Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Hilang Lagi?


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang ia katakan tadi malam, Edwald sudah menjalani penerbangan umum dari Bandara Malpensa Milan  ke Bandara Internasional John F. Kennedy di New York. Rata-rata penerbangan ini memakan waktu 9j 32m sekali jalan dan biaya Rp 23.864.194. Ia tak memakai jet pribadi karna memang ingin melihat dunia luar setelah sekian lama.


Perjalanan ini cukup singkat karna ia berangkat dari dini hari tadi. Hal pertama yang Edwald lakukan saat tiba di bandara Joh  F. Kennedy adalah, pergi ke penginapan yang merupakan saham dari keluarga Aldebaron.


"Selamat datang, tuan!" Sapa 5 pria berstelan jas lengkap seperti bodyguard yang tadi menanti Edwald turun dari pesawat dan langsung menjemput sang tuan.


Edwald yang berdiri tegap dengan mantel ringan berwarna brown tua dan kacamata hitam itu hanya mengangguk saja. Ia digiring masuk ke dalam mobil mewah yang sudah terparkir di jalur keluar bandara sementara yang lain masuk ke mobil masing-masing.


"Tuan! Kami sudah menyiapkan semua perlengkapanmu. Ini kartu identitas asli anda dan semuanya sudah tersedia di dalamnya!" Jelas Issac pria paruh baya yang merupakan orang kepercayaan Jenderal Adison yang sudah duduk di kursi kemudi.


Jenderal Adison sudah memberitahu setiap bawahannya disini soal Edwald yang memakai nama tengah untuk mengubur jejak kriminalnya. 


Edwald membuka kacamata melihat beberapa berkas identitasnya di dalam sebuah amplop lebar. Nama aslinya terpampang nyata disini beserta foto dan kartu-kartu khusus yang akan berguna.


"Edwald Fedrick Aldebaron," Gumam Edwald mangut-mangut mengerti. Ia sudah lama tak menggunakan nama lengkapnya dan sekarang sudah waktunya ia menjalani peran sebagai penerus keluarga Aldebaron.


Issac hanya melirik dari kaca spion depan. Ia melajukan mobil keluar dari area bandara dengan mata tajamnya waspada jika ada kamera disini.


Sementara Edwald, ia diam memainkan ponselnya. Semalam ia menyuruh beberapa anggota GYUF yang sudah di lepas dari penjara itu untuk mencari keberadaan Shireen dan ternyata wanita itu juga termasuk pebisnis muda yang akhir-akhir ini melambungkan nama keluarga Harmon di amerika dengan semua prodak kosmetik pengeluarannya.


"Kau pernah melihat wanita ini?" Tanya Edwald menunjukan layar ponselnya pada Issac yang mengamatinya sejenak dan mengangguk.


"Yah, Tuan! Dia adalah wanita satu-satunya yang berhasil menembus pasar internasional dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, dia menolak bekerjasama dengan perusahaan Aldebaron yang ada disini."


Penjelasan itu terdengar sangat menarik. Sudut bibir Edwald tertarik sempit merasa selalu di beri kejutan di setiap apa yang di lakukan kucing penirunya itu.


"Setiap perusahaan ingin mengajaknya bekerja sama dia selalu menolak, keuntungan yang kita berikan juga seharusnya tak patut di ragukan."


"Dia tak sama seperti wanita pada umumnya," Gumam Edwald mengusap layar ponselnya dimana foto Shireen yang semakin cantik dengan balutan dress berwarna maron dengan bagian dada tertutup dan rambutnya di gulung indah.


Sepertinya foto ini di ambil saat menghadiri pesta. Tapi, disisi lain Edwald juga sadar jika selama 7 tahun ini masti banyak yang sudah mengerumuni kucingnya.


"Baik kau sudah punya suami baru atau pria lain. Aku akan tetap membelenggu mu, Shireen!" Gumam Edwald tak akan peduli jika posisinya sekarang sudah di huni oleh orang lain atau-pun tidak.


Edwald sibuk melihat-lihat foto Shireen yang ada di majalah bisnis. Mobil ini sudah menjauh dari bandara bahkan melewati jalan kota New York yang terlihat berbeda dengan Milan.


Disini benar-benar penuh dengan orang-orang amerika yang notabennya punya dua ras hitam dan putih.


Setelah beberapa lama Edwald sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba saja mobil mereka di tabrak sesuatu yang keras dari belakang hampir menjatuhkan ponsel Edwald yang seketika berwajah dingin.


"Maaf, Tuan! Akan ku periksa!" Cemas Issac segera keluar dari mobil dengan wajah sangarnya melihat mobil Ford F-Series yang merusak bagian belakang mobil walau tak terlalu lecet.


"Keluar!" Pinta Issac mengetuk jendela kaca mobil ini. Sekali ketukan tak ada jawaban hingga ia mulai melihat situasi yang cukup ramai disini bahkan ada beberapa orang yang memperhatikan mereka.


"Keluar! Atau kau.."

__ADS_1


Ucapan Issac terhenti saat kaca itu sudah di buka. Alangkah terkejutnya ia melihat Catharina yang memberi cengiran kuda.


"Maaf uncle Issac. Jangan beritahu kakakku kalau aku membuntutinya."


"Nona! Kau.."


"Susst!!" Desis Catharina menggeleng cepat. Issac tak tahu harus bagaimana karna dua orang ini juga merupakan majikannya.


"Uncle jangan khawatir. Aku akan bertanggung jawab nanti," Imbuh Catharina mengisyaratkan Issac untuk kembali ke mobil.


Alhasil pria itu kembali dengan perasaan was-was takut jika Edwald marah karna tahu Catharina mengikutinya secara diam-diam.


Saat tiba di dalam mobil Issac mengerti dengan tatapan tajam Edwald yang tampak mengerikan.


"Tuan! Ada orang yang baru belajar menyetir. Dia tak sengaja menabrak bagian belakang mobil."


"Hm," Gumam Edwald datar mengacuhkan hal itu. Ia kembali melihat ponselnya sementara Issac mengambil nafas dalam melanjutkan perjalanan.


Saat tiba di jalan yang cukup ramai dengan para pejalan kaki, Edwald tiba-tiba minta berhenti.


"Tuan!"


"Aku ingin membeli sesuatu," Ucap Edwald keluar dari mobil membawa kartu identitas dan kacamata yang kembali ia pakai.


Sementara di Mall besar ini, Edwald tengah mencari pakaian baru untuknya. Ia memilih kaos putih, jeans dan jaket serta topi yang ia bawa ke ruang ganti di dalam tokoh pakaian mahal disini.


Salah satu anggotanya yang tadi sudah ia kabari sejak di dalam mobil, sudah menyusul Edwald yang keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang baru.


"Tuan!"


"Pakai ini!" Titah Edwald melempar mantel dan pakaiannya tadi ke pria itu hingga para staf di toko ini heran melihat aksi Edwald tapi juga terpana dengan ketampanan Edwald walau memakai masker tapi tubuh gagahnya tak bisa berbohong.


Setelah mengatur penyamaran ini, Edwald pergi keluar dari Mall masuk ke dalam keramaian pejalan kaki dengan jaket dan topi yang menutupi visualnya.


Edwald tahu jika Catharina membuntutinya. Wanita itu sejak kemaren mendesak untuk ikut tapi Edwald tak terbiasa dikuntit oleh wanita seperti Catharina yang pecicilan.


"Apa begini rasanya punya adik perempuan?!" Decah Edwald cukup risih terus di tempel oleh Catharina.


Setelah menjauh dari daerah itu Edwald jadi bebas berkeliling. Ia pergi ke tempat-tempat bebas disini dan tujuannya adalah Bar yang ada tak jauh dari pinggir jalan.


Saat Edwald ingin masuk ke sini tiba-tiba saja ada sosok kecil yang menabraknya dari arah dalam ingin keluar dari pintu.


Burgh..


Tubuh kecil itu terhuyung kebelakang karna tak bisa menggeser Edwald yang masih berdiri tegap di depan pintu.

__ADS_1


"KAU PUNYA MATA, HAA??" Bentak bocah bermasker ini mengusap bokongnya yang terasa nyeri. Cek yang tadi ia peggang terlempar ke dekat sepatu Edwald yang segera berjongkok mengambil kertas ini.


100 juta dolar, Itu terpampang disini tapi Edwald tahu ini hanya cek palsu.


"Berikan padaku!!"


Bocah ini merampas cek itu dari tangan Edwald yang tak begitu bisa melihat wajah bocah bermasker dan memakai topi ini.


"Shitt!" Umpat bocah itu saat para orang yang tadi mengejarnya sudah kesini bahkan mereka semua membawa senjata tajam dan botol kaca yang tampak sudah pecah.


"BOCAH SIALAN!! KAU MEMBOHONGI ORANG-ORANGKU DI KASINO MALAM ITU!!"


"DIA JUGA YANG SUDAH SERING KALI MENGHANCURKAN BAR KAMI!!"


Bentak orang-orang yang pernah ia kibuli ternyata berkumpul disini. Sialnya ia tak tahu jika disini sudah pernah ia datangi sebelumnya.


Melihat ia di kerumuni banyak pria bengis, bocah kematian ini segera berlindung di balik kedua kaki Edwald yang hanya menatap datar orang-orang di hadapannya.


"Serahkan dia pada kami!!"


"Kau tak perlu ikut campur atau, kau juga rekannya?"


Tanya mereka membuat ide licik timbul di kepala bocah itu. Edwald tersentak sangat tangannya di raih jemari kecil sosok di belakangnya dengan perasaan cukup bergetar.


"Daddy! Mereka ingin membunuhku. Aku sangat takut!" Rengekannya sontak membuat semua orang disini saling pandang murka.


"Kau ternyata ayah dari anak sialan ini!!" Desis semuanya menyerang Edwald yang tak tahu apapun tapi hanya mengikuti alur saja.


........


Sementara di belahan bumi yang lain, Cooper tengah bertengkar dengan Shireen yang semalam menghukum Ealnest dengan di kurung di dalam kamarnya tanpa melakukan apapun tapi, bocah nakal itu tiba-tiba tak ada lagi di kediaman.


"Ini semua karnamu!!!"


"Shireen! Jika tak ku turuti anakmu itu, maka aku yang akan kena sasarannya," Decah Cooper yang terkena semburan amarah Shireen yang di buat darah tinggi setiap hari.


"Aku tak mau tahu alasanmu! Cepat cari dia atau kalian berdua tak akan lagi bisa menginjak kediaman ini!"


"Shitt! Apa dosaku selama ini?! Ibu, anak dan ayahnya sama-sama menjadi malaikat maut," Rutuk Cooper segera keluar dari kediaman sementara Shireen menghempaskan dirinya di atas sofa singel di belakang.


Kakek Bolssom dan nenek Rue yang melihat dari atas tangga sana hanya bisa mengambil nafas dalam. Mereka tak mencemaskan Ealnest tapi justru Shireen yang tak pernah tenang saat anak itu tak ada di depan matanya.


....


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2