
Tak di sangka-sangka sebelumnya oleh Shireen yang sangat terkejut saat Cooper mengantarnya ke Casthillo tempat dimana ia menghabiskan 10 tahun masa kecilnya. Daerah pegunungan yang tampak sangat asri dengan penduduk yang hangat dan ramah.
Suasana dingin tempat ini tak lepas dari kabut yang mengelilingi daerah pegunungan seperti biasa.
Apalagi, ini sudah pagi dan Cooper benar-benar mengantarnya sampai ke perumahan yang ada di kaki gunung.
"Kau jauh-jauh mengantarku kesini?" Tanya Shireen yang berjalan beriringan dengan Cooper yang sedari tadi menikmati panorama alam hijau di sekitarnya.
"Yah, Steen menyuruhku mengantarmu ke tempat ini dan seperti biasa dia selalu benar. Kau akan aman disini!"
Jawab Cooper tersenyum tipis menapaki jalan tanpa aspal tapi ini begitu padat tak ada lecet sama sekali. Akses kesini juga tak terjang seperti apa yang ada di pikiran Cooper sebelumnya saat membayangkan kata pegunungan, ia kira tempat ini akan penuh air tergenang di jalan dan lereng-lereng curam.
Yah, memang ada yang seperti itu tapi, di jalan yang tak di pakai. Untuk akses masuk dan keluar dari sini sudah sangat luar biasa asri dan aman.
"A..apa kau bisa menghubunginya?" Tanya Shireen terbesit pertanyaan itu.
"Kenapa? Kau merindukannya?"
"A.. Tidak," Elak Shireen berjalan mendahului Cooper yang hanya menggeleng saja. Baik Shireen maupun Edwald, keduanya sama-sama memiliki ego tinggi untuk menunjukan rasa rindu itu.
"Dimana kediaman Nenekmu?"
"Di depan! Aku sudah lama tak kesini dan semuanya tak berubah. Aku yakin, sekarang mereka tengah ada di perkebunan!" Jawab Shireen mengiring Cooper untuk pergi ke lereng gunung.
Shireen begitu lincah menuruni bebatuan yang tampak licin karna basah akibat embun. Cooper berkali-kali mau jatuh terpeleset sedangkan Shireen sudah melangkah jauh kedepan sana.
"Hati-hati, nyawaku ada pada keselamatanmu, Shireen!" Jerit Cooper bergegas mengejar Shireen yang sudah jauh ke bawah sana.
Sebenarnya wanita ini memang manusia atau bukan?! Dia seperti kera meloncat sana sini.
"Shireen!! Setidaknya kasihani aku. Aku tak ingin di cambuk suamimu!!"
Langkah Shireen terhenti di bebatuan di bawah. Ia masih tak percaya jika Edwald sampai seperti itu melindunginya tapi, hari ini tiba-tiba saja Shireen merasakan jika Edwald benar-benar melakukan semua itu untuknya.
Saat Cooper sudah sampai di belakangnya, Shireen langsung berbalik.
"Apa menurutmu dia memang tulus melindungiku?"
"Ntahlah, tapi aku tak pernah melihat Steen berbuat sejauh ini pada seseorang," Jawab Cooper seraya menepis beberapa rumput liar yang merayu lengannya.
"Apa keuntungannya melindungiku?"
"Pertanyaan macam apa, ini?! Sudah jelas dia akan lega dan tenang jika kau baik-baik saja. Itu saja kau tak tahu," Ketus Cooper bertambah jengkel karna Shireen selalu mencurigai niat baik Edwald.
"Tapi, dia itu pria yang sulit ku mengerti. Dia menghancurkan keluargaku lalu.."
"Shireen!" Sela Cooper tak mau mendengar hal buruk tentang Edwald lagi.
"Tak ada seorangpun yang bisa mengerti, Steen! Dia selalu memposisikan dirinya pada orang-orang berbeda. Jika di depanmu dia menjadi menjengkelkan tapi, di depan orang lain dia akan menakutkan. Sampai sekarang-pun aku masih belum bisa memahaminya," Imbuh Cooper jujur.
Shireen jadi diam. Pernyataan Cooper dan Wesson hampir sama. Edwald memang punya jalannya sendiri dan daya pikir yang tak bisa di mengerti siapapun.
"Namun, aku bisa menjamin satu hal tentangnya!"
"Apa?" Tanya Shireen menunggu.
"Dia tak ada niatan untuk menyakiti-mu," Jawab Cooper terdengar hangat di dada Shireen. Wanita cantik berambut panjang ini diam seperti berperang dengan batinnya sendiri.
Melihat Shireen yang berpikir keras, Cooper langsung menepuk bahu halus ini hingga pandangan Shireen terangkat padanya.
"Lindungi dirimu sendiri. Setelah ini kita tak akan bertemu lagi!" Ucap Cooper menyampaikan pesan Edwald yang tak bisa bicara secara langsung.
Shireen mematung seperti mendapat pesan dari seseorang.
"Jangan banyak berpikir. Kau kucing peniru yang selalu bisa hidup dimanapun. Jaga dirimu baik-baik."
"I..itu.."
__ADS_1
"Aisss.. Apa tak mirip? Sebenarnya dia hanya mengucapkan LINDUNGI DIRIMU SENDIRI, tapi itu sama sekali tak romantis jadi aku menambahkannya sesuai interaksi kalian," Decah Cooper yang frustasi saat tadi Edwald mengirimnya pesan singkat untuk Shireen tapi itu terdengar sangat miris.
Namun, tiga kata itu memang terdengar sangat tegas dan dingin. Tapi, sangat berarti bagi Shireen yang tahu Edwald tak akan pernah bersikap manis.
"Ya sudah, aku akan pergi! Perkebunannya tak jauh lagikan?"
"Hm, terimakasih!" Jawab Shireen membiarkan Cooper pergi kembali mendaki ke atas.
Shireen diam tapi kedua tangannya saling meremas seperti ingin mengatakan sesuatu tapi, ia masih berkecamuk.
"A.. Tungguuuu!!!" Teriak Shireen memandang Cooper yang sudah ngos-ngosan di atas sana. Pria bertubuh lebih pendek dari Edwald itu menyahut keras.
"Apaaa??"
"K..katakan padanya! Aku.."
Cooper menunggu sampai kakinya kesemutan. Ia kesal melihat Shireen sangat sulit bicara padahal ia sudah dalam posisi darurat.
"Cepatlaah! Kau ingin aku turun lagi kesana, haa??"
"K..katakan kalau.. kalau aku.. Aku.. "
"Baiklah, akan ku katakan!" Jawab Cooper pergi karna tak bisa menunggu lagi. Shireen syok ingin memanggil Cooper lagi tapi sayang pria itu sudah pergi.
"A..aku hamil," Lirih Shireen akhirnya meloloskan kalimat itu. Ia diam mengusap perutnya memandang hampa kepergian Cooper yang juga telah membawa harapan untuknya.
Sempat terbesit di hati Shireen untuk memberitahu tentang kehamilannya karna mungkin, Edwald akan menyempatkan diri bertemu dengannya tapi..
"Nona!"
Sapa seseorang yang tadi baru naik dari perkebunan di bawah. Ia mendengar suara teriakan Shireen yang menoleh saat ia panggil.
"Nona siapa? Kenapa ada disini?"
Tanya seorang pria paruh baya yang membawa pisau dan peralatan perkebunan.
Pria paruh baya dengan jambang tipis dan sarung tangan ini diam sejenak. Ia seperti menyelidki Shireen dari atas samoai bawah dimana wanita ini benar-benar cantik.
"Kauu.."
"Aku Shireen, cucunya!" Jawab Shireen berharap banyak. Pria itu langsung tersentak. Matanya syok sekaligus tak percaya jika bunga Casthillio dulu kembali ke desa mereka.
"Nona Shireen? Yang dulu tinggal disini?"
"Iya, kau mengenalku?" Tanya Shireen agak canggunh dengan respon pria ini.
"Tentu saja, nona! Aku pekerja di kebun nenek dan kakekmu, mereka pasti sangat senang melihat kau datang kesini!"
"Benarkah? Dimana mereka?" Semangat Shireen juga begitu merindukan dua manusia senja itu.
Ia diiring kembali menuruni lereng bukit dimana mulai banyak masyarakat disini yang berjalan di sekitar lereng memanen hasil kebun.
Mereka saling pandang karna untuk pertama kalinya ada wanita cantik mau turun kesini. Apalagi, wajahnya terlihat sangat ramah dan hangat.
"Dia siapa?"
"Ntahlah, mungkin anaknya tuan besar disini."
Bisik mereka tapi segera diam saat pria paruh baya tadi menyerukan suara kerasnya.
"Semuanyaa!!! Nona Shireen cucunya nenek Rue dan Kakek Blossom sudah datang kembali!!"
"Apaa??"
Syok mereka tak percaya. Shireen sungguh merasa canggung karna banyak warga perkebunan yang datang kesini seperti mengidolakan dirinya.
.................
__ADS_1
Di tempat yang berbeda. Langit masih gelap dan belum menunjukan tanda-tanda mentari akan datang. Hamparan laut dan gelombang di laut Verona ini begitu tenang tapi juga sangat mematikan.
"Cepat masuuk!!"
Para anggota GYUF mengiring banyak tawanan dari Markas ke dalam sebuah kapal pengangkut yang besar. Mereka diikat dengan satu rantai yang saling terhubung satu sama lain dan tentu tak berpakaian.
Ada dua kapal yang tengah menunggu di pelabuhan terpencil ini karna mereka akan memindahkan para tawanan ke sebuah pulau yang cukup jauh tapi aman untuk melakukan perdagangan.
"Semuanya sudah siap?" Tanya Suma yang ada di kapal besar satunya. Mereka akan berlayar keluar dari kota Verona yang tak lagi aman untuk ditinggali.
"Dad! Kau yakin kita harus pergi sekarang? Mereka tak akan menemukan kita karna informasi yang tersebar hanya sedikit."
"Apa kau bodoh, ha?" Maki Suma akan ucapan Glimer yang tak berpikir dua kali menyahutinya.
"Informasi yang tersebar memang sedikit tapi, musuh-musuh kita akan memanfaatkan hal itu dan membuat semua negara tahu siapa dalang dari organisasi ini."
Imbuh Suma marah. Alhasil Glimer diam memandang anak buah mereka yang mengurus pemindahan tawahan dan beberapa tabung organ yang sudah siap edar untuk diamankan.
Tapi, semua ini di luar arahan Edwald yang sedari tadi berunding dengan Wesson.
"Steen! Menurutmu apa aman berlayar sekarang?"
"Akan ada yang menyerang," Jawab Edwald berdiri di tepi kabin kapal menyorot jauh ke area selatan pelabuhan.
"Maksudmu?"
"Aku sudah mengatakannya. Tak perlu pindah secepat ini karna itu yang mereka mau. Tapi, aku hanya bisa memberi saran," Jawab Edwald terlihat sudah tahu apa rencana musuh sebenarnya tapi Suma sangat keras kepala.
Gelisah dengan posisi seperti ini, Wesson segera turun dari kabin mendekati Suma yang tadk ada di tepi kapal.
"Dad!"
"Wesson!! Kau bantu mereka memindahkan barang-barang ke kapal itu!" Titah Suma tapi Wesson tak sedang ingin bekerja.
"Dad! Steen bilang, kita tak perlu pindah. Karna.."
"Setelah apa yang dia lakukan, kau pikir aku bisa percaya padanya?" Desis Suma bersuara kecil pada dua putranya.
Wesson sungguh terkejut tapi Glimer begitu senang mendengar jawaban Suma.
"Benar, dad! Dia sudah tak bisa kita percaya."
"Kalian bicara apa?! Steen tak akan membahayakan kita semua karna dia memahami situasi ini," Bantah Wesson tapi Suma masih waspada.
"Putraku! Untuk sementara ini, aku tak bisa mempercayakan misi padanya!"
Wesson sungguh frustasi. Jika yang di katakan Edwald benar, maka malam ini mereka pasti akan kewalahan menyambut musuh karna persiapan belum sepenuhnya matang.
"Dad! Kau.."
Belum sempat Wesson bicara, tiba-tiba saja ada suara ledakan dari kapal sebelahnya. Hal itu membuat air berguncang dan gelombang besar menghantam kapal mereka.
Kobaran api meluap ke atas dengan banyak anggota yang sudah ikut terkapar karna ledakan itu sangatlah dahsyat belum lagi semua barang berharga dan tawanan mereka di kapal itu sudah hancur tanpa sisa.
"T..tidak.."
Suma yang melihat itu sangat terkejut tapi tidak dengan Edwald yang hanya santai berdiri di atas kabin kapal paling tinggi. Sorot mata datarnya merekam ledakan besar itu dengan pandangan sangat dingin.
"Kita bertemu lagi!!!"
Suara berani yang mengaung dari arah belakang kapal dimana sudah jelas terpapar lampu-lampu kapal asing yang datang dengan speadboot yang mengelilinginya.
Vote and like sayangku..
...
Maaf say.. Tadi jaringan disini ngajak gulad 🥲
__ADS_1