Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Sudah tak masuk akal


__ADS_3

Sudah 30 menit Shireen menunggu akhirnya Edwald sudah datang ke perusahaan. Pria itu tampak keluar dari taksi lalu berjalan masuk ke dalam gerbang langsung melihat Shireen yang berdiri di dekat mobilnya.


Senyum Shireen mengembang. Walau ia ingin mencecer Edwald dengan ribuan pertanyaan tapi Shireen masih tetap bersikap tenang.


"Ed!"


"Sudah lama menunggu?" Tanya Edwald mendekati Shireen.


Wanita cantik dengan tatapan teduh ini tetap tersenyum mengandeng lengan kekar Edwald yang gemar memakai jaket.


"Aku sudah mau pulang. Tapi, kita jalan-jalan dulu, bagaimana?"


"Sesuai keinginanmu," Jawab Edwald membukakan pintu mobil untuk Shireen yang masuk. Setelah memastikan wanita ini aman barulah Edwald masuk ke pintu dekat kemudi seraya memasang seatbelt begitu juga Shireen.


"Kau sudah makan? Ed!" Tanya Shireen menatap Edwald yang menyalakan mesin mobil dan segera memutar arah untuk keluar dari area perusahaan.


"Kau lapar?"


"Sedikit," Jawab Shireen tersenyum tipis. Edwald mengerti itu hingga ia segera memikirkan restoran mana yang harus di datangi.


Di tengah perjalanan mereka. Shireen diam dan tak mengoceh banyak seperti biasanya. Ia bahkan hanya fokus melihat keluar jendela dengan tangan memainkan tas kecilnya di atas paha.


Tentu Edwald merasa aneh. Biasanya wanita ini akan cerewet dan membicarakan apapun yang ia lihat.


"Ada apa? Kenapa diam?"


"A..ha?" Tanya Shireen yang tadi melamun dan kurang fokus. Edwald menghela nafas ringan dengan satu tangan yang bebas meraih jemari lentik Shireen untuk di genggam.


"Ada masalah perusahaan?"


"Hm. Daddy tadi marah-marah padaku," Gumam Shireen mengusap punggung tangan berurat Edwald yang sangat jantan dan ia menyukainya.


"Kenapa?"


"Dia bilang kau tak melakukan apapun untuk proyek itu. Aku yakin ini salah paham, kan?" Tanya Shireen hanya memperlembut niatnya saja. Shireen takut Edwald tersinggung walau permasalahan ini masih ngambang.


Mendengar penuturan Shireen yang menggunakan kalimat sehalus mungkin, Edwald pura-pura terlihat murung dan merasa bersalah.


"Maafkan aku sayang!"


"Maksudnya?" Bingung Shireen menatap lekat wajah tampan penuh rahasia ini. Edwald sesekali melihat Shireen dengan tatapan yang sendu.


"Aku tak sempat membantu daddymu karna aku harus mengurus beberapa masalah karyawan lamaku. Bukankah sudah ku katakan kemaren, Shi?"


"Kau memang mengatakan itu tapi kau tak menjelaskan, apa perusahaanmu memang bangkrut total dan tak beroperasi atau tidak?! Ed!"


Batin Shireen merasa bingung sendiri. Ia tak mau menuduh Edwald begitu saja dan sekarang Shireen harus lebih teliti.


"Apa dia mengatakan sesuatu yang buruk padamu? Aku akan menemuinya jika kau tak senang, Sayang!"


"Apa perusahaanmu masih beroperasi?" Tanya Shireen akhirnya meloloskan hal itu. Ia tersenyum masih tenang memberikan waktu untuk Edwald menjawab.


"Ada apa?" Tanya Edwald kembali fokus ke depan tapi satu tangannya masih di paha Shireen.


"Tidak ada. Aku pikir jika perusahaanmu masih beroperasi pasti daddy akan senang," Elak Shireen sudah pandai berkilah.


"Sayangnya perusahaanku sudah berhenti dan belum di olah oleh pemiliknya yang baru."


Jawaban Edwald semakin tak masuk akal. Sudah jelas yang membuat tender proyek itu adalah Greautema cabang dari ACIAN. Jika memang perusahaan itu di ambil alih, lalu kenapa tak ada sidang khusus direksi atau penyerahan jabatan?!


Shireen tak bodoh soal seperti itu. Ia sudah menyuruh sekretaris Amber untuk mencari tahu siapa yang memiliki perusahaan ACIAN sekarang dan bagaimana kondisi saat ini?!

__ADS_1


"Memangnya siapa yang mengambil alih perusahaanmu? Ed!"


"Kenapa kau sangat ingin tahu, hm?"


Edwald menatap Shireen dengan raut heran tapi Shireen segera tersenyum tipis menunjukan ketenangannya.


"Aku hanya penasaran. Siapa tahu perusahaanmu belum bangkrut dan kau hanya ingin menguji istrimu ini," Kelakar Shireen terkekeh kecil seakan-akan ia bercanda tapi jujur itu sedikit menohok bagi Edwald yang diam.


Raut wajah Edwald mulai berubah datar dan itu tak luput dari lirikan ekor mata Shireen yang merasakan perbedaan hawa di mobil ini. Merasa Edwald mulai tak nyaman, Shireen segera mengalihkan pembicaraan.


"Sayang!"


"Hm?" Tanpa menoleh dan tetap melihat ke jalan depan.


"Kita makan dimana? Aku sudah lapar," Manja Shireen memanyunkan bibirnya seraya melihat area di sekitar mobil.


Ini restoran China dimana ada banyak desain dan furniture khas di luar bangunan 2 lantai ini. Cukup ramai tapi terlihat segar.


"Kau suka makanan China?"


"Suka. Aku sering mengunjungi resto mereka saat perjalanan bisnis ke negara itu dulu," Jawab Shireen semangat kala Edwald memarkirkan mobil di tempat yang sudah di siapkan.


Ia turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil Shireen yang selalu menikmati sikap manis sang suami.


Beberapa orang yang sudah keluar dari resto menatap mereka dengan pandangan kagum karna keduanya sama-sama mempesona. Edwald menggenggam tangan Shireen memasuki resto seraya mengabaikan pandangan setiap orang di dalam sini.


"Apa ada yang salah dengan riasanku?" Tanya Shireen berbisik pada Edwald seraya melangkah menuju meja yang ada di sudut dan cukup menjahui keramaian.


"Abaikan saja!"


"Mungkin aku terlalu cantik, ya?" Bisik Shireen tapi justru Edwald langsung menghentikan langkahnya.


Wajah Edwald berubah masam menatap Shireen dengan tak suka.


"Ouh. Ok!" Singkat Shireen duduk di kursi berhadapan dengan Edwald yang sudah tak punya mood lagi melepas jaketnya karna gerah.


Tentu Edwald mempertontonkan lengan kekarnya membuat Shireen kesal tapi itu tujuan Edwald.


Jika tahu Shireen akan jadi objek perhatian, ia akan membanting stir pergi ke goa tersembunyi.


"Cosa vuoi ordinare? Signore e signorina!" Tanya waiters menanyakan, apa yang ingin mereka pesan?


Pelayan laki-laki itu menunjukan buku menunya ke arah Shireen tapi Edwald yang segera merampasnya. Tentu pelayan di samping Shireen tersentak pucat merasa kalah dengan ketampanan pria italia ini.


"Sanbeiji, La ji zi ..."


"Minumannya Baiju!" Sela Shireen memotong ucapan Edwald yang sedang kesal pasti akan memesan banyak makanan secara asal.


"Solo quello( hanya itu)?"


"Yah," Jawab Shireen mengulum senyum melihat Edwald menutup buku menu itu lalu duduk bertopang kaki angkuh dengan kedua tangan melipat di depan dada.


Terlihat jelas jika ia sedang benar-benar kesal dan tak berminat untuk menggubris tatapan para wanita di sekitarnya.


"Kau kesal?"


"Menurutmu?" Tanya Edwald menaikan alisnya. Di mata Shireen itu terlihat menggemaskan tapi di mata seseorang yang tadi baru datang dan duduk di area yang agak jauh dari mereka terbakar bara cemburu.


Seorang wanita yang memakai kacamata dengan topi bundar di atas kepalanya menatap penuh kebencian pada Shireen.


"Bahkan, aku sulit membedakan antara acting dan singguhan, EDWALD!" geramnya meremas buku menu yang ia gunakan untuk menutupi setengah wajahnya

__ADS_1


Puas menggoda Edwald di sela menunggu makanan, Shireen akhirnya berbinar saat pesanan mereka datang. Meja yang tadi kosong sudah terisi dengan piring-piring cantik dengan banyak makanan yang lezat.


"Apa ini terlalu pedas?" Tanya Shireen menunjuk piring berisi Lu Ji Zi dengan sumpitnya.


Tanpa menunggu pelayan itu menjelaskan, Edwald sudah lebih dulu mencicipi makanan ini. Wajah datarnya tak berubah segera mengambil alih piring itu dari hadapan Shireen.


"Ini pedas. Makan yang lain!"


"Tapi aku ingin itu," Gumam Shireen memang sangat ingin. Ia tak bisa mekan pedas tapi liurnya seakan mau menetes melihat potongan kecil ayam La ji Zi.


 La ji zi ini memiliki arti yaitu ayam pedas kering. la ji zi ini terdiri dari potongan daging ayam yang di potong dadu lalu di goreng sampai kering dengan beberapa bumbu yaitu cabai sichuan. Sangat menggugah selera.


Melihat Shireen yang mengiba akhirnya Edwald memesan yang baru.


"Buatkan yang tak terlalu pedas!"


Pelayan itu mengangguk dan bergegas pergi. Senyum Shireen mengembang segera mencicipi makanan yang lain. Tentu seperti biasa Edwald memastikan ia makan dengan benar.


Karna tak bisa menahan letupan api cemburu di jiwanya. Wanita yang sedari tadi melihat kemesraan itu segera merobek buku menu di tangannya.


"Kau sudah keterlaluan, Edwald!" Geram Kimmy. Yah, ia tadi membuntuti Edwald dengan dugaan yang memenuhi isi kepalanya


Semakin ia melihat pasutri itu maka dadanya seakan di cabik-cabik. Bahkan, Edwald tak segan menyuapi Shireen sambil senyam-senyum sendiri.


"Aku ke toilet dulu. Habiskan makananmu!" Pamit Edwald berdiri dari duduknya. Shireen mengangguk membiarkan Edwald pergi.


Melihat kesempatan ini. Kimmy segera menelpon ponsel Edwald hingga Shireen yang tengah makan tersentak.


Edwald meninggalkan jaketnya di kursi tapi ponsel itu ada di dalamnya.


"Jika tak di angkat bisa saja itu penting," Gumam Shireen yang tadi segan tapi segera berdiri mencari ponsel Edwald yang berbunyi.


Saat ia sudah menemukannya. Dahi Shireen berkerut saat nomor ini tak asing di manik hitamnya.


"Nomor yang sama? Kenapa Edwald tak memberinya nama?" Gumam Shireen kebingungan. Melihat Shireen yang heran Kimmy-pun ikut bingung. Seharusnya Shireen terkejut melihat nama perempuan di sana, bukan?


"Angkatlah sialan!" Umpat Kimmy menunggu hingga Shireen menerima panggilan itu.


"Hello!"


"Kau bilang akan datang ke resto Bullgart, Ed!"


Degg..


Shireen terkejut mendengar suara wanita terkesan manja. Jantungnya mulai tak baik-baik saja di sana bahkan Shireen mematung diam.


"B..Bullgart?"


"A.. ini bukan Edwald?"


"Kua siapa dan.."


Panggilan itu dimatikan sepihak. Shireen yang masih bingung dan terkejut secara bersamaan mulai gelisah dan tak lagi bisa tenang.


"Ini sudah tak masuk akal," Gumam Shireen segera menyalin nomor ini ke ponselnya lalu kembali meletakan benda itu ke tempat semula.


Ia berusaha bersikap normal saat Edwald sudah kembali. Walau dugaan yang menyakitkan itu muncul, Shireen tetap ingin mencari tahu dulu agar tak ada kesalahpahaman apapun.


"Aku berusaha mempercayaimu, Ed! Aku mohon jangan rusak hal itu. Aku mohon!"


Batin Shireen menjerit tapi wajahnya masih memaksa senyum agar Edwald tak menyadari kegelisahannya.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2