
Pagi ini semua orang sudah hadir di kediaman. Apalagi, Cooper yang tadi sudah datang menyembunyikan peristiwa semalampun juga ada.
Yang mengejutkan mereka adalah, wanita itu merupakan putri pertama dari keluarga Yehans salah satu petinggi desa Casthillo yang tengah sangat terkejut mendengar kabar kematian putrinya.
Tuan Yehans langsung berhadapan dengan kakek Bolssom bersama ketua balai desa Roem yang tak menyangka ini akan terjadi.
"Kenapa bisa begini?? Kau apakan putriku hingga dia tiada di perkebunan milikmu??" Histeris ibu dari wanita itu pada kakek Bolssom yang diam berdiri di hadapan semua orang.
Tuan Yehans juga sudah marah besar pada kakek Bolssom apalagi, kematian putrinya sama sekali tak jelas.
"Kenapa?? Apa salahnya pada kalian, haa??"
"Tenanglah dulu," Segan tuan Roem pada wanita paruh baya ini tapi keadaan sudah tak baik-baik saja.
"Bagaimana aku bisa tenang?! Putriku tiada dan kalian telah membunuhnya!!"
"Kami sama sekali tak tahu tentang kematian putrimu," Tegas Onand bawahan kakek Bolssom yang juga sempat terkejut akan berita ini.
"Kamu baru tahu sekarang saat kalian datang kesini. Kami juga bingung dengan apa yang terjadi," Imbuhnya menengahi.
Cooper yang ada di belakang kakek Bolssom diam. Ia semalam berubah pikiran. Cooper dan rekannya kembali meletakan mayat itu di perkebunan kakek Bolssom karna menduga hal ini akan terjadi esok hari dan benar saja dugaan mereka.
"Jika ini semua tak ada hubungannya dengan kalian, lalu kenapa putriku bisa tiada disana? Haa??"
"Tak mungkin juga kami membawa putrimu ke perkebunan hingga tiada di sana, nyonya!" Sahut Cooper mulai beradu argumen.
Edwald dan Shireen masih belum kembali dari rumah singgah hingga ia harus mengambil alih keadaan ini.
"Apa maksudmu?" Tanya tuan Yehans pada Cooper yang tenang.
"Logikanya, putrimu tiada di perkebunan saat longsor terjadi. Apa mungkin kami menyuruhnya ke sana? Atau dia datang sendiri?"
Semua orang mulai saling pandang termasuk beberapa warga yang tadi ikut berkumpul karna mendengar kabar buruk ini.
"Benar yang dikatakan pemuda ini. Untuk apa putrimu ke perkebunan kakek Bolssom?! Mereka juga tak ada yang mengundangnya, para pekerja disana-pun tak tahu kalau putrimu juga ada di perkebunan yang sama. Jadi, kenapa putrimu bisa kesana?" Tanya Roem pada tuan Yehans yang seketika diam.
"Dan semalam, ada seorang pekerja yang ingin mencelakai pekerja lain. Dia sudah meninggal dunia terbawa longsor. Kasus ini juga masih misterius," Imbuh salah satu pekerja yang semalam ikut hadir menyaksikan tragedi kelam itu.
Semua orang jadi kebingungan. Mana yang harus di percaya dan apa kebenaran di balik ini semua.
"Nyonya, tuan! Bisa saja putrimu tiada karna badai semalam. Bahkan, tuan Edwald juga sempat terbawa longsor tapi syukurlah dia bisa selamat. Aku mohon jangan mengiring opini orang lain menjadi buruk," Ucap Onand menengahi masalah ini.
Raut wajah tuan Yehans dan istrinya jelas tak puas. Mereka masih percaya jika putrinya dibunuh apalagi mereka memang tak punya pandangan baik pada kakek Bolssom yang merupakan pesaing anggur di ladang mereka.
"Kami tak percaya! Ini harus di tangani oleh pihak kepolisian karna aku yakin, putriku di bunuh oleh orangnya," Sarkas tuan Yehans kekeh membawa kasus ini ke ranah hukum.
Kakek Bolssom mengambil nafas dalam melirik nenek Rue yang sedari tadi resah melihat banyak masalah yang tertuju pada mereka.
__ADS_1
"Kalian harus bertanggung jawab!! Terutama kau Bolssom!!"
"Jangan sembarangan menunjuk wajah kakekku!!"
Suara tegas dari belakang sana membuat perhatian mereka teralihkan. Nenek Rue lega melihat Shireen dan Edwald baik-baik saja melangkah masuk ke area perdebatan ini.
"Shireen! Nak, aku sangat senang saat melihatmu tak terluka."
"Nek! Aku baik-baik saja," Jawab Shireen sudah dibaluti terusan kasual selutut lengan panjang.
"Nona Shireen! Kau kemana saja? Kau pasti tahu soal kematian putriku, bukan?"
"Putrimu?" Tanya Shireen sempat syok langsung melirik Edwald yang hanya tenang sedia dengan wajah datarnya.
"Yah. Dia sudah tiada tepat di perkebunan kakekmu. Pasti ada yang sudah melukainya!!" Histeris istri tuan Yehans yang tak bisa membendung air mata kepiluan.
"Untuk apa dia datang ke perkebunan kakekku?"
"Bisa saja saat itu dia hanya ingin melihat-lihat. Tapi, .."
"Tapi, apa tak ada waktu lain, ha?" Sela Shireen tegas tak mau kakeknya jadi sasaran. Berarti wanita itulah yang sudah berniat jahat pada keluarganya.
"Apa wajar dia berkeliling di tengah badai apalagi itu ladang anggur kakekku, seharusnya jikalau memang ingin berjalan-jalan di tengah badaipun, dia akan pergi ke ladangmu, bukan?" Imbuh Shireen bijaksana dan teliti.
Edwald menikmati wajah serius Shireen yang sangat cantik dan berkharisma. Ia mengambil sikap begitu tegas membuatnya gemas.
"Silahkan lapor ke polisi! Tapi, jika sampai putri kalian yang salah aku tak akan segan membawa kalian ke dalam penjara!!" Tegas Shireen membuat tuan Yehans dan istrinya pucat.
"T..tidak bisa begitu. Jelas-jelas kalianlah yang berusaha menutupi kejadian ini," Sangganya tak mau kalah.
"Jika kami memang ingin menyembunyikannya, mayat putrimu tak akan ada di perkebunan kakekku. Aku harap kau lebih bijaksana tuan Yehans," Tekan Shireen.
Suami istri itu tak bisa lagi berkata-kata. Niat hati ingin memojokkan kakek Bolssom tapi malah mereka yang terkena masalah.
"Pergi dari sini! Jika ingin melapor ke pihak berwajib maka pergilah. Aku atas nama Kakekku, juga akan maju melawan kalian!"
"Kau baru datang kesini tapi, sudah seperti pemilik desa ini," Sarkas istri tuan Yehans ingin mendorong bahu Shireen tapi sayangnya bumil ini lebih dulu menepis tangan wanita itu.
"Kau ingin berbuat kasar, hm?" Geram Shireen hingga tuan Yehans segera menarik istrinya penuh rasa marah pergi dari sini
Tuan Roem hanya bisa memandang suami istri itu dengan lega. Akhirnya masalah ini tak berlarut-larut sampai membawa ke ranah hukum.
"Nona Shireen! Terimakasih atas bantuanmu."
"Tak apa. Ini menyangkut kakekku dan aku ingin pria yang mencelakai para pekerja kebun kakekku bisa di selidiki oleh petinggi desa," Jawab Shireen dan langsung diangguki tuan Roem
"Baiklah, kami pergi! Maaf sudah menganggu kalian."
__ADS_1
"Aku mengerti," Jawab kakek Bolssom membiarkan orang-orang dari balai desa pergi begitu juga beberapa warga yang tadi mendekat kesini.
Tinggallah mereka berlima dimana kakek Bolssom terlihat menatap Edwald dengan pandangan tajam tapi lebih hangat dari kemaren.
"Terimakasih sudah membantu orang-orangku," Ucapnya pada Edwald dan itu membuat Shireen tersenyum tipis melirik Edwald yang hanya diam.
"Yah. Jika bukan karna kau pasti banyak hal buruk yang akan terjadi. Kau juga membantu hasil panen kali ini tak gagal total, nak!" Imbuh nenek Rue lebih bersahabat dari sebelumnya.
Shireen sangat bahagia dengan hal ini. Ia tak bisa menyembunyikan senyum gembiranya sampai Edwald memberi kedipan kecil hingga pipi Shireen langsung memanas.
"A.. Kek! Bagaimana kalau kita rayakan hari ini dengan makan atau minum?"
"Kau tak boleh minum alkohol," Tegas Edwald tapi Shireen menggeleng.
"Aku tak minum," Jawab Shireen dan diangguki nenek Rue.
"Kau tak perlu cemas. Shireen memang tak suka minum alkohol jadi dia biasanya hanya minum jus atau buahnya saja."
"Setuju!!" Sambar Cooper yang sudah mencicipi nikmat anggur perkebunan kakek Bolssom. Jika di jadikan read wine akan bertambah luar biasa nikmat.
"Baiklah. Kita masuk ke dalam. Aku akan siapkan hidangannya!" Semangat Shireen mengiring nenek Rue ke dalam diikuti kakek Bolssom kecuali Cooper dan Edwald.
Melihat tak ada lagi orang disini, Cooper segera bicara hal penting pada Edwald.
"Steen! Ada kabar dari markas."
"Katakan!" Titah Edwald menunggu.
"Klan META yang pernah menyerangmu itu sudah tertangkap dan sekarang mereka di bawa ke negara lain," Jelas Cooper menyimpan rasa cemas.
Jika META tertangkap maka akan mudah menemukan GYUF apalagi Edwald sudah tak ada di sana.
"Tuan Wesson untuk sementara menghentikan bisnis karna khawatir jika META akan bekerja sama dengan mereka menyergap GYUF."
"Ini hanya akan damai sementara," Gumam Edwald yang sudah menduga jika META lambat laun akan tertangkap.
Kesempatan untuk menghindar dari ranah hukum akan semakin meruncing apalagi, META memang sudah tahu dimana markas dan tempat-tempat yang biasa GYUF jadikan ladang bisnis.
"Apa yang harus di lakukan? Steen! Ini juga akan membuat kau dalam masalah. Tak mungkin kau kembali lagi ke GYUF sedangkan Shireen membutuhkanmu disini," Resah Cooper sedari tadi sangat pusing.
Edwald hanya tetap dalam ketenangan. Ia belum menemukan solusi untuk ini karna jika pindah-pun keadaanya tak akan semudah itu.
"Cobalah bicara dengan Shireen! Aku yakin dia akan mengerti," Ujar Cooper tapi Edwald hanya diam memilih untuk segera masuk ke dalam kediaman.
....
Vote and like sayang
__ADS_1