Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Tak lolos uji


__ADS_3

Akibat rencana licik Ealnest dan Cooper, kasino yang tadi baik-baik saja sudah kacau tiada tara. Semuanya saling di adu-domba oleh Cooper sedangkan Ealnest yang sedari tadi menilai sudah menemukan 2 kandidat untuk lolos di babak selanjutnya.


"Uncle!" Gumam Ealnest mendekati Cooper yang tengah asik menyaksikan baku hantam antar 5 pria di tengah-tengah kasino sampai semua orang ikut terpacu.


"Uncle!"


"Apa?? Kau jangan merusak hiburanku," Gumam Cooper tapi Ealnest menyentak lengannya dan barulah ia menoleh.


"Aku ambil yang pria tinggi dengan tato di leher dan pria berambut keriting yang tengah memukul di lantai sana!"


"Hanya dua?" Tanya Cooper dan Ealnest menghela nafas dalam seperti tak puas dan tak perkasa.


"Semuanya tak ada yang memenuhi syarat. Tapi, dari pada pulang dengan tangan kosong lebih baik kita coba dulu," Jawabnya pasrah.


Cooper mengangguk. Ia mulai menyelinap diantara keramaian ini lalu berdehem untuk menyiapkan suaranya.


"Siapa yang ingin mendapatkan uang 100 juta dolar?"


Semuanya diam termasuk para pria yang tadi bergulat di lantai. Cooper berdiri di tengah-tengah mereka seakan menjadi wasit.


"Apa benar yang kau katakan?" Tanya pria bertato kelelawar di lehernya itu. Tampak sangar dan menakutkan.


"Yah. Tuanku ingin mencari seorang pengawal. Jika salah satu diantara kalian kuat maka, 100 juta dolar siap kalian kantongi," Jelas Cooper mengeluarkan satu cek senilai 100 juta dolar dari saku jaketnya.


Sontak semua orang langsung bergemuruh. Ealnest menyeringai licik karna pasti semuanya akan tergiur dengan nominal yang fantastis itu.


"Baiklah. Apa syaratnya?" Tanya pria bertato tadi.


"Kalian harus saling bertarung sampai mati. Siapa yang masih hidup itu pemenangnya!"


"M..mati??"


Syok mereka semua merinding mendengar syarat yang di lontarkan Cooper. Banyak diantara mereka yang bernyali ciut melihat orang-orang bertubuh kekar disekitarnya dan memilih menepi.


Yang masih dekat dengan Cooper hanya pria bertato tadi, pria berambut keriting sangar dan ada 3 pria lagi yang sepertinya hanya memberanikan diri saja. Terbukti mereka pucat dan berkeringat dingin.


"Hanya 5 orang?" Tanya Cooper dan tak ada lagi yang berani maju.


"Baiklah! Kalian bertarung sampai mati. Aku hanya akan memilih satu pemenang dan bukan yang tak lagi bernyawa, paham?" Jelas Cooper memandang 5 pria ini dan mereka langsung mengangguk.


Kasino ini cukup luas. Meja-meja yang semula berantakan di tengah segers di tarik ke tepi oleh beberapa orang yang menjadikan hal ini sebagai tontonan sengit.


Beberapa wanita penghibur disini sampai ngeri saat 5 pria itu sudah saling berhadapan dengan niat membunuh.


"Cih, hanya demi cek kosong ini kalian saling bunuh?!" Batin Cooper licik perlahan mundur mendekati Ealnest yang membuat rencana seperti ini.


"Mulai!" Titah Ealnest dan barulah Cooper mengangkat tangannya pertanda di mulai.

__ADS_1


5 pria itu saling baku hantam sengit. Kekuatan pria bertato tadi lumayan bengis menumbangkan lawannya dalam satu kali tinjuan dan tak segan mengeluarkan pisau dan mencabik-cabik tubuh lawannya.


Ealnest hanya memandang datar. Seharusnya anak seusianya tak berani memandang ini tapi, Ealnest bahkan sudah membunuh banyak mahluk di umur yang lebih belia.


"Menurutmu apa pria bertato itu akan menang?" Tanya Cooper seperti menyaksikan bioskop. Hanya kurang popcorn nya saja.


"Ntahlah. Bisa jadi."


"Haiss.. Dia begitu lapar," Desis Cooper melihat pria bertato itu bak harimau lepas dari kandang. Dalam waktu beberapa menit saja ia bisa menumbangkan 3 pria yang tadi mengigil bahkan 2 diantaranya sampai lari dengan lengan yang terkena sabetan pisau.


Hanya tinggal satu pria berambut keriting yang juga tampak tak kalah memimpin. Keduanya berhadapan memeggang pisau yang sudah berlumuran darah dengan tatapan membunuh.


"Dolar itu milikku!" Desis pria bertato itu langsung bermain ganas. Ia seperti tak henti-hentinya meliukkan tangan untuk melukai pria berambut keriting yang juga bisa mengimbanginya.


Mereka jadi mengigit kuku dengan harap-harap cemas dan ngeri saat salah satunya berhasil di lukai dan kembali membalas hingga bermandikan darah.


Disaat pria bertato itu ingin mengakhiri ini dengan memutus pembuluh darah di leher lawannya, dengan beriringan sang lawan juga melakukan hal sama hingga keduanya sama-sama tewas.


"Haisss!! Apa-apaan ini?!" Umpat Ealnest yang tadi sudah di penghujung ketegangan.


Cooper hanya menaikan bahunya santai. Ia tahu semuanya akan begini karna pasti, tak akan ada yang mampu mengendalikan kerakusannya.


"Ada polisi!!"


Suara panik penjaga dari luar membuat Cooper segera menarik Ealnet keluar dari arah pintu jendela samping yang kebetulan terbuka. Keduanya meloncat keluar dari sini lalu melihat suasana sekitar dimana suara mobil polisi itu masih jauh.


"Kau memang menyusahkan," Gumam Cooper bergerak cepat pergi ke depan menyela beberapa orang yang tadi berhamburan keluar dari kasino.


Terkadang Ealnest bingung. Cooper seperti sudah paham bagaimana caranya melarikan diri dan pria ini seperti sudah biasa pergi ke tempat-tempat mematikan.


"Uncle!"


"Apa?" Tanya Cooper memasukan Ealnest ke dalam mobil dan ia segera duduk di kurai kemudi menyalakan mesin mobil dan dengan cepat pergi.


"Uncle! Kau saja yang jadi daddyku?"


Cooper langsung tersedak. Ia menggeleng cepat karna jika hal itu terjadi maka Edwald akan memburunya di alam sana bahkan bisa saja mengutuknya untuk lajang seumur hidup.


.........


Sementara di kediaman sana tengah gempar. Shireen yang tadi bangun untuk melihat Ealnest di kamarnya seketika di buat terkejut saat bocah itu tak ada di kamarnya dan hanya bantal yang di tutupi selimut.


"Apa yang kalian menemukannya?" Tanya Shireen panik pada penjaga di depan yang menggeleng begitu juga para pelayan yang tadi berkeliling kediaman.


Kakek Bolssom dan nenek Rue yang tadi sore baru pulang dari berbelanja mainan Ealnest-pun juga berusaha menenagkan Shireen yang mondar-mandir di atas tangga seraya memeggang ponsel.


"Dimana dia?? Ini sudah dini hari!"

__ADS_1


"Nak! Pasti Ealnest baik-baik saja," Ucap nenek Rue mengusap pundak Shireen yang memijat pelipisnya lalu menghubungi Cooper.


Nomor pria itu juga tak aktif membuat Shireen bertambah kelut dan tak bisa diam saja.


"Mereka pasti tengah melakukan hal yang tak pantas. Kau memang tak mengindahkan ucapan mommy, Ealnest!" Geram Shireen sungguh selalu darah tinggi dengan aksi misterius putranya.


Beberapa saat kemudian ponsel Shireen berdering. Ada nomor yang tak si kenal masuk dan Shireen segera mengangkatnya berharap itu kabar baik.


"Hello!! Ini siapa?"


Tak ada jawaban apapun dari seberang sana. Shireen terus bertanya sampai kesabarannya yang tadi mulai menipis karna panik akan kehilangan sang anak mulai meledak.


"JIKA KAU TAK PUNYA MULUT UNTUK BICARA SETIDAKNYA KAU PUNYA MATA UNTUK MELIHAT SIAPA YANG KAU HUBUNGI!!"


Ketus Shireen naik pitam lalu mematikan sambungan. Dadanya naik turun menahan emosi dan cemas sekaligus.


"Kek! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?! Aku tadi memarahinya saat siang tapi, ..."


"Ealnest itu bisa menjaga dirinya sendiri. Apalagi kakek yakin Cooper ada bersamanya, nak! Tenang saja!" Ujar kakek Bolssom mengusap kepala Shireen yang segera pergi ke pintu utama.


Ia buka benda itu lebar menanti kabar kedatangan sang putra dengan perasaan harap-harap cemas.


........


Tepat di atas balkon sebuah kamar dengan tirai yang tersingkap akibat belaian angin dari arah luar. Seorang pria dengan tubuh gagah tinggi itu di baluti kaos oblong dan celana panjang santai.


Pandangan manik hijaunya begitu dalam ke atas langit yang akan mulai menggelap.


"Suaramu sama sekali tak berubah," Batinnya bergetar mendengar suara Shireen yang sepertinya dalam keadaan emosi dan cemas bercampur aduk.


Jambang yang tadi ada di rahangnya sudah terhempas total hingga Edwald kembali ke masa jayanya. Ia sama seperti 7 tahun lalu dan sama sekali tak ada yang berubah.


Tubuhnya masih tampak gagah bahkan auranya semakin mendominasi ke semua tempat. Hanya saja, ada luka di bagian dadanya dimana saat di penjara menuju masa hukuman matinya, Edwald sempat di siksa secara pribadi oleh anak buah Licnus yang saat itu tak berani muncul.


Tentu saja dalam kondisi tubuh sepenuhnya di rantai dan di borgol, Edwald tak bisa membalas apalagi saat itu ia di beri obat pelumpuh sejenak.


"Kau yakin ingin pergi besok pagi?"


Suara nyonya Zofia datang dari belakang sana. Edwald membiarkan wanita paruh baya ini memeluknya erat seperti masih tak rela.


"Mommy akan sangat merindukanmu!"


"Mom! Aku hanya ingin melihat istri dan anakku. Aku akan sering menghubungimu," Jawab Edwald datar tapi nada bicaranya penuh dengan rasa hormat dan sopan pada sang ibu yang berat hati melepasnya.


...


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2