
Kabar meninggalnya tuan Walter langsung tersebar. Hal ini membuat satu kediaman syok karna salah satu pelayan yang tadi merasa aneh dengan posisi tidur tuannya yang tak berubah segera menyadari jika tuan Walter sudah tak bernyawa.
Pelayan wanita bernama Anne itu segera menghubungi Shireen dan nyonya Colins yang sudah lebih dulu datang. Ia terisak di samping jenazah suaminya dikelilingi para pelayan dan penjaga kediaman yang tampak masih tak percaya kabar ini.
Mereka masih menunggu Shireen atau lebih tepatnya tak ada yang tahu harus apa sekarang.
"Kenapa bencana terus berdatangan? Kenapa kau pergi setelah semuanya hancur? Hiks. Kenapa??"
Teriak nyonya Colins sudah tak sanggup mengendalikan dirinya. Ia benar-benar terpukul karna kekacauan ini semakin menjadi-jadi. Freya kritis dan suaminya meninggal, apa yang lebih buruk dari itu?!
"Daddyy!!!"
Suara Shireen dari luar setengah berteriak. Wanita cantik dengan penampilan sudah kacau dan mata sembab itu berlari masuk ke dalam kediaman membuat mereka terkejut karna keadaan Shireen sudah se-menyedihkan ini.
"N..nona!"
"M..mom! Apa.. Apa yang terjadi? D..dady.."
Bukannya menjawab dengan tenang, nyonya Colins justru bangkit langsung menampar Shireen yang seketika terduduk di dekat sofa panjang yang menampung tubuh tak bernyawa tuan Walter.
"M..Mom!"
"DIA SUDAH TIADA!! SEMUANYA SUDAH HANCUR, SHIREEN!! HANCUUUR!!" Bentak nyonya Colins terlihat sangat marah. Deru nafasnya menggebu dengan rambut sudah acak-acakan.
Mata Shireen semakin memanas. Tangannya terangkat gemetar menggenggam punggung tangan dingin tuan Walter yang seketika membuat tangis Shireen pecah.
"D..daddy!!! Hiks, daddyy!!" Isak Shireen mengguncang kaki kaku pria ini. Semua pelayan disini langsung menunduk dengan air mata lolos begitu saja.
"D..dad! Kau.. kau bercanda-kan? D..daddy bangun!! Daddy!!! Hiks, maafkan aku.. maaf!!"
Shireen menjerit kuat. Dunianya benar-benar hancur bahkan tak ada yang tersisa. Jiwanya terasa di tarik paksa bahkan batinnya sudah tak sanggup menerima semua ini.
"D..dad! A..aku.. Aku tahu aku salah. Tapi a..aku mohon sekali saja buka matamu, aku.."
"Kau senang-kan?" Tanya nyonya Colins tersenyum sarkas pada Shireen yang memeluk lengan kaku tuan Walter.
"Ini yang kau mau, Shireen! Kenapa kau menangis? Seharusnya kau tertawa!! Ayo tertawa!!" Teriak nyonya Colins mendorong bahu Shireen yang tak bisa lagi berkata-kata.
Air matanya terus keluar menatap penuh luka wajah rentan tuan Walter yang benar-benar membuatnya tak ingin hidup lagi.
"Kau seharusnya senang karna kau bisa memimpin semuanya!! Freya kritis dan walter sudah tiada, apa kau akan membunuhku?"
Shireen hanya diam. Keadaanya sudah kacau bahkan wajahnya sembab dengan mata yang bengkak. Tak pernah mereka melihat Shireen sampai semenyedihkan ini bahkan lalat-pun enggan berdengung di telinganya.
__ADS_1
"Ini luar biasa!! Ini luar biasa, Shireeen!!! Aku tak ingin hidup lagi!!!" Jerit nyonya Colins mengambil pisau buah di dekat meja sofa.
Sontak para pelayan memekik histeris melihat nyonya Colins ingin menggorok lehernya sendiri untung para penjaga disini sigap menahan wanita itu.
"Aku ingin matii!! Semuanya sudah hancuur!!"
Shireen membekap mulutnya. Ingin rasanya Shireen mengambil pisau itu dan menyobek jantungnya sekarang tapi tenaganya tak cukup banyak.
"Nyonya! Sadarlah!"
"Semuanya hancur, Shireen!!! Hancuuur!!" Teriaknya diiringi dengan tangisan. Ia memberontak tetap ingin bunuh diri sampai akhirnya kehilangan kesadaran.
Kepala Shireen juga sudah berat berputar bahkan pandangannya mengabur. Rasa sakit di tubuhnya tak lagi terasa karna batin dan fisiknya sudah keluh tak lagi bisa merasakan apapun.
"N..Nona!" Gumam para pelayan melihat Shireen yang tampak diam dengan mata lelahnya sayu. Lengan tuan Walter masih ia peluk bahkan tak mau melepasnya sama sekali.
"Nona! Saya mohon kuatkan diri anda. Jika bukan nona, siapa lagi yang akan mengurus keluarga ini?" Ucap kepal pelayan Anne yang mengusap bahu Shireen yang dingin.
Shireen tak perduli lagi dengan penampilannya. Tali kardigan itu sudah lepas bahkan pahanya tersingkap terlihat sangat seksi tapi pikiran Shireen tengah tak baik-baik saja.
Dalam lamunan itu Shireen langsung terpikir wajah Edwald. Seketika kedua tangannya mengepal kala ingat jika tadi tuan Walter masih baik-baik saja sebelum berdua dengan Edwald.
"Bik!" Gumam Shireen disela sesenggukan nafasnya. Ia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada tuan Walter sampai seperti ini.
"Nona!"
"A..aku tak akan melepaskan-mu! Tidak akan," Gumam Shireen dengan tangan gemetar mencari nomor Edwald dan segera menghubunginya.
Saat sambungan ini terhubung, Shireen langsung memaki Edwald dengan semua kebencian yang memenuhi dadanya.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU!!! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBALAS INI, PRIA BRENGSEEEK!!!"
Maki Shireen membuat mereka semua terdiam. Deretan manusia itu saling tatap seakan melempar tanda tanya tentang, siapa yang menerima makian dari nonanya yang selama ini tak pernah berkata kasar?!
Seakan tak melayani Shireen, suara Edwald sama sekali tak terdengar. Ia seperti membiarkan Shireen menyumpahinya walau memang itu patut di lakukan.
"Aku bersumpah atas nama daddyku," Gumam Shireen dengan air mata terus mengalir menatap nanar wajah pucat tak bernyawa tuan Walter.
Ia mengepal sampai kuku-kuku tangannya menekan kuat sampai menimbulkan darah.
"JIKA AKU TAK MEMBUNUHMU, MAKA AKU YANG HARUS MATI!"
Sambungan itu langsung terputus. Ponsel di tangan Shireen jatuh begitu saja dengan kedua tangannya gemetar. Jujur kalimat itu terasa asing bagi Shireen tapi sungguh ini sangat sakit, bahkan lebih sakit dari apa yang ada di bayangan semua orang.
__ADS_1
Cinta. Aku mengutuk kata itu dan aku sangat-sangat menyesal pernah mencintai IBLIS SEPERTIMU.
Karna tak bisa menahan tekanan batin dan fisiknya. Shireen tiba-tiba langsung tumbang membuat mereka panik untung bibik Anne segera menahan bahu wanita malang ini.
"Ya, tuhan. Nona!!"
"Bawa nyonya besar dan nona muda ke atas. Kita harus mengurus acara pemakaman tuan Walter," Tegas para pengawal yang melihat kondisinya tak memungkinkan.
"Tapi, kita harus memberi pernyataan pada kepolisian dulu agar tak ada kesalah-pahaman. Nona tak mungkin bisa sadar dalam waktu dekat," Seru pelayan muda yang tampak sembab karena menangis.
"Tunggu sampai mereka datang dan baru kita pikirkan ini nanti."
"Bawa dulu nona ke atas. Kasihan di kedinginan," Gumam bibik Anne merasakan kulit Shireen yang putih pucat sudah seperti es batu.
Salah satu pengawal itu segera menggendong Shireen kembali ke kamar atas sedangkan nyonya Colins juga di bawa ke kamarnya.
Tinggallah bibik Anne yang mengambil nafas dalam. Ia benar-benar tak menyangka jika nasib keluarga ini akan sangat menyedihkan seperti ini.
"Permisi!!"
Suara seseorang di depan menyita perhatian para pelayan khususnya bibik Anne yang segera pergi ke depan.
Di pikirannya tadi adalah aparat kepolisian ternyata ada dua pria berjas rapi datang membawa tas kerja dan dokumen.
"Maaf. Sekarang keadaan keluarga ini belum baik. Mungkin..."
"Kami dari pihak Bank ingin bertemu dengan tuan Walter. Apa dia ada?" Tanya salah satu pria yang membawa tas dengan tampang tegasnya.
Bibik Anne tak tahu harus mengatakan apa tapi ia juga tak mungkin memperparah keadaan.
"Kami tengah di timpa masalah. Untuk saat ini nona atau tuan belum bisa di temui," Jawab sopan bibik Anne tapi dua pria ini seperti tak perduli.
"Kami hanya datang untuk memberikan surat pernyataan resmi ini!"
Menyodorkan dokumen ke tangan bibik Anne yang tertentu bingung.
"Ini.."
"Sesuai kesepakatan kerja yang sudah di tandatangani tuan Walter kemaren. Perusahaan dan seluruh asetnya akan kami sita karna dia tak bisa membayar uang pinjaman!"
Duaarr...
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Sok say.. Jangan lupa beri nilai kasih bintang 5 ya😁 biar semangat