Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Melepas rindu sesaat


__ADS_3

Seluruh markas di hebohkan dengan kabar ambigu di area gudang di markas. Mereka menemukan wanita yang berseragam pelayan tewas gantung diri. Yang paling menghebohkan adalah, wanita itu menulis surat sebelum melakukan adegan bunuh diri ini dengan isi yang sangat menyedihkan.


"Tuaan!!! Tuan besaar!!"


Salah satu anggota melapor pada Suma yang tengah ada di depan markas tengah bicara dengan Wesson yang tadi membahas soal penculikan target untuk menggantikan bahan organ yang malam itu hancur.


"Tuan!!"


"Ada apa?" Tanya Suma menaikan satu alisnya heran. Langit yang sudah membayang gelap dan rintikan salju halus yang mulai muncul ini menjadi saksi bisu peristiwa barusan.


"Tuan! Ada mayat wanita yang gantung diri di gudang. Wajahnya sudah hancur dan tak bisa di kenali."


"Apaa??" Syok keduanya saling pandang. Suma segera pergi mengikuti arahan pria di depannya di ikuti Wesson yang tak percaya itu.


"Bagaimana bisa? Itu tak pernah terjadi sebelumnya di markas," Ucap Wesson cemas jika ada musuh yabg sudah masuk ke sini.


"Mayatnya sudah di bawa ke depan, tuan! Kami juga menemukan surat di sana!"


Ucap pria itu berhenti di lapangan tempat latihan anggota GYUF yang sudah berkumpul membuka kalan ke arah mayat wanita yang sudah di tutup dengan kain berwarna putih penuh dengan darah.


Suma berdiri di dekat jasad ini begitu juga Wesson yang mengamati lumeran darah yang menembus kain itu.


"Buka!"


"Baik, tuan!"


Pria tadi menjalankan perintah Suma untuk membuka kain di atas kepala wanita ini. Sedetik kemudian mereka langsung melihat wajah sosok ini seperti sudah dikuliti dengan bagian leher terdapat luka ikatan yang kuat.


Sungguh, jika orang awam melihat ini. Pasti, mereka tak akan bisa makan sampai satu bulan. Untung saja mereka sudah biasa.


"Siapa yang melakukan ini?" Geram Wesson mengepal.


"Tuan! Kami sudah melihat cctv dan tak ada yang mencurigakan. Hanya saja kami menemukan surat yang dia genggam."


Pria itu memberikan secarik kertas lusuh penuh darah kering ke tangan Wesson yang masih bisa membaca tulisan ini.


AKU SUDAH TAK SANGGUP HIDUP DI DUNIA INI. DIA SELALU MEMAKSAKU UNTUK MELAYANINYA DAN MENYURUHKU BERKHIANAT PADA KALIAN. AKU RELA MATI DEMI GYUF DARI PADA BERKHIANAT SEPERTINYA!!


Isi surat ini membuat tatapan Wesson menajam. Suma mengambil alih lembaran merah ini lalu meremasnya kuat.


"BERANINYA MEREKA MELAKUKAN INI!!" Geram Suma tampak emosi.


Tatapannya menyelidiki seluruh anggota disini sampai tak ada yang berani untuk bergerak.


"Siapa yang melakukan ini??? Jika sampai kalian tidak mengaku, akan ku pastikan kalian akan menyesal!!" Imbuh Suma sengit.


"Tuan! Kami tak mungkin melakukan ini. Kami bersumpah!"


"Lalu, siapa?? Jangan membuatku ingin membunuh kalian semua!!" Geram Suma merobek kertas itu dan melemparnya ke udara.


Wesson diam. Kalimat di surat itu pasti di tujukan untuk para petinggi GYUF karna tak mungkin para anggota yang sudah lama mengabdi disini berani berkhianat.


"Sialan!! Jangan sampai pelaku kejadian ini lepas. Dia bisa saja mengancam GYUF yang tengah genting sekarang."


"Dad! Aku rasa ini ada hubungannya dengan petinggi GYUF" Ucap Wesson dan Suma langsung diam dengan nafas memburu.


"Tak mungkin para ketua yang tadi datang. Mereka sudah lama meninggalkan markas ini."


"Jadi.."


"Disini hanya ada kau dan adik-adikmu!" Sela Suma mendengus resah.


Wesson diam sejenak. Glimer sedari tadi memang tak ada di markas sedangkan Edwald ada di ruangan pribadinya.


"Aku akan menyelidki ini!"


"Hm, ntah siapa yang berkhianat seperti di maksud wanita ini?!" Gumam Suma lalu pergi. Wesson menyimak ucapannya barusan dan yang paling Wesson tuju adalah Edwald.


Edwald pernah di sebut pengkhianat karna membiarkan Shireen masuk ke sini. Apa mungkin Steen? Tapi, tak untuk apa?! Apa untungnya menghabisi pelayan?!


Batin Wesson berkecamuk. Ia melangkah pergi menuju ruangan istirahat Edwald yang tadi belum juga keluar dari tempat itu.


.....


Di dalam kamar sana. Edwald tengah bicara dengan Cooper yang sudah menyelidiki, siapa yang di telepon Suma saat itu?! Dan dimana tempatnya. Ia benar-benar bekerja keras dan semangat.


"Steen! Telepon itu terhubung di rumah sakit jiwa di kota Milan. Seseorang yang menelpon saat itu sudah ku tangkap dan digantikan oleh anggota kita."


"Lalu?" Tanya Edwald melihat foto-foto orang yang berhubungan dengan Suma di rumah sakit itu.


Rata-rata mereka adalah dokter handal dan untuk apa Suma bekerjasama dengan orang-orang ini di belakangnya?!


"Untuk sementara pria itu belum sadarkan diri. Kita akan mendapat informasi lebih saat dia sudah siuman. Tapi, sepertinya ada seseorang yang di sekap disana dan Suma tak ingin sosok itu keluar sekarang."


Edwald diam. Selama ini ia terlalu santai sampai tak memperdulikan gerak-gerik Suma yang semakin mencekik hidupnya. Pria itu berani melakukan pembunuhan padanya dan berusaha menggeser kedudukan di mata pimpinan lain.

__ADS_1


"Dia pasti punya rencana yang besar!"


"Rencana apa?"


Edwald diam saat mendengar sahutan di depan pintu. Wesson sudah berdiri di sana hingga Cooper terkejut seketika gugup karna ia lupa mengunci pintu.


"Rencana apa? Kenapa kau diam?"


"Tidak ada. Kami membahas soal GYUF!" Sahu Cooper mencari aman tapi Wesson memandang tajam ke arahnya.


"Aku tak sedang bicara denganmu," Tegas Wesson mendekati Edwald yang hanya tenang duduk di sofa singel ini dengan kedua kaki topang tindih angkuh.


Ia membiarkan Wesson duduk berhadapan dengannya. Ekspresi pria ini cukup berbeda dari biasanya.


"Steen! Apa yang kau rencanakan?"


"Apa perlu ku beri tahu?" Tanya Edwald berintonasi datar.


Wesson diam sejenak tapi jelas ia tak nyaman dengan rencana yang selalu berlambang tanya di benaknya.


"Kau jangan bermain di belakang. Jika ini masalah GYUF maka, aku juga berhak tahu."


"Ada apa?" Tanya Edwald yang paham jika Wesson tak sedang baik-baik saja. Biasanya pria ini tak akan mendesak untuk tahu segala hal.


"Baru saja terjadi peristiwa janggal! Seorang pelayan gantung diri di gudang dengan keadaan yang nyaris dikuliti."


"Apa??" Syok Cooper tapi Edwald hanya diam tak menunjukan ekspresi lebih. Tentu saja Wesson agak curiga karna Edwald menunjukan reaksi ambigu.


"Steen! Dia juga menulis surat sebelum kematiannya. Ada seseorang yang mengajaknya berkhianat sama seperti orang itu tapi dia memilih mati. Dan.."


"Dan kau menduga itu aku?"


Sela Edwald menaikan satu alisnya menukik tajam dengan sorot mata dingin yang sulit di hindari. Wesson akhirnya membisu pertanda ada keraguan di sana.


"Aku tak tahu. Tapi, petinggi disini hanya ada aku, kau dan Glimer!"


"Suma tak termasuk?" Tanya Edwald dan diangguki Cooper yang setuju.


"Yah, apa dia tak petinggi disini?"


"Jadi, kau menuduh daddy?" Tanya Wesson terlihat tak percaya hal itu.


Edwald diam begitu juga Cooper yang sangat geram. Pasti, Suma memanfaatkan Wesson agar bisa menang.


Kecewa Wesson yang seperti tak terima. Ia berdiri memandang Edwald penuh dengan keheranan.


"Steen! Walaupun daddy tak menyetujui hubunganmu dan Shireen tapi, dia tak akan bertindak seburuk ini!!"


"Kau tak mengerti," Jawab Edwald berdiri hingga pria dengan tinggi begitu sempurna ini mampu membuat Cooper iri.


Keduanya saling tatap tajam dan Edwald tak segan untuk menunjukan jika ia tak seratus persen percaya pada Suma.


"Ada apa denganmu?" Gumam Wesson kecewa. Ia tak menerima apa yang Edwald katakan barusan karna ia yakin dan percaya jika daddy nya tak akan menghancurkan GYUF.


Lama berhadapan dengan opini berbeda seperti ini, akhirnya Wesson memilih pergi. Edwald segera mengambil nafas dalam kembali duduk di posisinya pertama.


"Steen! Suma sangat licik. Dia memanfaatkan tuan Wesson untuk mencurigai mu. Pria tua yang menyedihkan," Geram Cooper tapi Edwald hanya membisu bersandar ke punggung sofa dengan mata terpejam.


Pikirannya sekarang sangat berat sampai kepalanya terasa sakit. Apalagi, kondisi Edwald masih belum pulih dan perlu ketenagan.


Cooper tahu Edwald tengah berpikir. Kesunyian ini membuat ide di kepala Cooper berdengung. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Shireen diam-diam.


"Aku tahu obat yang paling ampuh menghilangkan lelahmu, Steen!"


Batin Cooper terkekeh gembira. Saat sambungan ini terhubung, Cooper langsung berdehem menyilangkan kedua kakinya angkuh.


"Hello, Shireen!"


Sontak mendengar nama itu Edwald langsung membuka kedua matanya dengan tubuh di tarik duduk dengan tegap.


Edwald seperti menunggu sahutan dari seberang sana dengan dada berdegup kencang tak karuan. Saat Cooper memandang intens padanya, Edwald langsung sadar akan respon berlebihan ini.


"Ehmm!" Dehem Edwald menormalkan wajah datarnya. Ia kembali bersandar santai ke punggung sofa dengan mata juga ikut terpejam acuh.


"Cih, sangat kekanak-kanakan," Batin Cooper memiringkan bibirnya sinis. Ia kembali fokus pada Shireen yang masih belum bicara di seberang sana.


"Shireen! Aku menelpon ke nomor nenekmu. Apa tak masalah?"


"Tidak, ehmm.. Tidak apa," Jawab Shireen seperti berdehem menahan sesuatu. Walau kedua mata terpejam seperti tidur, Edwald mendengar semuanya. Suara Shireen agak parau dan serak seperti batuk.


"Kau baik-baik saja? Suaramu agak serak."


"Yah, hanya sedikit tak nyaman. Emm.. Apa disana ada.."


Ucapan Shireen terjeda. Cooper paham akan keraguraguan Shireen yang pasti juga sama merindukan pria jantan egois ini.

__ADS_1


"Steen!" Panggil Cooper nyaris berbisik.


"Hm."


"Kau ingin bicara tidak?" Tanya Cooper menjauhkan ponsel itu dari mulutnya.


"Tidak."


"Baiklah, Shireen! Aku matikan dulu , ya?"


Sontak Edwald panik langsung merampas ponsel itu dari tangan Cooper yang sempat tersentak tapi senyum puasnya mekar abadi.


"Baiklah, matikan saja!"


Mendengar itu Edwald langsung menatap tajam Cooper agar menyahut suara Shireen tapi, Cooper berdiri acuh.


"Shireen! Aku makan dulu. Matikan saja sambungannya!" Santai Cooper langsung berlari keluar kamar karna kaki Edwald sudah ingin menendangnya.


"Sialaan!!" Geram Edwald berapi-api menatap penuh amarah Cooper yang terkekeh di luar sana.


"S..sialan?"


Edwald tersentak. Ia jadi canggung sendiri dan duduk agak gelisah.


"A....Cooper!" Jawab Edwald tapi Shireen yang ada di seberang sana bingung dengan suara yang berbeda.


"Cooper? Ini..."


"Ehmm!" Edwald berdehem agak keras agar Shireen tahu itu dirinya. Satu deheman itu membuat sunyi semakin datang karna keduanya sama-sama tak bicara.


Edwald yang gugup memainkan gelas di meja depan sofa sedangkan Shireen di seberang sana mematung di atas ranjang diam memeggangi dadanya yang berdegup kencang.


Lama mereka saling diam sampai Shireen tak bisa tahan akan jantungnya lagi, ia ingin mengakhiri percakapan angin ini.


"Sepertinya kau sibuk. Aku matikan dulu i.."


"Tunggu!" Cegah Edwald sedikit panik karna ia sangat merindukan suara ini. Bahkan, rasanya sekarang ia ingin berteriak tapi itu bukan gayanya.


"Ada apa?"


"Gelas!" Asal Edwald yang sembarang bicara karna ia takut Shireen mematikan sambungan ini. Hanya ada gelas di depannya dan tentu Edwald akan menyebutkan benda itu.


"Gelas?"


"Hm, maksudku pasti gelas di sana tak semahal di kediamanku, bukan?" Angkuh Edwald tentu akan memancing kejengkelan Shireen yang sangat kesal bukan main.


"Kau pikir aku hidup di jalanan, ha?? Nikmati saja hasil curianmu itu dasar PENIPUU!!"


Omel Shireen nyaris seperti kucing yang bertengkar dengan pasangannya. Edwald tersenyum tipis, ada rasa senang yang tak bisa di jabarkan memenuhi rongga dadanya.


Mendengar suaramu yang seperti ini membuat kepalaku ringan. Teruslah mengoceh.


Batin Edwald membiarkan Shireen bicara penuh emosi sedangkan ia selalu memancing wanita itu untuk memakinya.


"Kenapa kau diam? Sudah tak punya mulut atau bagaimana?"


"Tubuhku masih lengkap, nona! Bagaimana denganmu? Kau tak lelah bicara tanpa di rem seperti ini, hm?" Tanya Edwald berbunyi ketus tapi tersirat makna bertanya kabar tapi dalam mode mengejek.


"Aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Hidupku berkalilipat lebih baik tanpa melihat wajah menyebalkanmu itu."


"Tapi, aku tidak," Batin Edwald menghela nafas dalam. Ia sekarang seperti daun di tengah lautan terombang ambing tanpa tahu tepian.


"Kau masih disana?"


"Hm, kau belum tidur?" Tanya Edwald karna ini sudah malam dan pasti di sana mau larut.


"Aku belum mengantuk. Jika kau ingin tidur, pergilah!" Ketus Shireen tapi itu tak sejalan dengan kemauannya.


"Aku belum mengantuk, masih banyak hal yang belum ku lakukan!"


"Oh, benar! Aku lupa jika kau itu tuan penipu. Kau pasti memikirkan cara untuk menipu orang lagi-kan?"


Edwald tersenyum kecil. Tebakan Shireen sangat merendahkan harga dirinya tapi ntah kenapa semua yang di lontarkan Shireen seperti kata-kata yang paling ingin ia dengar.


Sesekali Edwald mengigit bibir bawahnya sendiri menahan gemas mendengar suara Shireen menguap padahal dia bilang tidak mengantuk. Alhasil karna tak ada yang mau mematikan sambungan ini, akhirnya keduanya memutuskan tidur bersama tanpa mematikan ponsel.


"Semoga kau tak masuk ke dalam mimpi indahku!"


"Hm, aku membuka pintu mimpiku lebar untukmu!" Jawab Edwald berbaring di atas ranjangnya sedangkan ponsel itu ada di samping telinganya.


Baru kali ini setelah kepergian Shireen ia bisa menikmati kasur empuk nan lembut ini.


....


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2