Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Kemarahan Edwald


__ADS_3

"AAAAAAA!!!!"


Satu teriakan heboh dari kamar atas membuat seluruh penginapan ini menggema. Cooper yang tadi baru saja bangun di kamar bawah langsung berlari ke kamar Edwald bersama para anggota yang langsung mendobrak pintu.


"Tuaan!!"


Panggil mereka cemas tapi semuanya mematung melihat Edwald yang hanya berbaring santai di atas ranjang tanpa memakai atasan dan terlihat baru bangun.


Tubuh kekarnya begitu sempurna dengan balutan perban di bahu dan separuh lengannya.


"T..tuan! Kami mendengar suara wanita berteriak tadi. Apa.."


"Apa ada wanita disini?" Tanya Edwald dingin dengan pandangan menajam.


Para anggota GYUF saling pandang tapi, Cooper yang  ada di ambang pintu menyipitkan matanya melihat gudukan selimut di atas ranjang.


Kau pikir aku tak tahu itu suara siapa?!


Batin Cooper mendengus kesal. Saat pandangannya dan Edwald beradu ia langsung memberi senyum remeh dan jengkel.


"Ayo keluar! Mungkin itu hanya suara gaib," Malas Cooper melangkah pergi keluar diikuti para anggota yang kebingungan.


Mereka tak berani bertanya atau menyangga lagi segera menutup pintu kamar ini.


Edwald yang tadi masih baru bangun dengan wajah bantal itu segera menyibak selimut. Terlihat Shireen yang berbaring tengkurap di sampingnya dengan wajah cantik sudah merah padam.


"KENAPA AKU BISA DI KAMARMU??" geram Shireen meremas selimut di dadanya.


Edwald begitu tenang. Ia meraih gelas air putih di atas nakas dengan tangan kirinya membiarkan Shireen emosi.


"Kau tuli, ha?"


"Pelankan suaramu atau,kau ingin kamar ini penuh dengan manusia?!" Tanya Edwald menaikan satu alisnya lalu menegguk gelas air itu ringan.


Shireen yang begitu kesal langsung bangkit duduk di pinggir ranjang. Ia tadi syok saat bangun Edwald sedang memeluknya dengan hangat sampai berteriak spontan.


"Dia tak melakukan apapun-kan?!" Gumam Shireen pada dirinya sendiri seraya memeriksa pakaiannya tapi, Shireen baru sadar jika ia sudah memakai  gaun tidur yang cukup seksi di tubuhnya.


"K..kauu.."


Shireen menutupi tubuhnya lalu berdiri menatap marah, terkejut sekaligus kecewa pada Edwald yang hanya bersantai melenturkan leher kekarnya tanpa menghiraukan Shireen.


"A..apa yang kau lakukan?? K..kau.. Kau melakukan apa padaku??" Syok Shireen pucat. Ia mencecer pertanyaan dengan intonasi yang sangat takut bahkan begitu panik.


"JAWAAB!! KAU .. KAU MELAKUKAN APA??"


"Menurutmu, apa?" Tanya Edwald menatap datar Shireen dengan satu alis naik menukik. Wajah tampannya berkalilipat lebih mempesona dengan rambut acak-acakan seksi tapi juga begitu menyebalkan di mata Shireen.


"K...Kau brengseeek!! Kau tak pantas melakukan itu!!" Geram Shireen mengeraskan rahangnya. Terlihat jelas jika Shireen masih belum mau di sentuh Edwald apalagi sampai sejauh itu.


Mata Shireen mulai memandang nanar Edwald. Wajah cantik itu murung dan tampak kecewa dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku membencimu!" Gumam Shireen lalu bergegas keluar dari kamar ini dengan selimut masih membaluti tubuhnya.


Edwald diam mendengar pintu di banting keras. Ia hanya bisa menghela nafas menatap luka di lengan dan bahunya.


"Walaupun kau membenciku tapi aku menyukainya," Gumam Edwald lalu bangkit dan pergi ke kamar mandi.


....


Di bawah sana sudah ada Wesson bersama Mersi yang tampak duduk di ruang tamu depan. Mereka membicarakan soal keluarga William terutama Patrica.


Mersi sudah merangkum semua data tentang wanita itu termasuk, apa hobi dan jadwal aktifitasnya.


"Ptarica adalah salah satu model di agensi ayahnya. Dia sangat populer dan setiap hari dia akan pergi ke spa dan banyak lagi tempat perawatan. Dia suka berbelanja dan gym. Satu jam lagi perkiraan dia akan berangkat ke tempat itu, tuan!" Jelas Mersi yang di dengar baik-baik oleh Wesson.


Ia melihat foto-foto Patrica yang memang cantik tapi ia tak tertarik pada wanita ini.


"Silahkan tuan berganti pakaian olahraga. Aku akan menghubungi anggota yang memantau kediaman itu."


"Aku mengerti," Jawab Wesson bangkit dari duduknya. Ia pergi ke kamar bawah tapi sebelum Wesson melewati tangga di sampingnya ia berpapasan dengan Shireen yang baru turun tampak sudah segar dan penuh pesona dengan dress selulut navy lengan panjang tapi di bagian bahunya bermodel terbuka, sangat elegan dan manis.


"Pagi!!"


Sapa Shireen turun dari tangga. Wesson tersenyum tipis menjawab sapaan Shireen yang sudah mendekat.


"Pagi!"


"Kau ingin kemana?" Tanya Shireen terlihat biasa. Ia tak menghiraukan kejadian semalam begitu juga Wesson yang juga sudah dewasa menanggapi hal ini.


"Aku akan keluar! Bagaimana keadaan Steen?"


"Kau yakin?"


"Hm, sudahlah! Jika kau ingin tahu periksa saja sendiri," Gumam Shireen setengah merutuk pergi ke area dapur resort.


Mersi yang tadi sudah keluar dari ruang tamu tak sengaja melihat Shireen yang sudah berjalan pergi dengan bersinar pagi ini.


"Sepertinya kali ini kau perlu sedikit peringatan," Gumam Mersi mengikuti Shireen pergi ke dapur belakang.


Disini tak ada pelayan karna Edwald memang tak suka banyak orang asing berkeliaran di tempatnya. Pria itu salah satu tipe yang sangat risih melihat keramaian asing.


Sesampainya di dapur Shireen begitu puas melihat peralatan masak yang lengkap. Ia memeriksa lemari pendingin dimana ada sayuran dan daging yang masih segar.


"Emm.. Aku ingin masak apa, ya?!" Gumam Shireen berpikir dengan otak cerdasnya.


Ia menaikan lengan bajunya ke siku lalu mengambil daging sapi dan beberapa bahan untuk membuat Lasagna. Makanan ini dilapisi dengan pasta, keju, dan daging.


"Baiklah. Cepat selesaikan ini," Gumam Shireen memulai pekerjaannya. Ia menggulung rambut panjangnya tinggi dengan rapi.


Tangan lentik dan lembut itu sangat cekatan memilih-milih bahan lain yang ia tata didalam mangkuk. Tak, lupa Shireen memakai apron untuk menjaga pakaiannya.


Ditengah fokus mencuci beberapa tomat dan sayuran, Mersi mendekat dari belakang. Ia melihat pemanggang yang sudah dipanaskan dengan wajan yang juga ada sedikit minyak.

__ADS_1


"Kau ternyata juga pandai memasak," Batin Mersi bertambah tak menyukai Shireen. Ia berdiri di balik tiang pembatas dapur memperhatikan gerak-gerik Shireen yang sangat cepat dan terlatih memotong bahan-bahan masakannya.


Shireen sibuk melapisi daging yang sudah ia potong tadi dengan saus tomat, keju ricotta, dan keju mozarell dan barulah ia panggang.


"Aku rasa mereka juga belum makan," Gumam Shireen memikirkan anggota GYUF yang ada didepan. Jumlah mereka tidak begitu banyak tapi Shireen membuat dengan porsi yang cukup besar.


Mersi terus memperhatikan bak singa mengintai di balik semak. Ia melihat Shireen membuat omlet dengan nasi yang sudah ia campur dengan bumbu-bumbu penyedap tak lupa telur ikan yang ada di dalam kulkas juga jadi sasarannya.


"Kau pikir, kau bisa mengendalikan seluruh tuanku disini?! Jangan bermimpi, Shireen!" Gumam Mersi sudah mendapatkan cela.


Saat Shireen membersihkan telur tuna di wastafel, Mersi mendekat pelan bahkan sangat pelan bak pencuri handal. Ia membidik panci berisi air yang tadi Shireen panaskan untuk merebus telur ikan ini sebelum di olah.


"Tubuh indah mu ini akan segera berakhir, Shireen!" Batin Mersi segera ingin mendorong panci itu ke arah Shireen dengan pisau di atas meja dapur.


Tapi, tiba-tiba saja ada tangan kekar seseorang yang mencengkram tangannya lalu di masukan ke dalam air mendidih itu.


"AAAAA!!!" Teriak Mersi menjerit hebat sampai Shireen berbalik dan ..


Deggg..


Mata Shireen melebar melihat, apa yang tengah terjadi di hadapannya?!


Edwald berdiri tegap dengan wajah dingin tanpa exspresi tak melepaskan Mersi yang sudah menjerit memberontak tapi tengkuknya di tekan Edwald yang bahkan mendorong pipi Mersi ke besi panas yang ada di atas kompor ini.


"E..Edwald!"


"T..tolooong.. Panaaass!!!" Jerit Mersi karna ini benar-benar sakit.


Semua orang di luar berlarian kesini dan mereka sontak terkejut terutama Wesson yang syok mendekat.


"Steen!! Steen, apa yang kau lakukan, ha??"


Shireen tak bisa berkata-kata. Ia melihat Mersi begitu kesakitan bak cacing terpanggang tapi Edwald masih belum melepaskannya.


"Steen!! Kau bisa membunuhnya!!"


"T..tolooong!!! Tolooong!!" Teriak Mersi pada Wesson yang menarik lengan Edwald tapi pria itu tetap tak melepaskan Mersi. Bahkan, Shireen terkejut saat Edwald ingin menumpahkan air mendidih itu ke wajah Mersi.


"Edwald!! Sudah cukuup!!" Pekik Shireen menarik Edwald yang akhirnya melepaskan Mersi.


Wanita itu tumbang mengigil sakit di atas lantai dengan cepat di bawa oleh para anggota GYUF yang sangat gemetar melihat luka di tubuh Mersi.


Ntah apa yang ia lakukan sampai membuat monster itu sekejam ini padanya?!


Kepergian Mersi langsung mendapat acuan pertanyaan dari Shireen.


"Kenapa?? Apa penyakitmu kambuh, haa??" Tanya Shireen tapi Edwald hanya diam. Pandangan murkanya masih membuntuti bayangan Mersi seakan jejak wanita itu tak layak disini.


"Edwald!!"


Edwald tak menjawab. Amarahnya tengah mendominasi jadi ia berlalu pergi tak ingin melampiaskan hal ini pada orang lain.

__ADS_1


...


Vote and like sayang..


__ADS_2