
Pertanyaan yang diajukan Wesson tadi hanya membuat Shireen diam. Ia sama sekali tak menjawab dan membiarkan keheningan menyapa mereka. Wesson yang tadi sudah kelepasan hanya bisa membisu di tempat.
"Maaf!"
Satu kata keluar begitu saja memecah kesunyian yang berlalu kosong. Shireen mengambil nafas dalam dengan kedua tangan meremas mantel di pahanya.
"Kalau aku memang istrinya, kau mau apa?" Tanya Shireen menatap lurus kedepan. Suaranya tegas dan tak bisa di patahkan.
"Yah, aku memang istrinya. Seorang istri yang menikah hanya karna rencana busuk dari kalian. Bukankah begitu?" Imbuh Shireen menoleh pada Wesson yang terdiam.
"Kenapa kau diam? Bicaralah! Aku sungguh berharap kau tak tahu, kenapa aku menikah? Dan kenapa aku bisa ada disini dan menyembunyikan identitas ku?!
"Shireen!"
"Hm. Kalian begitu kejam. Apa perlu aku jelaskan bagaimana sempurnanya rencana kalian, ha?" Tanya Shireen dengan senyum culas dan mata berkaca-kaca.
Ia masih ingat dengan semua kebodohannya dan masih lekat diingatan wajah pucat sang ayah yang masuk ke sela tanah. Bahkan, sampai sekarang rasa sakit itu seakan masih baru terasa.
"Hanya karna harta dan kekuasaan kalian sampai merenggut banyak nyawa dan kehidupan. Kalian begitu rakus dan MENJIJIKAN!"
"Tapi, ayahmu yang sudah berkhianat pada kami!!" Bantah Wesson yang tahu kenapa keluarga Harmon di targetkan.
"Dia sudah di percaya untuk menjadi anggota GYUF. Tapi, dia berkhianat dengan membocorkan informasi kami ke musuh dan para aparat yang mengincar GYUF. Ratusan anggota di tangkap bahkan kami harus berpindah-pindah dan.."
"Karna itu kesalahan kalian!!! Kenapa kalian harus membentuk organisasi ilegal seperti ini, ha??" Sela Shireen berapi-api.
Wesson diam. Keduanya punya keadaan masing-masing dan mempertahankan prinsip itu.
"Kalian bisa bekerja dalam bidang apapun tapi, kenapa harus menipu? Kenapa menjual manusia dan mengedarkan obat terlarang?! Ini tak bisa di maafkan, Wesson!"
"Kau pernah merasakan kelaparan?"
Seketika Shireen mematung. Wesson bicara dengan pandangan jauh kedepan seperti sudah melampaui alam semesta.
"Pernah kau melihat ibumu berkhianat dengan pria lain hanya karna uang? Apa pernah kau dipukuli saat mengambil makanan sisa di restoran?"
"K..kau.."
"Tidak pernah, bukan?" Gumam Wesson tersenyum jenaka tapi ada luka di dalamnya. Ia sungguh selalu muak mendengar pertanyaan dari orang-orang yang tak tahu bagaimana rasanya di perlakukan buruk diantara kalangan yang berada.
"Setiap kejahatan itu pasti ada awal yang buruk. Kau pikir kami tak lelah diburu dan bersaing secara ilegal seperti ini, ha? Kau pikir kami tak ingin hidup tenang?"
"Tapi, kau.."
"Kami sangat ingin, Shireen! Sangat."
Shireen diam. Ia semakin tak mengerti dan bingung harus apa dengan penjelasan Wesson.
"Aku dan adikku sudah pernah ingin pergi karna sudah lelah. Tapi, kau tahu apa yang terjadi?"
Wesson meremas kemudinya dengan mata memberi sorot penuh dendam dan amarah.
"Kami menjadi budak yang diperlakukan sangat buruk. Saat itulah kami bertemu Steen yang sudah lebih dulu masuk ke dunia gelap dengan keadaan menakutkan."
Jelas Wesson tak ingin lagi di posisi itu. Mereka harus memimpin atau dipimpin oleh bajingan yang lebih buruk.
"Steen sedari kecil tak pernah mengenal kasih sayang dan cinta. Itu sangat asing baginya dan kami semua. Dia bekerja sendirian dan jarang sekali bicara hal yang tak penting. Jika tidak ada dia, mungkin kau tak akan melihat bagaimana gagahnya GYUF berdiri sekarang."
"E..Edwald.." Gumam Shireen yang merasa jika ucapan Wesson juga benar. Pria itu terlalu sulit dipahami.
"Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kau ingin balas dendam maka lakukan. Tapi,.."
Wesson menjeda kalimatnya. Ia tak ingin Edwald atau satupun anggota GYUF celaka karna kebencian Shireen.
"Tapi, aku tak akan membiarkanmu menyakiti adikku!" Imbuh Wesson menunjukan wajah lain yang terlihat sangat memimpin.
"Kau menyukaiku, kan?" Tanya Shireen tersenyum kecut tapi Wesson menegaskan wajahnya.
"Aku menyukaimu. Tapi, aku lebih menyayangi adikku. Jangan coba-coba mengusiknya karna kau akan menyesal!"
Shireen membuang wajah geramnya ke luar jendela mobil. Wesson kembali melajukan benda ini menuju penginapan yang sudah disiapkan sebelumnya.
__ADS_1
.......
Di penginapan Stiletto. Nuansa pantai di seberang resort yang ada di depan tempat ini begitu damai dengan suara gempuran laut yang gagah membentur karang dan dinginnya angin membawa salju yang memenuhi area sekitar resort.
Ditengah cuaca dingin ini ada seorang pria yang berdiri di atas balkon kamarnya yang langsung menghadap ke area pantai. Mantel tebal itu membalut hangat dengan segelas bir yang ada di genggamannya.
"Steen!"
Cooper datang dari belakang dengan wajah cukup cemas. Ia mendekati Edwald yang masih diam di tempat.
"Steen! Ada yang datang ke sini! Mereka sangat banyak!"
Edwald membisu. Tak ada raut terkejut atau takut di wajahnya yang dingin sebeku es di luar sana.
"Steen! Apa yang harus kita lakukan? Mereka akan segera menyerang resort ini!"
"Lenyapkan," Gumam Edwald melihat jam di pergelangan tangannya.
"Steen! Jumlah mereka sangat banyak dan anggota yang kita bawa kesini hanya sedikit. Persiapan yang dangkal akan membuat masalah, Steen!"
"Sejak kapan aku peduli?!" Gumam Edwald mengeluarkan pistol dari balik mantelnya.
Cooper bingung. Ia tahu Edwald memang hebat tapi dalam kondisi seperti ini apa saja bisa terjadi.
"Jangan ada yang keluar! Biarkan mereka masuk, sambut dengan hangat. Hm?" Desis Edwald memeriksa di pistolnya.
"Kau sudah tahu mereka datang?" Tanya Cooper jengkel.
"Menurutmu?!"
Seketika Cooper mengerti. Jadi, Edwald membiarkan Shireen pergi dengan Wesson tanpa membuntutinya seperti biasa karna pria licik ini tahu jika musuh mereka sudah memantau sedari pesta tadi.
Jelas Edwald tak akan membahayakan Shireen dan membiarkan wanita itu pergi. Cih, sangat sulit di tebak.
"Baiklah! Apa rencana mu?"
"Bantai cepat sebelum istriku pulang."
Jawaban Edwald membuat Cooper meremang geli ikut mengeluarkan pistolnya. Ia membuntuti Edwald keluar dari kamar ini dimana para anggota yang tadi ikut dengan mereka sudah di pimpin Mersi di bawah.
"Kali ini jumlah mereka lumayan. Biarkan mereka masuk ke sini tanpa ada halangan," Titah Edwald turun dari tangga mengarahkan semua anggota yang hanya berjumlah 20 orang.
Mereka berpencar sesuai perintah Edwald yang berdiri di depan pintu resort. Pistol yang tadi ia genggam sudah terselip ke dalam mantelnya dalam keadaan terisi penuh begitu juga Cooper.
"Steen! Mereka punya Sniper yang handal. Kau bisa mati bersantai disini."
"Coba saja," Gumam Edwald seperti hanya berdiri disini sana.
Tapi, dalam lensa mata elang itu sudah mencapit satu persatu keberadaan anggota musuh yang sudah memasuki wilayah mereka.
Resort ini sudah sepi karna Edwald membooking hanya untuk mereka. Tentu pertempuran sengit malam ini tak bisa dielakkan.
Dan benar saja. Belum lama Cooper mengatakan seorang Sniper, tiba-tiba saja ada lesatan peluru ke arah Edwald dari atas pohon yang ada di dekat pantai.
Edwald berhasil menghindar dengan Cooper yang segera menembak saat serbuan peluru itu datang.
"Steen! Mereka mengincar mu!" Desis Cooper berlindung di balik dinding resort sementara Edwald menjadikan pintu di sampingnya tameng.
Edwald diam mengeluarkan pistolnya di sela banyak timah yang melesat panas sampai mengikis dinding kayu resort.
"Keluar kau Steeen!!!"
Suara kasar di luar sana menyoraki keras bagai singa. Edwald diam memberi seringai cukup tenang tapi membahayakan.
"Apa kau takut???? Cih, kau pantas untuk takut PECUNDAAANG!!"
"Selamat datang!"
Sapa Edwald keluar dari balik pintu yang sudah dipenuhi bekas peluru. Edwald berdiri di depan resort menatap datar ke arah pria kekar bertato dengan satu telinga sudah tak ada.
Tebak, siapa yang melakukan itu?!
__ADS_1
Yah, kalian tak salah. Edwald memang menabur api dendam yang akan mengincarnya sampai mati tapi ia tak punya rasa takut apapun.
Pandangan pria itu bagai api yang menyala siap membakar Edwald hidup-hidup. Di belakangnya sudah ada 50 orang yang mengacungkan senjata dan belum lagi resort ini sudah di kepung.
Kemana cela akan lari? Apa bisa bertahan?!
"Kita bertemu lagi setelah sekian lama."
"Apa kabar telingamu, hm?" Tanya Edwald tersenyum tipis penuh ejekan. Hal itu semakin mengobarkan hawa membunuh dari semua musuhnya terutama pria itu.
"Ini malam terakhirmu!! Aku akan pastikan kau kehilangan tangan dan kakimu!!!"
"Ambilah!" Jawab Edwald santai hingga pertikaian tak bisa dielakkan.
Pria itu langsung memboyong anggotanya untuk menembak brutal ke arah Edwald yang sigap menunduk berlindung di balik pagar beton yang ada di depan bangunan ini. Ia saling lirik dengan Cooper yang mengangguk.
"Serahkan ini padaku!"
"Keluaar!!!" Titah Edwald melepaskan satu tembakan ke atas hingga para anggotanya yang tadi sudah bersiap langsung menyerbu ke arah anak buah musuh.
Aksi baku tembak ini semakin memanas kala taktik Edwald tak terbaca oleh pria tanpa satu telinga tadi. Anggotanya yang tadi mengepung resort ternyata sudah di lumpuhkan dalam diam oleh anggota GYUF yang diberi waktu oleh Edwald mereka berdebat tadi.
"Sialaaan!!" Umpatnya menyerang agresif.
Walau jumlah mereka kalah telak tapi kekuatan mereka tak bisa di sepelekan apalagi mereka tak asal bertarung saja.
"Habisi merekaa!!" Teriaknya semakin memburu saat satu persatu anggotanya tertembak mati di tempat.
Suasana resort sudah seperti ladang perang. Darah mengalir di mana-mana bahkan lampu-lampu yang tadi menyala putih terang sudah berbuah merah darah.
Suara tembakan beradu bak petasan. Banyak tubuh yang sudah tumbang tak berkepala dan sudah tak bernyawa sampai membuat ketua penyerangan ini langsung dilanda ketakutan.
"Bunuh mereka!! Jangan lengaah!!" Teriaknya seperti orang linglung menyaksikan para bawahannya satu persatu tewas mengenaskan.
Matanya penuh ketakutan sesekali menembak untuk melindungi diri tapi nihil, itu sama saja mencari mati.
Ekspresi ketakutan itulah yang membuat Edwald puas. Ia yang berdiri di depan resort tanpa ada goresan apapun menyeringai iblis.
"Kau takut, hm?"
"K..kau.. Kau bajingaaan!!" Maki pria itu menembak tapi sayang ia kehabisan peluru. Seringaian Edwald bertambah menakutkan bak joker mengeluarkan kartu AS.
"Apa perlu ku ajari kau cara menembak?!" Angkuh Edwald mengarahkan pistolnya ke ke kepala pria itu.
"Aku tak akan melepaskan mu! Sampai mati-pun aku akan mencarimu, Sialaan!!"
"Jangan merepotkan diri. Aku ada di hadapanmu dan segera lakukan!" Titah Edwald membuat pria itu kelap.
Ia mengeluarkan pisau dari balik jaketnya langsung menyerang Edwald dengan ganas dan tanpa ampun.
Bukan Edwald namanya jika ia tak mencari keuntungan. Ia meladeni baku hantam sengit ini dengan kegagahan yang tak tertandingi.
Bughh.. .
Lesatan kaki kokoh Edwald menghantam betis pria itu. Kakinya tertekuk akibat pukulan keras Edwald bak sabetan pedang langsung menghantam pipinya.
Tubuh pria itu terbenam ke tumpukan salju dengan satu kaki Edwald sudah menginjak pipinya jauh ke dalam.
"Kau merusak malam ku!" Gumam Edwald menekan pijakan kakinya kuat sampai pria ini memberontak karna tak bisa bernafas di dalam himpitan salju dingin ini.
Cooper yang melihat itu tersenyum puas. Anggota musuh juga sudah habis terbabat tewas di tempat.
Tapi, Mersi terkejut saat tiba-tiba saja melihat pria yang ada di bawah tekanan Edwald membawa peledak.
"Tuaaaan!!"
Teriak Mersi tapi sudah terlambat. Ledakan besar terjadi dengan para anggota yang sempat menghindar terlempar ke arah pantai begitu juga Cooper yang sempat terkejut tapi tak punya waktu melihat Edwald.
"Edwaaald!!!"
Suara seseorang menjerit keras dari arah masuk resort kala ledakan itu menghancurkan bagian depan resort dan api dan asap menggulung tinggi.
__ADS_1
.....
Vote and like Sayang..