
Hari ini pemakaman tuan Walter. Publik sungguh dihebohkan dengan berita yang baru di sebar pagi ini dan sontak tempat pemakaman tuan Walter di penuhi banyak wartawan dan beberapa kerabat jauh yang hanya hadir secara formal saja.
Tak ada satupun keluarga dekat datang. Hanya seorang wanita rapuh dibaluti pakaian serba hitam dan kacamata yang sama tengah terduduk di samping gundukan tanah yang sudah di taburi bunga.
"Kau kuat, nona! Semuanya pasti akan baik-baik saja," Bisik bibik Anne selalu menemani Shireen. Para pelayan di kediaman juga hadir disini ikut merasakan suasana sendu pemakaman tuan Walter yang sakral.
Mr Parker dan Tuan Harlhos yang juga hadir disini hanya bisa diam. Mereka sangat prihatin dengan keadaan keluarga Harmon apalagi adik Shireen masih belum dinyataan baik-baik saja.
"Tak ku sangka tuan Walter akan tiada secepat ini."
"Yah, padahal sebelumnya kita masih duduk bertukar bisnis," Gumam Mr Parker terbayang semasa hidup tuan Walter.
Setelah beberapa lama. Mereka mulai berangsur pergi meninggalkan area pemakaman. Tuan Harlhos dan Mr Parker sempat menyapa Shireen yang hanya menjawab dengan anggukan.
"Nona Shireen! Kami yakin tuan Walter tenang disana dan pasti dia bangga padamu."
"Iya, nona! Kami pamit dulu."
"Terimakasih!" Ucap bibik Anne mewakili Shireen yang tak bicara apapun sedari pagi. Bahkan, ia tak makan dan langsung bersiap ke pemakaman sang ayah.
Sekarang tinggalah para media yang tengah mengambil gambar. Mereka meliput suasana di pemakaman sampai ada salah satu wanita muda yang tampak mencoba mendekati Shireen.
"Nona! Apa kau bisa memberi pernyataan sebentar?"
"Maaf. Sekarang nona kami belum bisa menjawab apapun. Mohon kalian bisa pergi dari sini," Sopan bibik Anne menyertai ketegasannya.
Tapi, seakan tak mau ketinggalan topik hangat, wanita itu segera mengajukan pertanyaan padahal jelas suasananya sedang tak tepat.
"Apa penyebab kematian mendadak tuan Walter? Apa ini ada unsur kriminal?"
"Kau tak mendengar ucapanku tadi, ha?" Geram bibik Anne merasa sangat marah.
Beberapa media yang ada di belakang hanya bisa membisu ikut menegur wanita itu tapi tampaknya dia cukup kerad kepala.
"Maaf. Aku hanya butuh pernyataan dari nona Shireen. Dan.."
"Apa kau tak lihat jika nonaku masih belum bisa di ajak bicara?!" Geram bibik Anne menarik wanita itu menjahui Shireen yang masih membisu.
Ia hanya mengusap papan nama mendiang ayahnya dengan dada selalu berdenyut sakit. Air matanya tak keluar, ntah karna sudah terkuras atau memang ia benar-benar sudah lelah.
"Nona! Sepertinya akan turun hujan. Kita harus segera pulang!"
Bibik Anne yang kembali datang melihat langit sudah mendung. Shireen hanya diam, ia tetap duduk di tempatnya tanpa mau bergerak sama sekali.
__ADS_1
Semakin ditunggu, awan gelap itu meningkat hitam. Udara juga begitu dingin dengan rerumputan berguncang karnanya.
"Nona! Kesehatanmu akan benar-benar buruk jika kau kehujanan disini."
"Jangan pedulikan dia!"
Suara nyonya Colins yang baru datang dengan pakaian serba hitam tanpa kacamata itu datang sendirian. Untung saja para media tadi sudah pergi hingga keadaan tak semakin panas.
"Nyonya!"
"Aku tak sudi menerima wanita ini! Walter tiada tapi pria sialan itu tak berniat membawa putri pembawa malapetakanya ini!!!"
"Astaga, nyonya!!" Syok bibik Anne merasa terbongkem apalagi Shireen yang mendengarnya.
"Apa pagi yang bisa dia lakukan?! Perusahaan sudah beralih ke tangan orang lain. Semua aset juga akan di ambil. Aku tak sudi menerima mesin penghancur di rumahku lagi!!" Sarkas nyonya Colins yang tak lagi menahan amarahnya.
Kebencian yang dulu terpendam semakin menjadi-jadi. Apalagi, sekarang tuan Walter sudah tiada dan ia tak perlu memikirkan apapun lagi.
"Nyonya! Ini bukan salah nona Shireen! Ini.."
"Dan kau juga pergilah dari kediamanku!" Tegas nyonya Colins membuat bibik Anne terdiam. Ia tak mampu membela diri tapi yang ia pikirkan adalah Shireen.
"Jangan pernah tunjukan lagi wajahmu dan semua barang-barangmu sudah ku keluarkan!" Imbuhnya lalu pergi.
Benar saja. Sudah ada satu koper di depan gerbang pemakaman yang menambah na'asnya hidup Shireen.
"Terimakasih," Gumam Shireen baru bicara. Ia perlahan berdiri di bantu bibik Anne yang sigap memeggang lengan pucatnya.
"Nona! Bibik akan selalu membantumu. Mungkin, bibik akan pulang ke kota kelahiran dan nona bisa ikut dengan bibik."
Shireen hanya diam. Ia juga bingung sekarang harus kemana bahkan uang yang ia punya tak mungkin bisa untuk menyewa rumah di kota Milan yang sangat mahal.
"Ayo ikut bibik. Disana sangat damai dan .."
"Bik!" Lirih Shireen mengambil nafas dalam. Jika ia pergi itu sama saja melarikan diri dan membiarkan iblis itu tertawa di atas kehancuran keluarganya.
"Aku akan tetap disini. Terimakasih karna kau selalu menemaniku," Imbuh Shireen tulus.
Bibik Anne seketika membisu. Ia sangat mencemaskan Shireen dalam kondisi seperti ini bahkan ia tak tahu kenapa Edwald tak ada padahal seharusnya dia yang menopang tubuh istrinya.
"Nona! Apa kau yakin?"
Shireen mengangguk. Alhasil bibik Anne juga tak punya alasan lagi untuk membawa Shireen bersamanya.
__ADS_1
"Baiklah. Jika nona berubah pikiran, nona bisa langsung datang ke tempat bibik. Masih di alamat yang sama seperti dulu, Nona!"
Shireen mengangguki itu. Ia menatap sebentar makam tuan Walter dengan kedua tangan mengepal. Akan ia pastikan semua yang terlibat dengan rencana ini akan ikut merasakannya.
"Aku pergi dad! Daddy tenang saja. Aku akan mengambil kembali apa yang mereka renggut dari kita."
Bibik Anne yang tak mengerti dengan ucapan Shireen hanya diam. Ia mengiring wanita itu untuk pergi keluar dari area pemakaman.
Sudah ada satu taksi yang menunggu di depan. Bibik Anne menarik koper Shireen untuk di masukan ke mobil tapi Shireen menahannya.
"Nona?"
"Aku akan berjalan disini sebentar. Bibik pergilah dulu!" Ucap Shireen mengambil alih kopernya.
Bibik Anne tampak berat mengiyakan itu apalagi disini sangat rawan tindak kejahatan.
"Nona! Kau.."
"Aku ingin berjalan sebentar, bik! Kau pergilah dulu," Jawab Shireen halus tapi suaranya serak karna sudah habis berteriak dan menangis semalaman.
Alhasil, bibik Anne akhirnya menurut. Ia masuk ke dalam taksi yang segera melaju stabil meninggalkan Shireen di depan gerbang pemakaman.
Tak ada satu kendaraan yang lewat disini. Tak seramai dan sepadat tadi tapi cukup mengintimidasi.
Shireen menarik kopernya menyusuri jalan. Ia ingat saat dalam perjalanan kesini tadi ada pantai kecil tak jauh dari area pemakaman dan Shireen ingin ke sana sekedar untuk menangkan diri.
Kakinya memang melangkah tapi pikirannya melayang. Shireen masih meyakinkan diri jika ini hanya mimpi buruk tapi semakin ia mencoba bangun maka rasanya begitu nyata.
Setelah beberapa lama ia berjalan Shireen terkurung dengan dunianya sendiri sampai tak sadar jika ada seorang pria berpakaian serba hitam dengan dua temannya mengendap di belakang.
Saat Shireen lengah mereka dengan cepat membekap hidung Shireen dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius.
Alhasil wanita itu sudah tak sadarkan diri di tempat. Dua orang di belakang pria tadi langsung menelpon.
"Kami mendapatkan satu wanita. Dia masih muda dan terlihat cantik, tuan!"
"Bawa segera bersama tawanan lainnya!"
"Baik."
Mereka segera bergrgas memanfaatkan kondisi jalan yang lengang. Ada satu mobil hitam datang hingga mereka membawa Shireen ke dalam baja gelap itu.
....
__ADS_1
Vote and like Sayang..
Maaf say.. Author nggak bisa dulu balas komen kalian. Soalnya akun author ilang jadi ini makek akun di hp kk 🥲🥲