Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Pergilah!


__ADS_3

Berita yang tersebar dalam beberapa jam itu sudah merambat ke seluruh kalangan. Bahkan, tak khayal Edwald harus mengancam berbagai media untuk tak memanas-manasi publik dengan apa yang terjadi.


Komentar negatif dan tudingan palsu yang merusak nama baik Shireen itu akan sangat menganggu bahkan yang Edwald khawatirkan keadaan Shireen dan calon penerusnya akan dalam bahaya.


"Mana ponselku?" Tanya Shireen pada Edwald yang baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya.


Pesona Edwald kembali menguar kala rambut basah dan wajah segar tampan itu tersapu oleh tetesan air yang menyusuri dada bidang dan tonjolan otot kekar yang mampu membuat Shireen memerah.


Apa dia tak bisa berpakaian di dalam kamar mandi saja?!


Rutuk Shireen memalingkan wajahnya kala Edwald berlalu ke kamar ganti hanya menggunakan handuk sepinggang, itupun lekukan otot kekar pinggangnya sudah membuat Shireen kejang-kejang di tempat.


"Dimana dia menyimpan ponselku?!" Gumam Shireen beralih mencari benda pintar itu di dalam laci nakas dan ke balik selimut.


Tapi, terbesit di ingatan Shireen kalau Edwald pasti menaruh ponselnya di bawah ranjang. Dan benar saja, saat Shireen berjongkok melihat ke kolong bawah sana ada ponselnya yang tergeletak dingin.


"Aku sudah tahu kebiasaanmu," Gumam Shireen mengambil ponselnya lalu menegakkan tubuhnya masih dalam posisi berjongkok.


Namun, Shireen tersentak saat wajahnya langsung berhadapan dengan handuk bagian depan Edwald yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sini masih dengan penampilan barusan.


Aroma mind maskulin ini menyeruk ke sela hidungnya apalagi wajah Shireen tepat di bagian inti Edwald yang dulu sempat ia manjakan seperti ini.


"Kau tak ingin berdiri?" Tanya Edwald menaikan satu alisnya sinis hingga Shireen langsung mengikuti perintahnya.


Shireen berdehem kecil mengalihkan pandangan ke arah lain lalu menyelipkan anak rambut panjangnya ke samping telinga. Sungguh, Edwald sudah hafal dengan tingkah gugup Shireen setiap mengalami kecanggungan.


"Kau gugup?"


"A.. K..kenapa kau menyembunyikan ponselku?! Ini sudah dua kali, ya!" Protes Shireen mengalihkan pembicaraan.


Edwald diam tapi mata tajamnya begitu membahayakan bagi Shireen.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Edwald datar tapi niatnya semakin tampak untuk membuat Shireen gelagapan mencari jawaban.


"A..apanya? Aku.. Aku tak memikirkan apapun, memangnya.. Aku... A..apa?" Kacau Shireen bicara melantur lalu duduk di samping ranjang.


Ia menghidupkan ponselnya yang tak memakai sandi. Shireen mencari berita di resto tadi karna ia yakin banyak hal yang sudah terjadi.


Tapi, kolom pencariannya kosong. Berita itu sudah tak ada bahkan jejaknya-pun tak lagi tersisa.


"Kenapa tak ada beritanya?! Seharusnya sekarang tengah panas," Gumam Shireen mencari-cari topik panas itu.


Edwald hanya diam. Ia kembali ke kamar ganti untuk bertukar pakaian santai membiarkan Shireen melakukan apa yang dia mau.


Setelah beberapa saat berusaha membuka berbagai situs berita, Shireen baru sadar. Ia melirik ruang ganti di sudut sana lalu beralih menatap ponselnya.


Apa dia yang menghapus semua berita itu?! Tapi, kenapa?!


Tanya Shireen pada dirinya sendiri. Tak berselang lama Edwald keluar dengan stelan santai kaos lengan pendek yang tampak menunjukan kekekaran tubuhnya dan jogger santai yang panjang.


"Kenapa kau menyembunyikan ponselku?" Tanya Shireen menukik.


Edwald tak langsung menjawab. Ia mengusap rambutnya dengan handuk kecil seraya meraih ponselnya didekat Shireen.


"Kenapa kau menyembunyikan ponselku?? Jawaab!!"


"Bukan menyembunyikan, aku hanya tak ingin benda itu ada di kamarku!" Datar Edwald duduk di samping ranjang yang berseberangan dengan Shireen.


Wanita itu tak lagi memakai mantel, syal atau kupluk. Ia selalu mempesona dengan dress selutut lengan panjang ini.


"Kau bisa berikan padaku, kenapa harus di letakan di bawah ranjang?"


"Bukan di letakan, tapi ku buang," Jawab Edwald dengan nada tak berubah.


Shireen sungguh kesal. Ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya tentang misi yang di berikan nyonya Colins kemaren.

__ADS_1


"Bagaimana dengan misi wanita itu? Apa kau akan membunuhku?"


Tanya Shireen sangat-sangat ingin mendengar jawaban Edwald yang menghentikan jarinya menggulir di kaca ponsel.


"Kau pikir aku akan menerima keuntungan sekecil itu?"


"M..maksudmu kau.."


"Jika yang dia tawarkan lebih menarik, mungkin aku akan mempertimbangkannya."


Jawaban angkuh Edwald membuat Shireen merutuk. Jadi, Edwald tak menerima misi itu hanya karna keuntungannya kecil, jika besar pasti sudah sedari awal nyawanya lenyap.


"Kau memang pria seribu wajah, batu, kayu, tak berperasaan, suka memerintah, licik, dan MENYEBALKAN!!" Umpat Shireen terang-terangan melempar Edwald dengan bantal di sampingnya lalu berjalan keluar dan menutup pintu itu keras nyaris jebol.


Edwald memandangnya santai dengan sudut bibir terangkat gemas. Walau bagaimanapun dia dimata Shireen tetap saja perasaan ini tak akan berubah.


Setelah beberapa lama kepergian Shireen tiba-tiba saja ada yang mendobrak pintu kamarnya.


Ternyata Cooper yang tampak cemas memandang Edwald panik.


"Steen! Ini buruk."


"Katakan!"


"Suma datang! Dia ingin membawa Shireen!" Jawab Cooper dan sontak Edwald langsung menyimpan ponselnya dan berlari keluar.


Langkahnya sangat cepat dengan wajah sudah mendingin menuruni tangga menuju lantai dasar dan benar saja. Anggota GYUF sudah memenuhi pintu depan dengan Suma yang tampak marah besar pada Wesson yang terlihat menyembunyikan Shireen di belakang tubuhnya.


"Apa kalian sudah tak punya akal sehat, haa??? Kalian melindungi musuh di dalam anggota kitaa!!!" Murka Suma membentak mereka bahkan Glimer-pun tak menyangka jika Wesson dan Edwald tahu identitas Shireen tapi masih membiarkannya bebas.


"Dad! Maafkan aku, tapi Shireen tak membahayakan kita sama sekali."


"Tak membahayakan katamu?!!! Kau lihat apa yang sudah dia lakukan untuk membuat organisasi kita tercium oleh pemerintahan di luar sana!! Kau tak sadar jika GYUF itu buronan, haa???"


Wesson seketika diam. Ia tahu ini akan sangat membahayakan bagi mereka apalagi misi besar keluarga William masih belum selesai.


"Kau yang licik karna menghancurkan keluargaku!!" Keras Shireen sungguh sakit hati dan tak akan mundur jika Suma sekalipun yang menentangnya.


Mendengar suara lembut tegas Shireen yang mengalun berani, senyum picik Suma muncul. Bahkan, terlihat sangat menakutkan.


"Kau pikir aku tak sadar jika kau pernah mengobrak-abrik kamarku hanya untuk mencari bukti, hm?"


Degg..


Shireen benar-benar terkejut. Wesson pun sama, ia memandang Shireen dengan tatapan rumit dan tak percaya.


"Apa yang kau lakukan di kamar daddyku?" Tanya Wesson penuh selidik.


Shireen diam tapi, wajah cantik tegasnya sudah menjawab pertanyaan Wesson.


"Kau.."


"Dia datang untuk membalas dendam!" Sela Suma penuh sarkas dan kemarahan.


Edwald yang berdiri di bawah tangga sana diam menyaksikan kelicikan Suma yang sudah ia duga tak akan semudah itu percaya jika Shireen hanyalah seorang pelayan. Itu karnanya Suma selalu ingin mendekati Shireen yang juga tak menolak dan tak tahu akal busuk pria ini.


"Kau memang sempurna dan sangat mempesona tapi, bukan berarti aku akan membiarkan wanita sepertimu masuk seenaknya!" Geram Suma lalu menarik lengan Shireen kasar untuk keluar dari kediaman.


Shireen memberontak, ia menendang kaki Suma keras lalu menyentak lengannya kasar dari genggaman pria tua ini.


"KAU HARUS MEMBAYAR, APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA KELUARGAKUU!!!" Teriak Shireen melempar porselen di sampingnya ke arah Suma yang seketika mendidih.


"Tangkap tikus sialan ini!!" Titah Suma pada anggota GYUF yang segera mengepung Shireen. Cooper begitu khawatir melihat Shireen di kepung oleh para pria berbadan kekar yang pasti bukan lawannya.


"Steen! Shireen akan habis," Ucap Cooper pada Edwald yang hanya diam.


Suma terlihat sangat bengis dan berhasrat pada Shireen. Menangkap wanita itu akan memberikan banyak keuntungan baik secara rencana atau kepuasan batinnya.

__ADS_1


"Beri dia pelajaran yang setimpal!" Geram Suma hingga para anggota GYUF mau tak mau harus menangkap Shireen yang nyatanya tak semudah itu mereka kendalikan.


Wanita ini lincah menghindar memanfaatkan barang-barang di sampingnya untuk memukul lengan-lengan kekar yang ingin menarik anggota tubuhnya kasar.


"Nona! Sebaiknya kau menyerah, kami tak ingin berbuat lebih kasar dari ini."


Shireen hanya diam. Walau kakinya patah atau tangannya lumpuh sekalipun, ia tak akan sudi di perbudak oleh manusia-manusia bajingan ini.


"Sampai matipun, aku tak akan tunduk pada kalian!" Geram Shireen menendang bagian inti mereka semua lalu memanfaatkan itu untuk memberi perlawanan tanpa jeda.


Tangan jenjangnya menampar wajah-wajah anggota GYUF yang tak mungkin diam saja. Mereka ingin memukul Shireen tapi Edwald segera mengambil pistol di balik jaket Cooper lalu melemparnya pada Shireen yang sigap mengambilnya.


"Steen!"


Syok Cooper tapi Edwald hanya diam menyaksikan kembali pertunjukan hebat tapi jelas ini akan semakin sengit.


Shireen menembak ke arah kaki mereka semua dengan tepat dan sangat cepat. Bahkan, Wesson tak menyangka Shireen akan bisa menembak padahal dulu ia baru belajar beladiri.


"Wanita gilaaa!!!" Maki Suma mengeluarkan pistolnya ingin menembak Shireen tapi sayangnya peluru dari pistol yang di genggaman Shireen sudah melesat ke arah tangannya.


"Daddy!!!" Pekik Glimer saat pergelangan Suma tertembak membuat mereka berkumpul. Suasana seketika langsung mencekam membuat Edwald langsung menarik Shireen keluar dari penginapan.


"Kauu.."


"Pergilah!" Titah Edwald pada Shireen yang diam tapi matanya terlihat kosong memandang wajah keras Edwald yang mendingin.


"K..KAU.."


"Tuntaskan apa yang kau mau. Jangan sesali apapun, mengerti?!" Tegas Edwald mendorong Shireen untuk pergi dari sini.


Tatapan Shireen benar-benar berat tapi Edwald tak punya banyak waktu lagi. Cooper datang dan langsung paham saat Edwald sudah di posisi ini.


"Ikut aku!" Ucap Cooper menarik Shireen secepat mungkin berjalan pergi dari sini.


Shireen mengikuti langkah Cooper tapi sesekali ia memandang ke belakang dimana Edwald masih berdiri di tempat yang sama.


Tanpa sadar air mata Shireen jatuh ditengah rintikan serbuk salju yang deras turun mewakili tangisan hatinya.


Apa kita akan bertemu lagi?!


Batin Shireen yang masih memandang kebelakang. Cooper membuka pintu mobil memaksa Shireen masuk dan tak melihat kebelakang lagi.


"Cepat masuk!"


"D..dia.."


"Jangan pikirkan apapun!" Tegas Cooper menarik Shireen masuk ke mobil dan ia juga ikut masuk. Hanya dari kaca jendela ini Shireen memandang Edwald yang telah di kelilingi anggota GYUF dan Glimer yang murka padanya.


Cooper melajukan mobil cepat keluar dari penginapan sementara Edwald hanya memandangi kepergian Shireen dari remang-remang lampu penginapan.


"KAU PENGKHIANAT, STEEN!!" geram Glimer meluapkan kemarahannya pada Edwald yang hanya diam setia dengan wajah datarnya.


"Kejar wanita itu dan seret dia kembali!!!"


"Jika ada yang melakukan itu, kalian berhadapan denganku!" Tekan Edwald dan itu membuat mereka semua syok apalagi Suma yang sungguh murka.


....


Vote and Like Sayang.


Cek visual Shireen and Edwald


Tiktok:



IG:

__ADS_1



__ADS_2