Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Kembali sadar


__ADS_3

Setelah seharian menunggu akhirnya kabar Edwald sudah sadar akhirnya tersebar di seluruh anggota GYUF. Mereka tentu sangat lega dan tenang karena dewa perang itu sudah kembali menyebarkan rasa aman, keberanian dan perlindungan dari kehadirannya.


Jujur, saat tahu Edwald dalam keadaan buruk mereka semua sangat cemas. Bukan hanya karna Edwald adalah pimpinan terkuat disini tapi pria itu adalah fondasi keberanian GYUF.


"Syukurlah tuan kedua sudah selamat! Aku sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk padanya maka, kita tak akan berumur panjang."


"Yah, GYUF hanya bisa berdiri karna tuan Steen! Kita berani juga karna dia."


Desas-desus para anggota yang sangat senang mendengar kabar baik ini. Mereka merayakan kesadaran Edwald dengan berkumpul di lapangan latihan markas berusaha keras kembali memulihkan tenaga.


Rasa senang karna kabar ini tentu membuat Glimer yang tadi tengah berjalan di sekitar sini sangat risih. Telinganya begitu panas mendengar ucapan syukur para anggota yang tak menganggap keberadaannya penting disini.


"Dia memang sudah membangun posisi kokoh di GYUF," Gumam Glimer masuk ke dalam bangunan besar ini.


Ia pergi menyusuri lorong menuju ruang rawat Edwald yang di jaga ketat oleh para anggota. Bahkan, Glimer yang sudah sering ingin masuk kesini selalu di tahan oleh dua anggota di depan pintu.


"Tuan!"


Dua penjaga itu membuat langkah Glimer terhenti di depan pintu. Wajahnya mengeras seperti tak lagi sabar untuk di tahan disini.


"Aku ingin masuk!"


"Maaf, tuan! Sesuai perintah tuan Wesson. Tuan ketiga tak bisa masuk ke ruangan tuan Steen!"


Jawaban ini sudah sering kali Glimer dengar. Ia menghela nafas kasar diam sejenak lalu kembali mencoba menerobos.


"Tuaan!!"


"Menyingkiir!! Aku ingin bertemu dengan Steen!" Kekeh Glimer mendesak masuk sampai berani baku hantam dengan dua anggota GYUF yang tak ingin terlalu lancang tapi Glimer sangat memaksa mereka untuk berbuat kasar.


Alhasil, karna Glimer tak mundur akhirnya dua anggota itu segera mendorong Glimer menjauh dari depan pintu hingga Glimer membentur dinding di depan sana.


Wajah pria itu mengeras dengan rahang mengetat tampak emosi dengan dua pria ini.


"Kalian memang sangat berani!!" Geram Glimer segera mengeluarkan pistolnya ingin menembak ke arah dua anggota itu tapi, tiba-tiba saja Wesson datang dari arah lorong samping segera merampas pistol itu.


Glimer tersentak memandang Wesson yang sudah kelap seakan ingin menguliti sang adik hidup-hidup. Wesson tampak sudah lebih waspada pada Glimer.


"Kak!"


"Jangan memaksaku untuk bertindak lebih buruk," Desis Wesson dengan kasar melempar pistol di tangannya ke sembarang arah.


"Kak! Aku hanya ingin masuk dan apa salahnya?! Kenapa kau.."


"Steen tengah dalam masa penyembuhan. Dia tak bisa menemui siapapun sebelum benar-benar sehat," Tegas Wesson menambah bumbu emosi dan dendam Glimer yang sangat muak saat Edwald mengambil semua poros di tempat ini.


"Kak! Kenapa kau jadi begitu memperhatikannya?! Aku adikmu dan seharusnya kau.."


"Dia juga adikku!" Sela Wesson mampu membungkam Glimer yang akhirnya tak bisa berkata-kata banyak. Jelas ia kecewa dengan ini semua.


"Kalian berdua adikku dan aku tak ingin hal buruk terjadi pada keduanya. Pergi urus pekerjaanmu, Glimer!"


"Dia bukan saudara kita," Jawab Glimer masih kekeh mengungkit soal itu. Wesson sungguh menahan amarah akan apa yang Glimer katakan.


"Dia bukan bagian dari kita dan dia hanya ingin memimpin sendirian. Dia egoiis dan haus pujian!!"


"Apa kau tak salah?" Desis Wesson tak mau diam saja. Ia beralih mencengkram bahu Glimer kuat menekan pandangannya.


"Kau yang egois, Glimer! Kau hanya melihat kejayaan orang lain sebagai takdir buruk untukmu tapi, kau sendiri ingin di posisinya."


"Omong kosong!!" Bantah Glimer menepis tangan Wesson dari bahunya lalu ia pergi dengan sangat marah dan emosi.


Wesson hanya bisa menghela nafas. Ia kembali memperhatikan dua anggota yang sudah menundukan kepala mereka.


"Kalian baik-baik saja?"


"Iya, tuan!"


Jawabnya membiarkan Wesson masuk ke dalam ruang rawat Edwald. Saat pintu terbuka maka ranjang rawat pria itu sudah tampak padat di penuhi selang oksigen dan infus di tangannya.


Monitor jantung di samping ranjang itu berdenyut stabil dan tak lagi membuat mereka cemas.


"Ku dengar kau sudah sadar!"


Wesson datang mendekati ranjang khusus yang tampak sangat nyaman di tiduri. Ia duduk di samping Edwald yang tampak sudah tak sepucat kemaren.


"Aku tahu kau tak akan berlama-lama ada di ruangan pengap ini. Sehari sudah cukup, bukan?"


Dialog yang di sampaikan Wesson didengar jelas oleh Edwald yang segera membuka netra elang tajam itu. Tatapannya seperti biasa sangat dingin menembus langit-langit ruangan yang abu polos di atas sana.

__ADS_1


"Steen! Bagaimana perasaanmu?"


Edwald tak menjawab. Ia risih dengan selang infus dan alat bantu nafas yang melekat di tubuhnya.


"Bisa kau singkirkan semua ini?" Dingin Edwald nyaris seperti perintah.


Wesson mengulum senyum kecut melihat Edwald yang selalu melakukan hal sesuka hatinya.


"Ini demi kebaikanmu!"


Jawab Wesson menoleh ke arah lain sekedar merilekskan matanya tapi, ia tersentak saat selang infus di tangan Edwald tadi sudah terlepas jatuh ke lantai.


"Kauu..."


"Dimana Cooper?" Tanya Edwald beralih duduk di ranjang rawatnya seraya melepas banyak selang dan kabel monitor di dadanya.


"Kau... apa yang kau lakukan, ha?? Keadaanmu masih belum stabil! Cobalah berpikir seperti orang normal, Steen!!" Murka Wesson berdiri marah.


Edwald hanya diam membereskan semua barang medis yang menempel di tubuhnya. Ia tak mempedulikan kekesalan Wesson yang tak lagi bisa mencegahnya untuk tetap dalam posisi semula.


"Jangan sampai karna kelakuanmu ini kau kembali drop. Aku akan mengurungmu disini!"


"Aku baik-baik saja. Ada hal yang harus ku urus!" Jawab Edwald turun dari ranjang.


Ia memakai pakaian rawat medis disini dan terasa sangat tak nyaman. Memang, dadanya terasa berat karna dampak tenggelam malam itu tapi ia tak bisa terus berbaring di ranjang dingin ini.


"Kau ingin kemana?" Tanya Wesson mengikuti langkah Edwald yang keluar dari ruangan.


Dua penjaga di depan terkejut saat Edwald sudah berjalan tegap seperti tak terjadi apapun. Padahal, luka di bahu dan kondisi parunya saat itu cukup mengkhawatirkan.


"Steen! Kau ingin kemana? Tak ada lagi pekerjaan untukmu. Aku sudah mengurus anggota GYUF yang terluka dan kembali menstabilkan bahan ilegal kita. Dalam 3 bulan kedepan semuanya akan kembali normal."


"Hm," Gumam Edwald seperti tak peduli itu.


"Pasokan senjata dan obat-obat terlarang itu juga sudah di produksi lagi. Kau tak perlu memikirkan soal jalur pengedaran karna Cooper sudah menghubungi pembeli kita untuk menunggu di tempat lain."


"Bagus," Singkat Edwald tak tertarik. Wesson diam mencari cara agar Edwald tak pergi kemanapun dulu sampai kondisinya kembali pulih tota.


"A.. itu, cincin-mu.."


Belum sempat Wesson menyelesaikan ucapannya. Tangan Edwald sudah terbuka seakan meminta benda itu kembali tanpa menghentikan langkah tegasnya.


"Berikan!"


Wesson ingin berkomentar tapi benda itu sudah lebih cepat berpindah ke tangan Edwald yang menggenggamnya erat.


"Dimana Cooper?"


"Dia akan kembali. Tadi, dia mengurus mayat-mayat di pelabuhan dan membereskan kekacauan malam itu. Jika pemerintahan tahu, maka ini akan jadi masalah baru," Jawab Wesson membiarkan Edwald pergi ke luar Markas.


Edwald diam. Ia pergi ke tempat istirahat di markas ini tepatnya melewati area latihan para anggota yang tampak menunduk sebagai penghormatan mereka pada Edwald yang berjalan di depan sana.


"Tuan!"


"Lanjutkan!!" Titah Edwald menatap datar mereka yang semakin bersemangat. Wesson senang karna keadaan yang tadi sangat labil sudah terasa lebih tenang saat Edwald sudah kembali sadar.


Setelah sampai ke bangunan satunya. Langkah Edwald terhenti karna Cooper tampak berlari dari atas tangga turun dengan cepat mendekat ke arahnya.


"Steen!! Aku tahu kau akan segera kesini!" Decah Cooper terlihat sangat bahagia.


"Kau cepat sekali kembali," Gumam Wesson menaikan satu alisnya.


"Saat mendengar kabar Steen sudah sadar aku langsung menyelesaikan semua pekerjaanku. Ada sesuatu yang harus aku.."


Ucapan Cooper terhenti saat pandangan Edwald sudah menusuk jantungnya. Wesson yang bingung tentu bertanya.


"Sesuatu?"


"A.. Yah, ini masalah penyerangan itu," Elak Cooper mengusap tengkuknya yang dingin karna sorot mata Edwald terlalu mengintimidasi.


"Aku juga ingin dengar."


"Kau urus saja pekerjaanmu!" Tegas Edwald melanjutkan langkahnya menaiki tangga untuk ke lantai atas.


"Steen! Kau ..."


"Cooper!" Panggil Edwald dan Cooper langsung memberi senyum puas pada Wesson.


"Maaf, tuan! Ini urusan asmara!"

__ADS_1


Desis Cooper bergegas pergi mengikuti Edwald sedangkan Wesson tinggal sendirian. Ia membuang nafas kasar tampak penasaran dengan apa yang Cooper bahas soal Shireen.


"Dia sama sekali tak mau berbagi denganku," Gumam Wesson lalu pergi.


.....


Sementara di kamar istirahat Edwald. Pria itu memilih pakaian di lemari. Ia sudah tak memakai atasan hingga perut berkotak seksi dan perban di bahunya itu tampak sangat maskulin dan jantan.


Tubuhnya yang tinggi, bahu lebar dan pinggang kekar itu sangat-sangat sempurna. Cooper yang berdiri di depan pintu-pun merasa tergoda dengan bentuk tubuh jantan Edwald.


"Kau ingin ganti gender?"


Pertanyaan menusuk Edwald membuat Cooper sadar. Pria itu tersenyum jenaka masuk ke dalam kamar dan mendudukan dirinya di samping ranjang.


"Aku hanya melihat berapa jumlah ototmu, Steen! Siapa tahu aku bisa meminjam cetakannya," Kelakar Cooper mengusap lengannya yang tak semaskulin Edwald.


Tubuh pria ini seperti besi yang di tempat keras tapi tak berlebihan. Seluruh polesan tubuhnya seperti sudah di perhitungkan dengan matang.


Edwald hanya mengabaikan tingkah konyol Cooper. Ia masuk ke kamar mandi mengganti pakaiannya yang semula sangat terasa risih.


"Kenapa tubuhku tak setegap dia?! Apa aku salah makan atau bagaimana?!" Decah Cooper menunjukan otot lengannya yang terlihat seperti timun sedangkan Edwald adalah susunan lobak yang sangat teratur.


Lama Cooper mencari titik terang permasalahan tubuhnya, Edwald juga sudah keluar dari kamar mandi. Seperti biasa ia memakai jeans hitam dan kaos lengan pendek yang cool di tubuhnya. Tak lupa jaket berwarna gelap itu selalu jadi pilihan abadinya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Edwald seraya memasukan cincin yang tadi ia genggam ke dalam kotak kecil yang ada di laci.


"Steen! Ada beberapa orang yang mencari tahu tentang keberadaan mu. Mereka orang suruhan dari kakek Shireen!"


"Jangan sampai berita kejadian malam itu di ketahui pihak luar," Tegas Edwald tak mau membuat Shireen cemas.


"Sebarkan saja berita yang baik. Aku melakukan perjalanan bisnis di luar kota!" Imbuh Edwald sudah mempertimbangkan itu.


Cooper mengangguk. Lagi pula apapun yang terjadi pada Edwald pastinya tak boleh sampai Shireen tahu. Tapi..


"Steen! Sebenarnya Shireen.."


Edwald langsung berbalik menatap tajam Cooper yang menelan ludah.


"Apa yang terjadi padanya?"


"Shireen masuk rumah sakit karna demam tinggi dan sampai sekarang masih di rawat inap di sana!"


Degg..


Edwald tercekat. Ia diam dengan jantung yang tiba-tiba bergetar hebat mendengar kabar wanita itu.


"Tapi, kau tenang saja! Shiren dan janinnya baik-baik saja. Tenaga medis profesional selalu mendampinginya. Tak perlu cemas!"


"Kenapa bisa demam? Cuaca disana juga tak begitu buruk. Bagaimana dengan pola makannya? Aku sudah menyuruhmu untuk memastikan dia aman disana, bukaan??!!" Emosi Edwald mencecer kegundahannya.


Cooper diam. Ia melihat Edwald gusar mengusap wajahnya kasar dan frustasi.


"Steen! Aku ini manusia bukan dewa. Mana aku tahu kapan Shireen akan sakit dan sehat?!"


"Ponselku!" Tekan Edwald seperti tak bisa tenang sama sekali.


"Ponselmu sudah tenggelam di pelabuhan kemaren. Aku sudah membeli ponsel baru dan semua data di ponselmu sudah ku pindahkan ke benda itu!"


"Hubungi anggota disana!" Titah Edwald membuat Cooper segera menjalankan perintah pria batu ini. Ia menghubungi anggota yang ditugaskan khusus untuk memantau Shireen disana.


"Hello!"


"Kau dimana sekarang?" Tanya Cooper agak tak sabaran.


"Di rumah sakit. Aku diluar kamar rawat nona Shireen yang baru saja tidur setelah muntah-muntah dari pagi!"


Saat Cooper ingin bicara tapi ponselnya sudah berpindah tangan pada Edwald yang memburu pertanyaan cepat.


"Bagaimana kondisinya? Apa dia masih muntah? Kirim semua fotonya padaku! Apa yang dia lakukan dan semuanya. Kau mengerti?" Desak Edwald terdengar sangat arogan.


Cooper hanya diam tapi ia senang melihat Edwald yang sangat mencemaskan Shireen padahal jika bertemu dengan wanita cantik itu dia langsung berubah menjadi batu.


"Steen! Kau ini aneh. Jika dekat kalian seperti acuh dan tak mau saling menyapa. Tapi, .. "


"KAU BISA DIAM, HAA!!" Geram Edwald menendang pinggang Cooper yang untung saja mengelak. Jika tidak, pinggang lagend akan di pajang di museum kota.


"Pandangi saja sampai matamu kering. Hanya aku yang bisa menelpon istrimu itu," Decah Cooper membiarkan Edwald melihat foto-foto yang di kirimkan anggotanya dari luar ruangan.


Wajahnya sedikit lebih tenang saat melihat Shireen tertidur di ranjang rawatnya dengan infus masih terpasang.

__ADS_1


.....


.Vote and Like Sayang


__ADS_2