Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Melaporkannya ke polisi


__ADS_3

Setelah melarikan diri dari penginapan tadi, Shireen langsung pergi menaiki taksi yang membawanya.Dengan perasaan harap-harap cemas Shireen melirik kanan-kiri karna ia lumayan asing dengan kota ini.


"Pak! Ke kediaman William, ya?"


"Kediaman William?" Tanya supir yang memakai topi itu. Wajahnya masih muda dengan bekas jahitan yang ada di dagunya.


Raut wajah pria itu sangat ambigu tapi Shireen hanya berpositif thinking saja.


"Yah, kau tahu-kan?"


"Untuk apa nona kesana?"


Shireen diam. Ia mencari alasan yang logis dan bisa di terima.


"Aku ingin berkunjung ke sana!"


"Nona! Kau yakin ingin kesana?" Tanya Supir itu seakan meyakinkan Shireen yang menaikan satu alisnya heran.


"Kenapa memangnya?"


"Tak apa. Tapi, aku dengar disana penjagaannya sangat ketat apalagi setelah penyerangan di pesta malam itu. Beritanya sampai tersebar dimana-mana."


Jawab pria itu jelas dan sangat lugas. Shireen hanya diam. Ia berharap jika tuan Michelle ada di kediaman hingga mereka bisa bertemu.


Setelah beberapa lama mobil ini mulai sampai di sebuah lingkungan yang sangat asri dan terurus. Di sepanjang jalan banyak rumput hias yang hijau memanjakan mata sampailah ke sebuah beton tinggi dengan gerbang dilapisi emas yang mewah.


"Apa disini?"


"Iya, nona!" Jawab Supir itu nyaris tak terdengar. Shireen tak menghiraukannya. Ia keluar dari mobil ini lalu mendekati gerbang besar di hadapannya.


Ada dua penjaga di belakang gerbang yang terlihat sangar. Dari sini Shireen sudah bisa menyaksikan megahnya kediaman William yang pantas di sebut sebagai keluarga bangsawan.


"Permisi!"


Sapa Shireen pada dua penjaga ini. Ia merasakan tatapan menyelidik keduanya seperti memindai Shireen bagai bahaya.


"Ada keperluan apa?" Tanya salah satunya mendekat tapi tak membuka gerbang.


"Namaku Shireen, aku ingin bertemu tuan Michelle!"


"Tuan sedang tak bisa di ganggu," Jawabnya tegas selayaknya seorang pengawal.


Shireen diam sejenak lalu mencoba bernegosiasi karna waktunya tak banyak. Bisa saja nanti Edwald menemukannya.


"Coba kau tanya dulu padanya. Dia yang menyuruhku berkunjung ke kediamannya, tuan!"


"Kau tunggu disini," Ucap pria itu lalu berunding dengan salah satu rekannya yang beralih menatap Shireen.


Mereka tahu dari penampilan Shireen tampak sepertI wanita dari kalangan atas tapi, kenapa dia memakai taksi? Sangat tak cocok dengan wajah cantiknya.


"Aku akan menghubungi pengawal tuan!"


"Cepatlah!"


Salah satunya terlihat menelpon. Shireen terus menunggu dan sesekali menoleh ke arah taksi yang masih menunggunya.


"Nona!"


"Yah?" Tanya Shireen kembali fokus pada dua penjaga ini. Saat pintu gerbang di buka senyum Shireen mekar puas.


"Masuklah! Tuan menunggumu!"


"Terimakasih," Jawab Shireen segera pergi ke depan kediaman megah dan mewah ini.


Jarak gerbang dan teras depan kediaman cukup jauh tapi berjalan kaki seperti ini tak akan bosan karna banyak tanaman hias di sepanjang jalan.


"Nona Shireen!"


Terlihat nyonya Ines dan tuan Michelle yang menyambut Shireen dari teras depan. Senyum ramah Shireen lepas berjalan elegan dengan kedua tungkai jenjangnya mengayun tegas.


"Nona! Akhirnya kau datang juga."


"Maaf, aku berkunjung terlalu mendadak," Sesal Shireen sopan mendekati nyonya Ines yang tersenyum hangat menyambutnya.

__ADS_1


"Tidak apa. Maaf, jika saat masuk kesini kau di persulit oleh para penjaga di depan. Kami hanya mengantisipasi jika kejadian malam itu tak terulang lagi, nak!"


"Aku mengerti, nyonya!" Jawab Shireen mengangguk paham.


Nyonya Ines memboyong Shireen masuk begitu juga tuan Michelle yang mengikuti langkah mereka. Di lantai dasar saja sudah sebesar ini, sungguh Shireen takjub akan kekayaan keluarga William dan pantas jika banyak orang jahat yang ingin memonopoli.


"Duduklah. Anggap rumah sendiri, hm?"


"Terimakasih," Jawab Shireen menerima dengan senang hati sambutan hangat nyonya Ines. Ia duduk di sofa empuk ruang tamu lalu mengamati setiap lekuk bangunan yang memiliki langit-langit sangat tinggi bak di sebuah kerajaan dengan banyak pernik porselen dan giok mahal menjadi hiasan.


"Kau ingin minum apa? Katakan saja!"


"A.. tidak usah repot, nyonya! Aku kesini hanya ingin membicarakan sesuatu,"segan Shireen membiarkan nyonya Ines duduk berhadapan dengannya dengan tuan Michelle ada di samping wanita paruh baya cantik ini.


"Apa yang ingin nona sampaikan?" Tuan Michelle menyahut.


Shireen mengambil nafas dalam. Ia tak tahu harus mulai dari mana yang jelas tak menyinggung dua manusia ini.


"Aku dengar nona Patrica ingin menikah. Apa benar itu? Tuan!"


"Yah, tapi kami masih memilih calon suaminya! Apalagi di kondisi seperti ini. Kami tak bisa gegabah, nona!" Jawab tuan Michelle dengan helaan nafas berat mendominasi suasana hatinya.


"Menurutku, sebaiknya tuan harus benar-benar menyelidiki siapa saja yang mendekati nona Patrica! Seperti yang terjadi malam itu, kalian di serang oleh pihak yang ingin menghancurkan keluarga William."


"Begitulah, nona! Kami sudah berusaha melacak, siapa dalang dari penyerangan itu?! Tapi, nihil dan tak ada hasil yang pasti," Gumam nyonya Ines saling pandang dengan tuan Michelle yang juga terlihat sangat tertekan memikirkan tuannya.


"Aku tahu siapa yang melakukan itu!"


Ucapan Shireen langsung di tatap bingung sekaligus terkejut dari sepasang suami istri itu.


"M..maksud nona?" Tanya nyonya Ines heran.


"Aku tahu dalang di balik kekacauan pesta kalian. Mereka ingin membuat kalian percaya pada mereka agar mudah menikahi, putri kalian Patrica!"


"Nona! Katakan, siapa mereka?" Tanya tuan Michelle dengan rona marah dan geram. Shireen mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal ini karna nanti ia tak menjamin bisa hidup tenang.


"Mereka adalah orang su.."


"Orang suruhan laki-laki yang ingin menguasai kekayaanmu!"


Shireen seakan tersambar petir di siang bolong. Ia hafal suara dingin yang menyela ucapannya itu bahkan tanpa melihat ke sumber suara, Shireen sudah sangat tahu.


Berbeda dengan Shireen yang mematung, tuan Mechelle dan nyonya Ines berdiri dengan wajah ramahnya pada Edwald yang tiba-tiba masuk berjalan mendekat.


"Presdir!"


"Maaf, aku datang tak memberitahu lebih dulu," Ucap Edwald mendekati tuan Michelle dengan pakaian sudah berganti stelan jas. Ia benar-benar mirip sebagai seorang direktur utama perusahaan ACIAN dengan berbagai pesona dan kharisma yang mendominasi.


Wajah Shireen penuh dengan kebingungan. Sudah jelas tadi ia melihat Edwald keluar menggunakan jaket dan stelan gelapnya tapi..


"Sayang!"


Sapa Edwald pada Shireen yang tersadar dari lamunannya. Ia berdiri dengan tatapan masih berusaha santai dan tenang.


"Kenapa kau kesini?" Tanya Shireen padahal jantungnya sudah mau keluar di dalam sana.


Edwald memberi senyum tipis. Lengkungan yang sangat membuat para wanita mabuk dan menggila itu seakan mengejek ke arahnya.


"Kau pergi tanpa mengajakku, apa kau pikir aku bisa kau tinggalkan, hm?" Ucap Edwald menarik pinggang Shireen agak kasar merapat ke arahnya.


Shireen hanya tersenyum paksa menatap tuan Michelle dan nyonya Ines yang sangat mengagumi mereka.


"Kalian memang sangat mesra, semoga saja kalian selalu bahagia!" Kagum nyonya Ines tapi Shireen ingin menyela.


"A..kami.."


"Kami sangat bahagia, nyonya! Shireen begitu mencintaiku sampai tak ingin memberitahuku jika dia ingin berkunjung kesini, aku tak masalah pergi mendampingiku-mu, sayang!" Tutur Edwald memberi remasan agak kuat ke pinggang seksi Shireen yang memelototinya.


Kau memang pandai bermain sandiwara, EDWALD FEDRICK ALDEBAROON.


"Kau sedang sibuk. Aku tak ingin mengganggu pekerjaanmu," Gumam Shireen memperbaiki dasi yang melingkar di leher kekar Edwald yang menyeringai samar.


"Tak masalah. Jangan ulangi lagi, hm?"

__ADS_1


"Terserah padamu," Batin Shireen tapi ia tetap mengangguk lalu kembali fokus pada sepasang pasutri paruh baya ini.


"Presdir! Apa maksudmu dengan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga kami tadi?"


Tanya tuan Michelle seraya mengarahkan mereka untuk duduk. Edwald duduk begitu juga Shireen yang juga risih berusaha melepaskan belitan tangan kekar Edwald ke pinggangnya tapi pria ini malah turun ke bokong Shireen.


"Kauu.."


Geram Shireen memandang murka Edwald tanpa rasa bersalah mengacuhkannya.


"Wesson sudah menyelidikinya. Orang-orang yang menyerang saat itu adalah suruhan dari salah satu keluarga yang telah menjodohkan putra mereka dengan putrimu."


"Menjodohkan?" Keduanya sampai saling pandang heran.


"Hm. Mereka kemungkinan orang terdekatmu atau yang kau kenal baik. Kau harus waspada pada orang-orang yang pernah menjodohkan putranya dengan putrimu," Jelas Edwald hingga tuan Mechelle ingat jika hanya ada dua keluarga yang sudah menetapkan hubungan dekat dengan putrinya.


"Yang pasti ingin menikahi Patrica hanya ada dua keluarga besar, presdir! Keluarga Braight dan Tefanos!" Ucap tuan Michelle agak syok kalau itu memang diantara keduanya.


"Bisa saja mereka. Tak ada yang tahu niat hati seseorang," Jawab Edwald tapi lirikan matanya tertuju pada Shireen yang tampak sudah tak memiliki mood untuk bicara.


"Baiklah, terimakasih karna kau sangat banyak membantu kami, presdir!"


"Tak masalah," Jawab Edwald lalu berdiri seraya memaksa Shireen ikut bangkit.


"Aku masih ada urusan. Terimakasih sudah menjaga ISTRIKU disini," Ucap Edwald tapi Shireen hanya mendelik gerah.


"Justru kami sangat senang dengan keberadaan, nona! Kami berharap kalian sering datang kesini, presdir, nona!"


Shireen hanya menjawab dengan senyuman. Ia mengikuti langkah lebar Edwald yang mengiringnya pergi diantar sepasang suami istri itu ke depan kediaman.


"Lepaas!!" Geram Shireen berusaha menurunkan tangan Edwald dari pinggangnya tapi bukannya terlepas justru semakin erat.


"Kau pikir kau itu cukup cerdas?" Tanya Edwald seraya mengiring Shireen ke mobil yang tak jauh dari sini.


Nyatanya Cooper ada disana dan Shireen benar-benar kesal sekaligus dongkol.


"Kau lihat saja. Hari ini, jangan kau sebut namaku jika aku tak bisa membongkar kedok BUSUKMU."


Mendengar umpatan Shireen, Edwald justru tergelitik. Ia membuka pintu mobil segera mendorong pelan Shireen untuk masuk walau ada unsur memaksa di dalamnya.


"Cepatlah! Barang-barang mewah disini membuat tanganku gatal," Gumam Cooper ikut masuk ke dalam mobil karna jiwa robinhood didalam dirinya meronta-ronta.


Ia melihat Edwald duduk dengan angkuh seperti biasa dan Shireen dipenuhi hawa tak suka dan tak bersahabat yang sudah hafal olehnya.


"Shireen! Jika kau ingin pergi, setidaknya jangan lewat jalur darat. Edwald punya seribu mata yang membuntuti-mu," Kelakar Cooper mengedipkan mata ke arah kaca spion dimana Shireen memandangnya murka.


Mobil ini melaju stabil keluar dari gerbang kediaman William. Pandangan Shireen bergulir pada taksi yang masih ada di depan sana tapi ia terkejut saat supir itu membungkukkan kepalanya pada mobil Edwald.


Jadi..


Shireen baru sadar. Ia langsung melempar tatapan membunuhnya pada Edwald seperti biasa selalu percaya diri.


"KAU MEMPERMAINKAN AKU, HAA??"


"Kau yang mengajakku bermain. Aku hanya mengikutinya," Jawab Edwald tak memandang Shireen yang sudah berapi-api.


Ia sudah tak punya kesabaran lagi untuk tetap diam disini dan menunggu lepas dari pantauan pria sialan ini.


"Kau lihat saja, aku pastikan kau mendekam di penjara!!"


"Aku sangat menantikannya," Jawab Edwald seakan menganggap itu hanya guyonan kosong.


Tapi, siapa sangka Shireen benar-benar serius. Saat melihat ada polisi yang tengah mengatur jalan di depan sana. Ia langsung membuka kaca jendela dan berteriak.


"Paaaaaak!!! Paaaaak, toolooong!!! Tooolong, aku di culiiik!!" Teriaknya mengeluarkan kepala dan tangannya melambai ke arah polisi yang sempat tertinggal sejauh 3 meter dari mobil mereka.


Melihat banyaknya mobil yang lewat dan menyalip, Edwald langsung menendang kursi Cooper yang sontak menghentikan mobil ini.


"Jangan sembarangan mengeluarkan kepalamu di jendelaa!!" Geram Edwald tapi Shireen masa bodoh.


Ia membuka pintu mobil cepat lalu keluar dengan niat untuk membuat laporan penculikan karna ia sudah kehilangan kesabaran.


....

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2