
Langit sudah jingga dan agak gelap meneduhi kediaman Suma yang seperti biasa sunyi dan lengang. Jika di lihat dari luar gerbang maka sekilas seperti bangunan mewah yang tak berpenghuni.
Tentu hal ini sangat menguntungkan Shireen untuk menjual nama Suma agar mendapatkan ponsel. Ia menemui kepala pelayan di bangunan belakang dengan rencana lanjutannya.
"Tuan sudah memberi izin. Aku butuh ponsel itu untuk menghubungi keluargaku," Ujar Shireen berdiri di hadapan seorang wanita paruh baya yang berwajah ramah.
"Nona! Aku tak bisa mengambil resiko. Aku.."
"Aku tak bohong. Apa kau pikir aku bisa lepas dari tempat ini?" Tanya Shireen menunjukan wajah cantik tak berdaya itu.
Untung saja disini hanya ada mereka berdua karna kepala pelayan ini mengajak Shireen untuk bicara di tempat sunyi.
"Aku yakin nona tak mungkin berbohong karna kau orang kepercayaan tuan Wesson. Tapi, aku takut bertindak gegabah."
"Aku pelayan setia tuan Wesson. Kau tak perlu cemas," Bujuk Shireen memanipulasi keadaan. Ia tahu jika kedekatannya dengan Wesson selama ini juga berpengaruh pada pandangan semua pelayan.
Karna tak bisa mengelak lagi, kepala pelayan itu akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Aku akan mencarinya untukmu!"
"Terimakasih. Aku tak tahu harus mengatakan apalagi," Decah Shireen tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya.
Kepala pelayan itu ikut tersenyum. Shireen memang sangat cantik dan hangat. Ia bisa memberikan kenyamanan bagi mereka yang dekat dengannya.
"Aku pergi dulu. Tadi, tuan belum bangun," Gumam Shireen pamit keluar dari bangunan pelayan.
Di luar sana ia menghela nafas. Akhirnya satu persatu ia bisa menyelesaikan rencananya untuk menghancurkan organisasi ini.
"Kau bisa. Ini baru permulaan dan jangan sampai kau lengah, Shireen!" Gumamnya menguatkan diri sendiri.
Shireen kembali menyuruh jalan menuju bangunan selatan tempat pribadi Wesson. Ia ingin mandi karna tubuhnya sudah lumayan lengket dan tak nyaman.
Di kiri kanan jalan setapak yang ia lalui ada hamparan bebatuan dan rumput-rumput hijau yang memanjakan mata. Belum lagi pepohonan rindang yang menambah kesan asri sampai menyamarkan rona iblisnya.
"Aku tak pernah berkeliling. Tempat ini cukup bagus," Gumam Shireen membelokkan langkahnya tak jadi ke bangunan pribadi Wesson.
Ia memilih berjalan-jalan santai melihat rerumputan yang basah karna terpaan salju yang turun setiap tengah malam.
Di tengah menikmati ketenagan ini, Shireen melihat ada kolam ikan koi yang ada di bangunan timur. Ia tahu ini tempat pribadi Edwald.
"Dia punya selera yang buruk," Rutuk Shireen melihat tak ada satupun bunga atau tanaman hias di tempat ini. Berbeda sekali dengan bangunan pribadi Wesson yang asri dan bersahabat.
Dari segi aura sudah terasa menakutkan. Ranting-ranting kayu di sekitar tempat ini mekar tanpa ada pemanis mirip pemakaman.
"Tak perlu melihat orangnya langsung. Dari rupa dan suasana tempat ini, kau akan tahu betapa berbahayanya pria penipu itu," Umpat Shireen ingin berbalik pergi tapi ia sangat penasaran.
Walau disini tak ada yang menarik dan mencolok Shireen cukup merasa terpanggil dan penasaran. Ia diam di tempat perlahan berbalik.
Pandangan Shireen menyusuri semua lekuk luar bangunan ini sampai ia mengambil kesimpulan yang cukup rancu.
Edwald bukan pria yang hangat. Dia tak akan melakukan sesuatu tanpa ada untungnya sama sekali. Yah, itulah yang Shireen tangkap dari keberadaan kolam ikan dan pohon-pohon tinggi tanpa daun ini
"Kolam ini ada karna saat memandang riak air dan ikan di dalamnya kau akan menemukan rencana. Pohon ini tinggi seperti keangkuhan mu, PENIPU!" ketus Shireen meneliti sekalian menyumpahi Edwald.
Ia asik menjabarkan makna tempat dan semua barang-barang disini. Hanya ada satu kursi dan meja santai di depan hingga menunjukan jika Edwald jarang bersosialisasi.
"Hidupnya sudah sangat suram. Seharusnya dia pantas dikasihani."
__ADS_1
"Benarkah?" Suara seseorang di belakang terdengar datar dan tenang. Shireen yang larut dalam amarah itu mengangguk.
"Yah, dia satu-satunya pria yang tak layak di ampuni. Tuhan terlalu baik sampai memberi kutukan sepertinya di atas dunia ini."
"Kalimat mu sangat puitis."
Degg..
Shireen baru sadar. Ia segera berbalik cepat hingga tubuhnya langsung merapat ke pahatan tegap Edwald yang sudah mendengar semuanya.
"K..kau..."
Shireen ingin mundur tapi tangan Edwald langsung membelit pinggangnya. Alhasil, jarak itu tak bisa di buat bahkan tak ada cela sama sekali.
Wajah cantik terkejut Shireen mengadah menatap Edwald yang masih tenang tapi, manik hijau elang ini tak bisa menyembunyikan kekacauannya pada Shireen.
Untuk sesaat keduanya saling pandang intens bahkan belum ada yang menarik diri.
Jantungku!
Batin Edwald merasakan getaran di dalam dadanya. Semakin ia tatap manik hitam bening ini maka ia akan di buat larut sampai terbuai jauh.
Begitu juga Shireen. Ia merasakan degupan jantung Edwald yang tak bisa ia mengerti. Edwald sendiri tak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
"Apa kau akan segera tiada?" Tanya Shireen dengan kejam menanyakan hal itu.
Bukannya marah Edwald justru memberi senyum tipis yang mematikan.
"Belum saatnya."
"Oh yah? Jantungmu seperti ingin meledak. Apa mungkin ini kutukan untuk PENIPU sepertimu?!" Sarkas Shireen bercampur geram mendorong kasar bahu kokoh Edwald tapi sayangnya ia yang mundur kebelakang karna pertahanan Edwald cukup kuat.
"Apa kau ingin berbaikan denganku?" kelakar Edwald datar.
"Cih, kau memang tak punya malu," Desis Shireen ingin melenggang pergi tapi Edwald segera memotong langkahnya hingga terpaksa Shireen mundur.
"MENYINGKIR!!" Geram Shireen tak ingin meladeni Edwald yang justru gencar mendesaknya.
"Tak seorangpun bisa datang kesini tanpa izin padaku," Jawab Edwald santai tapi sukses memberi minyak pada bara yang sudah berkobar di mata Shireen.
"Kau ingin melihat sesuatu?" Tanya Shireen datar dan Edwald menaikan satu alisnya. Pria tampan dengan postur tubuh tinggi ini mencoba menerka.
"Tunjukan!"
Brughh..
Kaki jenjang Shireen memukul area luka di perut Edwald yang seketika merasakan langsung sentuhan maut dari tarian mematikan Shireen.
"Bagaimana?" Sarkas Shireen melihat ada darah yang menempel di tulang keringnya.
Edwald diam. Ia bisa saja menghindar tapi ntah kenapa akal sehatnya sudah hilang ntah kemana. Sudah jadi hobi barunya menjadi samsak latihan sang istri.
"Bagaimana? Lukamu terbuka lagi, hm?"
"Lumayan," Desis Edwald menahan gemas tapi justru Shireen naik pitam merasa di permainkan.
Ntah kenapa semenjak kesini Shireen jadi emosian apalagi setiap melihat wajah Edwald yang seperti bubuk cabai menjiprat matanya.
__ADS_1
"Hentikan senyuman ituu!!" Geram Shireen kembali menendang ke arah perut Edwald yang menghindar cepat atau ia akan merasakan sentuhan indah itu dua kali.
Elakkan Edwald sukses membuat Shireen ambisius. Ia kembali menyerang dengan langkah cepat tapi begitu elegan melayangkan pukulan jarak dekat membidik area vital tapi Edwald menjadikan Shireen teman berdansa.
Ia memutar lengan Shireen ke belakang lalu memeluk wanita itu dari belakang.
"Kauuu!!"
"Jangan terlalu agresif. Aku semakin ingin memakan mu," Bisik Edwald kembali bergerak stabil mengimbangi gerakan anggun tapi tegas Shireen yang panas segera menyikut ke belakang tapi Edwald membalikan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.
"Pergerakan mu cukup bagus!"
"Tunggu balasan dariku," Geram Shireen ingin menarik diri tapi Edwald mengunci kedua lengannya kebelakang hingga Shireen tak bisa bergerak.
"Kau ingin menghancurkan GYUF, bukan?" Tanya Edwald tak berniat menyakiti Shireen yang memiringkan bibirnya sinis.
"Yah, termasuk KAU!"
"Jangan bermimpi terlalu jauh karna.."
Edwald menjeda ucapannya dengan mendekatkan bibir ke telinga Shireen yang mengepal.
"Karna jika kau tersesat kau tak akan bisa kembali," Imbuh Edwald lalu mengecup bahu Shireen yang tak tahan langsung menyentak kasar tangannya segera ingin menampar Edwald..
"Beraninya kauu!!!"
Suara bentakan seseorang dari arah samping. Wajah Edwald mendingin kala Kimmy sudah berdiri dengan kemarahan terlihat di matanya. Sangat mengganggu, bukan?!
Berbeda dengan Edwald yang membisu, Shireen justru tersenyum tipis. Tangan yang tadi terangkat ia turunkan perlahan.
Masih ada luka dan kekecewaan yang mendalam di mata Shireen tapi ia tampak sudah tak punya harapan atau kepercayaan lagi.
"Kalian memang pasangan yang cocok," Ujar Shireen mundur selangkah.
Ia bersidekap dada angkuh menaikan satu alisnya merendahkan Kimmy yang masih menjadi portal penghancur yang nyata.
"Kau memang wanita tak tahu diri!! Sudah baik kau tak tiada tapi.."
"Jangan membuang tenaga. Aku juga tak suka BARANG BEKAS.. Hm?!" Sela Shireen tersenyum tipis melirik Edwald dari ekor matanya.
Shireen tenang tapi percayalah. Hatinya masih sakit bahkan sangat sakit sampai ia lupa bagaimana caranya bersikap tulus.
"Dan yaah.. Kau siapa?" Tanya Shireen heran seakan tak mengenal Kimmy.
"Kauu..."
"Apa kita saling kenal atau mungkin kau salah satu penggemarku?" Tanya Shireen masih dengan senyuman meledek.
Kimmy benar-benar terbakar mendekati Shireen bersiap melayangkan sebuah tamparan tapi Shireen dengan cepat menangkapnya.
Wajah cantik itu berubah kelap dan penuh dengan rasa muak dan jijik.
"Pertahankan karet di dada mu!" Desis Shireen lalu mendorong Kimmy. Ia melenggang pergi begitu saja tak lagi menahan diri untuk tak meninggi karna Kimmy pantas sadar diri.
Karet yang di maksud Shireen tentulah benda yang terpasang mengisi rongga dada wanita itu.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang