Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Sudah tahu segalanya


__ADS_3

Kekacauan yang terjadi di pesta malam ini benar-benar membuat pihak keamanan kewalahan. Baku tembak di dalam gedung tak bisa dihindarkan hingga semua orang yang berlarian keluar dari tempat ini sampai trauma ketakutan.


"Patricaaa!!!"


Teriak nyonya Ines di lantai dasar saat melihat Patrica sudah ada ada di genggaman kelompok misterius ini.


Kondisi di dalam gedung cukup sengit dan mendebarkan. Para keamanan yang tadi ikut baku tembak tak bisa berkutik saat Patrica sudah di kecam dengan pistol di pelipisnya.


Wajah wanita itu pucat dengan mata sudah berair membuat tuan Michelle dan nyonya Ines ketakutan. Bahkan, tak ada yang berani bergerak karna pria berpakaian hitam itu memang sudah membunuh satu orang disini dan darahnya sudah banjir di lantai gedung.


"M..mommy!!!" Jerit Patrica benar-benar pucat di tempat.


"Ka..kalian bisa bawa apapun tapi jangan sakiti putriku. Kalian.."


"Kami datang untuk membunuh kaliaan!!" Geram pria itu membuat keadaan semakin runyam.


"K..kenapa? Kami.. Kami tak akan mengusik kalian. Kau.. Kau pergilah jangan sakiti putriku!" Cemas nyonya Ines tapi tuan Michelle sungguh geram karna para pengawal mereka ntah pergi kemana.


"Kalian sudah menghina tuan kami!! Kalian sengaja mempermainkan tuan kami!!"


"M..MOM!!" jerit Patrica saat pistol itu siap meledak ke kepalanya tapi tiba-tiba saja Wesson langsung muncul dari belakang memukul bahu pria itu kuat sampai tersungkur ke depan dan Patrica Wesson tarik ke pelukannya.


"Tuan Wesson!" Gumam nyonya Ines begitu lega melihat Patrica sudah tak ada di bawah maut. Wesson dengan gagahnya menendang tubuh pria berpakaian serba hitam ini lalu mengambil alih pistol pria itu.


"Beraninya kaliaan!!" Geram Wesson menembak brutal ke arah orang-orang misterius tadi yang segera lari dari sini.


Keamanan yang tadi menunggu cela langsung mengejar penyerang handal itu keluar gedung yang sudah kacau balu dan pecahan beling ada di mana-mana.


"Mommy!!"


Teriak Patrica yang berlari langsung memeluk nyonya Ines yang menangis lega karna putrinya selamat dari maut.


"Patrica! Kau.. Kau baik-baik saja, nak?"


"Mom! Aku takut," Cicit Patrica sudah berderai air mata.


Edwald keluar dari balik dinding pembatas belakang dengan Shireen yang ikut di belakangnya. Wesson dan Edwald saling pandang tapi ada rasa puas dan kemenangan di mata mereka.


"Tuan! Apa putrimu terluka?"


"Dia baik-baik saja. Untung tuan muda Wesson begitu cepat mengendalikan suasana menakutkan ini," Jawab tuan Michelle menoleh pada Edwald yang mengangguk datar.


"Kalau boleh tahu, itu musuh dari mana?"


"Ntahlah. Kami juga baru pertama kali mendapat serangan seperti itu dan mendadak para pengawal di luar tak bisa masuk membantu. Ini sangat aneh," Decah tuan Michelle berpikir keras.


Wesson mendekat segera melepas jasnya. Ia membalutkan benda itu ke tubuh Patrica yang masih gemetar takut.


"Bawalah nona pulang. Dia pasti sangat takut akan kejadian ini!"


"Terimakasih, nak! Kau memang pria yang sangat baik," Ucap nyonya Ines tulus pada Wesson yang mengangguk.


"Nyonya! Ini sudah kewajiban ku sebagai seorang laki-laki."


"Tapi, kita baru bertemu dan kau sangat baik. Jika kalian punya waktu, mari berkunjung ke kediamanku. Aku sangat merasa terhormat jika kalian datang!" Ucap tuan Michelle segan dan sangat hangat.


Shireen sungguh muak. Wajah cantiknya sudah mendingin 100% melihat bagaimana kelicikan dan keburukan manusia kejam ini.

__ADS_1


"Nona Shireen! Apa kau baik-baik saja?" Tanya nyonya Ines karna Shireen sedari tadi diam.


"Yah, aku baik!"


"Maafkan soal pesta ini. Kami tak bisa menjaga keamanan kalian!" Sesalnya tapi Shireen tersenyum kecut melirik Edwald.


"Ini bukan kesalahan kalian. Terkadang tipu daya itu sangat nyata."


"Maksud, nona?" Bingung nyonya Ines hingga Shireen ingin menyahut tapi Edwald menyela nafasnya.


"Bisa saja ini penyerangan dari musuh kalian!"


Ucap Edwald tegas membuat tuan Michelle dan nyonya Ines saling pandang.


"Kami tak punya musuh. Selama ini tak ada yang berani mengusik."


"Musuh tak selalu datang sebagai ancaman. Seperti yang istriku katakan tadi," Jawab Edwald pada tuan Michelle tapi ia melirik Shireen yang hanya membuang wajah.


"Maksudmu ada yang memusuhi kami dalam diam?"


"Hm. Berhati-hatilah," Jawab Edwald melihat jam di pergelangan tangannya. Ini sudah cukup larut dan mereka harus pergi.


Edwald menatap Wesson yang mengerti. Ia pamit pada tuan Michelle dan nyonya Ines yang sudah sangat menerima mereka.


"Kami akan pulang. Terimakasih atas pestanya!"


"Tidak. Kami yang harus berterimakasih. Kami sangat menantikan kunjungan kalian," Ucap tuan Michelle sangat berharap.


Wesson mengangguk dan melangkah pergi diikuti Edwald dan Shireen yang sungguh tak suka disini. Keadaan gedung yang kacau dan ada satu korban yang tewas di tempat membuatnya ingin memaki Edwald dan anggotanya.


"Demi rencana ini kau membuat satu orang tak bersalah tiada. Apa kalian memang tak punya hati nurani, ha?"


"Kau sudah tahu jawabannya," Gumam Edwald berjalan lebih cepat mendekati Wesson yang sudah menuruni tangga.


"Steen! Rencanamu berhasil. Tapi, aku rasa Patricia menyukaimu!"


"Ini bukan peranku lagi," Jawab Edwald seperti biasa selalu menjengkelkan.


Wesson menoleh pada Shireen seraya memelankan langkahnya. Ia tersenyum karna sangat senang melihat wanita itu ikut ke sini.


"Shi! Apa kau ingin jalan-jalan?"


"Kemana?" Tanya Shireen seadanya. Wesson berhenti menyamakan langkahnya dengan Shireen sementara Edwald sudah lebih dulu melenggang ke arah lobby.


"Akan ku tunjukan pemandangan indah kota Verona. Tentu tak kalah bagus dari kota lain di sini."


"Baiklah, aku setuju," Sanggup Shireen membiarkan Wesson menggenggam tangannya dan berjalan ke arah lobby dimana Cooper dan Mersi sudah menunggu.


Media yang tadi meliput kejadian masih bertugas tapi untung saja mereka tak melihat mereka di lobby.


"Tuan!"


Sapa Mersi tapi tatapan tak sukanya tertuju pada Shireen yang paham tapi ia acuh.


"Aku akan membawa mobil!"


"Tuan. Ini sudah malam, cuaca di luar juga tak stabil karna dingin. Aku.."

__ADS_1


"Aku mengerti," Sela Wesson mengambil alih kunci mobil dari Mersi.


Ia mengiring Shireen ke mobilnya berpapasan dengan Edwald yang berdiri di samping mobilnya sendiri.


"Steen! Kau pergilah dulu. Malam ini aku tak pulang!"


"Maksudmu?" Syok Shireen merasa ambigu dengan ucapan Wesson tapi pria ini tersenyum.


"Jangan salah paham. Aku akan menunjukan banyak keindahan malam ini. Jika tak sempat ke penginapan kita akan pergi ke apartemen. Hm?"


"T..tapi.."


"Masuklah!" Pinta Wesson membuka pintu mobil hingga terpaksa Shireen masuk. Tapi, sebelum itu ia sempat menoleh pada Edwald yang hanya membisu di tempat.


Cooper-pun hanya bisa diam membiarkan Wesson membawa mobil itu keluar dari lobby. Ia yakin Edwald tak akan tenang tapi apalah daya dirinya.


"Kau pergilah!" Pinta Cooper lada Mersi yang segera pergi dari sini.


"Steen! Kau yakin tak ingin membuntuti mereka?!"


"Untuk apa?!" Tanya Edwald dingin masuk ke dalam mobil. Cooper mengernyit tapi segera menaikan bahu acuh juga ikut masuk ke mobil.


Sementara di dalam mobil sana. Wesson sedari tadi diam tak seperti biasanya. Ia fokus mengemudi dengan wajah terlihat dingin dan aneh.


Shireen yang duduk di sampingnya jadi bingung dan heran. Ada apa dengan pria ini?! Ia tak biasa dengan suasana seperti ini apalagi semua keindahan jalan yang terlihat tak lagi berarti di matanya.


"Ada apa? Kau butuh sesuatu?"


"Kau tak ingin mengatakan apapun?" Tanya Wesson tapi masih belum menatap Shireen yang sungguh jatuh dalam kebingungan.


"Maksudmu apa? Aku tak mengerti, Wesson!"


"Sampai kapan kalian akan merahasiakan ini?" Tanya Wesson menghentikan mobil. Kedua tangannya meremas kemudi dengan mata begitu marah dan kecewa.


Shireen benar-benar tak tahu apa yang di maksud Wesson sampai ia ingin menyangga sesuatu.


"Maksudmu apa? Aku.."


"Kau dan Steen suami istri secara SAAH, bukan??"


Duaarr...


Shireen syok mendengar geraman Wesson yang memandangnya penuh luka. Mata kekecewaan dan seperti tak menerima ini.


"Kau dan dia sudah menikah! Kau putri keluarga Harmon dan kalian suami istri!! Benarkan??"


Shireen mematung. Mulutnya seakan terkunci rapat dan tubuhnya kaku disengat oleh keterkejutan.


Wesson mengusap wajahnya kasar lalu kembali menatap Shireen yang masih membisu.


"Kenapa?? Kenapa kau melakukan ini, haa?? Aku.. Aku sangat mencintaimu. Tapi.."


Wesson tak bisa berkata-kata lagi. Ia merasa seperti pria paling bodoh di dunia ini. Padahal sebelumnya sudah jelas jika Edwald sangat dekat dengan Shireen walau keduanya kerap bertengkar.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2