
Keluarga William yang mereka targetkan itu sudah ada dalam jangkauan Edwald. Pria bermanik hijau tajam itu sangat pandai membawa diri memperkenalkan Wesson pada tuan besar Michelle yang tampak bersahabat menyambut mereka.
"Kami merasa sangat terhormat mendapat undangan dari keluarga anda, tuan!" Ucap Edwald tegas berjabat tangan dengan tuan Michelle yang juga dengan ramah membalasnya.
"Aku juga tak menyangka, direktur utama ACIAN bisa hadir setelah berita soal kebangkrutan kalian, aku sangat tak percaya tentang berita kemaren, presdir Edwald!"
"Yah, itu hanya kabar angin," Jawab Edwald melepaskan jabatan tangannya. Tuan Michelle beralih pada Wesson yang tengah menyapa nyonya Ines yang juga sangat menyukai kedatangan mereka.
Keakraban yang terjalin tampak harmonis membuat beberapa tamu yang tadi juga ingin mengenalkan putra mereka sampai kesal karna tak ada cela untuk menyaingi dua pemuda itu.
Apalagi, putri tunggal keluarga William sedari tadi hanya melirik ke arah mereka dengan wajah malu-malu dan seperti jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Patrica!!"
Panggil tuan Michelle pada seorang wanita yang tampak cantik dengan mata bulat dan tubuh tinggi itu. Ia meletakan gelas anggur yang tadi ia peggang di atas meja lalu berjalan mendekat ke sana.
"Dad!" Sapanya sopan.
"Perkenalkan ini putriku, Patrica!" Ucap tuan Michelle pada Wesson dan Edwald yang hanya mengangguk seadanya.
Tapi, pandangan Patrica justru tertarik pada Edwald yang segera melirik Wesson dari sudut matanya seakan memerintahkan sesuatu.
Wesson yang sadar segera mengambil alih susana yang sudah di ciptakan oleh Edwald tadi. Ia menyapa Patrica yang tersenyum ramah tapi angkuh.
"Aku Wesson! Kau terlihat sangat cantik malam ini!"
"Hanya malam ini?" Tanya Patrica tapi melirik ke arah Edwald yang justru mencari-cari Shireen disekitarnya tenang.
"Tentu saja setiap saat. Tapi, aku kurang beruntung karna tak tahu jika tuan Michelle punya permata seindah ini," Puji Wesson menyanjung tinggi sampai Patrica begitu bangga melepas jabatan tangan mereka.
Nyonya Ines dan tuan Michelle saling pandang. Mereka melihat Patrica ingin sekali menyapa Edwald yang sudah mendapatkan pujaan hatinya yang tengah berbincang ramah dengan para orang besar di sudut sana.
Tatapan Edwald datar tapi mengusung decah kagum. Hanya dalam beberapa menit Shireen sudah menguasai semua orang di gedung ini.
"Baru 10 menit aku membebaskanmu tapi, lihat! Banyak lalat yang datang mengerumuni," Batin Edwald cukup jengkel karna ada beberapa pemuda yang mendekati Shireen bahkan tak khayal sampai berjabat tangan ria.
Pembawaan Shireen yang sangat hangat dan mahal membuat mata mereka tak ingin berpaling dari dewi kesempurnaan ini.
"Apa ada lagi yang ingin kau kenalkan padaku?" Tanya Patrica pada Wesson yang diam sejenak. Ia menyusuri arah pandangan Patrica yang tertuju pada Edwald tapi pria itu berdiri gagah dengan kedua tangan masuk ke saku celananya menatap pada satu objek.
"Ouh, ini?"
"Hmm.. Yah," Gumam Patrica mengulum senyum tak menundukan pandangannya.
"Ini adikku, Edwald! Dia seorang pebisnis muda dan sangat handal."
"Benarkah?" Tanya Patrica agak mengeraskan suaranya hingga Edwald menoleh.
Saat manik hijau elang ini memandangnya datar Patrica merasa aliran darahnya tersumbat sampai pipinya memerah.
__ADS_1
"Edwald! Nona Patrica ingin berkenalan denganmu!"
"Edwald!" Singkat Edwald tapi Patrica mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Wesson memberi isyarat agar segera berjabat tangan untuk menghormati tuan dan nyonya William.
"Sayaang!"
Panggil Edwald pada Shireen yang tersentak saat suara Edwald cukup keras dan sangat mendayu tegas. Suasana seketika hening karna mereka seperti tak percaya Edwald akan semesra itu di depan banyak orang.
"Apa lagi yang dia mau?!" Rutuk Shireen tapi masih mempertahankan wajah cantik ramahnya.
"Nona! Tuan Edwald memanggilmu!"
"Yah, suaranya begitu lembut. Aku sampai merinding!"
Decah para tamu wanita yang tadi ada di dekat Shireen. Dengan penuh kedongkolan Shireen pamit lalu berjalan penuh senyuman mendekati Edwald yang tanpa malu menjadi pusat perhatian.
"Ada apa, hm?" Tanya Shireen menahan geram saat Edwald mengulur satu tangan meraih pinggangnya dalam belitan mesra yang hangat.
"Bersikaplah sesuai rencana," Bisik Edwald meremas pinggang Shireen yang tersenyum menahan jengkel tapi ia segera menyapa tuan dan nyonya William.
"Selamat malam, tuan dan nyonya!"
"Nona Shireen?" Tanya nyonya Ines tampak mengagumi Shireen yang tersenyum bingung tapi ia tersentak saat mendapat pelukan dari nyonya Ines.
"N..nyonya?"
"Nyonya! Aku bukan selebritis, kau terlalu berlebihan pada wanita kecil sepertiku."
"Tidak, kau memang bukan selebritis tapi kau pernah membantuku dulu, nak! Kau tak ingat?"
Shireen menggeleng. Ia tak ingat apapun sampai memandang Edwald yang tak lagi membelit pinggangnya.
"Kau pernah menolongnya saat hampir di tipu seseorang!" Ucap Edwald yang anehnya tahu itu.
"Yah, saat itu ada yang menawarkan perhiasan padaku dengan alasan butuh uang mendesak. Tapi, ternyata dia menipu dalam jumlah besar. Jika kau tak datang aku tak tahu apa lagi yang akan terjadi, nona!" Timpal nyonya Ines hingga Shireen baru mengingatnya.
"Ouhh.. Aku ingat, itu hanya kebetulan nyonya! Aku sering melihat orang seperti itu saat perjalanan bisnis," Jawab Shireen sangat sopan dan elegan.
Nyonya Ines yang sangat bahagia langsung memperkenalkan Shireen pada Patrica yang tampak menatapnya rendah.
"Patrica! Ini nona Shireen, dia sangat cantik-kan?"
"Patrica!" Singkatnya tak mau berjabat tangan dengan Shireen yang tadi ingin mengulurkan tangan tapi segera ia urungkan.
"Nak! Dia ini adalah istri dari tuan Edwald, mereka berdua sangat serasi dan.."
"Istrii??" Syok Patrica terkejut. Hal itu membuat mereka bingung terutama tuan Michrlle yang memeggang bahu putrinya.
__ADS_1
"Nak! Ada apa?"
"D..dad! Mereka s..suami istri?" Tanya Patrica seperti kecewa.
Edwald segera merengkuh bahu Shireen seakan menunjukan itu memang benar.
"Hm, dia istriku!" Tegas Edwald tak memberi cela pada siapapun untuk menyalip diantara keduanya.
Wesson jadi bingung. Ia tak tahu apa-apa soal pembicaraan suami istri yang di katakan Edwald karna Wesson pikir ini bagian dari rencana padahal, Edwald benar-benar membuka dirinya pada publik.
Patrica menatap tajam Shireen yang heran tapi ia hanya diam membiarkan Patrica pergi tapi sempat menyenggol bahu Shireen yang untung saja ada di pelukan kokoh Edwald.
Melihat sikap arogan Patrica, nyonya Ines dan tuan Michelle saling pandang cukup malu pada Shireen.
"Nona! Maaf atas kekanak-kanakan putriku!
" Tak apa, itu biasa!" Jawab Shireen tersenyum hingga nyonya Ines pamit untuk menyusul putrinya bersama tuan Michelle.
"Kenapa mereka sedari tadi memanggil kalian suami istri?" Tanya Wesson tapi Edwald tak begitu menanggapi.
"Siapkan dirimu!"
"Steen! Kau jangan membuatku bingung disini," Kesal Wesson tapi Edwald hanya diam dan tak berselang lama ada suara tembakan dari lantai atas gedung.
Semua orang berteriak kala tembakan itu membuat lampu besar di atas sana pecah hingga suasana menjadi runyam.
"Ini.. ..ada penyerangan," Gumam Shireen yang melihat banyak orang ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri.
Tiba-tiba saja banyak pria berpakaian gelap berpenutup wajah datang menembak brutal. Shireen di tarik Edwald berlindung di balik dinding pembatas di belakang.
"Selamatkan orang di dalam! Mereka bisa mati tertembaak!!"
"Kau cukup diam disini," Tegas Edwald menahan Shireen untuk tetap disini. Tapi, Edwald menegaskan pandangannya.
"Edwald!! Kau tak bisa bersikap kejam seperti ini!!"
"Mereka tak akan terluka."
"Kauu.."
Ucapan Shireen terhenti saat sadar sesuatu. Edwald menyeringai memepetnya ke dinding tanpa cela sama sekali.
"K..kau yang .."
"Mendapat nama baik itu perlu perjuangan, sayang!" Bisik Edwald mengecup bibir Shireen yang tak bisa membuatnya bertahan lama.
Edwald memang pandai mencari keuntungan dalam kesempatan. Di depan sana semua orang berkelahi sedangkan ia mencari keuntungan untuk memeluk Shireen yang pasti tak akan memberontak karna suara baku tembak di samping begitu ganas.
...
__ADS_1
Vote and like sayang