
Masih di tempat yang sama. Shireen tak bisa mengendalikan dirinya sendiri bahkan ia merasa tubuhnya akan meledak di hantam amarah, sakit dan kekecewaan.
Matanya seakan menelan Kimmy yang berdiri dengan keadaan rambut berantakan dan pakaian ketat semakin menyedihkan.
"Apa-apaan? Kau haa??" Hardik Kimmy tak terima. Mereka jadi tontonan semua orang di bar ini sampai Cooper mengarahkan mereka keluar agar tak semakin rumit.
"Beraninya kau menarik rambutku!!!"
"Aku bahkan ingin mencabik wajahmu!!" Geram Shireen mencakar pipi Kimmy yang seketika terpekik keras. Ia mulai tak tinggal diam ingin menampar Shireen yang ntah dikuasai roh jahat mana dia menangkap lengan Kimmy lalu mendorong wanita itu kembali tersungkur ke lantai.
Dada Shireen naik turun menahan emosi. Air matanya selalu mengalir dengan kedua tangan terkepal.
"Kau siapa? Wajahmu di tutupi seperti wanita buruk rupaa!!" Makian Kimmy seraya memegangi pipinya yang berdarah.
"Aku buruk rupa," Hm?" Desis Shireen segera melepas maskernya. Sontak ia terkejut saat menyadari jika wajah cantik sembab Shireen adalah visual mempesona yang ia lihat di resto tadi.
Edwald hanya diam. Lidahnya keluh menatap wajah penuh luka Shireen bahkan manik hitam indah itu mengigil merah.
"Kau bahkan wanita paling buruk yang pernah aku temui!" Desis Shireen benar-benar penuh dengan kebencian.
Bukannya merasa malu, Kimmy justru tertawa keras berdiri dengan keadaan menyedihkan. Ia menatap rendah Shireen bahkan nyaris mengasihaninya.
"Kau sangat percaya diri. Aku begitu kasihan pada wanita yang menyedihkan sepertimu, Shireen! Kau sangat memprihatinkan."
"Oh yah? Apa seperti itu?" Tanya Shireen beralih menatap Edwald yang seketika merasakan sakit di dadanya.
Mata yang biasa teduh dan lembut sekarang diselubungi kekecewaan. Air matanya terus keluar mengaliri pipi mulus itu untuk kesekian kalinya.
"Kenapa diam? K..kau tak ingin menjelaskan apapun, Hm?" Tanya Shireen dengan suara bergetar.
Sedetik kemudian ia tersenyum nanar dengan bibir bergetar Shireen meremas dadanya sendiri. Ia benar-benar terlihat kacau dan hancur sampai di kepalanya sekarang semuanya buyar.
"K..kenapa?" Lirih Shireen bersitatap dalam dengan Edwald yang segera membuang pandangan ke arah lain. Kedua tangannya mengepal menahan gejolak perasaan di dadanya.
"KENAPA KAU MELAKUKAN INI?? APA SALAHKU, HAA?? APAA??" teriak Shireen dengan tangis yang pecah.
Kakinya tak kuat menopang tubuhnya lagi hingga Shireen terduduk di lantai masih meremas dadanya yang terasa sangat sakit.
Seketika ruangan ini menjadi pilu akan tangisan Shireen yang benar-benar seperti kehilangan nyawanya.
"K..kau.. Kau kenapa? Hiks. Kau kenapa?" Lirih Shireen seperti masih tak percaya jika ini terjadi. Ketakutan terbesarnya semenjak tadi siang terbukti dan itu sangat menyakitinya.
Melihat Edwald yang membisu tak mau memandang Shireen yang tengah menderita karna perbuatannya seketika memantik niat jahat Kimmy.
"Sayang! Kau tak ingin menjelaskan tentang misi balas dendam mu, hm?"
__ADS_1
"Kimmy!!" Geram Cooper yang melihat arah pintu. Cooper tahu ini akan terjadi tapi melihat Edwald yang seperti menahan sesuatu dan menghindari pandangan Shireen, ia jadi tak mau memperburuk.
"Edwald sama sekali tak mencintaimu, Shireen!! Dia menikahimu karna ingin menghancurkan keluargamu!!"
"Ikut aku!!" Geram Cooper beralih menyeret Kimmy untuk pergi dari ruangan ini.
Kimmy memberontak meneriaki Shireen yang terpaku kosong mendengar semua kalimat yang di lontarkan wanita itu.
"Dia juga yang sudah membuat adikmu hampir mati!!"
Seketika Shireen bertambah syok. Suara Kimmy sudah tak terdengar tapi makna ucapan wanita itu sampai ke benak Shireen yang beralih menatap Edwald.
"K..kau.."
"Itu benar!"
Duaarr..
Jantung Shireen hampir saja meledak bahkan matanya melebar terkejut. T..tidak, tidak mungkin Freya..
"Kau yang.. m..merencanakan ..i..tu?"
"Hm. Aku yang melakukannya!" Tegas Edwald tapi tak menatap Shireen yang mengepal dengan mulut terkatup rapat segera berdiri dan menarik kerah jaket Edwald kuat.
"Kau yang terlalu na'if," Jawab Edwald dan itu langsung membongkem dada Shireen yang seketika melepas cengkramannya ke jaket Edwald.
"K..kau.."
"Kau wanita yang haus akan cinta dan kasih sayang. Kau sendiri yang membuatku mudah menghancurkan keluargamu," Desis Edwald bengis menatap tajam Shireen yang benar-benar merasa hancur dengan kalimat itu.
A..apa dia masih orang yang sama? A..apa ini masih suamiku?
Batin Shireen menatap lekat wajah tampan dingin Edwald seakan memastikan apa ini suaminya atau bukan. Tapi, semakin Shireen memandangnya rasa sakit itu naik menjadi-jadi.
"Lihat dirimu, Shireen!" Sarkas Edwald masih tetap begitu kejam menjatuhkan luka yang semakin besar untuk Shireen.
"Aku sama sekali tak serius dengan pernikahan ini. Tapi, kau seperti wanita yang haus akan laki- la.."
Plaakkk..
Tamparan keras yang dilayangkan Shireen sampai wajah Edwald tertolak kuat ke arah samping. Pipinya panas dan merah tapi tak sebanding perihnya hati Shireen yang merasa sangat jijik dengan kalimat yang di lontarkan Edwald.
"Kau menunjukan sifat kasarmu, hm?" Desis Edwald mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan jempolnya.
Seakan belum puas dengan satu tamparan. Shireen lagi-lagi melakukan hal yang sama dengan air mata selalu keluar dan mata penuh dengan luka dan kekecewaan.
__ADS_1
"Aku.. Aku MEMBENCIMUUU!!!" teriak Shireen memukul-mukul dada Edwald bahkan wajah pria itu sudah merah membekas jari lentiknya
Untuk sesaat Edwald diam tak menghindari hal itu. Tapi, saat melihat Shireen sudah pucat dan kacau ia segera menahan kedua lengan wanita malang ini kebelakang tubuhnya sendiri lalu mengunci pergerakan Shireen agar tak melukai dirinya sendiri.
"Aku membencimuu!!! Hiks, aku membencimu!!" Isak Shireen terus berteriak memberontak tapi Edwald tak melepaskannya.
Wajah pria itu berpangku ke bahu Shireen yang sudah sangat lemah bahkan ia tak ada tenaga untuk berdiri dengan benar.
"Aku tak perduli dengan kebencian-mu, Sayang!" Bisik Edwald tapi sudah tak lagi indah di telinga Shireen.
Suara itu lebih seperti pedang yang menusuk ulu hati Shireen yang seperti di sampah selama ini.
"Terimakasih untuk tubuhmu. Aku menyukainya," Imbuh Edwald tanpa rasa bersalah mendorong Shireen kembali jatuh ke lantai.
Ia seperti mencampakkan pakaian yang selama ini sudah melindungi tubuhnya tapi sekarang sudah tak berguna lagi.
Mata Shireen mengigil menatap kecewa, marah dan menahan luka bercampur dengan cinta yang sudah hangus seperti abu di matanya.
"Kau tak perlu mencintaiku. Aku sama sekali tak membutuhkanmu, ISTRIKU!" gumam Edwald berjalan pergi meninggalkan Shireen yang sudah ia hancurkan sehancur-hancurnya.
Mata sembab Shireen menatap kepergian Edwald dengan perasaan yang sudah tak hancur tak berbentuk.
"I..istri? A..aku.."
Shireen tertawa kecil membayangkan kata itu. Tatapannya beralih ke jari manisnya dimana ada cincin pernikahan yang selalu ia pakai kemanapun.
Bibir Shireen bergetar dengan isakan mulai tak bisa ia tahan.
"AKU BUKAN ISTRIMUU!!" teriak Shireen melepas cincin itu dan melemparnya ke arah kepergian Edwald yang nyatanya masih ada di depan pintu.
Ia menatap datar benda kecil bulat yang terlempar keluar beriringan dengan kehancuran hubungan palsu ini.
Shireen menangis di dalam sana sedangkan ia tersandar ke dinding depan bar. Tak ada wajah sendu atau menyesal dari wajah datar Edwald yang seperti batu dan tak punya hati.
Tapi, Cooper yang berdiri tak jauh dari Edwald hanya bisa diam. Ia tak menyangka jika suasana ini akan sangat berbeda.
Ia kira tangisan Shireen adalah sebuah bukti kemenangan. Tapi, hatinya cukup tergores oleh kehancuran wanita ini.
Steen tak membunuhmu. Biasanya dia selalu menghabisi segalanya tanpa sisa.
.....
Vote and Like Sayang..
Maaf baru up say.. Jangan lupa beri nilai novel author yak.. Kasih bintang biar author semangat say ðŸ˜
__ADS_1