
Di bangunan pribadinya. Edwald tak menghiraukan Kimmy yang mempermasalahkan soal Shireen. Ia bertanya dengan marah, kenapa ada Shireen disini? Untuk apa Edwald membiarkan Shireen masuk ke wilayah GYUF dan apa mereka masih berhubungan?!
"Edwald! Jawab pertanyaan ku!!" Teriak Kimmy tak bisa menahan rasa cemburunya sampai Edwald yang ingin masuk ke dalam rumah pribadinya ini terhenti.
"Kenapa kau diam, ha? Kenapa Shireen disini dan.."
Ucapan Kimmy terhenti kala Edwald berbalik dengan tatapan menakutkan. Kimmy mulai gugup dan pucat di tempat karna sadar ia sudah menyulut kemarahan Edwald.
"M..maksudku, dia bisa saja membalas dendam pada kalian! Dia bukan wanita sembarangan," Cemas Kimmy menunjukan kekhawatirannya akan keberadaan Shireen.
Saat Edwald masih membisu, Kimmy segera mendekat tapi ia tak berani menginjakan kakinya ke teras depan karna memang Edwald tak pernah mengizinkannya masuk ke dalam selama ini.
"Shireen pasti akan membalas-mu, dia tak akan tinggal diam, Edwald!"
"Lalu?" Tanya Edwald tenang tanpa ada arti yang mengejutkan.
Respon Edwald seakan-akan sudah tahu hal itu dan bahkan menantikannya. Tentu Kimmy bingung, apa sebenarnya isi kepala Edwald sekarang?!
"Dia akan menjadi masalah nantinya. Kau tak bisa mengabaikan wanita seperti Shireen!"
"Itu bukan urusanmu," Tegas Edwald menekan pandangannya.
Kimmy diam. Ia mengambil nafas dalam menormalkan suasana hatinya untuk tak lagi berdebat seperti ini.
"Abaikan masalah ini. Aku sangat merindukanmu!"
"Mulai sekarang, jangan temui aku!"
Degg..
Kimmy terkejut mendengar pernyataan Edwald yang sudah masuk ke dalam sana. Ia menggeleng untuk menepis makna tajam dari kalimat itu.
"Edwald!! Kau.. Kau bicara apa?? Kau tak bisa memutuskan hubungan kita!!" Bantah Kimmy mendekati pintu dan menggedor kayu mahal ini.
"Edwald!! Jawab aku!!! Kau tak bisa melakukan ini!!" Teriak Kimmy sampai terdengar tembakan dari dalam melewati cela pintu.
"Edwaald!!"
Kimmy memekik kala ia nyaris terkena timah panas itu. Kakinya gemetar melihat bekas tembakan Edwald di pinggir pintu ini bahkan nyaris menembus perutnya.
__ADS_1
"K..kau.."
Ia sampai terduduk di lantai dengan perasaan takut. Wajahnya benar-benar sudah pucat memandangi pintu di hadapannya terbuka memperlihatkan Edwald yang lagi-lagi menunjukan wajah dinginnya.
"Kau dan aku tak punya hubungan yang spesial! Jangan membuat aku lupa jika kau adalah BUDAKKU, hm?" Kejam Edwald langsung menjatuhkan harga diri Kimmy yang selama ini begitu mengaguminya.
"Tapi.. Aku.."
"Aku tak membutuhkanmu!" Tegas Edwald memang sudah tak ada hasrat untuk melakukan hal semacam itu lagi. Ia masih normal bahkan sangat normal. Tapi, setiap hasratnya muncul maka yang ada di kepalanya itu hanya satu orang dan itu bukan Kimmy.
Merasa di campakkan oleh Edwald, Kimmy segera bangkit. Matanya terkobar amarah tapi lebih pada tak terima atas keputusan Edwald.
"Tidak bisa. Aku..aku akan melakukan apapun, aku.."
"Kau ingin mati disini?" Tanya Edwald menodongkan senjatanya ke arah Kimmy yang seketika langsung berbalik pergi.
Edwald hanya memandang datar. Ia menurunkan pistol di tangannya lalu memandang ke arah bangunan pribadi milik Wesson.
"Kau benar-benar sudah mengambil alih semuanya," Gumam Edwald mengambil nafas halus.
Tapi, siapa sangka jika sedari tadi ada seseorang yang melihat dari kejahuan kejadian tadi. Seorang wanita cantik dengan aura dewi itu berdiri di balik pohon yang tak jauh dari kediaman Edwald.
"Kenapa harus seperti ini?!" Gumam Shireen merasa begitu kacau. Ia bersandar ke pohon dengan perasaan campur aduk.
Kenapa kau harus berkhianat?! Aku sudah begitu mencintaimu bahkan apapun aku berikan tapi,.. Tapi kenapa kau melakukan ini padaku?!
Jeritan batin Shireen yang tak menampik jika Edwald memang sudah ada di hatinya. Untuk pertama kali ia merasakan jatuh cinta tapi kenapa harus sepahit ini?!
"Jika waktu bisa berputar. Aku memilih untuk tidak tak ada di dunia ini," Gumam Shireen mengusap air mata di pipinya lalu membekap wajahnya sendiri.
Angin berhembus halus mengiring kesedihan Shireen tapi menerpa seseorang yang bersandar di balik pohon yang sama.
Shireen tak menyadari jika Edwald juga bersandar di belakang sana dengan mata terpejam dengan pose satu kaki memijak ke belakang dan kedua tangannya ada di saku. Ntah bagaimana mana ia bisa disini tapi tak aneh jika itu Edwald.
"Aku tak tahu harus menahan ini berapa lama. Aku ingin membalas semua rasa sakit yang kau berikan tapi apa aku akan senang? Apa aku akan puas setelah membalasnya?" Isak Shireen meremas dadanya sendiri.
Sungguh, bertemu dengan Edwald kembali adalah siksaan yang nyata. Ia mencoba melawan diri sendiri dan melampaui hati untuk tak kembali ke posisi awal dan berusaha keras untuk jangan menoleh ke belakang tapi, .. Ia terjebak dalam kisah cinta yang selalu memberontak setiap berhadapan dengan pria itu.
"A...aku ..aku ingin melepaskan semuanya! Aku tak ingin mengingat apapun lagi," Gumam Shireen dapat di dengar jelas oleh Edwald yang ikut merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Tapi, ia adalah orang yang realistis dan tak pernah mau menyesali apapun.
"Aku harap. Di kehidupan berikutnya aku tak akan bertemu denganmu lagi!"
Ucap Shireen lalu pergi setelah melepaskan keluh kesah hatinya. Ia pergi memasang wajah tegar tapi siapa sangka itu semua hanya topeng.
Edwald diam membisu. Ia membuka matanya menyorot langit yang mulai berganti warna. Lampu-lampu di sekitar sini pun sudah hidup menambah kesunyian Edwald yang melayang jauh.
Sedetik kemudian senyum tipis hangat itu muncul. Ia tahu jika di dalam hidupnya hanya ada sebuah rencana dan keberhasilan misi dan Shireen adalah sebuah anugrah yang sempat hadir walau hanya sekejap tapi mahal.
"Aku berharap akan bertemu denganmu di kehidupan berikutnya tapi tidak di posisi ini," Gumam Edwald mengambil nafas dalam lalu pergi ke kediaman pribadinya.
Menjelang kepergian Edwald tiba-tiba saja ada Nattha yang datang ke arah kediaman Wesson. Yang jadi masalahnya adalah Suma ikut dengan wanita itu.
"Tuan! Aku melihat jika dia keluar dari kamarmu. Saat aku masuk kau sudah tak sadarkan diri, aku juga melihat jika dia pasti melakukan sesuatu yang buruk padamu" Provokasi Nattha sedari tadi membuat Suma berpikir.
Saat sampai di depan kediaman pribadi Wesson, Nhatta segera menggedor pintu karna ia tahu Wesson tak disini.
"Wanita sialaan!! Keluar kauu!!" Geramnya tapi Suma masih mencoba mengingat-ngingat kejadian apa yang ada di dalam kamarnya sebelum ia lelap.
"Wanita liciiik!! Kauu.."
Suara Nattha terhenti saat Shireen sudah membuka pintu. Mata sembab dan wajah suramnya seperti baru saja selesai menangis.
"Tuan!"
"Shi! Apa kau.."
"Kau yang sudah membuat tuan tak sadarkan diri, bukaan??" Sela Nattha sudah emosi setengah mati.
Shireen diam sesaat melihat Suma yang juga memandang intens mencari kebenaran dari mata sembabnya.
"Lihat!! Dia diam, dia pasti sudah melakukan kelicikan. Tuan!"
"Apa benar kau merencanakan sesuatu?" Sarkas Suma pada Shireen yang masih diam membuat seringaian Nattha meruak.
"Aku akan membunuhmu!" Geram Nattha membuat keributan dengan Shireen yang hanya diam ntah apa rencananya siapa yang akan tahu.
....
__ADS_1
Vote and like Sayang..