Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Lagi-lagi gagal


__ADS_3

Setelah memastikan keadaan Shireen baik-baik saja. Akhirnya Edwald bisa melanjutkan pekerjaannya. Jika tak seperti itu Edwald tak akan bisa bernafas lega sampai terus meminta  mata-mata yang ia tempatkan disana untuk mengirim semua aktifitas sekecil apapun yang di lakukan Shireen padanya.


Saat di tanya Cooper, kenapa ia melakukan itu?! Edwald tak menjawab karna ia tahu pria pendek ini hanya ingin mengolok-oloknya.


Kharismatik Edwald telah kembali menyelubungi seluruh markas. Sore ini mereka mengadakan perundingan internal para petinggi GYUF yang di hadirkan dari berbagai tempat tugas mereka.


Kinky, pria seumuran dengan Glimer yang bertugas di kota lain juga datang bersama Lady yang merupakan mata-mata mereka di perbatasan daerah kekuasaan GYUF. Semua ketua yang sudah memegang tugas masing-masing datang karna panggilan dari Edwald.


"Aku lega saat tuan kedua akhirnya selamat!"


"Yah, kami sangat senang mendengar berita kesembuhan mu."


Ucap mereka duduk di kursi yang ada di ruangan yang sangat tertutup. Tak ada jendela atau cela melihat dari luar dan hanya fentilasi yang di desain tipis tapi tak menganggu pernafasan.


Edwald hanya mengangguk datar. Di meja persegi panjang terbuat dari batu mahal ini menghadirkan 10 petinggi termasuk Wesaon yang duduk di samping Edwald dan Suma yang sudah berkukuh di kursi kekuasaannya.


"Berita tentang penyerangan di pelabuhan itu sudah sampai ke telinga para musuh yang menunggu cela menyerang kita," Mulai Lady yang sudah memantau daerah lawan lebih dulu.


Berita soal penyerangan itu tengah hangat di perbincangkan di kalangan bawah.


"Tapi, kalian tenang saja. Soal yang terjadi pada tuan Steen tak seorang-pun yang tahu selain dari anggota kita," Imbuhnya lagi tegas.


"Tapi, kita tak bisa terus bersembunyi dari aparat negara-negara yang mengejar GYUF. Apalagi, ledakan malam itu di dengar sampai ke sejumlah daerah di sekitar dan apinya juga terlihat dari arah atas. Ini akan jadi masalah jika kita tak cepat menanganinya," Timpal Kingky membuat mereka semua saling pandang.


Marchus yang merupakan salah satu anggota aparat pemerintahan negara ini terdiam. Ia selama ini selalu menutupi kasus ilegal yang disebabkan anggota GYUF tapi sekarang sepertinya mereka mulai di awasi.


"Tuan! Sepertinya beberapa kepala pemerintahan negara ini sudah mulai curiga denganku!"


"Maksudmu?" Tanya Suma dengan ekspresi wajah tegang begitu juga yang lainnya.


"Yah. Pergerakan kita selama ini sangatlah mulus jadi, tak seorangpun yang tahu jika di masing-masing jabatan negara ini sudah ada anggota kita. Tapi, belakangan ini Jendral militer di sini memperketat pengawasan bahkan terang-terangan memantau kinerja kami!" Jawab Marchus menghela nafas dalam.


Pria paruh baya itu memandang Edwald dengan tatapan yang penuh harap agar masalah ini cepat selesai dan GYUF bisa kembali lancar beraksi.


"Bagaimana menurut tuan Steen?"


"Kami sudah berusaha untuk menutupi jejak ilegal kita tapi, ini tak akan bertahan lama. Apalagi, setelah penyerangan itu banyak pihak lain yang tahu jika GYUF sekarang dimasa pemulihan," Timpal yang lain ikut resah.


Suma menegakkan tubuhnya. Ia sudah menemukan keputusan yang tepat untuk ini.


"Kalian tenang saja. Kita hentikan dulu untuk sementara perdagangan ini dan fokus untuk memperbaiki tatanan GYUF!" Ucapnya dan semua orang diam mempertimbangkan itu.


"Ucapan tuan besar benar. Kita fokus memperbaiki diri dulu lalu baru kita akan kembali beroperasi. Sekaligus rencana ini bisa mengalihkan perhatian pihak-pihak yang ingin menangkap GYUF!" Sahut Marchus dan yang lain mengangguk setuju.


Suma tersenyum kecil. Akhirnya ia bisa mengambil keputusan besar yang perlahan-lahan akan menggeser Edwald dari posisi berpengaruhnya disini.


Aku hanya butuh kepercayaan mereka. Setelah aku sudah sepenuhnya menguasai kepercayaan itu maka, aku akan mudah menggeser mu dari GYUF.


Batin Suma licik. Ia memang memiliki posisi tertinggi disini tapi suara Edwald-lah yang selalu di pertimbangkan tapi, sekarang ia ...


"Aku tak setuju!"


Baru saja Suma berpesta di hatinya tiba-tiba saja sahutan Edwald menambah tegangnya suasana. Semua mata memandang pada wajah tampan datar ini begitu juga Wesson yang mendukung semua keputusan sang adik.

__ADS_1


"Menurutmu bagaimana? Steen!" Gumam Wesson masib janggal dengan daddynya.


Edwald mengambil nafas dalam. Kedua bahunya tegap diposisi angkuh ini.


"Jika menghentikan bisnis sekarang itu hanya akan menambah kerugian!"


"Tapi, keadaan kita akan semakin parah karna butuh anggota dan pasokan bahan siap edar, Steen!" Bantah Suma mempertahankan opininya.


"Yah, jika bisnis ini terus berjalan maka kita akan membutuhkan biaya yang besar dan tenaga kerja yang lebih dari pada sebelumnya. Tapi, jika sampai bisnis ini berhenti satu detik saja maka pasar utama GYUF akan di ambil orang lain," Jelas Edwald menegaskan pandangan dan setiap intonasi suaranya.


Mereka semua saling pandang tampak mulai ragu dengan jawaban yang tadi Suma berikan.


"Di dunia ini perdagangan seperti itu sangat menguntungkan setiap detiknya. Jika lengah, dalam sekejap apa yang pernah menjadi milik GYUF akan jatuh ke wilayah orang lain!"


"Lalu apa solusimu?" Tanya Suma meredam kekesalannya.


Edwald diam menimbang-nimbang dengan matang keputusan ini. Salah langkah maka mereka semua akan mendekam di penjara bahkan siap di hukum mati.


"Tetap lanjutkan bisnis ini seperti biasanya. Produksi bahan dengan stabil. Kita hanya perlu mengubah cara pengedaran dan jalan bisnis kali ini!"


"Bagaimana caranya? Tuan!" Tanya Marchus serius begitu juga yang lainnya.


"Beri ruang pada penjahat kecil untuk berbisnis. Setelah jalan di depan terang, kita menerobos membawa keuntungan besar," Jawab Edwald dengan kata-kata yang sangat tajam.


"Maksudmu, kau ingin menjadikan para pengedar di luar sana untuk bebas menyebarkan barang mereka. Saat semuanya tertangkap maka, giliran kita yang bergerak di belakang mereka," Tebak Wesson dan Edwald mengangguk.


"Yah, dengan menjadikan mereka pengalihan fokus pemerintahan. Maka, kita bisa berjalan bebas dari belakang. Kalian yang bertugas di pemerintahan ini tetaplah serius bahkan bantu mereka menemukan kriminal kecil di luar sana sampai citra kalian kembali membaik dan tak lagi di curigai."


Decah Marchus diikuti yang lainnya. Wesson ikut senang dengan jawaban Edwald yang penuh pertimbangan matang bukan asal sebut belaka.


Dari lirikan netra tajam Edwald ia bisa melihat wajh tak suka Suma. Bahkan, hawa pria ini seperti tak suka dengan pujian yang terus terlontar padanya.


"Kau keberatan, dad?"


"A.. Tentu tidak. Keputusanmu selalu benar dan tak akan membuat kita rugi, nak!" Jawab Suma tersenyum paksa tapi Edwald hanya menunjukan pandangan datarnya.


Setelah membahas taktik dengan detail barulah mereka beranjak pergi karna punya batasan waktu masing-masing.


Di ruangan ini hanya tinggal Suma, Edwald dan Wesson yang juga tengah sibuk melihat beberapa lembar kertas berisi data penjualan mereka minggu ini.


"Kali ini rencanaku gagal. Tapi, maafkan ayah angkatmu ini, Steen! Salahkan kau yang terlalu berbahaya,"


Batin Suma memandang tenang Edwald yang tampak melihat ponselnya.


"Steen! Kau belum meminum obatmu, bukan?"


"Hm. Kenapa dad?" Tanya Edwald menggenggam ponselnya seraya menatap datar Suma yang tersenyum hangat.


Ia menjentikkan jarinya hingga satu pelayan wanita dari luar sana masuk membawa nampan makanan. Ada segelas air putih dan beberapa tablet obat di atasnya.


"Ini! Kesehatanmu belum sepenuhnya stabil. Aku tak ingin kau jatuh sakit seperti sebelumnya,nak!" Ucap Suma mengisyaratkan pelayan itu untuk menyajikan makanan ke meja Edwald yang diam.


Wesson yang melihat ada piring makanan dan

__ADS_1


Beberapa potong buah itu segera menepuk bahu Edwald.


"Makanlah!"


"Yah, makanlah!" Timpal Suma tersenyum hangat. Pelayan wanita itu mundur selangkah di belakang Edwald yang terdiam sejenak mengamati potongan daging dan roti ini.


"Makanlah, nak! Kau pasti kehilangan banyak tenaga," Gumam Suma menyodorkan piring itu lebih dekat dengan Edwald yang seketika menarik sudut bibirnya tipis dengan tenang.


"Dad!"


"Kau ingin makan yang lain?" Tanya Suma sudah tak sabar menunggu Edwald makan. Ia seperti menunggu lotre yang siap panen.


Saat Edwald diam. Wesson akhirnya kesal ingin mengambil satu potongan buah di piring ini tapi Edwald menepis tangannya.


"Kau tak niat untuk makan, bukan? Maka berikan padaku!"


"Makanan ini sudah basi," Gumam Edwald mendorong piring itu ke samping lengannya. Suma segera membantah karna ia pastikan makanan ini baru.


"Steen! Ini masih hangat, kau.."


"Dia memanaskannya kembali!" Sela Edwald dingin.


"T..tuan.. Saya sama sekali tak melakukan itu, saya.."


"Coba makan!" Titah Edwald dan itu membuat Suma tercekat begitu juga pelayan wanita di belakang Edwald yang pucat.


"T..tuan.."


Ia saling tatap dengan Suma yang tak menyangka jika Edwald akan meminta hal ini.


"Nak! Makanan ini masih bagus. Jika kau tak mau maka bisa di ganti."


"Jika daddy tak percaya. Cobalah!" Pinta Edwald mendorong piring itu ke arah Suma yang seketika diam mencari cara untuk mengelak.


Melihat wajah gugup Suma, senyuman iblis Edwald muncul. Ia mengisyaratkan pelayan di belakangnya untuk mendekat dan membungkukkan separuh tubuhnya.


"Tuan! Kau.."


Brakkk..


Wesson dan Suma terkejut sampai bangkit dari duduknya saat Edwald menarik tengkuk wanita itu dan menghantamkannya ke piring tadi.


Edwald menekan mulut pelayan ini kuat hingga makanan yang tadi di antar ke mejanya sudah masuk secara kasar bahkan sangat kejam.


"Steen!" Gumam Wesson sungguh tak ingin melihat ini tapi Edwald hanya diam. Setelah memastikan wanita ini memakannya barulah Edwald berdiri melepas cengkramannya pada pelayan yang tadi ia paksa melahap isi piringnya.


"Lain kali, pastikan apa yang kau berikan padaku itu sudah di persiapkan dengan matang, hm?" Ucap Edwald datar tapi sudut bibirnya tertarik pelit begitu mengerikan bagi Suma yang sampai diam padahal Edwald hanya membahas soal makanan.


Edwald pergi diikuti Wesson yang menatap prihatin pada pelayan ini tapi, ia tak bisa mengendalikan Edwald yang sangat susah di arahkan.


....


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2