
Pagi ini tiba-tiba saja Suma mengumpulkan semua putranya di meja makan. Untuk pertama kalinya Suma melakukan hal ini ketika mereka sudah dewasa.
Edwald, Wesson dan Glimer tak heran lagi dengan situasi ini. Pasti, Suma tengah merencanakan hal besar sampai menciptakan kehangatan di pagi hari.
"Makanlah! Semua ini di buat khusus untuk kalian," Ujar Suma menyodorkan beberapa sub dan bistik yang dimasak dengan mewah.
Wesson diam. Ia melirik ke samping dimana Edwald masih setia dengan wajah tampan dinginnya.
"Dad! Kau ingin kami melakukan apa?" Tanya Wesson tahu pasti maksud Suma bagaimana.
Pria yang memakai sampul tangan dan bergigi emas ini tersenyum. Ia sudah menduga jika anak-anaknya akan mengetahui jamuan pagi ini.
"Seperti biasa kalian sudah hafal. Baiklah, kita bicara sambil makan."
"Dad! Apa ada masalah?" Tanya Glimer yang memang tak pernah nyaman jika sudah bertemu seperti ini.
Suma diam sejenak. Ia menegguk segelas wine di samping piringnya seraya menatap Edwald yang tak pernah mau membuka diri.
"Semuanya baik. Kalian bekerja sangat cerdas dan teliti sampai tak tercium oleh aparat negara ini. Tak ada yang perlu di khawatirkan."
"Lalu, apa mau mu?" Tanya Wesson. Suma beralih memandangnya dan ada senyum tipis yang penuh arti.
"Kita sudah berhasil melumpuhkan keluarga Harmon yang selama ini menjadi pengkhianat. Apa yang lebih menyenangkan dari itu?"
"Keluarga mana lagi?" Tegas Edwald sudah tahu arah pembicaraan ini.
Wesson dan Glimer saling pandang. Walaupun Glimer tak menyukai Edwald yang terlalu mendominasi tapi ia sangat mengandalkan pria ini.
"Dad! Apa kau ingin melakukan hal yang sama pada keluarga lain?"
"Yah."
Sontak ketiganya membisu. Edwald diam sama sekali tak menyentuh makanan ini bahkan ia hanya memfokuskan telinganya.
"Perusahaan keluarga Harmon sudah jatuh ke tangan kita. Keuntungan dari semua itu bahkan lebih besar dari pada penjualan senjata dan obat terlarang yang semakin hari sulit di edarkan. Menurutku ini cara emas mencari keuntungan," Jelas Suma sudah mengenyam manisnya kekuasaan yang di bawa anak-anaknya terutama Edwald.
"Bagaimana menurutmu? Steen!" Imbuhnya pada pria batu ini.
Edwald tak langsung menjawab. Ia tahu watak Suma luar dalam. Pria ini sama sekali tak butuh jawaban dari mereka bertiga karna setiap keputusan yang dia ambil sudah tak bisa di rubah.
"Steen! Bagaimana menurutmu? Kau yang paling berpengalaman disini," Tanya Wesson agak ragu.
"Sesuai keinginan daddy!" Tegas Edwald dan sontak Suma tersenyum lebar. Ia tertawa renyah dan sangat senang karna Edwald memang sangat memahami isi hatinya.
"Walau kau bukan putra kandungku tapi aku sangat beruntung memilikimu, nak!"
"Cih, dia pandai mencari perhatian," Gumam Glimer mengepal.
Wesson hanya diam. Ia tahu Edwald tak akan menjawab jika dia tak memiliki pikiran sendiri soal ucapan ayahnya.
"Kali ini target misi ada di keluarga bangsawan William. Mereka tengah mencari calon suami untuk putri sulungnya Patrica. Jika kita berhasil menaklukan mereka maka aparat pemerintahan yang tengah memburu organisasi GYUF tak akan ada apa-apanya."
"Dad! Jadi, kau ingin salah satu dari kami memasuki keluarga mereka seperti yang pernah Steen lakukan?" Tebak Wesson dan langsung diangguki Suma.
"Yah, lagi pula kita tak akan ketahuan karna ada penyamar handal disini," Jawab Suma melirik Edwald dengan pandangan penuh arti.
Glimer sungguh terbakar. Selalu saja Edwald yang mengambil misi besar dan menguntungkan seperti ini. Kapan ia bisa membuktikan diri pada Suma?!
"Dad! Kakak kedua sudah pernah tampil di media. Tak mungkin keluarga Wiliam tak curiga jika dia adalah suami putri sulung Harmon," Protes Glimer membuat Suma diam sejenak.
Ia hanya bisa percaya pada Edwald karna cara pria ini punya caranya sendiri dan kelebihan Edwald terletak pada pesonanya yang melebihi siapapun disini.
"Steen! Kau bisa mengatasinya?"
Edwald mematung. Ia melirik Wesson dari ekor matanya hingga sudut bibirnya tertarik misterius. Tentu Edwald punya rencana untuk ini.
"Kau pasti bisa membuat identitas baru. Kau.."
__ADS_1
"Aku bisa saja melakukan itu. Tapi, wajahku sudah menjadi topik hangat beberapa hari ini karna hilangnya nona muda keluarga Harmon. Mustahil aku bisa lolos seleksi publik!" Jelas Edwald menggambarkan raut kecewa di wajah Suma yang tampak kesal.
"Lalu apa? Siapa yang akan melakukan ini?"
"Kakak pertama!"
Wesson langsung memandang Edwald yang menyebutkan namanya. Ada raut keberatan di wajah Wesson yang tak pernah pandai seperti Edwald yang bisa berubah-rubah kepribadian.
"Steen! Bagaimana bisa aku menggantikan julukan seribu wajahmu?! Aku selama ini hanya mengurus bisnis ilegal GYUF."
"Kau bisa. Hanya saja kau perlu bekerja keras," Jawab Edwald mengangkat gelas wine di dekat piringnya dan minum dengan tenang.
Ada maksud licik di kepala Edwald yang sangat senang jika Wesson pergi dari sini. Dengan begitu kucing yang mencakarnya semalam tak akan bisa bertindak jauh.
"Dad! Aku tak yakin dengan ini," Gumam Wesson menimbang-nimbang keputusaan.
"Kau tenang saja. Aku akan mengajarimu," Lugas Edwald lalu berdiri.
Ia membungkukkan sedikit tubuhnya memberi sapaan hormat pada Suma untuk pamit.
"Aku ada urusan, dad!"
"Hm. kau pikirkan lagi soal ini, Steen!" Tegas Suma dan dijawab anggukan oleh Edwald yang segera pergi keluar dari ruang makan mewah ini.
Di depan sana Edwald melirik Shireen yang berdiri di dekat meja sofa pura-pura membersihkan area ini padahal ia mendengar semua pembicaraan tadi. Pandangan Edwald menyelidik pada kaki Shireen yang sudah berdiri dengan stabil.
"Ehmm!"
Edwald berdehem. Shireen tak menghiraukan hal itu dan tetap fokus pada acara bersih-bersihnya.
"Jika kau ingin bermain sandiwara jangan terlalu lugu."
Shireen berhenti melihat-lihat vas di meja. Ia masih memunggungi Edwald yang berjarak 1 meter darinya.
"Aku hanya bersikap selayaknya pelayan."
"Semua pelayan akan menyelesaikan semua pekerjaan tepat saat mentari terbit. Apa kau pelayan?" Tanya Edwald membuat Shireen diam.
"Kauu.." Geram Shireen berbalik menatap tajam Edwald yang memberi senyum tipis.
"Telitilah dalam bersandiwara. Kau bisa rugi besar, hm?"
"Ku pikir kau sudah tiada," Ketus Shireen masih tak menahan hawa kebenciannya.
Edwald menatap area perutnya yang dilapisi mantel. Ia bersikap santai seakan-akan memancing Shireen untuk semakin membencinya.
"Luka seperti ini tak bisa membunuhku!"
"Benarkah? Lalu luka seperti apa?" Tanya Shireen mengepal. Edwald semakin membuatnya muak dengan kata-kata angkuh yang dia lontarkan.
"Luka seperti apa yang bisa membuat seorang PENIPU sepertimu tiada?"
"Luka yang tak terlihat, tak berdarah dan tak bisa di abaikan," Batin Edwald tapi hanya ia yang mendengar itu.
Shireen menunggu dan terus menanti jawaban tapi Edwald terlalu ambigu.
"Apa perlu aku meledakan jantungmu?"
"Kau sudah lama melakukannya," Gumam Edwald tak bisa di dengar jelas oleh Shireen yang seketika tak tahan berbicara dengan orang munafik ini.
"Akan ku pastikan kau mendapatkan luka itu!"
"Hm, aku menunggu," Jawab Edwald ingin pergi tapi tiba-tiba saja terdengar suara Suma yang lantang.
"Siapa wanita ini??"
Edwald mengurungkan niatnya untuk pergi. Shireen diam menatap tegas Suma yang datang bersama Wesson dan Glimer yang terpana melihat kecantikan wanita ini.
__ADS_1
"Tuan!" Sapa Shireen pada Wesson yang tersenyum.
"Dad! Dia pelayan pribadiku!"
"Pelayan?" Gumam Suma mengernyit. Ia tak pernah melihat Shireen karna selama ini Edwald-lah yang mengurus segalanya.
"Yah, dia pelayan setiaku, dad!"
"Siapa namanya?" Tanya Suma tampak berminat pada Shireen yang merasakan jelas ketertarikan Suma padanya.
Pakaian Shireen sangat anggun. Dress lengan panjang selutut seperti monalisa tapi tetap saja sangat menggiurkan.
"Nama wanita cantik ini, siapa?" Imbuh Suma mengusap-ngusap dagunya menatap lekat dari kaki jenjang dan puncak kepala Shireen yang risih tapi ia memanfaatkan hal ini.
"Namaku .."
"Shi!" Sela Edwald membuat mereka semua tersentak. Terutama Wesson yang memang sampai sekarang tak tahu siapa nama Shireen.
"Shi?" Gumam Suma tapi Shireen ingin membantah.
"Namaku.."
"Shi! Artinya keindahan," Sela Edwald main mata dengan Shireen yang menangkap maksud berbeda dari manik hijau elang Edwald.
"Apa dia ingin melindungi ku?! Tidak.. Dia pasti merencanakan hal licik dari hal ini," Batin Shireen untuk sekarang memakai nama itu.
"Benar, tuan! Namaku, Shi!"
"Namamu yang sangat indah sama seperti pesona orangnya," Puji Suma tapi bermaksud mesum.
Edwald diam. Tapi, di dalam hatinya ada rasa ingin mengorek isi kerongkongan pria itu.
"Dad! Dia pelayan pribadiku. Aku harap daddy tak mengusiknya."
"Mana mungkin aku mengusik kesenangan putraku," Ucap Suma menepuk bahu Wesson yang akhirnya lega.
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi, dad!" Pamit Wesson pergi seraya mengajak Shireen yang ingin ikut tapi Suma berulah.
"Ada yang harus aku tanyakan pada wanita itu!"
Ucap Suma dengan wajah santai dan tenang. Wesson berbalik berdiri di samping Shireen yang hanya diam.
"Katakan, dad!"
"Aku perlu bantuannya," Tegas Suma dan Wesson ingin menolak tapi Suma sudah mengangkat satu tangannya.
"Dia hanya ku suruh memilih pakaian!"
"Baiklah," Pasrah Wesson menepuk bahu Shireen lembut lalu pergi. Glimer juga ikut berjalan melewati Shireen tapi matanya seakan mau menelan Shireen bulat-bulat.
Sekarang hanya tinggal mereka bertiga. Edwald memandang dingin Shireen yang sudah tahu ia harus melakukan apa.
"Steen! Kau pergilah!"
"Hm," Gumam Edwald pergi. Ia ingin melihat bagaimana Shireen akan melawan Suma? Apa kedok wanita itu akan terbongkar hari ini juga?!
Di depan sana sudah ada Cooper yang segera mendekat.
"Steen! Aku sudah menyelidiki semuanya. GYUF sekarang sudah masuk buronan utama. Kita harus lebih berhati-hati."
Edwald diam. Ia sekarang harus menangani aparat negara-negara yang pernah mengejar mereka.
"Kau bebaskan gadis berseragam di gudang belakang!"
"Apa?" Tanya Cooper heran.
"Jadikan dia pelayan di kediaman utama!" Tegas Edwald lalu pergi. Cooper menerka. Rencana apa lagi ini? Pasti tak akan jauh-jauh dari yang namanya Shireen.
__ADS_1
....
Vote and like Sayang..