
BADAN INTELEJEN MILAN ITALIA..
....
Gedung tinggi dengan kemegahan dan keperkasaan itu berdiri di tepi jalan utama yang masih di padati kendaraan tapi sangat teratur. Terjadi mobilitas para anggota dapartemen yang keluar masuk kantor utama yang terlihat sangat sibuk.
Satu mobil dari arah jalan sana melaju stabil masuk ke gerbang lebar di depan bangunan gagah dengan logo team mereka yang terpampang nyata di muka gedung.
Semua orang seketika berbaris membiarkan mobil itu berhenti di lobby gedung dimana satu petugas penjaga disini mendekat.
"Jenderal!" Sapanya berdiri di dekat mobil. Bawahan sosok berpengaruh di dalam sini keluar dan membuka pintu mobil mahal itu.
Mereka semua berdiri tegap membiarkan sosok penting dari dalam mobil itu keluar. Seorang pria paruh baya memakai seragam pimpinan tinggi kantor ini muncul dengan hawa berkharisma dan tegap menguar.
"Jenderal!" Sapa mereka dan jenderal Adison hanya mengangguk berjalan masuk ke dalam gedung ini dan barulah mereka melanjutkan aktifitasnya.
Refalls yang merupakan bawahan setia jenderal Adison selalu mendampingi pria itu pergi ke area ruangan belakang gedung dimana tempat itu menjadi tahanan khusus bagi para kriminal yang masih belum di tuntaskan.
Keduanya berjalan tegas ke sana dan para penjaga disini sama sekali tak curiga dengan kunjungan dari jenderal Adison yang memang sering memeriksa ruang tahanan di belakang.
"Apa ada yang datang sebelumnya?" Tanya jendral Adison pada Refalls yang selalu memantau tempat ini.
"Tidak, jendral! Tahanan disini selalu di jaga ketat dan hanya petugas-petugas tertentu yang kau pilih bisa masuk."
"Hm, bagaimana dengan Licnus?" Tanya jenderal Adison sesekali mengangguki sapaan para anggota yang berderet di sepanjang lorong menuju ruang tahanan.
Saat tiba di satu pintu besi tanpa cela yang di jaga dua aparat itu. Jenderal Adison memerintahkan mereka pergi setelah membuka kuncinya.
"Jangan biarkan siapapun masuk kesini!"
"Baik!" Jawab Refalls berjaga di depan pintu dan membiarkan jenderal Adison masuk. Didalam sini ada 4 pintu besi tanpa jendela satupun.
Jenderal Adison memilih berhenti di pintu kiri paling ujung. Ia melihat di sekelilingnya lalu mengeluarkan kunci besi yang ada di dalam sakunya.
Jenderal Adison membuka pintu ini hingga terlihatlah seseorang yang duduk di atas lantai tanpa alas bahkan disini hanya ada satu kamar mandi dan gantungan beberapa baju yang selalu di ganti para petugas suruhannya.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Jenderal Adison pada sosok kekar nan gagah yang tengah selonjoran dengan satu kaki di tekuk menopang lengan kekarnya yang tampak semakin gagah saja.
Pria tanpa atasan itu mulai mengangkat pandangannya ke arah jenderal Adison. Wajah tampan yang dulu tampak bersih sekarang sudah di tumbuhi jambang yang cukup tebal dengan rambut panjang tak begitu terurus.
Tapi, aura dewasa dan ketampanannya jadi punya khas tersendiri dilengkapi manik hijau tajam yang tak pernah berubah.
"Kau masih nyaman disini?"
"Apa sudah cukup?" Tanyanya datar tanpa ekspresi yang berlebih. Jenderal Adison mengambil nafas dalam. Ia menutup pintu itu kembali lalu melihat kondisi ruang tahanan ini.
Hanya ada fentilasi di dinding paling atas itupun diberi jaring besi yang tak akan bisa di sobek begitu saja.
Cahaya mentari dari luar-pun hanya masuk seukuran fentilasi itu dan sirkulasi udaranya tak cukup baik.
"Sudah selama ini dan kau tak berniat keluar secara paksa?"
"Jika aku ingin, itu sudah lama terjadi," Jawaban angkuhnya santai dan selalu saja mendominasi.
Jenderal Adison hanya bisa mengambil nafas dalam. Sudah bertahun lamanya namun, pria ini masih tetap saja sulit untuk di pahami.
Ucap tegas jenderal Adison membuat pria itu diam sejenak memejamkan matanya. Satu tangannya yang di topang lutut itu mengepal seperti memikirkan sesuatu yang selama ini selalu menjadi kekuatan baginya..
Jenderal Adison tahu apa yang ada di kepalanya bahkan, pria paruh baya inilah yang telah melakukan apapun bahkan melanggar prinsip hidupnya hanya demi sang putra.
"Kau takut jika aku akan meminta balas budi?"
Sosok itu hanya diam. Ia seperti tak ingin meladeni jenderal Adison yang selalu berwajah datar setiap memandangnya. Mereka bukan seperti ayah dan anak tapi musuh lama.
"Tenang saja. Aku tak akan menuntut banyak hal."
"Banyak sekalipun aku tak akan memenuhinya," Datar pria itu acuh dan tak sudi. Jenderal Adison tak memasukannya ke dalam hati karna ia tahu bagaimana karakter dan watak pria ini.
.........
KEDIAMAN SHIREEN..
__ADS_1
Sesuai dengan ucapan Cooper tadi siang, malam ini ia akan membawa Ealnest keluar untuk BERBURU daddy barunya. Setelah menantikan Shireen tidur, barulah mereka bisa lolos bahkan tak ada satu orang-pun dari kediaman yang sadar jika keduanya sudah keluar.
"Uncle! Kita kemana?"
"Kau pikir dimana tempat para pria kuat?" Tanya Cooper yang sedang melajukan mobil membelah jalan kota New York. Gemerlap malam yang penuh dengan lampu dan kemajuan ini dapat memanjakan mata mereka tapi Cooper membelokan stir mobilnya ke arah kasino yang terpelosok cukup jauh dari jalan utama.
"Uncle! Kita harus cepat. Biasanya mommy akan bangun untuk mengecek kamarku," Desak Ealnest seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
Mereka berdua memakai hoodie, masker dan kacamata agar tak seorangpun tahu siapa mereka sebenarnya.
Tak butuh waktu lama bagi Cooper si pengemudi handal untuk sampai ke kasino tujuannya. Ia memarkirkan mobil di area yang di sediakan lalu menatap Ealnest yang bukan pertama kali lagi datang ke tempat seperti ini.
"Are you ready?"
"Yeah, I always ready!" Jawab Ealnest menyeringai di balik maskernya. Ia keluar dari mobil diikuti Cooper yang seperti hanya mengawal tuan mudanya saja.
Saat di depan kasino, seharusnya bocah seumuran Ealnest tak di perbolehkan masuk tapi, karna bisikan Cooper ke telinganya mereka menjadi pucat dan segera membolehkan.
Ealneat jadi heran. Setiap ada kendala seperti ini pasti saat Cooper membisikan ke telinga mereka maka, apapun yang menjadi masalah akan terkendali.
"Apa yang Uncle katakan pada mereka?"
Cooper tersenyum miring. Ia dengan santai masuk karna nama GYUF memang telah padam tapi, kebengisannya masih membekas dimanapun.
"Apa yang kau katakan?"
"Hanya nama seseorang," Jawab Cooper membuat Ealnest mendengus. Selalu saja bermain teka-teki yang tak akan ada jawabannya.
Alhasil, mereka kembali fokus berburu dengan sengaja membuat keributan di kasino hingga para pria yang berpenampilan sangar itu bertengkar saling baku hantam.
Tugas Cooper memancing banyak orang kuat datang kesini sedangkan Ealnest menilai, mana saja yang bisa ia ambil untuk di seleksi tahap lanjutan?!
Sebenarnya ini sangat kekanak-kanakan tapi, Cooper hanya ingin menyenangkan Ealnest yang selalu bosan dengan permainan di sekolahnya.
....
__ADS_1
Vote and like sayang