
Kedatangan klan META membuat suasana semakin genting. Hanya ada beberapa anggota yang tersisa dan itu-pun sudah terluka parah karna ledakan besar dari kapal penampung tawanan tadi.
Keadaan yang genting seperti ini membuat Suma segera berlari ke atas kabin kapal di ikuti Wesson dan Glimer yang melihat Edwald masih berdiri tegap di tempat pertama di tinggalkan.
"Steen!"
Panggil Suma mendekati Edwald dengan raut khawatir. Pandangan paniknya membelah hamparan anggota musuh yang sudah mengepung mereka.
"Steen! Mereka.. Mereka datang. Itu pasukan META!"
"Lalu?" Tanya Edwald tampak tenang. Suma sungguh khawatir jika mereka akan mati sia-sia disini.
"Apa yang harus di lakukan. Mereka pasti akan menyerang ke kapal kita!"
"Bukankah kau menginginkan ini?" Tanya Edwald dingin dan tentu Suma langsung menyesali apa yang telah ia lakukan. Dengan ceroboh ia bertindak sendiri padahal Edwald tak pernah salah dalam berbagai taktik rencana.
"Maafkan aku. Aku hanya sangat mencemaskan kalian!"
"Kau mencemaskan dirimu sendiri," Jawab Edwald tegas memandang lampu-lampu kapal dari kejahuan.
Mendengar penuturan Edwald yang tampak beku, Suma langsung mengambil tindakan besar.
"Ini bukan waktunya untuk berdebat. Kita harus menghadapi pasukan mereka, Steen!"
"Aku tak punya rencana," Jawab Edwald santai bergerak untuk pergi dari sini. Tentu Suma akan sangat panik karna jika Edwald pergi maka kemenangan tak akan ada lagi di tangannya.
"Steen! Kau ingin lepas tangan, haa??"
Seruan Suma membuat Edwald berhenti. Wesson tiba-tiba memeggang bahu Edwald dengan tatapan permohonan.
"Kita tak bisa mati disini," Gumam Wesson mencoba untuk menengahi ini.
"Steen! Jangan kecewakan aku. Kau sudah ku anggap sebagai putraku sendiri, nak!"
Suma mulai mengeluarkan kalimat yang terdengar menjijikan di telinga Edwald yang hanya segan pada Wesson. Pria ini cukup bisa membuatnya berpikir dua kali setelah kepergian Shireen.
Edwald diam masih belum memberi jawaban tapi pasukan musuh sudah melancarkan serangan ke kapal mereka. Alhasil pasukan GYUF yang masih tersisa segera membalas hujaman peluru itu tapi tentu akan kalah jumlah.
"Steen!! Lakukan sesuatuu!!" Desak Suma berlindung di balik pilar kapal yang terkikis timah panas itu. Lampu-lampu kapal juga satu persatu pecah tertembak hingga membuat beberapa sudut kapal menjadi gelap.
"HANCURKAN MEREEKAA!!!"
Suara di seberang kapal sana menyeru kembali dengan lantang. Wesson mengeluarkan pistolnya lalu berlindung di balik palang kapal begitu juga Glimer yang juga beberapa kali melepaskan tembakan ke arah speedboat yang melaju menyerbu kapal mereka.
"Steen!! Untuk apa kau berdiri di sana??!! Cepat pergii!!"
Wesson yang berusaha menahan pasukan kapal kecil yang melaju kesini. Untung saja bagian luar kapal terbuat dari besi hingga bisa meminimalisir kebocoran.
Dalam kondisi seperti ini Suma benar-benar berkeringat dingin. Ia tak pernah menyangka pasukan musuh akan melancarkan serangan sebesar ini padahal mereka belum ada persiapan.
"Sialan!! Kali ini aku tak akan bisa mengusir mereka," Umpat Suma lalu beralih menatap Edwald yang masih berdiri di tempatnya tanpa menoleh kebelakang. Sialnya, tak ada peluru yang melesat ke arahnya karna Edwald sudah mendekati pintu masuk kapal.
"Steen!! Aku akan lakukan apapun agar kau.."
"Jangan mengusik wanita itu!"
Sela Edwald hanya menegaskan kalimat itu. Suma diam tahu siapa wanita yang Edwald maksud dan mendengarnya saja sudah membuat Suma mengepal.
Tapi, karna sekarang ia tak mungkin menolak akhirnya Suma merendahkan egonya.
"Baiklah! Aku tak akan mengusik wanita itu dan.."
"Tarik anggota yang kau suruh mengikutinya!" Sela Edwald yang membuat Suma syok di tengah hujan peluru yang membumbui kapal.
Dia tahu?
Tapi.. Shiit, dia tahu jika aku sudah menyuruh orang untuk menguntit wanita sialan itu. Dia memang benar-benar tak bisa di anggap sepeleh.
Batin Suma mulai berhati-hati dengan Edwald yang mulai menunjukan pemberontakan. Pria ini bisa menjadi kawan dan lawan dalam waktu bersamaan.
"Aku tak ingin kau ikut campur dalam hal tentangnya. Jika tidak.."
__ADS_1
"Aku mengerti," Sela Suma sudah tak bis tenang melihat pasukan META sudah naik ke kapal mereka bertarung bersama para anggota yang tersisa.
"Mereka sudah masuk ke kapal!! Kita tak bisa terus ada di sini!!"
Glimer yang berdiri menembaki dari atas kabin. Wesson juga melindungi Suma yang ikut menembak tapi ia lebih mengandalkan dua anaknya.
Edwald hanya diam. Ia mulai beranjak dari posisinya menuju ke pilar yang ada di belakang Wesson. Dari suara kekacauan di bawah ia bisa menembak jumlah pasukan musuh sudah naik sebanyak puluhan dan yang mengelilingi kapal ini masih ada banyak anggota, total mereka ada ratusan dan ini termasuk nekat dan angkuh.
"Apa kalian takut, haa????"
Seorang pria yang berdiri di ujung kapan besar yang sudah mendekat ke sini. Lampu besar kapal mereka begitu terang sampai jarak pandang mereka kabur dan terhalangi.
"Bagaimana? Apa ini cukup menyenangkan?"
"Johannes!!" Geram Suma melihat dari sela cahaya ke arah kapal itu. Ada seorang pria seumuran putra-putranya tengah berdiri dengan percaya diri.
Satu kakinya bertumpu pada besi pelindung kapal dengan para bawahan mengelilinginya. Tak lupa ia membawa pistol laras panjang yang siap meledak kapan saja.
"Apa kabarmu pak tuaaa??? Lama tak berjumpa tapi kau masih saja mengandalkan anak-anak ingusanmu ini!!"
"Jaga mulut busukmu sialaan!!" Geram Glimer menembak ke arah kapal itu tapi sayangnya cahaya ini terlalu terang hingga ia salah sasaran.
Pria bernama Johannes itu menyeringai. Ia datang bukan untuk melenyapkan Suma melainkan nyawa dari GYUF. Jika pria itu tiada maka kelompok gelap ini akan menjadi sampah.
"Habisi Steen!" Titah Johannes pada para anggota di belakangnya.
Mereka mulai mengulurkan senjata laras panjang ke arah kapal itu dengan penerangan yang sangat tajam hingga Suma dan yang lainnya tak bisa melihat apa yang terjadi di dalam kapal musuh.
Tapi, Edwald yang ada di balik pilar ini melihat ada bayangan dari sela cahaya ini. Netra tajam dan telitinya bisa menebak dimana saja posisi musuh yang tengah membidik ke arah mereka sekarang.
"Wesson!" Panggil Edwald seraya mengeluarkan senjatanya.
Wesson yang ada di belakang Edwald mengerti saat Edwald mengetuk pilar dua kali menunjukan dimana posisi musuh sekarang.
Saat pasukan META ingin menembak, Edwald segera keluar bersama Wesson yang langsung melepas belasan peluru ke arah bayangan tadi berasal.
"Bawa daddy ke dalam!" Titah Wesson pada Glimer yang mengangguk.
"Steen! Kita tak akan bertahan lama dalam formasi seperti ini. Anggota akan mati sia-sia," Gumam Wesson menghindari lesatan peluru yang mendekat ke arahnya.
Edwald diam. Ia melihat kebawah dimana anggota GYUF yang tersisa masih giat berjuang. Jika ingin berakhir sekarang tentu itu bukan pilihan yang baik.
"Munduuur!!" Titah Edwald pada anggota di bawah sana dan sesekali menghindari serangan dari titik yang sama.
Para anggota yang mendengar perintah Edwald segera terjun ke air membiarkan pasukan musuh menguasai kapal.
"Steen! Di sebelahmu!!" Ucap Wesson saat ada dua anggota musuh yang memanjat ke kabin atas menyerang mereka.
Edwald segera menembak ke arah dua manusia itu tapi tak di sangka yang naik ke sini sudah puluhan orang. Mustahil, mereka bisa lolos dari kepungan musuh sebanyak ini.
"Apa yang harus kita lakukan? Steen!" Cemas Wesson yang sudah mulai kehabisan peluru. Ia berlindung di balik besi pembatas kapal menatap banyak sekali percikan api dari timah yang menubruk baja kapal sampai keadaan tak bisa di katakan baik-baik saja.
Benar saja. Johannes yang melihat kapal GYUF sudah tak bisa berlayar lagi langsung menggemakan tawa yang sangat keras sampai ia terbatuk tapi itu suara penuh kebahagiaan.
"Matilah kalian semuaa!!! Aku sudah menunggu lama untuk yang satu inii!!"
Johannes sangat senang bukan main. Jika di sebut sebagai pecundang maka itu memang benar. Ia tak bisa mengalahkan GYUF dari depan tapi akan ia serang dari berbagai penjuru.
"Menyerahlah!!! Aku akan mempertimbangkan kalian jika ingin bergabung dengan METAA!!"
Tawaran Johannes terdengar lucu di telinga Edwald. Ia tahu semua ini akan sangat merugikan GYUF tapi apa salahnya untuk mencoba.
"Steen! Aku ingin sekali merobek mulut putra pecundang META itu," Desis Wesson naik pitam.
Edwald hanya diam. Matanya menatap rantai besar di ujung kapal yang tepat ada di depan kapal Johannes. Percikan api dari penembakan ini menimbulkan ide di kepala licik Edwald.
"Turunlah dari kapal!"
"Kau.."
"Turun dan ikatkan rantai itu ke bawah mesin kapal mereka!" Titah Edwald pada Wesson yang langsung melihat ke mana pandangan Edwald berada.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kau? Dia itu ingin melenyapkan mu!"
"Aku tak akan mati secepat ini," Jawab Edwald mendorong Wesson cepat hingga jatuh ke laut sana beriringan dengan tembakan dari arah kapal Johannes.
Edwald melihat kapal ini sudah dipenuhi anggota META sedangkan Suma dan Glimer masih ada di dalam kapal.
"Steen!!" Panggil Suma yang tampak diserang dari dalam. Edwald diam melirik ke arah tabung gas oksigen yang ada di kiri kanan kapal lalu ada kabel listrik yang sudah putus karna terkena tembakan tadi di lantai.
"Terjun ke air!!" Titah Edwald mengalihkan perhatian Johannes dengan muncul di tengah-tengah lampu kapal hingga Glimer dan Suma langsung memanfaatkan itu terjun ke dalam air laut yang terasa dingin.
Johannes yang melihat kemunculan Edwald langsung menyerukan anggotanya untuk segera membunuh pria itu.
"Cepat habisi diaa!!!"
Kerasnya sangat geram melihat Edwald tanpa takut menghadangnya. Semua anggota META langsung menyerbu ke arah kapal.
Edwald membiarkan mereka naik ke kapal ini dengan tembakan yang masih melesat ke arahnya tapi terhalang oleh pembatas kapal di depannya.
"STEEEN!!!"
Suara Wesson dari permukaan air. Edwald mengerti dan segera meloncat dari pinggir kapal ini seraya melepas dua tembakan ke arah tabung oksigen dan kabel listrik tadi hingga terjadi percikan api yang membuat sebuah ledakan.
Johannes terkejut berlindung di balik pembatas kapalnya kala kapal di depan sana sudah meledak bersamaan dengan para anggotanya yang tadi menyerbu ke arah sana.
"T..tidak.. tidak. Ini tidak mungkin.."
Geram Johannes naik pitam melihat kepulan asap di depan sana menggelegar beriringan dengan getaran air yang menggulung ke arah kapalnya.
Johannes segera terjun ke air. Ia mengeluarkan pisau di balik jaketnya menyelam ke arah Edwald yang tadi juga terjun ke tempat yang sama.
"Aku akan membunuhmu!!"
Batin Johannes sudah tak bisa menunggu. Dari api yang menyambar kapal dan lampu terang tadi Johannes bisa melihat Edwald berenang di kedalaman yang cukup berani.
Ia mengejar Edwald yang berenang mengelilingi kapal META. Ntah apa yang pria ini lakukan Johannes hanya ingin merenggut nyawanya.
Dalam beberapa saat kemudian Johannes sudah mendekati Edwald. Ia langsung menyabetkan pisaunya ke arah punggung Edwald yang menghindar hingga pisau itu menghantam bawahan kapal.
Tubuh keduanya ringan di dalam air yang terombang ambing. Johannes seperti air mendidih mencoba untuk melahap Edwald yang begitu lincah menghindari setiap serangannya bahkan Johannes yang selalu di hantam ke baja kapalnya sendiri oleh kaki kokoh Edwald.
"Kau akan matii!!" Batin Johannes segera menarik lengan Edwald ke bawah kapal paling jauh. Oksigen di dada Johannes sudah menipis begitu juga Edwald yang tadi sempat terkena benturan di bawah kapal sampai bagian bahunya terluka.
Tapi, tetap saja Johannes tak bisa mengimbangi Edwald. Ia berusaha menekan pria itu ke dasar laut dengan sangat nekat.
Terjadi pergulatan di dalam sana sampai Johannes tak lagi punya udara untuk bernafas. Edwald menendang bahu Johannes tenggelam lebih jauh sedangkan ia berusaha berenang kepermukaan.
Tapi, Johannes segera menarik saku celana Edwald hingga satu cincin keluar jatuh ke bawah sana.
"Shi!"
Batin Edwald melihat cincin itu tenggelam ke dalam sana. Tanpa pikir panjang Edwald berbalik menyelam lebih dalam padahal ia tak akan bisa melawan tekanan air yang semakin kuat bersamaan dengan gelombang yang menggila.
Melihat itu Johannes segera memanfaatkan itu. Ia berenang naik ke atas sana membiarkan Edwald terjerumus dalam gelombang yang semakin tinggi hanya untuk mengejar cincin.
...........................
"Uhuuk!!"
Shireen tersedak air yang ia minum sampai membuat kakek Bolssom dan nenek Rue yang tengah menemaninya makan langsung siap siaga.
"Shi! Pelan-pelan, nak!" Cemas Nenek Rue menepuk-nepuk tengkuk Shireen yang diam. Hatinya sangat kacau dengan rasa takut yang tiba-tiba menjalar memenuhi dadanya.
Bahkan, kakek Bolssom bisa melihat Shireen mematung tampak mencemaskan sesuatu.
"Shireen!"
"E..Edwald!" Gumam Shireen memeggangi jantungnya yang berdetak kencang. Sungguh, tiba-tiba saja ia merasa sangat takut dan cemas tanpa alasan yang jelas.
....
Vote and like sayang..
__ADS_1