik dari 50 orang disini walau Shireen adalah pusatnya.


"Kak! Itu tak mungkin. Semuanya cantik!"


Shireen berkeringat dingin. Bagaimana caranya ia membawa gadis ini bersamanya karna wajar wajahnya memang manis dan tak begitu cantik.


"Mereka sudah memilih. Bagaimana ini?!"


Batin Shireen saat satu persatu wanita di pisahkan dari barisan. Shireen menutupi wajahnya disela kepala wanita-wanita di depannya untuk mengulur waktu.


"Kau kesini!!" Ketus pria tadi pada Shireen yang menjadi pilihan utama.


Jika Shireen bergabung maka sudah pas 5 orang sementara ia harus memasukan gadis di sampingnya juga.


"Kau tuli, ha?? Cepat kesini!!" Maki pria itu tak sabaran.


Saat Shireen tetap tak bergerak di tempatnya membuat pria itu naik pitam. Rambut Shireen langsung di tarik paksa dan di dorong ke depan.


Brughh..


Mereka semua terbelalak kala Shireen menubruk tubuh Wesson yang sigap menahan bahu Shireen.


"T..tuan!" Gugup mereka semua takut jika Wesson murka dengan kelalaian ini.


Awalnya Wesson ingin mendorong Shireen ke lantai tapi saat rambut hitam panjang itu menerpa wajahnya tiba-tiba saja ia mematung.


Aroma harum mawar yang menenagkan dan kelembutan kulit Shireen menghipnotis mata.


"M..maaf!" Lirih Shireen segera menjauh tergesa-gesa membenahi pakaiannya.


Penampilan Shireen begitu kacau tapi tak melunturkan pesona wanita ini sama sekali.


...


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2