
Hari mulai gelap. Karena permintaan Shireen yang tak mau pulang akhirnya Edwald membawa wanita itu ke penginapan yang tak jauh dari pantai Deamon Sky tadi. Bahkan, mereka bisa melihat pemandangan pantai itu dari atas tebing karna memang Edwald memilih penginapan yang bernuansa seperti pegunungan.
Jika ditanya kenapa? Mungkin Edwald akan menjawab, 'Hanya Ingin'.
Pria tampan itu tengah ada di balkon kamar yang berbahan kayu mahal. Ia tengah menelpon seraya menunggu Shireen yang ada di atas ranjang dengan laptop menyala dan sorot mata fokus.
"Sejauh apa kelumpuhan gadis itu?" Tanya Edwald ingin memantau Freya. Ia harus bergerak dengan halus karna mereka tengah di kelilingi aparat kepolisian.
"Steen! Dia dinyatakan lumpuh total dan kemungkinan besar dia juga tak mampu bicara. Aku juga sudah memalsukan kematian kekasihnya hingga 5 hari lagi kasus ini akan di tutup."
Jelas Cooper yang masih saja berani bicara dengan Edwald. Tapi ia sudah biasa dan tak heran lagi dengan Edwald. Itu karnanya Cooper selalu tahan karna sifat Edwald memang begitu.
"Hm. Buat wanita ular itu depresi dengan keadaan putrinya. Untuk proyek kau bisa mengalihkannya pada perusahaan ku!"
"Aku mengerti. Proyek perusahaan Walter akan berpindah ke tangan-mu, kau cukup awasi istrimu agar tak ikut campur dalam proyek ayahnya."
"Hm."
Gumam Edwald lalu mematikan sambungan. Sepertinya ia bisa memanfaatkan momen ini untuk menghancurkan beberapa proyek besar tuan Walter hingga perusahaan itu bangkrut. Lihat kekacauan apa yang akan menanti.
Lama Edwald menikmati angin malam di balkon sampai ia mulai bosan segera berbalik masuk ke kamar. Tatapan datarnya langsung mengurung Shireen yang tampak mengalami masalah hingga tak melihat kiri kanan.
Bahkan, piring buah yang tadi sudah ia letakan di samping paha mulus memakai gaun malam maron cantik itu-pun tak di sentuh.
"Makanlah dulu. Baru lanjutkan nanti!"
"A..emm.. Iya," Jawab Shireen seadanya. Ia tengah melihat hasil pemasaran prodak lipstiknya beberapa hari ini. Lumayan bagus tapi ia tak puas dengan penjualannya, ini masih belum sempurna.
"Apa yang salah? Biasanya tak begini," Gumam Shireen mengigit bibir bawahnya. Tanpa sadar itu exspresi yang hot di mata Edwald yang menatap lekat visual indah di hadapannya.
Shireen biasa memakai gaun malam tipis dengan dua tali kecil di bahunya. Pakaian nyaris transparan itu juga tak begitu menutupi paha mulus dan dada besarnya yang terlihat kencang menyembul dari balik kain tipis itu. Aass.. Pemandangan yang nikmat.
"Besok kau ingin pulang?"
"Amber!" Gumam Shireen kala mendapat panggilan dari sekretaris Amber. Ia tak begitu memperdulikan Edwald karna memang sangat fokus sekarang.
Berbeda dengan Shireen yang fokus pada pekerjaannya, Edwald justru menarik sofa singel di sampingnya lalu duduk bertopang kaki. Ia menatap Shireen yang diumpamakan bak lukisan mahal yang bisa ia lihat sesuka hati. Ia bahkan tak berkedip menonton boneka barbie itu.
"Kau kirim rentetan hasil penjualan itu padaku. Jika Mr Parker menelpon langsung kau katakan secepatnya!"
"Iya, nona! Aku sudah mengirimnya."
Shireen memeriksa dengan teliti. Ia melihat presentase penjualan dan bagaimana respon konsumen. Semuanya baik-baik saja tapi Shireen belum puas. Ini tak sesuai dengan target pabriknya.
Karna sedikit gerah Shireen menggulung rambut panjang hitam kecoklatan itu ke atas. Ia tak perduli jika sekarang Edwald hanya bisa menelan ludah melihat leher jenjang dan bahu putih itu.
"Sempurna!" Gumam Edwald jadi berkeringat dingin. Sadar dengan tatapan Edwald yang sangat intens dan penuh arti, Shireen segera mengangkat pandangan ke arah Edwald yang masih seperti itu.
"Ed!" Lirih Shireen tak fokus jika di pandangi seperti itu. Edwald tak menjawab. Ia masih saja memandang ke arah bibir Shireen yang ranum bak cherry yang segar.
__ADS_1
"Sayaang!! Jangan memandangku seperti itu!!"
"A.. ehmm!!" Edwald tersentak dan segera berdehem. Ia menormalkan raut wajahnya kembali seperti biasa menyembunyikan raut konyol itu.
"Pergilah tidur duluan. Kau besok bekerja-kan?"
"Hm."
Edwald mengangguk dan bangkit dari duduknya. Ia yang memakai kaos pendek tanpa lengan itu melangkah mendekati ranjang dimana Shireen duduk di sebelahnya.
Edwald membuka kaosnya karna cukup gerah tapi malah membuat Shireen malu akan tubuh atletis seksi itu.
"Kau jangan berpikiran kotor, jangan!!"
Batin Shireen menggeleng keras. Ia kembali fokus pada layar laptopnya sedangkan Edwald berbaring di sisi kiri pahanya dengan kedua tangan melipat di belakang kepala.
"Apa masalahnya?"
"A..aku bisa," Gumam Shireen dengan jari lentik lincah di papan kyboard laptop. Matanya mengikuti arah tulisan yang di buat sampai Edwald mulai berpikir soal file yang ia rusak dulu.
Apa klien yang ia tangani masih ingin bekerja sama? Sepertinya Shireen tak terlalu panik saat itu.
"Apa ada klien mu yang bermasalah? Shi!"
"Tidak. Ini masalah pemasaran. Mereka tak menemukan strategi yang bagus. Aku merasa ini masih kurang," Jawab Shireen tanpa menatap Edwald yang seketika langsung duduk kembali.
Ia merapat ke dekat Shireen melihat apa masalah yang terjadi. Tentu tatapan teliti dan jenius Edwald langsung bisa mengambil kesimpulan.
"A..apa? Tapi, kenapa bisa hanya terjual segini. Seharusnya bisa lebih-kan?" Bingung Shireen menunjuk data totalnya.
Edwald mengangguk tapi ia segera menunjukan bagian mana yang seharusnya di tingkatkan dan di kurangi.
"Kau terlalu fokus pada pemasarannya. Kepercayaan konsumen itu nomor satu dan kau harus lebih menekankan kualitas prodak mu. Shi!"
"Aku sudah mencobanya sendiri dan hasilnya bagus. Bibirku sehat dan tak kering. Lihat bibirku!" Jawab Shireen memanyunkan bibirnya untuk menunjukan rona merah muda tapi basah.
Jarak mereka yang tipis membuat bibir Shireen menyentuh pipi Edwald. Keduanya sama-sama diam tapi Shireen lebih mematung karna ia terlalu panas.
"Kau menggodaku, hm?"
"A.. tidak. Aku hanya ingin menunjukan bibirku. Apa sehat atau .."
"Aku akan jadi konsumen pertama," Bisik Edwald segera menekan tengkuk Shireen hingga ciuman mereka bertaut mesra.
Shireen tak menolak. Ia memejamkan matanya membalas ciuman lembut Edwald yang perlahan menutup laptop itu lalu membaringkan tubuh Shireen ke atas ranjang.
Keduanya larut dalam bumbu-bumbu gairah sampai kamar yang tadi terasa lumayan dingin sekarang mulai menjalar panas.
Edwald menikmati setiap rasa yang ada di bibir Shireen. Manis dan kenyal begitu nikmat dan candu. Dengan bibir yang saling mencumbu, tangan Edwald sudah turun masuk ke sela gaun tidur Shireen yang melenguh kecil di sela ciuman mereka merasakan satu tangan besar Edwald meresahkan di bagian dadanya.
__ADS_1
Puas menikmati bibir ini Edwald beralih mengecup setiap inci wajah cantik Shireen dengan lembut turun ke rahang dan leher jenjang itu. Ia tak pernah bermain selembut ini atau melayani seseorang.
"Kau sengaja menggodaku setiap hari, hm?" Desis Edwald menarik turun kedua tali gaun di bahu putih Shireen yang sudah memerah dengan nafas memburu.
Wajah Edwald bertambah meradang melihat dua gundukan sintal ini terlalu seksi dan menggemaskan. Ia jadi tak sabar hingga langsung mencumbunya gemas.
"A.. Ee..ed!!" Erang Shireen mere**mas rambut Edwald yang suka menjadi bayi besarnya. Pria ini tak pernah mau absen bercinta setiap malam maupun bangun tidur dimanapun ia mau.
"S..Shi!" Serak Edwald mengigit kecil puncak ranum itu membuat Shireen tersengat dengan tubuh menggeliat.
Keduanya saling tatap dalam beberapa saat hingga ntah setan apa yang merasuki jiwanya, mereka jadi brutal.
Shireen menurunkan gaun tidurnya dengan cepat sedangkan Edwald melepas celananya dan bagian terakhir penutup senjata perkasa itu.
Wajah Shireen memerah melihat pusaka itu sudah tegak berdiri menantang badai. Urat-urat kegagahan dan rona merahnya membuat bagian intinya berdenyut.
"Kau ingin mencoba sesuatu?" Tanya Edwald mengusap bibir Shireen dengan jempolnya. Ia selalu mendambakan hal ini karna pasti sangat nikmat.
"A..apa?"
"Dia juga ingin merasakan bibirmu," Gumam Edwald langsung membuat Shireen pucat. Ia menatap milik Edwald yang tampak sangat seksi. Tapi, apa ia bisa melakukannya? Membayangkan saja sudah membuat Shireen mual.
Tapi, melihat wajah panas Edwald yang begitu menatap penuh permohonan Shireen jadi tak tega menolak.
"Ajari aku!"
"Hm," Gumam Edwald menarik pelan Shireen untuk turun dari ranjang. Ia duduk di tepi kasur empuk ini sedangkan Shireen ia suruh berjongkok.
"E..Ed!" Gugup Shireen sudah berhadapan dengan benda pusaka ini.
"Bayangkan saja ini permen. Hm?"
"Permen!" Gumam Shireen menguatkan mental. Ia benar-benar membayangkan itu dengan jantung memompa keras dan sangat gugup.
Saat Shireen mulai melakukannya Edwald langsung merasakan sensasi yang begitu hebat dan penuh euforia.
"Y..yeaahh Shii.. Begitu, Sayang!" Racau Edwald mengadah dengan satu tangan mengelus kepala Shireen yang hanya menjilat saja. Ia heran tapi menyukai exspresi wajah Edwald yang sangat-sangat menikmatinya. Shireen jadi tertantang untuk melakukan lebih hingga mulai sedikit liar membuat Edwald lupa dengan sensasi masa lalu yang dulu pernah ia lakukan.
Sementara di luar sana. Ada seorang wanita yang terbakar api dan bara mendengar suara di dalam kamar ini. Ia tadi membuntuti Edwald sedari siang dan cukup sabar menunggu sampai pria itu meninggalkan Shireen.
Tapi, sudah lama ia menelpon dam memberi pesan menyuruh Edwald keluar dari kamar, ia malah mendengar suara-suara laknat ini.
"Kau mulai jarang menemuiku karna DIA," geramnya penuh dengan kebencian segera pergi dari tempat ini.
"Ku pastikan aku akan membunuhmu."
Ia bersumpah akan membalas wanita sialan itu karna berani mengambil KEKASIHNYA.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..